Beranda blog Halaman 61

Peran Orang Tua dalam PJJ Cegah Potensi Generasi Loss Learning Saat Pandemi

0

Peran Orang Tua dalam PJJ Cegah Potensi Generasi Loss Learning Saat Pandemi

 

Oleh: Elizabeth Manalu, Guru SD Kristen Ipeka Tomang, Jakarta

Pandemi COVID-19 tidak saja masalah virus yang menyerang sistem imun tubuh, tapi ikut mengubah proses belajar mengajar tatap muka menjadi online. Ini terjadi karena pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menanggulangi pandemi itu. Dampak kondisi ini, interaksi anak ikut berkurang dan memengaruhi perkembangan kognitif.

Berdasarkan Survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 13-20 April 2020, interaksi antara siswa dan guru hanya 20% selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Survei ini dilakukan terhadap 1.700 siswa dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota (kpai.go.id). Survei ini dengan metode deskriptis kuantitatif dengan teknik multistage random sampling dengan responden terbanyak siswa SMA.

Berkurangnya interaksi antarsiswa serta siswa dan guru disebabkan terbatasnya medium komunikasi yang hanya menggunakan gawai (telepon genggam dan laptop). Belum lagi bila ditelisik lebih jauh tentang latar belakang ekonomi siswa yang berasal dari kalangan menengah ke bawah dan daerah terpencil, maka interaksi siswa dan guru akan semakin terbatas.


Baca juga: Sampaikan Kuliah Umum di PKKMB Universitas Trilogi, Ketua MPR: Pentingnya “Vaksinasi” Ideologi Kebangsaan

Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika per Agustus 2020, hanya 49,33% wilayah di Indonesia yang telah mendapatkan jaringan 4G (jaringan mobile broadband generasi keempat), 44,35% mendapatkan jaringan 3G, dan 68,54% mendapatkan jaringan 2G (edukasi.sindonews.com). Dari 12.548 desa atau kelurahan yang belum terjangkau internet 4G, sebanyak 9.113 desa berada di wilayah 3T.

Kesempatan siswa di wilayah tersebut bisa dikatakan akan jauh tertinggal dalam mengakses informasi dibandingkan siswa lainnya di daerah dengan fasilitas 3G atau 4G. Siswa di daerah 3T sangat mungkin sukar mengikuti pembelajaran jarak jauh karena loading internet lebih lama atau terputus-putus. Ini ikut memengaruhi munculnya dampak negatif lainnya pada siswa selama PJJ atau pembelajaran online alias daring.

Dalam evaluasi pembelajaran daring oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta selama awal pandemi COVID-19, terdapat enam dampak negatif PJJ terhadap siswa sekolah antara lain, ancaman putus sekolah, penurunan capaian belajar siswa, anak berpotensi menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), keterbatasan gawai dan kuota internet, anak kehilangan pembelajaran (learning loss), hingga anak kurang bersosialisasi (metro.tempo.co).


Baca juga: Penerimaan Siswa Baru, BPK PENABUR Jakarta Tawarkan Program Promosi AMA21NG 8ENEFIT

Dampak negatif rendahnya interaksi anak

Kebutuhan interaksi anak selama PJJ jauh berkurang dibandingkan saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM), di mana siswa kehilangan banyak kesempatan mengaktualisasikan diri dan bersosialisasi bersama teman-temannya. Ini menyebabkan anak mudah stres dan memengaruhi imunitas. Apalagi, anak menerima banyak tugas-tugas sekolah, sementara kesempatan murid bertanya kepada guru dan sebaliknya guru menjelaskan kepada siswa, sangat terbatas.

Anak juga mengalami penurunan motivasi (demotivasi) dalam belajar selama pandemi (viva.co.id). Terbatasnya waktu interaksi selama PJJ mengurangi waktu anak untuk mengeksplorasi pengetahuannya memengaruhi minat anak (bosan) menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Ketertinggalan mengikuti mata pelajaran juga menyebabkan siswa menghadapi masalah lanjutan pada pelajaran di hari berikutnya, sehingga anak sulit berkonsentrasi pada beberapa mata pelajaran tertentu, terutama mata pelajaran yang bukan difavoritkan.

Siswa juga mudah teralihkan bermain gawai selama pandemi COVID-19. Sering dijumpai anak-anak tidak menyimak mata pelajaran yang disampaikan karena membuka website tertentu, membaca media sosial, atau bermain games. Ini ikut yang memengaruhi minat baca dan menulis siswa, di mana kemampuan itu justru sangat dibutuhkan agar siswa dapat memahami dan mengikuti mata pelajaran sekolah dengan baik.


Baca juga: Pandemi Covid Tak Halangi Devon Kei dan Mischka Aoki Ukir Prestasi di Olimpiade Matematika

Peran orang tua

Fakta hasil survei pembelajaran PJJ, kesenjangan jaringan internet, dan dampak negatif PJJ tersebut memperjelas perlunya solusi yang lebih adaptif dan konkrit guna mengurangi dampak negatif pembelajaran daring terhadap siswa bila pandemi COVID-19 belum mereda dalam waktu dekat ini. Jalan keluar yang perlu dicarikan adalah peran keluarga atau inisiatif orang tua dalam mendampingi anak-anak selama pembelajaran daring. Ini hal yang paling dapat dilakukan mengingat anak lebih banyak menghabiskan hampir sepanjang hari berada di rumah bersama orang tua atau anggota lain keluarga.

Sedangkan, hambatan pembelajaran daring dampak dari kesenjangan infrastruktur jaringan internet bersifat lebih makro karena menyangkut regulasi dan investasi oleh operator telekomunikasi. Meskipun faktor ini sangat strategis, namun butuh peran banyak pihak dan waktu yang relatif masih panjang untuk mengatasi kesenjangan infrastruktur telekomunikasi dalam mengoptimalkan pembelajaran siswa selama pandemi COVID-19.

Hal-hal yang perlu dilakukan orang tua yakni, mengarahkan anak agar menyiapkan kebutuhan pembelajaran seperti alat tulis, alat peraga yang dibutuhkan, dan mengawasi anak dalam mengerjakan tugas-tugas. Hal ini termasuk memberikan kesempatan pada anak atau mendorong anak agar menanyakan materi sekolah yang perlu penjelasan lebih lengkap.


Baca juga: 1211 Peserta Ikuti “K-12 Computer Science Education Fair 2021” yang digelar BPK Penabur Jakarta

Orang tua juga perlu memberi aturan tegas kepada siswa agar tidak bermain games atau membuka website lain saat PJJ sedang berlangsung. Dan, memberikan kesempatan atau batasan waktu bermain games kepada anak setelah menyelesaikan PJJ, yang sekaligus ini menjadikan kesempatan itu sebagai reward agar motivasi anak sungguh-sungguh belajar.

