Beranda blog Halaman 25

AS Naikkan Tarif, Indonesia Ogah Balas Dendam, Ini Alasannya

0

IndonesiaVoice.com – Pemerintah terus melakukan koordinasi lintas Kementerian dan Lembaga serta menjalin komunikasi dengan United States Trade Representative (USTR), U.S. Chamber of Commerce, dan negara mitra lainnya dalam rangka merumuskan langkah strategis yang tepat guna merespons kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.

Koordinasi dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh dan selaras dengan kepentingan nasional.

Pemerintah menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mengambil langkah retaliasi atas kebijakan tarif tersebut dan memilih untuk menempuh jalur diplomasi dan negosiasi untuk mencari solusi yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

Pendekatan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang hubungan perdagangan bilateral, serta untuk menjaga iklim investasi dan stabilitas ekonomi nasional.

Baca juga: Laut Mengejar, Daratan Menyusut, 2000 Pulau Akan Hilang: Nasib Indonesia di Laporan PBB




 

“Kita dikenakan waktu yang sangat singkat, yaitu 9 April, diminta untuk merespons. Indonesia menyiapkan rencana aksi dengan memperhatikan beberapa hal, termasuk impor dan investasi dari Amerika Serikat,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rapat Koordinasi Terbatas Lanjutan secara virtual terkait Kebijakan Tarif Resiprokal Amerika Serikat, dalam keterangan persnya, Minggu (6/4/2025).

Di sisi lain, Pemerintah juga mencermati potensi dampak kebijakan tarif terhadap sejumlah sektor industri padat karya berorientasi ekspor, seperti industri apparel dan alas kaki.

Sektor-sektor tersebut dinilai rentan terhadap fluktuasi pasar global, sehingga Pemerintah berkomitmen untuk terus memberikan dukungan melalui berbagai insentif yang tepat sasaran untuk menjaga daya saing dan keberlangsungan usaha.

Tarif resiprokal Amerika Serikat sendiri akan berlaku mulai tanggal 9 April 2025. Terdapat beberapa produk yang dikecualikan dari tarif resiprokal yakni antara lain barang yang dilindungi 50 USC 1702(b) misalnya barang medis dan kemanusiaan, produk yang telah dikenakan tarif berdasarkan Section 232 yaitu baja, aluminium, mobil dan suku cadang mobil, produk strategis yaitu tembaga, semikonduktor, produk kayu, farmasi, bullion (logam mulia), serta energi dan mineral tertentu yang tidak tersedia di Amerika Serikat.

Baca juga: Dukung Ganjar-Mahfud, Cak Lontong Alami Intoleransi Politik, ‘Dihukum’ Pembatalan Job 



Pemerintah juga akan terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait, termasuk asosiasi pelaku usaha untuk memastikan bahwa suara industri dalam negeri turut menjadi bagian dari proses perumusan strategi kebijakan.

Kajian dan perhitungan terus dilakukan secara mendalam terhadap implikasi fiskal dari berbagai langkah kebijakan yang tengah dipertimbangkan.

Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil tetap sejalan dengan prinsip kehati-hatian fiskal serta menjaga stabilitas APBN dalam jangka menengah dan panjang.

“Karena ini masih dinamis dan masih perlu working group untuk terus bekerja, Bapak Presiden minta kita bersurat sebelum tanggal 9 April 2025. Namun teknisnya, tim terus bekerja untuk melakukan dalam payung deregulasi sehingga ini merespons dan menindaklanjuti daripada Sidang Kabinet yang lalu di bulan Maret,” ungkap Menko Airlangga.

Baca juga: Selami Potensi Andaliman, Kolaborasi PT ST Morita Farma dan BRIN Buka Pintu Inovasi Baru dalam Kesehatan dan Kecantikan




 

Pemerintah juga akan mengundang para asosiasi pelaku usaha dalam forum sosialisasi dan penjaringan masukan terkait kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada hari Senin (7/4/2025) sebagai bagian dari upaya merumuskan langkah strategis yang responsif dan inklusif.

“Besok seluruh industrinya akan diundang untuk mendapatkan masukan terkait dengan ekspor mereka dan juga terkait dengan hal-hal yang perlu kita jaga terutama sektor padat karya,” kata Menko Airlangga.

Tidak hanya merespons kebijakan tarif baru Amerika Serikat, Pemerintah juga menyiapkan langkah strategis menyambut pembukaan pasar Eropa yang juga penting karena merupakan pasar terbesar kedua setelah China dan Amerika Serikat.

Baca juga: Demi Provinsi Tapanuli, JS Simatupang Ajak Perantau Bantu Sukseskan Pemekaran, Ini Solusinya




 

“Ini juga bisa kita dorong, sehingga kita punya alternatif market yang lebih besar,” pungkas Menko Airlangga.

Turut hadir dalam Rakortas tersebut, antara lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar, serta sejumlah Wakil Menteri dan perwakilan Kementerian/Lembaga.

Laut Mengejar, Daratan Menyusut, 2000 Pulau Akan Hilang: Nasib Indonesia di Laporan PBB

0

IndonesiaVoice.com – Di suatu pagi di pesisir utara Jawa, nelayan-nelayan tua sudah tak lagi bisa mengenali garis pantai masa kecil mereka. 

Air laut yang dulu berhenti di batas pohon kelapa, kini merayap jauh ke daratan, menggerogoti rumah-rumah dan memaksa anak-cucu mereka mengungsi. 

Ini bukan lagi sekadar ombak—ini adalah pesan dari bumi yang sedang marah.

Laporan terbaru Badan Meteorologi Dunia (WMO) State of the Climate in Asia 2023 mengonfirmasi apa yang sudah lama dirasakan warga pesisir: “Asia, termasuk Indonesia, sedang memanas lebih cepat daripada rata-rata dunia”. 

Baca juga: Dukung Ganjar-Mahfud, Cak Lontong Alami Intoleransi Politik, ‘Dihukum’ Pembatalan Job 


Sejak 1961, benua ini menghangat hampir dua kali lipat kecepatan global. 

“Kesimpulan dari laporan ini sangat menyadarkan kita,” ujar Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo, dengan nada yang tak bisa menyembunyikan kegentingan.

2023: Tahun Terpanas, Bencana Terganas

Tahun lalu, Asia tercatat sebagai medan pertempuran antara manusia dan iklim yang kian tak bersahabat. 

Dari gelombang panas yang membakar ladang di India hingga banjir bandang yang menyapu permukiman di China, bencana hidrometeorologi—yang dipicu oleh cuaca—menyumbang 79 peristiwa ekstrem. 

Baca juga: 1.644 Tewas! Gempa M7.7 Hancurkan 50 Masjid di Myanmar Saat Persiapan Idul Fitri


Lebih dari 80%-nya adalah banjir dan badai, merenggut 2.000 nyawa dan menggusur sembilan juta orang.

“Penduduk Asia masih beruntung karena tidak ada kematian akibat panas ekstrem,” tulis laporan itu, seolah ingin memberikan secercah harapan. 

Tapi di Bangladesh dan Myanmar, Topan Mocha—badai terkuat dalam satu dekade—mengingatkan kita: “nasib negara kepulauan seperti Indonesia bisa berubah dalam satu malam”.

Laut yang Tak Pernah Berhenti Menggerus

Data WMO memperlihatkan garis-garis kuning dan merah di peta kenaikan permukaan laut. 

Baca juga: Selami Potensi Andaliman, Kolaborasi PT ST Morita Farma dan BRIN Buka Pintu Inovasi Baru dalam Kesehatan dan Kecantikan


Indonesia ada di zona kuning—tidak yang terburuk, tapi jelas bukan pertanda baik. 

Sejak 1993, permukaan laut global naik 3,4 mm per tahun, dan pulau-pulau kecil adalah yang pertama merasakan dampaknya.

Proyeksi USAID pada 2016 pernah memprediksi: “2.000 pulau di Indonesia bisa tenggelam pada 2050”. 

Artinya, dalam 25 tahun ke depan, 42 juta orang mungkin kehilangan rumah. 

Baca juga: Demi Provinsi Tapanuli, JS Simatupang Ajak Perantau Bantu Sukseskan Pemekaran, Ini Solusinya


Bagi warga di Kepulauan Seribu atau pesisir Demak, ini bukan lagi ramalan—tapi kenyataan yang perlahan menenggelamkan kuburan leluhur mereka.

Peringatan Dini vs Ketidaksiapan

“Kesiapsiagaan telah menyelamatkan ribuan nyawa,” kata Armida Salsiah Alisjahbana dari ESCAP, mitra penyusun laporan WMO. 

Tapi pertanyaannya: “berapa banyak lagi yang bisa diselamatkan jika mitigasi hanya sekadar reaktif, bukan preventif?”

Di Indonesia, rencana pengurangan emisi dan adaptasi iklim sudah ada di atas kertas. 

Baca juga: Vonis Ringan Guru Besar Hukum Unhas Marthen Napang, Apakah Pemalsuan Putusan MA Dianggap Sepele?


Tapi di lapangan, hutan mangrove terus dikikis untuk tambak, proyek reklamasi pantai masih berjalan, dan kebijakan tata ruang sering kalah oleh investasi jangka pendek.

Kita Tidak Bisa Menunggu Air Mengejar Kita

Peringatan PBB ini bukan lagi sekadar laporan—tapi bel alarm yang memecah kesadaran. 

Jika suhu terus naik, laut terus meluas, dan kebijakan tetap setengah hati, maka generasi berikutnya tak hanya akan mewarisi bumi yang lebih panas—tapi juga daratan yang menyusut.

Seperti kata nelayan tadi: “Dulu kami melaut untuk mencari ikan. Sekarang, kami kembali ke darat hanya untuk menemukan bahwa laut telah mengikuti kami pulang.”

(Red/dari berbagai sumber)

Dukung Ganjar-Mahfud, Cak Lontong Alami Intoleransi Politik, ‘Dihukum’ Pembatalan Job 

0

IndonesiaVoice.com – Lies Hartono—atau lebih akrab disapa Cak Lontong—terbiasa menghadirkan gelak tawa. Namun, kali ini, yang ia rasakan bukanlah tawa, melainkan getir. 

Di sebuah ruang virtual, dalam program Ruang Sahabat milik Mahfud MD, suaranya pecah saat menceritakan bagaimana dukungan politiknya mengeringkan sumber penghidupannya.

“Semua pekerjaan saya dibatalkan dalam seminggu,” ujarnya, Sabtu (29/3/2025), dengan nada datar yang justru menyimpan luka.

Sejak ia berdiri di depan Komisi Pemilihan Umum (KPU), mengantarkan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD sebagai calon presiden dan wakilnya, pintu-pintu pertunjukan mulai tertutup. 

Baca juga: Mereka Datang untuk Mengabdi, Tapi Justru Dibantai: Tragedi di Yahukimo


Bukan hanya janji yang menguap, melainkan juga deposit yang sudah dibayarkan. 

“Mereka yang sudah memberi DP pun membatalkan,” katanya, seolah tak percaya bahwa pilihan suaranya bisa semahal itu.

DP yang Tertinggal dan Ironi Demokrasi

Dalam candaannya yang khas, Cak Lontong mencoba meringankan beban. 

“Syukurlah, DP-nya tidak dikembalikan. Jadi, masih ada yang bisa dipegang,” ucapnya, tersenyum getir. 

Baca juga: Batak Center Gelar Memorial Lecture 180 Tahun Raja Sisingamangaraja XII, Nyalakan Kembali Api Perjuangan di Tengah Perubahan Zaman


Tapi di balik itu, ada pertanyaan besar: “bagaimana mungkin sebuah hak konstitusional—hak memilih—justru menjadi bumerang bagi seorang warga negara?

“Saya merasa aneh,” aku pria yang karirnya dibangun dari kelucuan ini. “Suara saya dilindungi undang-undang, tapi justru membuat saya dimusuhi.”

Ia tak menyangka bahwa politik, yang seharusnya dijalankan dengan kepala dingin, justru dipenuhi dendam kesumat. 

“Ini tidak profesional,” ujarnya. “Politik seharusnya tentang kepentingan, bukan perasaan.”

Baca juga: Selami Potensi Andaliman, Kolaborasi PT ST Morita Farma dan BRIN Buka Pintu Inovasi Baru dalam Kesehatan dan Kecantikan


Subjektivitas yang Menghakimi

Dalam dunia stand-up comedy, Cak Lontong dikenal dengan guyonan absurdnya yang memancing tawa tanpa menyakiti. 

Tapi di luar panggung, ia justru menjadi korban dari sesuatu yang jauh dari absurd: “intoleransi politik”.

“Politikus bilang tidak ada teman atau lawan abadi, hanya kepentingan. Tapi di lapangan, masih banyak yang subyektif,” katanya.

Yang terjadi padanya adalah cermin dari sebuah penyakit demokrasi: “ketika perbedaan pilihan dianggap sebagai pengkhianatan. Ketika kontrak kerja bisa diputus hanya karena warna politik. Ketika tawa—yang seharusnya mempersatukan—ternyata tak cukup kuat melawan polarisasi”.

Baca juga: Demi Provinsi Tapanuli, JS Simatupang Ajak Perantau Bantu Sukseskan Pemekaran, Ini Solusinya


Tetap Berdiri di Tengah Runtuhnya Panggung

Meski pekerjaannya menyusut, Cak Lontong tak menyesal. Baginya, mendukung Ganjar-Mahfud adalah pilihan hati nurani. 

Tapi ia ingin semua orang sadar: “demokrasi tak akan sehat jika setiap pilihan harus dibayar dengan harga yang mahal”.

“Saya hanya komedian,” katanya. “Tapi saya juga warga negara.”

Dan di negeri ini, ternyata, menjadi warga negara yang bebas memilih kadang lebih sulit daripada membuat orang tertawa.

1.644 Tewas! Gempa M7.7 Hancurkan 50 Masjid di Myanmar Saat Persiapan Idul Fitri

0

IndonesiaVoice.com – Langit masih berdebu ketika Htet Min Oo (25) membuka matanya. Bau tanah basah, besi bengkok, dan sesuatu yang lebih tajam—bau kematian—memenuhi udara.