Perlu memfasilitasi anak berinteraksi menggunakan fasilitas video whatsapp call dengan teman-teman sekolah, termasuk bermain kuis kelompok, yang dapat diunduh di playstore. Momen ini untuk menjaga agar siswa tidak kehilangan interaksi sosial di usia pertumbuhan dan perkembangan mentalnya selama pandemi berlangsung.

Sebab dikhawatirkan bila anak kehilangan pengawasan orang tua, tidak adanya batasan antara belajar dan bermain games, termasuk momen berinteraksi sosial di usianya, maka generasi anak Indonesia berpotensi mengalami loss learning. Anak belajar tanpa arahan, kehilangan minat belajar, termasuk perkembangan mental psikologis yang fundamental bagi seorang anak.


Referensi:

1.https://www.kpai.go.id/publikasi/ada-246-aduan-di-kpai-soal-belajar-daring-siswa-keluhkan-tugas-menumpuk-kuota dibaca pada 10/10/2021.

2.https://edukasi.sindonews.com/read/120754/144/pemerintah-harus-penuhi-internet-dan-gawai-untuk-pjj-siswa-1596384511?showpage=all dibaca pada 10/11/2021

3.https://metro.tempo.co/read/1391861/dampak-negatif-dan-positif-pembelajaran-jarak-jauh-selama-pandemi-covid-19/full&view=ok dibaca pada 11/10/2021

4.https://www.viva.co.id/digital/startup/1354470-minim-interaksi-sosial-belajar-online-bikin-anak-stres?page=2&utm_medium=page-2 dibaca pada 11/10/2021

Terang dan Garam Bagi Bangsa

0

Terang dan Garam Bagi Bangsa 

(Artikel Terakhir Sabam Sirait Untuk Buku Antologi yang Diedit Pdt Em Weinata Sairin) 

 

IndonesiaVoice.com || Politik itu kotor, penuh aksi manipulatif dan retorika kosong. Citra seperti itulah yang mewarnai atmosfer perpolitikan di negeri ini. Tak perlu berbagai survei untuk mengonfirmasi hal tersebut.

Simaklah pembicaraan rakyat di warung kopi sampai kafe, arisan ibu-ibu rumah tangga sampai aksi jalanan para mahasiswa, demonstrasi buruh hingga seminar ilmiah para akademisi, bisa dipastikan, bila berkaitan dengan urusan politik, yang terdengar adalah sinisme yang sering kali bernada sarkasme.

Hari-hari ini hampir tak terdengar orang membicarakan politik dengan kalimat positif.


Baca juga: Presiden Jokowi Beri Penghormatan Terakhir Untuk Sabam Sirait

Politik pada dasarnya dan pada awalnya diadakan sebagai keseluruhan tindakan untuk menyempurnakan kebahagiaan kehidupan masyarakat. 

John Calvin, seorang pemikir teologi Kristen abad 16 (1509-1564) menyatakan bahwa politisi itu sejatinya merupakan profesi yang sakral atau suci, melebihi profesi pendeta sekalipun.

Sebab, menurut Calvin, seseorang yang berani terjun ke dunia politik berarti dia berani menyandang tugas ‘Ilahiah’ untuk memancarkan terang di tempat yang gelap.


Baca juga: Sampaikan Kuliah Umum di PKKMB Universitas Trilogi, Ketua MPR: Pentingnya “Vaksinasi” Ideologi Kebangsaan

Tekad dan upaya seorang seorang politisi untuk menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dalam setiap kiprah dan tindakan politiknya merupakan sikap dan tindakan yang penuh keluhuran.

Sebagaimana bidang lainnya, politik juga harus dilayani dan kita bersaksi di dalamnya.

“Bahwa politik bisa menjadi kotor, itu betul. Tapi kalau dalam politik sudah bersih semua, ngapain kita layani dan bersaksi di situ? Justru karena banyak tantangan dalam politik, kita harus melayani dan bersaksi”.


Baca juga: Dating Palembangan: Tanamkan Nilai-Nilai Pancasila sebagai ‘Corporate Value’ Bangsa kepada Setiap Generasi

Orang Kristen menurut saya harus memiliki jiwa kerakyatan. Yesus ‘kan dekat dengan orang-orang yang menderita.

Dia dekat dengan orang miskin, Dia dekat dengan orang-orang yang tertindas, bahkan Dia katakan, orang yang bekerja untuk mereka itu adalah bekerja untuk Nya.

Banyak contoh perjuangan dari para tokoh Kristen yang bisa ditelaah, dipelajari dan patut diteladani, dari T.B. Simatupang (pak Sim) kita belajar tentang konsistensi, ketegasan dan keberanian dalam menjalankan prinsip berpolitik dan bernegara, baik melalui pemikiran dan perjuangannya. Perilaku jujur dan sederhana dalam kesehariannya adalah teladan yang genuine.


Baca juga: Majelis Rakyat Papua Gugat UU No. 2 Tahun 2021 Tentang Otsus Papua Ke MK, Apa Sebab?

Banyak tokoh Kristen, baik yang sudah diangkat menjadi Pahlawan Nasional ataupun belum, tapi tetap tercatat dan menjadi suri tauladan. 

Tidak hanya sebatas pada bidang politik, akan tetapi melalui jiwa nasionalisme, iman dan semangat cinta kasih, mereka telah berjuang melalui berbagai ladang pengabdian, seperti misalnya, Ajun Inspektur Polisi Dua (Anumerta) Karel Satsuit Tubun, B.W. Lapian, Brigjen TNI (Anumerta) Slamet Riyadi, Cilik Riwut, Dr. A.M. Tambunan, Dr.  Ferdinand Lumban Tobing, Dr. Johannes Leimena, Dr. Sam Ratulangi, (DS). Basoeki Probowinoto, Frans Kaisiepo, Izaak Huru Doko, Kolonel Infantri (Anumerta) Sugiyono Mangunwiyoto, Komodor Udara Agustinus Adisoetjipto, Komodor Laut Yos Sudarso, Johannes Abraham Dimara, Jend. TNI (Anumerta) Oerip Soemohardjo, Kapten  (Anumerta) Pierre Tendean, Laksamana Muda TNI (Pur) John Lie, Maria Walanda Maramis, Martha Christina Tiahahu, Marthen Indey, Mayjen TNI (Anumerta) D.I. Panjaitan, Melanchton Siregar,  Mgr. Soegijapranata,  Letjen TNI (Purn) T.B. Simatupang, Mr. A.A. Maramis, Mr. Amir Syarifuddin, Mr. I.J. Kasimo, Prof. Dr. W. Z. Johannes, Robert Wolter Monginsidi, Silas Papare, Thomas Matulessy, Todung Sutan Gunung Mulia, dan masih banyak lagi tokoh Kristen yang lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu, akan tetapi melalui pengabdiannya, menjadi ‘terang’ dan ‘garam’ bangsa dan negara Indonesia.