Separuh tubuhnya terperangkap di bawah reruntuhan tembok masjid, tempat ia baru saja berwudhu untuk sholat Jumat.

Di telinganya masih bergema suara gemuruh, seperti langit yang runtuh ke bumi.

Baca juga: Ir Jakarias Sihaloho Dikukuhkan sebagai Ketua Umum Parsadaan Sihaloho Dohot Boruna Se-Jabodetabek 2025-2028, Sada Sihaloho!


Gempa berkekuatan M7,7 telah mengubah Mandalay menjadi kota yang bergetar—bukan hanya oleh guncangan bumi, tapi juga oleh ratapan.

Militer Myanmar mengumumkan korban tewas mencapai 1.644 jiwa per Sabtu (29/3). Tapi angka itu hanyalah statistik.

Di baliknya, ada nama-nama: seorang nenek yang tak sempat menyambung sholat terakhirnya, dua paman yang terkubur di bawah beton, dan ratusan Muslim lain yang hilang di tengah persiapan Idul Fitri.

Baca juga: Mereka Datang untuk Mengabdi, Tapi Justru Dibantai: Tragedi di Yahukimo


Lebih dari 50 masjid hancur. Bukan sekadar bangunan, melainkan saksi bisu dari doa-doa yang tiba-tiba terputus.

“Saya Menyelamatkan Empat Orang, Tiga di Antaranya Sudah Mati”

Di Desa Sule Kone, seorang lelaki 39 tahun—yang namanya ia rahasiakan, karena ketakutan lebih besar daripada keinginan untuk dikenang—berlari di antara puing. Tangannya mengais batu dan kayu, mencoba menarik tubuh-tubuh yang sebagian sudah dingin.

“Saya menyelamatkan empat orang dengan tangan saya sendiri,” katanya, suaranya pecah.

Baca juga: Raja Sisingamangaraja XII, Cahaya Perlawanan yang Tak Pernah Padam


“Tiga diantaranya sudah tidak bernyawa. Yang keempat… meninggal di pelukan saya.”

Ia menggambarkan pemandangan itu seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai: jamaah terjepit di antara tiang-tiang roboh, Al-Qur’an berserakan di lantai yang retak, suara azan tergantikan oleh jerit minta tolong.

Lalu, gempa susulan datang. Ia harus lari, meninggalkan seorang pria yang masih terjebak, tangannya terulur seolah memohon.

Baca juga: Menggali Nilai Keteladanan Sisingamangaraja XII, Cahaya yang Menyinari Generasi Milenial


“Kami tidak punya alat berat. Hanya tangan dan doa,” ujarnya.

“Tidak Ada yang Datang Menyelamatkan Kami”

Htet Min Oo masih mencoba mengikis beton dengan jarinya yang sudah berdarah ketika matahari terbenam.

Dua pamannya dan neneknya masih di bawah sana. Tapi semakin lama, harapan semakin tipis.

(Dari berbagai sumber)

Ir Jakarias Sihaloho Dikukuhkan sebagai Ketua Umum Parsadaan Sihaloho Dohot Boruna Se-Jabodetabek 2025-2028, Sada Sihaloho!

0

IndonesiaVoice.com – Suasana khidmat dan penuh sukacita menyelimuti Graha Cibening, Bekasi, pada Minggu (23/03/2025), saat Ir. Jakarias Sihaloho/br Panjaitan resmi dilantik dan dikukuhkan sebagai Ketua Umum Parsadaan Sihaloho Dohot Boruna (PSB) Se-Jabodetabek untuk periode 2025-2028.

Acara yang digelar dengan penuh kehormatan ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk perwakilan dari Delapan Marga Pengurus DPP PPRSI (Parsadaan Pomparan Raja Silahisabungan Indonesia).

Pelantikan Ir. Jakarias Sihaloho sebagai Ketua Umum PSB Se-Jabodetabek, didampingi Pantas Reagen Sihaloho (Sekretaris Umum) dan Bahtiar Manurung, SE, MM (Bendahara Umum), diawali dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) Kepengurusan, diikuti dengan pembacaan janji pengurus.

Prosesi sakral ini semakin bermakna dengan penyematan topi tali-tali dan ulos, penyerahan pataka organisasi, serta pemberian Tungkot (Tongkat Kebesaran) sebagai simbol tanggung jawab dan kepemimpinan.

Baca juga: Batak Center Gelar Memorial Lecture 180 Tahun Raja Sisingamangaraja XII, Nyalakan Kembali Api Perjuangan di Tengah Perubahan Zaman


Ir Jakarias Sihaloho
Pdt. DR. Ir. Ramles Sihaloho/ br Nadeak (Dewan Penasehat) menyerahkan pataka organisasi kepada Ketua Umum Parsadaan Sihaloho Dohot Boruna (PSB) Se-Jabodetabek periode 2025-2028, Ir Jakarias Sihaloho

Kehadiran Drs. Martua Situngkir, Ak., selaku Ketua DPP PPRSI, beserta perwakilan dari Delapan Marga (Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Butar Raja, Bariba Raja, Debang Raja, Batu Raja, dan Tambun Raja/Si Raja Tambun), turut memeriahkan acara.

“Selamat bekerja kepada seluruh pengurus. Mari kita wujudkan harapan dari Loho Raja,” ujar Martua Situngkir dengan penuh semangat.

St. Drs. M. Chrismes Haloho/br Sumbayak, mewakili Dewan Penasihat, menekankan pentingnya memulai dan melanjutkan hal-hal baik dalam organisasi.

Ia menyebut kehadiran PPRSI sebagai penyemangat bagi seluruh anggota Sihaloho Raja.
Chrismes juga mengajak semua pihak untuk bersatu, mengesampingkan perbedaan, dan menjadikan dinamika yang ada sebagai tonggak sejarah menuju kejayaan bersama.

Baca juga: Selami Potensi Andaliman, Kolaborasi PT ST Morita Farma dan BRIN Buka Pintu Inovasi Baru dalam Kesehatan dan Kecantikan


Ir Jakarias Sihaloho
St. Drs. M. Chrismes Haloho/ br Sumbayak (Dewan Penasehat) menyerahkan Tongkat Kebesaran (Tungkot) kepada Ketua Umum Parsadaan Sihaloho Dohot Boruna (PSB) Se-Jabodetabek periode 2025-2028, Ir. Jakarias Sihaloho

“Mari kita persatukan Parsadaan Sihaloho Raja ini. Bersama-sama, kita hadapi tantangan dan rintangan, serta jalani suka dan duka sebagai satu keluarga besar,” tegas Chrismes.

Komitmen Ketum Terpilih

Dalam pidatonya, Ir. Jakarias Sihaloho menyampaikan rasa terima kasih dan kehormatannya atas kehadiran para tamu undangan, terutama Pengurus PPRSI.

Ia menegaskan bahwa PSB akan selalu berkiblat ke Tumaras (Tugu Makam Raja Silahisabungan) sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur.

“Pesta ini luar biasa meriah, melebihi ekspektasi saya. Ini membuktikan bahwa kita semua rindu akan pertemuan seperti ini. Namun, jangan hanya meriah saat ini saja. Mari kita bekerja keras dan melayani dengan sungguh-sungguh. Kita adalah satu, Ho do au, au do ho (Kamu adalah aku, aku adalah kamu). Sada Sihaloho,” ucap Jakarias dengan penuh semangat.

Baca juga: Jesmer Sihaloho Pimpin DPD PPRSI SeJabodetabek, Siap Kembalikan Semangat Persatuan


ir jakarias sihaloho

Sebelum pelantikan, acara diawali dengan ibadah syukur yang dipimpin oleh Pdt. Berton Nababan, MTh.

Keseluruhan acara mengusung tema: “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau”, dengan subtema: “Parsadaan Sihaloho Raja Dohot Boruna (PSB) hadir sebagai pemersatu dan menjadi Rumah Besar bagi seluruh Pomparan Sihaloho Jabodetabek”.

Acara pelantikan ditutup dengan tarian tradisional Tortor Namarhahamaranggi, Tortor Naposobulung, dan Tortor anak-anak, yang menambah kemeriahan suasana. Pembagian doorprize turut menyemarakkan acara yang berlangsung hingga sore hari.

Dengan dilantiknya Ir. Jakarias Sihaloho sebagai Ketua Umum PSB Se-Jabodetabek, diharapkan organisasi ini dapat terus mempersatukan seluruh Pomparan Sihaloho dan menghadapi tantangan ke depan dengan semangat kebersamaan dan persatuan. Sada Sihaloho!

Baca juga: Mubes Ke-2, Martua Situngkir Nahkodai Parsadaan Pomparan Raja Silahisabungan Indonesia 2024-2029


 

BADAN PENGURUS HARIAN (BPH)
PARSADAAN SIHALOHO RAJA DOHOT BORUNA SEJABODETABEK
PERIODE 2025-2028

DEWAN PENASEHAT

1. St. Drs. M. Chrismes Haloho/ br Sumbayak ( A. Morado)
2. Pdt. DR. Ir. Ramles Sihaloho/ br Nadeak ( Op. Audrielle).
3. Drs. Jamulo Sihaloho/ br Simarmata + ( A. Sisca)
4. Raja Liberti Sihaloho/ br Damanik ( Op. Rajamuda)
5. Ir. Marihat Haloho/ br Ginting ( Op. Miko)
6. Marcius Sihaloho/br Simarmata ( Op. Jose)
7. Drs. Boni Sihaloho MM/ br Butarbutar ( Op. Kembar)
8. St. P.H. Sihaloho/ br Simanjuntak ( Op. Otniel)
9. Jesmer Sihaloho SE, CPA/ br Manurung ( A. Priscilla)
10. Demetrius Sihaloho/ br Simarmata ( Op. Turedo)
11. Ir. Antonius Sihaloho/ br Lingga ( Op. Melvin)
12. Drs. Hamonangan Sihaloho/ br.Simarmata ( Op. Rogress)
13. Josmar Sihaloho SH/ br Turnip ( A. Caroline)
14. Frans H. Sihaloho SH/ br Simarmata ( Op. Amaro)
15. Letkol ( Purn) Robin Sihaloho/ br Manurung ( A. Mian)
16. AKBP Naning Sihaloho SH/ br Siboro ( A. Monika)
17. Drs. Lapis Sihaloho MM/ br Turnip ( A. Rafliska)
18. W. Sihaloho/ br Sidauruk ( O. Joel)
19. U. T. Sijabat/ br Sihaloho ( Op. Danielo)
20. Sahala Manihuruk SH/ br Sihaloho ( Op. Lucia)
21. Drs. Badia Simarmata/ br Sihaloho ( Op. Pio)



KETUA UMUM
Ir. Jakarias Sihaloho/ br Panjaitan ( A. Jessica)

KETUA WILAYAH
1. Ketua 1: Ir. Ridwan Haloho/ br Napitupulu ( A. Riris).
2. Ketua 2 : Drs. Nelson Sihaloho/ br Hutajulu ( A. Andre).
3. Ketua 3 : A. Elkana Sihaloho/ br Simbolon (+).
4. Ketua 4 : Denny Sihaloho/ br Siburian ( A. Erika).

SEKRETARIS UMUM
Pantas Reagan Sihaloho/ br Sianturi ( A. Daffina).

Sekretaris 1: Donald Sihaloho/ br Sihombing ( A. Otniel).

Sekretaris 2: Ir. Baginda Sihaloho, ST, MM, SH/ br Simarmata ( A. Lucy).

BENDAHARA UMUM
Bahtiar Manurung SE, MM/br. Haloho ( A. Theo).

Bendahara 1: Saut Pangaribuan SH/ br. Sihaloho ( A. Retta).

Bendahara 2: Bram L. Simbolon/ br Sihaloho ( A.Septian ).



BIDANG KEROHANIAN:
1. Pdt. Carter Sihaloho, S.Th/ br Pasaribu ( A.Michelle).
2. Pdt. Parulian Sihaloho/ br Sitanggang ( A. Niken).
3. Pdt. Ir. Sahat M. Sihaloho/ br Simarmata (A.Yosua).
4. St. Drs. Tumpal Sihaloho/ br Simarmata ( A. Rodo)
5. Drs. St. Miller Sihaloho/ br Panjaitan ( O. Gevaril ).
6. St. Muba Okto Sihaloho S. Sos/br Sipahutar ( A. Vania).

BIDANG ADAT DAN BUDAYA
1. Drs. Amir Sjarifuddin Sihaloho/br. Pasaribu ( O. Mulatua).
2. St. Drs. Berlin Sihaloho/ br Sihombing ( A. Gospel).
3. Pendi Sihaloho/ br Napitu ( A. Ilham).
4. Sardol Sihaloho/ br Situmorang ( A. Kenzo).
5. Togi Sihaloho/ br Tamba ( A. Anderson).

BIDANG KEPEMUDAAN
1. Ir. Ruben Haloho/ br Siregar ( A. Bella).
2. Nico Sihaloho ST/ br Pasaribu ( A. Davien).
3. Juando Sihaloho/ br Harahap ( A. Revan).
4. Quindo Sihaloho/ br Simarmata ( A. Harapan).

BIDANG SOSIAL
1. St. Ir. Paternus Haloho/ br Simarmata ( A. Rado).
2. St. Oloan M. Sihaloho SE, SH, M.SI/ br Pardosi ( A. Marshal).
3. Ir. Edward Sihaloho, M.T./br Samosir ( A. Samuel).
4. Rianto Sihaloho/ br Sijabat ( A. Diana).
5. Mangantar Manihuruk/ br Sihaloho (O. Elva).



BIDANG ORGANISASI
1. Sabar Sihaloho/ br Manurung ( A.Gaby).
2. Rodo Sihaloho/ br Sijabat ( A. Nathanael).
3. Sahala Sihaloho/ br Sitio. Tc
4. Drs. Poltak Sihaloho/ br Simatupang ( A. Gibran).
5. Loho Haryl Sihaloho/ N. br Lumbantobing ( A. Mulatua).

BIDANG HUKUM DAN ADVOKASI
1. Sonar Sihaloho, SH, MH/br Siahaan ( O. Efraim).
2. Ny. Sinaga -Nora br Sihaloho SH.
3. M. H. Marisi Sihaloho, SH/ br Sitorus ( A. Jevan).
4. Harianto Sihaloho SH/ br Purba ( A. Kembar ).
5. Jahotner Sihaloho/ br Simarmata ( A. Rian).