Jakarta, 19 Juni 2021

Sabam Sirait

 

Dating Palembangan: Tanamkan Nilai-Nilai Pancasila sebagai ‘Corporate Value’ Bangsa kepada Setiap Generasi

0

IndonesiaVoice.com || Pancasila sebagai ideologi negara diperingati dua kali dalam setahun. Pertama, Hari lahirnya Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Juni. Kedua, Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Oktober. Adanya dua peringatan itu, menunjukkan betapa pentingnya kehadiran Ideologi Pancasila ditengah-tengah bangsa ini.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, punya makna sendiri dalam perjalanan bangsa dan negara Indonesia.

Hari kesaktian Pancasila merupakan momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengingat perjalanan sejarah dalam mempertahankan ideologi negara.

Perjuangan panjang tersebut perlu diingat oleh setiap generasi agar bisa dijadikan cermin dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.


Baca juga: Dating Palembangan: HUT RI Ke-76, Momen Pemerintah dan Masyarakat Bahu-membahu Putus Penyebaran Covid

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak terlepas dari adanya Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang menyebabkan 6 perwira tinggi dan 1 perwira menengah TNI AD gugur.

Dalam perjalanan bangsa ini, kesaktian Pancasila sampai saat ini terus diuji. Masuknya berbagai kebudayaan luar dan munculnya paham-paham radikal dan ekstrimis dari dalam negeri merupakan ancaman yang serius bagi bangsa ini kedepan.

“Sejarah kelam bangsa Indonesia mencatat pada 30 September 1965 terjadi upaya mengubah ideologi Pancasila. Bersyukur cita-cita ingin menggantikan ideologi Pancasila itu tidak terjadi karena pada 1 Oktober 1965, G30S berhasil ditumpas oleh TNI, sehingga pada tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila,” jelas Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Periode 2007-2011, Dating Palembangan SE, MM.


Baca juga: Dating Palembangan Apresiasi Penuh Gerakan Lagu “Indonesia Raya”

Menurut Dating, perjuangan untuk merawat dan mempertahankan ideologi Pancasila tidak berhenti pada tanggal 1 Oktober 1965. Pun, saat ini ada paham-paham yang terus mencoba merongrong ke-Indonesian.

“Jika kita lengah dalam merawat dan mempertahankan Pancasila, maka nilai-nilai bangsa ini akan terdegradasi oleh nilai-nilai universal. Generasi muda ini akan kehilangan keIndonesiaan-nya, kehilangan cinta tanah air, kehilangan cinta budaya, kehilangan rasa menerima satu yang lain sebagai suatu perkumpulan bangsa-bangsa,” urai Mantan Pengurus DPP Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) ini.

Meski adanya ancaman pengaruh budaya asing, menurut Dating, Pemerintah tak perlu melarang budaya-budaya asing masuk ke Indonesia.


Baca juga: Sampaikan Kuliah Umum di PKKMB Universitas Trilogi, Ketua MPR: Pentingnya “Vaksinasi” Ideologi Kebangsaan

“Yang diperlukan adalah bagaimana meningkatkan rasa kepedulian dan memiliki rasa cinta budaya sendiri, ditengah-tengah perubahan-perubahan global,” ujar dia.

“Marilah kita memelihara nilai-nilai budaya bangsa ini yang begitu kaya raya agar tetap terjaga dari generasi ke generasi, sehingga budaya asing manapun tak akan bisa mempengaruhi bangsa ini,” lanjut Mantan Anggota Majelis Pemuda Indonesia KNPI ini.

Dating berharap dengan membumikan nilai-nilai Pancasila kepada setiap generasi (milenial dan generasi Z) akan mampu menyaring dan mampu menerjemahkan mana yang terbaik untuk bangsa ini, sehingga paham-paham radikalisme itu lambat laun akan berlalu.


Baca juga: Prof Mudrajad Kuncoro: Bumikan Sistem Ekonomi Pancasila Dengan Bangun Generasi Pancasilais dan Merajut Kebhinekaan

Dalam rangka aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, lanjut Dating, langkah pemerintah membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) terhadap seluruh penyelenggara negara yang terencana, sistematis, dan terpadu menjadi begitu penting.

“Kehadiran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila saat ini juga sangat dibutuhkan untuk mengkaji terus bagaimana menanamkan nilai-nilai Pancasila ke setiap generasi,” tuturnya.

“Saya kira BPIP mesti diperkuat lagi, sehingga dalam kurun waktu tertentu, dalam jangka pendek mampu membudayakan dan membumikan nilai-nilai Pancasila ke setiap generasi,” tambah dia.


Baca juga: Persatuan Jaksa Indonesia Gelar Vaksinasi Door To Door Bagi Penyandang Disabilitas dan Tuna Netra

Dating mengutarakan membumikan nilai-nilai Pancasila dikalangan generasi muda sangat penting. Sebab generasi penerus dan pemilik bangsa ini kedepan berada ditangan generasi muda. Generasi tua akan berlalu, dan keberlanjutan bangsa ini kelak diserahkan kepada generasi muda.

“Karena itu, generasi muda ini perlu diindoktrinasi nilai-nilai Pancasila. Juga, penanaman corporate value tentang NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945. Inilah corporate value Bangsa Indonesia yang perlu dibumikan di kalangan generasi muda. Corporate value ini kelak menanamkan jiwa fanatisme positif terhadap Bangsa Indonesia sehingga Indonesia akan abadi selamanya,” imbuhnya.

Dating berharap peristiwa kelam G30S dan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober, perlu diketahui generasi muda. Sejarah ini mencatat bahwa betapa besar perjuangan pendiri dan penerus bangsa dalam mempertahankan dan menjaga NKRI dalam menjaga dan mempertahankan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah bangsa.


Baca juga: Teten Masduki: PON XX Akan Gerakkan Pelaku UMKM di Papua Saat Pandemi

“Melalui peristiwa ini, saya mengajak kepada semua generasi muda untuk untuk selalu mengambil hikmah dari setiap peristiwa sejarah bangsa. Para pelaku sejarah mau berkorban bukan untuk diri mereka sendiri, namun bagi kita yang ada saat ini dan juga untuk generasi selanjutnya. Kita harus menghormati pengorbanan para pejuang yang terdahulu,” ujarnya.

“Marilah kita kenang Kesaktian Pancasila ini untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila secara utuh mengkristal dalam diri kita sebagai corporate value bangsa Indonesia. Sebagai bangsa besar, negara yang kita cintai NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 kiranya dapat terpelihara selamanya di dalam genggaman tangan pemuda Indonesia,” tandasnya.

(Vic)

Peduli Sesama, The Bride Fellowship Bagi Makanan Siap Saji

0

Jakarta, Bentuk kepedulian kepada sesama, The Bride Fellowship adakan kegiatan bagi makanan siap saji disepanjang jalan Mampang, Kalibata, Tebet, Jakarta Selatan. Rabu (15/9/2021).

Pembagian makanan diberikan kepada para petugas kebersihan jalan, pekerja lepas, ojek online, pedagang kaki lima dan pemulung.

Conny D. Runtuwene. W merupakan Ketua The Bride mengatakan bahwa kegiatan peduli sesama ini sudah sering dilakukan sejak pandemi sampe sekarang.


Baca juga: Petugas Gabungan Gelar Operasi Yustisi Penegakan Protokol Kesehatan

“Kegiatan peduli sesama ini sudah sering kami lakukan, bahkan sebelum pandemi pun The Bride sudah ada program peduli kasih. Apalagi keadaan sekarang, banyak yang hilang pekerjaan karena pandemi Covid-19. Kami bersama teman-teman sesama ibu-ibu dari berbagai macam latar belakang yang terkumpul di The Bride peduli dan merupakan bentuk kasih dengan memberikan bantuan sembako bagi yang membutuhkan, dimana sudah di programkan sebulan sekali dilaksanakan. Kalau hari ini kami memang khusus bagi-bagi makanan saja,” ujar Conny.

The Bride juga mendukung Pemerintah dalam rangka mensukseskan percepatan Program Vaksin, menyiapkan sekolah tatap muka guna mencapai kekebalan komunal (Herd Immunity) dan menyongsong new normal, saat ini berupa logistik untuk para Nakes yang bertugas, lanjut Conny.


Baca juga: Kasus COVID-19 Turun Signifikan, Indonesia Peringkat 6 Dunia Jumlah Orang Divaksin

“Oleh sebab itu kami menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia segeralah Vaksin, jangan takut untuk di Vaksin, supaya Indonesia segera pulih dari pandemi Covid-19, karena kalau kesehatan pulih, ekonomi pun bangkit. Tetap jaga protokol kesehatan, dengan mematuhi 5M, banyak bersyukur dan berdoa,” tutupnya.

(Elly)

Petugas Gabungan Gelar Operasi Yustisi Penegakan Protokol Kesehatan

0

JAKARTA – Petugas gabungan dari polsek palmerah, koramil dan Satpol PP menggelar operasi yustisi penegakan protokol kesehatan ditengah pandemi Covid 19, Rabu, (15/9/2021).

Operasi yustisi tersebut dilaksanakan di RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) tepatnya di Jl. Bambu Kuning, Palmerah, Jakarta Barat.

Kapolsek Palmerah Polres Metro Jakarta Barat Kompol Agus Widar mengatakan dalam operasi yustisi tersebut terdapat puluhan warga Palmerah kedapatan tidak menggunakan masker.


Baca juga: Polisi Bubarkan Kerumunan di Danau Cincin Sunter

“22 warga Palmerah yang kedapatan tidak menggunakan masker terjaring dalam operasi yustisi dan diberikan tindakan disiplin,” ujar Kapolsek Palmerah Kompol Agus Widar saat dikonfirmasi, Rabu, 15/9/2021.

Agus menjelaskan kegiatan operasi tersebut dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 dengan melaksanakan penerapan pemerintah sesuai dengan Pergub Nomor 88 Tahun 2020 tentang perubahan atas peraturan gubernur nomor 33 tahun 2020 tentang pelaksanaan PSBB (pembatasan sosial Berskala besar) dan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) level 3 di provinsi DKI Jakarta.

Perlu diketahui kegiatan operasi ini merupakan operasi yang digelar untuk menekan penyebaran Covid-19 dengan menyasar masyarakat yang tidak menggunakan masker.


Baca juga: PGI Minta Polisi Bersikap Adil Terkait Soal Penghinaan Agama

“Dengan total hari ini kita mendapati sebanyak 22 warga masyarakat yang tidak menggunakan masker dan diberikan tindakan sosial dengan membersihkan fasilitas umum, ” ucapnya.

Lanjut Agus menghimbau kepada masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan ditengah pandemi COVID19 saat ini.

“Mari bersama-sama patuhi protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, ” tutupnya.(*JW)

Sampaikan Kuliah Umum di PKKMB Universitas Trilogi, Ketua MPR: Pentingnya “Vaksinasi” Ideologi Kebangsaan

0

IndonesiaVoice.com || Merawat kebhinekaan mesti dibangun oleh komitmen bersama dan kerjasama seluruh elemen bangsa. Demikian halnya, di tengah situasi sulit dalam kondisi pandemi Covid-19 yang hampir memasuki tahun kedua.

“Kita tidak saja yang perlu vaksin untuk kesehatan atas Covid-19. Tapi juga penting untuk mendahulukan dan memasukkan ‘vaksinasi’ ideologi kebangsaan. Yaitu melalui sosialisasi empat pilar MPR RI yang terus menerus untuk menumbuhkan kekebalan nilai-nilai kebangsaan anak-anak kita,” kata Ketua MPR H Bambang Soesatyo SE, MBA ketika memberikan Kuliah Umum dalam Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Trilogi secara virtual, Senin (6/9/2021).

Lebih lanjut Bambang Soesatyo mengemukakan dalam waktu sekitar satu setengah tahun terakhir hampir dua tahun ini demi covid telah membatasi berbagai aktivitas kehidupan, termasuk dunia pendidikan.


Baca juga: Prof Mudrajad Kuncoro: Bumikan Sistem Ekonomi Pancasila Dengan Bangun Generasi Pancasilais dan Merajut Kebhinekaan

“Namun saya merasa bahagia sekaligus bangga bahwa pandemi pada hari ini tidak menjadi penghalang bagi Universitas Trilogi untuk tetap bekerja dan berkarya,” ujar dia.

Hal ini, menurut Bambang, dibuktikan berbagai prestasi yang telah dicapai oleh Universitas Trilogi sebagaimana disampaikan dalam laporan tahunan Universitas Trilogi Tahun 2020.

“Beberapa prestasi tersebut, antara lain, Universitas Trilogi meraih peringkat 30 perguruan tinggi swasta terbaik Se-DKI Jakarta dari total 309 perguruan tinggi swasta,” urai dia.