BIDANG DANA
1. Ir. Edward Sihaloho MM/ Dra. Rosmery br Panjaitan ( A. Deo ).
2. Dedi Sihaloho SE/ br Siregar ( A. Yasmin).
3. Effendi Gembira Sihaloho ST, MBA/br Batubara ( A. Rajamuda).
4. Marco Sihaloho/ br Hutabarat ( A. Medi).
5. Henrik Sihaloho SH/ br Sianipar (+) ( A. Marchel).
6. Henry Januar Sihaloho, ST, MSc,PDEng/R.br Panggabean ( A. Kembar).
7. Ir.B.Simanihuruk, MT/ dr.Mona br Sihaloho ( A. Nathananel).
8. Luasman Manihuruk SH, MH/ br Sihaloho (+) ( O. Adrea).
9. Hebat Sihaloho) br Sitanggang ( A. Rian).

BIDANG HUMAS
1. Leo Sihaloho SE. CPA/ br Damanik ( A. Rogress).
2. M. Bual Sihaloho/ br Hutabarat ( A. Icha).

Mereka Datang untuk Mengabdi, Tapi Justru Dibantai: Tragedi di Yahukimo

0

IndonesiaVoice.com – Papua Pegunungan, Jumat, 21 Maret 2025. Langit pagi yang semestinya cerah, tiba-tiba gelap oleh asap hitam yang membumbung tinggi.

Asap itu berasal dari bangunan sekolah dan rumah sakit milik gereja yang dilalap si jago merah.

Suara jeritan dan tangis memecah kesunyian lembah. Di balik asap, terlihat sosok-sosok bersenjata bergerak cepat, meninggalkan jejak darah dan kehancuran.

Ini bukan sekadar serangan. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang menoreh luka dalam di hati Papua.

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyebutnya sebagai “pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan.”

Baca juga: Raja Sisingamangaraja XII, Cahaya Perlawanan yang Tak Pernah Padam


Satu guru tewas, empat lainnya luka berat—tiga guru dan satu tenaga kesehatan—serta dua guru luka ringan.

Mereka adalah para pahlawan tanpa tanda jasa yang memilih mengabdi di daerah rawan konflik, jauh dari gemerlap kota, demi menyalakan pelita pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak Papua.

“Kejadian ini sungguh mencederai rasa kemanusiaan,” kata Pdt. Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI, dalam pernyataan resminya.

“Para korban adalah anak-anak muda yang telah mendedikasikan diri mereka untuk melayani di daerah yang paling membutuhkan.”

Darah yang tumpah di Anggruk bukan sekadar angka. Ia adalah cerita tentang seorang guru yang mungkin sedang mempersiapkan materi pelajaran untuk esok hari.

Baca juga: Menggali Nilai Keteladanan Sisingamangaraja XII, Cahaya yang Menyinari Generasi Milenial


Tentang seorang tenaga kesehatan yang baru saja menyelamatkan nyawa seorang ibu melahirkan.

Tentang bangku-bangku sekolah yang kini hangus, dan tempat tidur rumah sakit yang berubah menjadi puing.

Evakuasi korban dilakukan dengan susah payah. Helikopter mendarat di Dekai, ibukota Yahukimo, pada Minggu, 23 Maret 2025.

Dari sana, korban diterbangkan ke Sentani, Jayapura, menggunakan pesawat Caravan dan Pilatus Porter.

Namun, luka fisik mungkin bisa sembuh, sedangkan luka batin akan terus membekas.

Baca juga: Raja Sisingamangaraja XII, Matahari yang Tak Pernah Tenggelam di Tanah Batak


PGI tak hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi juga menyerukan de-eskalasi kekerasan.

“Kepada semua kelompok bersenjata yang berkonflik di Tanah Papua, kami terus menyerukan penghentian ketegangan dan kekerasan,” tegas Pdt. Darwin.

“Dialog adalah jalan yang berbudaya dan bermartabat untuk menyelesaikan masalah sosial-politik di Tanah Papua.”

Seruan itu bukan tanpa alasan. Papua telah terlalu lama menjadi medan pertikaian yang tak kunjung usai.

Darah warga sipil terus mengalir, sementara harapan akan perdamaian seperti semakin menjauh.

Baca juga: Batak Center Gelar Memorial Lecture 180 Tahun Raja Sisingamangaraja XII, Nyalakan Kembali Api Perjuangan di Tengah Perubahan Zaman


PGI mendesak agar para pelaku kekerasan ditindak tegas sesuai hukum.

Namun, lebih dari itu, mereka mengajak semua pihak untuk merenung: sampai kapan kekerasan akan menjadi bahasa yang dipahami di bumi Cendrawasih ini?

Tragedi Anggruk adalah cermin dari luka lama yang belum kunjung sembuh.

Ia mengingatkan semua bahwa di balik keindahan alam Papua, ada tangis yang tak terdengar, ada darah yang tak terlihat, dan ada harapan yang terus terkubur.

Kini, yang tersisa adalah pertanyaan: “akankah tragedi ini menjadi cambuk untuk menghentikan lingkaran kekerasan? Atau, akankah ia hanya menjadi satu dari sekian banyak catatan kelam dalam sejarah panjang konflik di Papua?”

Baca juga: Selami Potensi Andaliman, Kolaborasi PT ST Morita Farma dan BRIN Buka Pintu Inovasi Baru dalam Kesehatan dan Kecantikan


Yang pasti, bagi keluarga korban, bagi anak-anak yang kehilangan guru, bagi masyarakat yang kehilangan tempat berobat, Anggruk bukan sekadar nama sebuah tempat.

Ia adalah kenangan pahit yang akan terus menghantui.

Dan bagi semua, tragedi ini adalah pengingat: “perdamaian bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Tanpanya, yang tersisa hanyalah reruntuhan dan air mata”.

Raja Sisingamangaraja XII, Cahaya Perlawanan yang Tak Pernah Padam

0

IndonesiaVoice.com – Di lereng Bukit Barisan, di mana kabut pagi menyelimuti puncak-puncak gunung, seorang pemimpin lahir. 

Namanya, Patuan Bosar Sinambela, atau lebih dikenal sebagai Raja Sisingamangaraja XII, adalah cahaya yang menerangi kegelapan penjajahan. 

Lahir pada 18 Februari 1845, ia bukan sekadar raja, melainkan simbol perlawanan, pemersatu, dan penjaga martabat budaya Batak. 

Perjuangannya melawan Belanda, yang dimulai pada 1878, bukan hanya tentang mempertahankan tanah, tetapi juga tentang menjaga adat, agama, dan identitas bangsa Batak dari cengkeraman kolonialisme.

“Perannya tidak hanya sebagai pemimpin politik, Beliau juga dianggap sebagai pemimpin spiritual, yang mewujudkan nilai-nilai dan tradisi masyarakat Batak,” kata Dr. Freddy Pandiangan, Wakil Sekjen DPN Batak Center, dalam Memorial Lecture 180 Tahun Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, yang digelar secara hybrid oleh Batak Center, di Jakarta, Kamis (20/3/2025).