“Selanjutnya berdasarkan kinerja riset Universitas Trilogi juga berhasil meningkatkan status menjadi cluster utama dan mendapatkan penghargaan dari lembaga layanan pendidikan tinggi atau LLDikti Wilayah 3 sebagai perguruan tinggi terbaik kedua Provinsi DKI Jakarta berdasarkan persentase jumlah dosen yang memiliki jabatan fungsional akademik dan sertifikasi dosen terbanyak,” tambahnya.


Baca juga: Mungkinkah Berbisnis Tanpa Korbankan Lingkungan?

Dengan berbagai raihan prestasi yang dicapai tersebut, Bambang yakin dan percaya Universitas Trilogi akan mampu mewujudkan visi kampus yaitu menjadi universitas yang inovatif, dengan mengembangkan technopreneur, kolaborasi dan kemandirian dalam sistem ekonomi berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

“Technopreneurship, kolaborasi dan kemandirian adalah tiga pilar fundamental untuk mewujudkan kampus yang berkualitas, maju dan berdaya saing,” papar dia.

Generasi Muda Pancasilais

Merujuk pada tema kuliah umum pada hari ini, Bambang sangat mengapresiasi langkah Universitas Trilogi untuk mengangkat tema mengenai Pancasila dan Kebhinekaan sebagai wujud kepedulian kampus untuk membangun wawasan kebangsaan di lingkungan pendidikan Universitas Trilogi.


Baca juga: PGI Minta Polisi Bersikap Adil Terkait Soal Penghinaan Agama

“Seperti kita ketahui bersama membangun Generasi Muda Pancasilais dan membuka kesadaran kebhinekaan merupakan dua kata kunci dan menjadi isu yang sangat esensial bagi generasi muda bangsa, khususnya para mahasiswa karena kepada mereka lah masa depan bangsa ini dipertaruhkan,” tuturnya.

Meski begitu, Bambang mengakui membangun generasi Pancasilais itu bukanlah pekerjaan instan dan mudah dilakukan. Seiring perjalanan kehidupan kebangsaan, Pancasila telah diuji dan ditempa oleh paradigma dinamika peradaban.

“Cara kita merawat dan mempertahankan nilai-nilai luhur Pancasila agar menjadi jati diri dan jiwa bangsa tentunya juga akan menuntut penyesuaian cara pandang dan pendekatan sehingga mampu berkontestasi dengan nilai-nilai dan paham-paham kontemporer yang hadir melalui gelombang kontinuitas zaman dan arus global,” jelasnya.



Baca juga: Komjen Paulus Waterpauw: Birokrat, Legislator dan MRP Mesti Tegak Lurus Amalkan Nilai Pancasila di Papua

Derasnya arus globalisasi, menurut Bambang, telah menepiskan batas-batas teritorial membawa serta nilai-nilai asing tanpa filtrasi, yang meskipun perlahan namun pasti dirasakan mulai menggeser nilai-nilai kearifan lokal. Bahkan cenderung menegasikan nilai-nilai luhur Pancasila.

Bambang membeberkan rujukan dari berbagai publikasi hasil survei, antara lain, Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang mencatat bahwa dalam kurun waktu 13 tahun masyarakat yang pro Pancasila telah mengalami penurunan sekitar 10% dari 85,2% pada tahun 2005 menjadi 5,3% pada tahun 2018.

Lalu, Center for strategic and international studies (CSIS) juga mencatat sekitar 10% generasi muda milenial setuju mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain.


Baca juga: Kelompok Cipayung Plus Jawa Barat Minta Presiden Pastikan Rektor, Mahasiwas, BEM dan UKM Terbebas Paham Anti Pancasila

Kemudian Survei Komunitas Pancasila Muda yang dilakukan pada akhir Mei 2020 mencatat hanya 61 persen responden yang masih yakin dan setuju bahwa Pancasila sangat penting dan masih relevan dengan kehidupan mereka. Sementara 19,5% diantaranya menganggap Pancasila hanya sekedar istilah yang tidak mereka pahami.

“Gambar di atas mengisyaratkan bahwa membangun generasi Pancasilais membutuhkan upaya yang serius dan membutuhkan keteguhan komitmen dari segenap pemangku kepentingan,” tegasnya.

Peran Strategis Perguruan Tinggi

Dalam kaitan ini, menurut Bambang, perguruan tinggi tentunya memiliki peran strategi sekaligus krusial dalam membentuk generasi muda bangsa yang tidak hanya kompeten dan terampil secara akademis namun juga punya memiliki karakter yang kuat berjiwa Pancasila dan berhati Indonesia. Aspek yang kedua adalah kesadaran kebhinekaan.


Baca juga: Banyak Warga Papua Tolak Vaksin, PGI Minta Ke Presiden Jokowi Agar Vaksinator bukan dari TNI/Polri

“Setiap kita harus menyadari bahwa bangsa Indonesia telah lahir dalam keberagaman, baik dari aspek budaya, agama, suku, golongan maupun latar belakang dan pandangan politik,” ujar dia.

“Heterogenitas telah menjadi fakta sejarah yang tidak bisa kita pungkiri. Juga tidak bisa anda abaikan. Oleh karenanya merawat dan memperjuangkan kemerdekaan dalam keberagaman adalah sebuah keniscayaan sekaligus sebuah tantangan,” imbuhnya.

Bambang mengutarakan kebhinekaan bukanlah warisan sejarah. Ataupun fakta sosiologi yang didapatkan dengan cuma-cuma. Tetapi sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan. Kebhinekaan yang kaya akan keberagaman hanya bisa diwujudkan dengan kemampuan dalam pengelolaan kemajemukan tersebut.


Baca juga: Warga Keberatan Cat Pagar Merah Putih Ditengah Ekonomi Susah Karena Pandemi Covid

“Kegagalan kemajemukan dan ketidakpastian sebagian masyarakat untuk menerima kemajemukan tersebut, akan berpotensi mengakibatkan terjadinya gejolak sosial yang mereduksi semangat persatuan dan kesatuan bangsa, menemukan pemecahan dan melonggarkan ikatan kebangsaan kita,” tegas dia.

Lebih lanjut Bambang menuturkan tantangan mengelola kemajuan kemajemukan bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika menyentuh aspek-aspek yang bersifat sensitif.

“Tentu masih hangat dalam memori kolektif kita bahwa di era modern sekalipun di sebuah negara yang maju seperti Amerika persoalan rasisme masih menjadi noda dalam kehidupan demokrasi,” ujarnya.


Baca juga: Dating Palembangan: HUT RI Ke-76, Momen Pemerintah dan Masyarakat Bahu-membahu Putus Penyebaran Covid

Hadirnya Black Lives Matter pada akhir tahun 2019, jelas Bambang, adalah sebuah gerakan sosial yang memicu aksi para pemuda kulit hitam pada tahun 2020 kembali menyeruak pasca aksi kekerasan oknum aparat yang menyebabkan tewasnya George Floyd, pria kulit hitam lainnya.

Sikap rasis berlanjut menyebar luas. bahkan pada oknum aparat yang seharusnya menjadi pembela dan pelindung nilai-nilai demokrasi.

“Apa yang terjadi di Amerika adalah pembelajaran bagi kita bahwa merawat kebhinekaan khususnya dalam masyarakat dengan tingkat heterogenitas tinggi seperti Indonesia adalah sebuah proses yang tidak boleh berhenti pada satu titik,” pungkasnya.


Baca juga: Dating Palembangan Apresiasi Penuh Gerakan Lagu “Indonesia Raya”

Merawat kebhinekaan, menurut Bambang, harus menjadi upaya yang berkesinambungan agar senantiasa mengisi ruang publik, baik dalam lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat dan dalam setiap sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga tidak ada ruang bagi tumbuh dan berkembangnya paham-paham yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan.

“Merawat kebhinekaan juga harus dibangun oleh komitmen bersama dan menjadi kerja bersama seluruh elemen bangsa dalam situasi yang sulit ini ditengah pandemi covid. Kita tidak saja yang perlu vaksinasi kesehatan atas Covid-19. Tapi juga penting untuk mendahulukan dan memasukkan ‘vaksinasi’ ideologi kebangsaan melalui sosialisasi empat pilar MPR RI yang terus menerus kita tumbuh kembangkan untuk menumbuhkan kekebalan nilai-nilai kebangsaan anak-anak kita,” paparnya.

“Dalam konsepsi ini pendidikan wawasan kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi harus mampu menghadirkan semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan yang meniscayakan setiap anak bangsa untuk mawas diri atas kemajemukan bangsa, mengakui dan menghormati perbedaan yang ada, dan memperlakukan kebhinekaan sebagai kekayaan yang menyatukan, bukan perbedaan yang memisahkan,” lanjut dia.


Baca juga: RKUHP Jangan Diskriminasi Dan Dipakai Untuk Mengkriminalkan Perbedaan

Posisi Strategis Mahasiswa

Sebagai penutup, Bambang mengingatkan peran dan posisi strategis mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara baik sebagai generasi pembelajar, generasi pejuang dan sebagai agen perubahan.

Sebagai generasi pelajar ke potensi akademis dan kematangan pemikiran kalian sebagai insan cendikia diharapkan mampu membangun narasi kebangsaan mengenai pentingnya mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dan merawat kebhinekaan kita melalui metodologi-metodologi dan pendekatan atraktif dan inovatif yang bisa diterima oleh seluruh generasi muda bangsa.

“Sebagai generasi pejuang, kalian akan terus bergulir menghadapi tantangan zaman. Disinilah peran penting kalian untuk dapat menularkan semangat juang yang energik dan etos kerja yang penuh optimisme dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan,” ucap dia.


Baca juga: Anggota DPR Willem Wandik Desak Menko Perekonomian Batalkan Program Kartu Prakerja Dimasa Pandemi Covid-19

“Sebagai agen perubahan, idealisme dan daya dobrak kalian kiranya diharapkan mampu membangun kesadaran dan menemukan komitmen dan meneguhkan tekad masyarakat untuk selalu mempertahankan Pancasila sebagai pandangan hidup dan ideologi dan semangat kebhinekaan sebagai ikatan kebangsaan,” tandas Bambang.

(VIC)

Prof Mudrajad Kuncoro: Bumikan Sistem Ekonomi Pancasila Dengan Bangun Generasi Pancasilais dan Merajut Kebhinekaan

0

IndonesiaVoice.com || Rektor Universitas Trilogi Prof Mudrajad Kuncoro, PhD memberikan Kuliah Umum bertajuk “Membumikan Sistem Ekonomi Pancasila Dengan Membangun Generasi Pancasilais dan Merajut Kebhinekaan” dalam Penyambutan Mahasiswa Baru Universitas Trilogi 2021 secara virtual, Senin (6/9/2021).

Prof Mudrajad Kuncoro memaparkan, Sistem Perekonomian Indonesia (Nasional) adalah “Sistem Ekonomi Pancasila” (SEP) yang disebut sebanyak 9 kali dalam Tap MPR Nomor II/MPR/1998 tentang GBHN.

Mudrajad mengutip pernyataan Anggota Lembaga Pengkajian MPR RI, Prof Didik J Rachbini, yang menyatakan konsep ekonomi Pancasila dalam UUD NRI 1945 sudah jelas yakni berorientasi pada kesejahteraan rakyat, tapi implementasinya sulit. Ekonomi Pancasila dalam implementasinya berbeda nyata dengan nilai-nilai luhur Pancasila berdasarkan konstitusi.


Baca juga: Mungkinkah Berbisnis Tanpa Korbankan Lingkungan?

“Ini yang menjadi pertanyaan dan juga anti tentunya menjadi tugas kita untuk menjabarkannya,” ujar dia.

Lebih jauh Mudrajad menjelaskan perkembangan wacana maupun perkembangan teori SEP yang sudah ada sejak lama. Minimal ada tiga jalur yang telah ditempuh untuk menggaungkan SEP.

“Pertama adalah jalur yuridis formal. Adalah Profesor Sri Adi Sasono dkk yang intinya menerjemahkan SEP dalam konteks ekonomi dan bisnis apa, dengan mengacu pada pasal 33, Pasal 23, Pasal 27 dan Pasal 34 UUD 1945,” urainya.


Baca juga: Ekonomi Tumbuh 7,07 Persen, Mendag: Mari Jaga Momentum Pertumbuhan

Lalu, jalur orientasi. Adalah Prof Emil Salim, Prof Mubyarto, Prof Sumitro Djojohadikusumo dan Dr Alfian yang mencoba mengaplikasikan sila-sila dalam Pancasila dalam konteks bisnis dan ekonomi.

“Terakhir adalah jalur rekonstruksionis konstitusional. Pendirinya Bapak Subiakto Tjakrawerdaya bersama dosen-dosen lainnya dengan menulis buku tentang SEP,” jelas dia.

“Inti SEP ini adalah bagaimana kita mentransferkan ekonomi rakyat yang tradisional dan kapitalisme kolonial menjadi ekonomi modern yang berbasis koperasi,” tambahnya.


Baca juga: Prestasi Ekonomi Pemerintah Jokowi

Visi dan Misi Jokowi-Maruf

Mudrajad melanjutkan arah dan kebijakan dari Pemerintah Jokowi-Maruf Amin saat ini dapat dilihat dari visi dan misinya. Yakni, membangun SDM terampil dan menguasai Iptek, infrastruktur, pemangkasan regulasi, penyederhanaan birokrasi dan transformasi ekonomi dari tergantung pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern.