Baca juga: Menggali Nilai Keteladanan Sisingamangaraja XII, Cahaya yang Menyinari Generasi Milenial  


Perlawanan yang Tak Kenal Lelah

Sisingamangaraja XII adalah pemimpin yang tak kenal kompromi. Dengan strategi gerilya, ia memimpin perlawanan di medan yang sulit, menghindari penangkapan selama bertahun-tahun. 

Ia bukan hanya pemimpin militer, tetapi juga pemimpin spiritual. Sebagai parmalim, ia diyakini memiliki kekuatan khusus yang memperkuat otoritasnya di mata rakyatnya. 

Upacara-upacara keagamaannya bukan sekadar ritual, melainkan panggilan untuk mengangkat senjata dan melindungi tanah serta tradisi mereka.

“Beliau adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan,” kata Freddy. “Perjuangannya melawan Belanda adalah perjuangan untuk kemerdekaan dan kebebasan.”

Baca juga: Raja Sisingamangaraja XII, Matahari yang Tak Pernah Tenggelam di Tanah Batak


Pemersatu di Tengah Keragaman

Sisingamangaraja XII bukan hanya pemimpin bagi suku Batak. Ia adalah pemersatu. Ia menyatukan berbagai suku di Tanah Batak, membangun aliansi, dan menggalang kekuatan untuk melawan penjajah. Dalam perjuangannya, ia mengajarkan pentingnya solidaritas dan kerja sama. 

“Dalam perbedaan, ada kekuatan apabila kita bersatu,” ujar Freddy.

Nilai-nilai luhur habatakon, seperti Dalihan Na Tolu, menjadi pedoman dalam kepemimpinannya. Ia menghormati tradisi dan budaya, menjadikannya sebagai kekuatan untuk melawan dominasi asing.

Warisan yang Abadi

Kematian Sisingamangaraja XII pada 17 Juni 1907 bukanlah akhir dari pengaruhnya. Justru, ia menjadi simbol kemerdekaan dan kebanggaan budaya. 

Orang Batak terus menghormatinya melalui ekspresi budaya dan peringatan, memastikan bahwa nilai-nilai dan perjuangannya tetap hidup.

Baca juga: Batak Center Gelar Memorial Lecture 180 Tahun Raja Sisingamangaraja XII, Nyalakan Kembali Api Perjuangan di Tengah Perubahan Zaman


Pada 9 November 1961, pemerintah Indonesia mengukuhkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No 590/1961. Ini adalah pengakuan atas perjuangannya yang tak kenal lelah untuk kemerdekaan dan martabat bangsa.

Inspirasi bagi Generasi Milenial

Di era modern, nilai-nilai perjuangan Sisingamangaraja XII tetap relevan. Ia menginspirasi generasi muda untuk mempertahankan identitas budaya, melawan ketidakadilan, dan memperjuangkan keberlanjutan. 

“Beliau adalah contoh pemimpin yang visioner, berintegritas, dan berani berkorban,” kata Freddy.

Dalam konteks Indonesia Emas 2045, nilai-nilai yang diwariskan oleh Sisingamangaraja XII—seperti solidaritas sosial, pelestarian budaya, dan kepemimpinan yang berintegritas—menjadi kunci untuk menghadapi tantangan globalisasi.

Raja Sisingamangaraja XII bukan hanya pahlawan bagi orang Batak, tetapi bagi seluruh Indonesia. Ia adalah simbol perlawanan, pemersatu, dan penjaga martabat budaya. 

Baca juga: Selami Potensi Andaliman, Kolaborasi PT ST Morita Farma dan BRIN Buka Pintu Inovasi Baru dalam Kesehatan dan Kecantikan


Warisannya terus hidup, menginspirasi generasi demi generasi untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan kemerdekaan.

Di lereng Bukit Barisan, di mana kabut pagi masih menyelimuti puncak-puncak gunung, semangat Sisingamangaraja XII tetap menyala. Seperti matahari yang tak pernah tenggelam, cahayanya terus menerangi jalan menuju Indonesia yang lebih baik.

Menggali Nilai Keteladanan Sisingamangaraja XII, Cahaya yang Menyinari Generasi Milenial

0

IndonesiaVoice.com – Di lereng bukit yang hijau, di mana Danau Toba memantulkan keindahannya seperti cermin raksasa, sebuah kisah kepahlawanan abadi terukir. 

Di sini, pada tahun 1849, lahir seorang pemimpin yang namanya akan bergema sepanjang zaman yakni Patuan Bosar Ompu Pulo Batu, atau yang lebih dikenal sebagai Raja Sisingamangaraja XII. 

Lebih dari seabad setelah gugurnya, nilai-nilai keteladanannya masih menjadi obor yang menerangi jalan generasi milenial.

Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT) pernah menggelar Diskusi Kamisan, Kamis, (8/11/2018), sebagai sebuah upaya untuk menggali kembali nilai-nilai kepahlawanan Sisingamangaraja XII. 

Acara ini adalah bagian dari Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT) 4, yang berpusat di Bakara, tanah kelahiran sang pahlawan. 

Baca juga: Raja Sisingamangaraja XII, Matahari yang Tak Pernah Tenggelam di Tanah Batak


“Kami ingin generasi muda memahami dan meneladani semangat Sisingamangaraja XII,” ujar Maruap Siahaan, Ketua Pembina Batak Center, dengan nada penuh keyakinan dalam paparannya pada acara Memorial Lecture 180 tahun Pahlawan Sisingamangaraja XII yang diadakan DPN Batak Center, Kamis (20/3/2025).

Simbol Perlawanan dan Persatuan

Sisingamangaraja XII bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan. 

Sejak dinobatkan sebagai raja pada usia 17 tahun, ia memimpin perjuangan melawan penjajah Belanda selama tiga dekade (1877-1907). 

Perjuangannya bukan hanya tentang pertempuran fisik, tetapi juga tentang mempertahankan pengetahuan lokal dan nilai-nilai luhur budaya Batak.

“Beliau adalah tokoh pemersatu,” tambah Maruap. “Dia membangun afiliasi dengan wilayah lain, menciptakan jaringan perlawanan yang solid. Setiap wilayah memiliki perwakilan dan panglima perang yang siap berjuang bersamanya.”

Baca juga: Batak Center Gelar Memorial Lecture 180 Tahun Raja Sisingamangaraja XII, Nyalakan Kembali Api Perjuangan di Tengah Perubahan Zaman


Dermawan dan Pembebas

Sisingamangaraja XII juga dikenal sebagai pemimpin yang dermawan dan anti perbudakan. Ia sering membebaskan orang-orang yang terpasung atau menjadi budak akibat perang antar kampung atau gagal panen. 

Menurut catatan von Brenner, harga seorang budak wanita muda di Toba saat itu mencapai 70-120 ringgit. Namun, bagi Sisingamangaraja XII, kebebasan manusia tak ternilai harganya.

“Beliau adalah pembebas sejati,” kata Maruap. “Ia membayar binsang dan ampang untuk membebaskan mereka yang terjebak dalam perbudakan. Ini menunjukkan betapa ia menjunjung tinggi nilai kebebasan dan kemanusiaan.”