Pertanyaannya capaian kerjanya bagaimana? Pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi pada tahun 2020, Indonesia mengalami -2% (minus dua persen). “Waktu itu proyeksi saya sesuai dengan kenyataan dengan posisi paling pesimis,” ujarnya.

Akibatnya, lanjut Mudrajad, PTS (Perguruan Tinggi Swasta) juga terkena dampak.

“Terjadi menurunnya daya beli masyarakat. Gairah perkuliahan pun menurun karena mesti kuliah online. Pendapat PTS juga turun, minimal arus kas terganggu. Akhirnya efisiensi menjadi keharusan. Peradaban belajar mahasiswa berubah,” kata dia.


Baca juga: Realisasi Investasi Semester 1 Tahun 2021 Capai Rp 442,8 T, Tetap Tumbuh Semasa Pandemi

Grand Strategi Universitas Trilogi

Lalu, ujar Mudrajad, bagaimana dengan Universitas Trilogi?

“Kami bersama-sama dengan Ketua Yayasan YPPIJ Prof Arissetyanto Nugroho beserta Dewan Pembina dan segenap pengurus lainnya, mencoba untuk menghadapi pandemi ini dengan sejumlah strategi dan program di Universitas Trilogi. Kita coba mencari grand strategi yang jitu menghadapi pandemi Covid ini,” tuturnya.

Mudrajad membeberkan beberapa grand strategi untuk Universitas Trilogi. Pertama, adalah menentukan arah strategik dan program prioritas.

Kedua, pengembangan SDM yang perlu diprioritaskan. Apa dan bagaimana rasio dosen dan mahasiswa agar kampus ini unggul dan mendapatkan apresiasi yang tertinggi. Diantaranya, dengan meningkatkan persentase jumlah jabatan fungsional dosen.


Baca juga: Pakar Hukum Dhaniswara K Harjono: Prediksi 2021, Akan Terjadi Booming Sengketa

“Hasilnya saat ini Universitas Trilogi tercatat sebagai perguruan tinggi nomor dua dilihat dari persentase dosen yang punya jabatan fungsional dan sertifikasi dosen,” imbuhnya.

Ketiga, meningkatkan jumlah dosen yang bergelar S3, Rektor Kepala dan juga Guru Besar. “Nah ini sudah kita wujudkan semua. Pun, dari segi budgeting, kita membuat creative funding,” ujar dia.

Selain itu, dilakukan juga transformation culture, berupa perubahan kultur, perubahan etos kerja, stop selling start leading (tidak hanya menjual produk dan jasa tapi itu harus melebihi perguruan tinggi yang lain).

Juga, memberikan insentif kepada dosen maupun mahasiswa untuk penulisan buku jurnal dan konferensi. Dan memberikan Quality Improvement yakni melakukan teaching evaluation, tracer study alumni dan penjaminan mutu.


Baca juga: Dating Palembangan: HUT RI Ke-76, Momen Pemerintah dan Masyarakat Bahu-membahu Putus Penyebaran Covid

“Hasilnya, Alhamdulillah, pada tahun pertama baru saya menjalankan amanah sebagai Rektor Universitas Trilogi, penerimaan mahasiswa baru yang sebelumnya hanya 353 orang menjadi 730 orang,” jelas dia.

“Sementara pada hari ini, ada 485 orang terdaftar. Dan masih menunggu ada sekitar 519 pendaftar yang belum melakukan pembayaran registrasi. Jadi, Insya Allah nanti dengan bantuan semua, semoga nanti bisa kita tingkatkan penerimaan mahasiswa baru tahun ini lebih dari 831 mahasiswa,” ucap Mudrajad.

Pada akhir sambutannya, Mudrajad mengajak semua untuk melawan Covid-19 dengan Strategi COVID juga.


Change, mengubah strategi berusaha, relokasi anggaran dan strategi bertahan ditengah pandemi.

Offer more, menawarkan promosi yang lebih banyak.

Vary, perbanyak diversifikasi produk dan jasa yang dibutuhkan masyarakat dan diminati kaum milenial.

Improve, perbaiki kinerja universitas dengan kenali struktur biaya, mana yang bisa dihemat, mana proses bisnis yang harus diubah agar efektif dan lebih optimal.

Do It Fast and Now, Lakukan kini dan secepatnya.

(VIC)

 

Wow, Perempuan Ini Tak Pernah Tidur Selama 40 Tahun 

0

Seorang perempuan China dikabarkan tak pernah tidur selama 40 tahun.

Dia juga merasa tak pernah merasa sama sekali kelelahan ataupun mengantuk.

Kondisi itu dirasakan oleh Li Zhanying, seorang perempuan yang berasal dari Henan, China.


Keadaan unik yang dirasakan oleh Li tersebut dikonfirmasikan suami dan juga tetangganya.

Beberapa dari mereka bahkan sempat melakukan uji coba terhadap keadaan Li, tetapi mereka sendiri malah tertidur.

Dikutip dari Oddity Central, Li mengaku terakhir kali ia tidur adalah ketika berusia lima atau enam tahun.


Bagi perempuan yang kini berusia di pertengahan 40 tahun itu, tidur pun menjadi sebuah kenangan lama.

Li pun menjadi sosok terkenal di desanya di Zhongmou, Henan, karena selalu terjaga baik di siang maupun malam hari.

Ia bahkan tak pernah tertidur meski hanya untuk 30 menit.


Beberapa tahun lalu, beberapa tetangga berusaha membuktikan klaimnya dengan sebuah tes bermain kartu melawannya pada malam hari di bawah lampu jalan.

Namun, pada akhirnya mereka kemudian memutuskan pulang ke rumah, atau tertidur saat bermain, sementara ia tetap terbangun.

Sementara itu, suami Liu, Liu Suoquin, mengatakan istrinya tampaknya tak pernah merasa perlu untuk tidur.


Sejak menikah, ia menyadari istrinya tetap terjaga siang dan malam, kerap melakukan pekerjaan rumah bahkan di tengah malam.

Li selalu mengatakan kepada suaminya, ia tak pernah bisa tidur.

Liu pun mencoba memberi istrinya pil tidur, tapi tak pernah berhasil.

Seperti diungkapkan Bastille Post, Li kerap meminta bantuan medis untuk kondisinya yang aneh tersebut.

Tetapi dokter tak pernah menemukan sesuatu yang aneh.


Akhirnya masalah tidur yang dialaminya terpecahkan setelah ia mendatangi sebuah pusat pengobatan di Beijing.

Tim dokter menggunakan sensor untuk memantau perempuan itu selama 48 jam.

Dari situ ditemukan bahwa ia sebenarnya tertidur, namun tidak dengan cara seperti kebanyakan orang.