Pemimpin yang Bersahaja dan Taat Hukum
Meskipun memiliki kekuasaan yang besar, Sisingamangaraja XII dikenal sebagai pemimpin yang bersahaja dan sederhana. 

Ia taat pada hukum adat Batak dan mampu menyelesaikan konflik dengan bijaksana. Nilai-nilai budaya seperti Dalihan Na Tolu (tiga tungku) menjadi pedoman dalam kepemimpinannya.

Baca juga: Selami Potensi Andaliman, Kolaborasi PT ST Morita Farma dan BRIN Buka Pintu Inovasi Baru dalam Kesehatan dan Kecantikan


“Beliau adalah pemimpin yang rela berkorban,” ujar Maruap. “Ia berjuang sampai titik darah penghabisan, menjadi simbol kekuatan spiritualitas orang Batak yang setia dan teguh hati.”

Pesan untuk Generasi Milenial
Di era modern ini, nilai-nilai keteladanan Sisingamangaraja XII menjadi semakin relevan. Maruap Siahaan menegaskan bahwa generasi muda Batak harus mengambil alih peran sebagai pejuang kebenaran di zaman mereka.

“Indonesia gelap bukanlah sekadar kata-kata,” ujarnya. “Ini adalah ekspresi generasi muda yang kehilangan harapan karena keadilan tidak ditegakkan. Korupsi merajalela, dan banyak pemimpin hanya mementingkan diri sendiri.”

Maruap mengajak generasi milenial untuk meneladani sifat kesatria dan kepahlawanan Sisingamangaraja XII. 

“Kita harus berjuang melawan musuh zaman sekarang: koruptor, kapitalis jahat, dan sistem nilai yang bertentangan dengan habatakon,” tegasnya.

Baca juga: Demi Provinsi Tapanuli, JS Simatupang Ajak Perantau Bantu Sukseskan Pemekaran, Ini Solusinya


Cahaya yang Tak Pernah Padam

Perjuangan belum usai. Tantangan zaman mungkin berubah, tetapi semangat untuk mempertahankan kebenaran, keadilan, dan persatuan harus tetap sama.

“Sisingamangaraja XII adalah cahaya yang tak pernah padam,” tutup Maruap. “Dan kita, sebagai generasi penerus, harus memastikan cahayanya terus menyinari Indonesia.”

Di luar, angin berhembus lembut, membawa pesan dari Bakkara ke seluruh penjuru negeri bahwa nilai-nilai keteladanan Sisingamangaraja XII akan terus hidup, menginspirasi setiap langkah kita menuju Indonesia yang lebih adil, bersatu, dan bermartabat.

Raja Sisingamangaraja XII, Matahari yang Tak Pernah Tenggelam di Tanah Batak

0

IndonesiaVoice.com – Di bawah langit Jakarta yang mendung, Sekretariat Batak Center menjadi saksi bisu dari sebuah peristiwa yang merangkai kembali ingatan kolektif bangsa. Memorial Lecture 180 Tahun Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII digelar secara hybrid, menghubungkan masa lalu yang heroik dengan masa kini yang penuh tantangan. 

Ruangan itu dipenuhi oleh wajah-wajah yang penuh hormat, mengingat sosok yang tak hanya menjadi pahlawan bagi orang Batak, tetapi juga bagi seluruh Indonesia.

“Raja Sisingamangaraja XII bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Beliau adalah simbol keberanian, kepemimpinan, dan semangat persatuan yang terus menyala,” ujar Ir Sintong M Tampubolon, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Batak Center, dengan suara yang tegas namun penuh penghormatan.

Raja Sisingamangaraja XII, atau yang kerap dijuluki “The Sun of Lion King of Indonesia”, adalah sosok yang lahir dari rahim budaya Batak yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan. 

Baca juga: Batak Center Gelar Memorial Lecture 180 Tahun Raja Sisingamangaraja XII, Nyalakan Kembali Api Perjuangan di Tengah Perubahan Zaman


Lahir pada 18 Februari 1845, beliau tumbuh di tengah masyarakat yang menghormati habatakon—nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman hidup. 

Sejak muda, beliau telah menunjukkan bakat kepemimpinan yang luar biasa, tidak hanya sebagai pemimpin adat tetapi juga sebagai pemersatu rakyat.

Perjuangan yang Tak Kenal Lelah

Pada akhir abad ke-19, ketika Belanda berusaha menguasai Tanah Batak, Raja Sisingamangaraja XII berdiri tegak di garis depan. Dengan taktik gerilya, beliau memimpin pasukannya melawan penjajah yang jauh lebih kuat. 

Namun, perjuangannya bukan hanya tentang pertempuran fisik. Raja Sisingamangaraja XII adalah simbol kebanggaan dan kesatuan rakyat Batak. 

Setiap kunjungannya ke daerah-daerah, beliau selalu melepaskan orang-orang yang dipasung dan budak-budak yang tertawan, menunjukkan komitmennya pada keadilan dan kemanusiaan.

Baca juga: Selami Potensi Andaliman, Kolaborasi PT ST Morita Farma dan BRIN Buka Pintu Inovasi Baru dalam Kesehatan dan Kecantikan


“Beliau tidak hanya memimpin di medan perang, tetapi juga menginspirasi rakyat untuk bersatu,” tambah Sintong. “Kepemimpinan beliau adalah teladan bagi kita semua, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.”

Warisan yang Abadi

Memorial Lecture ini bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah upaya untuk menggali kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Raja Sisingamangaraja XII. 

Jerry R Sirait, Sekjen Batak Center, menegaskan bahwa acara ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dalam melestarikan nilai-nilai habatakon dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita harus ingat, perjuangan Raja Sisingamangaraja XII dan para leluhur kita memiliki andil besar dalam kemerdekaan Indonesia,” ujar Jerry. 

“Nilai-nilai luhur yang beliau wariskan—seperti keberanian, persatuan, dan pengorbanan—harus terus kita hidupi, terutama dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.”

Baca juga: Demi Provinsi Tapanuli, JS Simatupang Ajak Perantau Bantu Sukseskan Pemekaran, Ini Solusinya


Relevansi di Era Modern

Dalam konteks kekinian, semangat Raja Sisingamangaraja XII tetap relevan. Keteguhannya melawan penjajahan menginspirasi generasi muda untuk melawan segala bentuk ketidakadilan, termasuk perampasan tanah leluhur yang masih terjadi di Tanah Batak. 

Kepeduliannya pada pendidikan juga menjadi pengingat akan pentingnya menciptakan generasi yang mandiri, cerdas, dan inovatif.

“Raja Sisingamangaraja XII adalah pemimpin yang menjaga martabat bangsa,” kata Sintong. “Beliau mengajarkan kita untuk bangga pada identitas dan budaya kita, sambil terus memajukan Indonesia di kancah global.”

Matahari yang Tak Pernah Tenggelam

Raja Sisingamangaraja XII mungkin telah gugur pada 17 Juni 1907, tetapi semangatnya tetap hidup. Seperti matahari yang tak pernah benar-benar tenggelam, cahaya perjuangannya terus menyinari Tanah Batak dan seluruh Indonesia. 