Data menunjukkan bahwa Li kerap tertidur sebentar atau cukup lama. Namun tidak dengan melakukannya di tempat tidur atau dengan mata tertutup.

Hal itu terjadi ketika ia sedang berbincang dengan suaminya.

Dokter menyebut fenomena ini sebagai “tertidur saat terjaga”, kondisi yang sama seperti tidur berjalan, di mana organ dan saraf Li tetap aktif saat tidur.


Dokter mengatakan Li sebenarnya ditipu oleh otaknya sendiri.

Ketika ia beristirahat, bagian tubuhnya sudah berhenti bergerak, tetapi ia tak perlu menutup mata untuk melakukannya.

Misalnya, ketika berbicara dengan suaminya, terkadang bola mata Li menjadi lambat dan matanya menjadi cekung.

Hal itu menunjukkan bahwa dia sedang beristirahat selama momen-momen itu.

 

Ada Apa Kejari Jakarta Pusat Pindahkan 120 Tahanan ke Rutan Salemba?

0

Jumlah tahanan yang sedang mengikuti proses hukum membludak di Kepolisian. Kasus-kasus yang ditangani di tingkat Polres maupun Polsek di Wilayah Hukum Jakarta Pusat itu masih proses persidangan.

Mengingat kapasitas dan daya tampung ruang tahanan yang tidak memadai, Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kejari Jakpus) pun memindahkan ratusan tahanan itu ke Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta Pusat.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Kasi Pidum Kejari Jakpus), Nurwinardi menuturkan, ada sebanyak 120 tahanan yang sedang menjalani proses persidangan dari Polres maupun Polsek di wilayah hukum Jakarta Pusat dipindahkan ke Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta Pusat.


Baca juga: Raih Gelar Doktor Hukum, Hulman Panjaitan: Pentingnya Pembentukan Pengadilan Sengketa Konsumen 

Nurwinardi yang memimpin langsung pemindahan 120 tahanan tersebut mengaku, hal itu dilakukan untuk mengurangi beban jumlah tahanan yang berada di Polres Metro Jakarta Pusat dan beberapa Polsek yang telah melebihi kapasitas daya tampung.

“Sebelum dipindahkan ke Rutan Salemba, telah dilaksanakan vaksinasi Covid-19. Serta telah melalui test antigen terhadap para tahanan A III tersebut, dan dengan hasil negatif,” tutur Kasi Pidum Kejari Jakpus, Nurwinardi, Sabtu (04/09/2021).

Nurwinardi menuturkan, pemindahan para tahanan itu dilakukan berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM).


Baca juga: Pakar Hukum Dhaniswara K Harjono: Prediksi 2021, Akan Terjadi Booming Sengketa

Pemindahan sebanyak 120 tahanan itu dipimpin langsung oleh Kasi Pidum Kejari Jakpus Nurwinardi dengan dikawal oleh petugas.

Sebanyak 120 tahanan yang dipindahkan masing-masing berasal dari Polres Metro Jakarta Pusat sebanyak 74 tahanan, Polsek Metro Menteng sebanyak 8 tahanan, Polsek Metro Cempaka Putih sebanyak 13 tahanan, Polsek Metro Johar 13 tahanan dan Polsek Metro Tanah Abang sebanyak 12 tahanan. (JON)

Persatuan Jaksa Indonesia Gelar Vaksinasi Door To Door Bagi Penyandang Disabilitas dan Tuna Netra

0

Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangkalan, Jawa Timur, menggelar vaksinasi Covid-19 dengan cara door to door bagi penyandang disabilitas tuna netra.

Cara ini lebih efektif, dikarenakan para penyandang disabilitas dan tunanetra mengalami kesulitan mendatangi Puskesmas atau tempat vaksinasi lainnya.

Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) Kejari Bangkalan yang termasuk dalam satuan tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 bersama sejumlah Tenaga Kesehatan (Nakes) mendatangi kediaman warga secara door to door.


Baca juga: Ada Apa Kejari Jakarta Pusat Pindahkan 120 Tahanan ke Rutan Salemba?

Mereka melakukan suntik vaksinasi guna memutus mata rantai penyebaran dan penularan Covid-19 di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Bangkalan, Candra Saptaji mengatakan, butuh ketelatenan ekstra agar penyandang disabilitas ini bersedia untuk divaksin.

“Alhamdulillah, sebanyak 50 dosis vaksin moderna berhasil kami berikan kepada masyarakat penyandang disabilitas dan tuna netra. Dengan cara kami datangi di kediamannya masing-masing,” ujar Candra Saptaji.


Baca juga: Dianggap Tak Adil, Tim Advokat Dampingi Muhamad Kace di Bareskrim

Hal itu disampaikan Chandra Saptaji usai mendatangi kediaman warga penyandang disabilitas dan tuna netra dan melaksanakan vaksinasi. Kegiatan dilakukan bersama Pengurus PJI Kejari Bangkalan dan Tim Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, di Desa Keleyan, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Jumat (03/09/2021).

Selain menggelar vaksinasi Covid -19, Pengurus PJI Kejari Bangkalan juga memberikan bantuan sembako kepada para penyandang disabilitas dan tuna netra yang telah divaksinasi.

Hal ini dimaksudkan agar para penyandang disabilitas dan tuna netra termotivasi mengikuti vaksinasi Covid-19.


Baca juga: Raih Gelar Doktor Hukum, Hulman Panjaitan: Pentingnya Pembentukan Pengadilan Sengketa Konsumen 

Kajari Bangkalan, Candra Saptaji mengatakan, PJI Kejari Bangkalan bersama Tim Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 melaksanakan kegiatan ini untuk mendukung Program Pemerintah Percepatan Pelaksanaan Vaksinasi bagi Kelompok Disabilitas dan Tuna Netra.

“Kami akan terus bergerak memberikan vaksinasi secara massal kepada masyarakat di Kabupaten Bangkalan. Agar terhindar dari penyebaran dan penularan Covid -19,” tandas Candra Saptaji.

Sedangkan Ketua Umum Persatuan Jaksa Indonesia (PJI), Setia Untung Arimuladi, mengapresiasi langkah yang dilakukan PJI Kejari Bangkalan yang melakukan vaksinasi door to door kepada masyarakat.


Baca juga: Dating Palembangan: HUT RI Ke-76, Momen Pemerintah dan Masyarakat Bahu-membahu Putus Penyebaran Covid

“Ini sebagai bentuk kepedulian PJI terhadap kesehatan masyarakat di tengah-tengah wabah pandemi Covid -19. Harapannya, semoga kita semua tetap selalu sehat,” ujar Setia Untung Arimuladi, yang juga Wakil Jaksa Agung RI. (JON)