Memorial Lecture ini adalah pengingat bahwa warisan beliau bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi.

Baca juga: Ketika Koruptor Dimuliakan, Orang Jujur Tersingkir, Gerakan Batak Anti Korupsi Jadi Jawaban!


Di penghujung acara, suasana hening sejenak. Seolah-olah, roh Raja Sisingamangaraja XII hadir, mengingatkan kita semua bahwa perjuangan belum usai. 

Tantangan zaman mungkin berubah, tetapi semangat untuk mempertahankan kebenaran, keadilan, dan persatuan harus tetap sama.

“Raja Sisingamangaraja XII adalah matahari yang tak pernah tenggelam,” tutup Sintong. “Dan kita, sebagai generasi penerus, harus memastikan cahayanya terus menyinari Indonesia.”

Di luar, langit Jakarta mulai cerah. Seolah alam merestui pesan yang disampaikan hari ini bahwa semangat Raja Sisingamangaraja XII akan terus hidup, menginspirasi setiap langkah kita menuju Indonesia Emas 2045.

Batak Center Gelar Memorial Lecture 180 Tahun Raja Sisingamangaraja XII, Nyalakan Kembali Api Perjuangan di Tengah Perubahan Zaman

0

IndonesiaVoice.com – Di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh aura kebangsaan, suara lagu Indonesia Raya mengalun khidmat, mengawali Memorial Lecture 180 Tahun Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII

Acara yang digelar secara hybrid oleh Dewan Pengurus Nasional Batak Center (DPN Batak Center) ini bukan sekadar peringatan, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh sang pahlawan. 

Dari Sekretariat Batak Center, Jakarta, Kamis (20/3/2025), semangat perjuangan Raja Sisingamangaraja XII kembali dihidupkan, seolah menembus batas waktu dan ruang.

Ir. Sintong M. Tampubolon, Ketua Umum DPN Batak Center, dengan suara penuh wibawa, membuka acara dengan pesan yang menggetarkan: “Raja Sisingamangaraja XII bukan hanya milik orang Batak. Beliau adalah pahlawan nasional yang telah mengukir sejarah panjang perjuangan melawan penjajahan. Nilai-nilai yang beliau wariskan tetap relevan, bahkan dalam upaya kita menuju Indonesia Emas 2045.”

Baca juga: Selami Potensi Andaliman, Kolaborasi PT ST Morita Farma dan BRIN Buka Pintu Inovasi Baru dalam Kesehatan dan Kecantikan


Sang Matahari Singa dari Tanah Batak

Raja Sisingamangaraja XII, yang lahir pada 18 Februari 1845 dan gugur pada 17 Juni 1907, adalah sosok yang lebih besar dari sekadar nama. 

Beliau adalah simbol perlawanan, kebanggaan, dan persatuan. Dalam setiap langkahnya, beliau mengedepankan keadilan, kemanusiaan, dan kebenaran. 

Seperti yang diriwayatkan oleh putrinya, Siboru Purnama Rea, Raja Sisingamangaraja XII selalu melepaskan orang-orang yang dipasung dan budak-budak yang tertawan. 

Sebuah tindakan yang menunjukkan betapa beliau adalah pemimpin yang menjunjung tinggi martabat manusia.

Di masa pemerintahannya, Belanda berusaha menguasai wilayah Batak yang secara geografis sulit dijangkau dan memiliki kearifan lokal yang kuat. Namun, Raja Sisingamangaraja XII tidak pernah mundur. 

Dengan semangat patriotisme yang luar biasa, beliau memimpin pasukan menggunakan taktik gerilya, mempertahankan hak-hak rakyat Batak, dan menjadi simbol kekuatan yang dihormati oleh kawan maupun lawan. Tak heran jika beliau dijuluki “The Sun of Lion King of Indonesia”—Matahari Singa dari Indonesia.

Baca juga: Demi Provinsi Tapanuli, JS Simatupang Ajak Perantau Bantu Sukseskan Pemekaran, Ini Solusinya


Tujuh Nilai Luhur yang Menyala

Sintong  Tampubolon menyoroti tujuh nilai fundamental yang dapat dipetik dari perjuangan Raja Sisingamangaraja XII:

  1. Kepahlawanan dan Keberanian: Beliau menunjukkan keteguhan dan keberanian melawan penjajah, meski menghadapi musuh yang lebih kuat. Spirit ini relevan dengan tantangan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

  2. Kepemimpinan yang Menginspirasi: Raja Sisingamangaraja XII tidak hanya memimpin di medan perang, tetapi juga menginspirasi rakyat untuk bersatu. Kepemimpinan seperti ini dibutuhkan untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan adil.

  3. Pengorbanan Seutuhnya: Beliau rela berkorban jiwa dan raga demi kemerdekaan tanah airnya. Semangat pengorbanan ini harus diteladani oleh generasi muda.

  4. Semangat Persatuan dan Kesatuan: Meski memimpin suku Batak, beliau juga memperjuangkan persatuan dengan suku-suku lain di Indonesia, seperti persahabatannya dengan Raja Aceh.

  5. Kepedulian pada Pendidikan: Raja Sisingamangaraja XII sangat menghargai pentingnya pendidikan untuk kemajuan peradaban dan kemandirian rakyatnya.

  6. Menjaga Martabat Bangsa: Beliau tidak hanya berjuang untuk kemerdekaan, tetapi juga untuk menjaga martabat dan kebanggaan bangsa.

  7. Semangat Perjuangan yang Tak Tergoyahkan: Spirit ini harus diwarisi oleh generasi penerus untuk menghadapi tantangan global dan membangun Indonesia yang lebih baik.


Baca juga: Vonis Ringan Guru Besar Hukum Unhas Marthen Napang, Apakah Pemalsuan Putusan MA Dianggap Sepele?

Menggali Kembali Nilai-Nilai Habatahon

Sekretaris Jenderal DPN Batak Center, Jerry R Sirait, menjelaskan Memorial Lecture ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai luhur dari keteladanan Raja Sisingamangaraja XII. 

“Kami berharap acara ini dapat menginspirasi masyarakat Batak khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, untuk terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur perjuangan beliau,” ujar Jerry.

Maruap Siahaan, Ketua Pembina Batak Center, menambahkan bahwa generasi muda Batak harus mampu berjuang dalam peperangan zaman milenial. 

Baca juga: Dari UKI Untuk Indonesia: GARANSI Dideklarasikan, Bergerak Lawan Korupsi


“Generasi muda harus bersifat kesatria dan memiliki sifat kepahlawanan untuk melawan musuh modern seperti koruptor, kapitalis jahat, dan sistem nilai yang bertentangan dengan nilai luhur habatakon,” tegasnya.

Dr. Freddy FM Pandiangan, Wakil Sekjen Batak Center, yang mewakili generasi muda intelektual, menegaskan bahwa perjuangan Raja Sisingamangaraja XII tidak hanya tentang senjata, tetapi juga tentang semangat dan nilai-nilai luhur. 

“Beliau adalah simbol integritas, persatuan, dan identitas budaya. Di era globalisasi ini, menjaga identitas budaya kita adalah kunci agar generasi muda tidak kehilangan akar,” ujarnya.

Freddy juga mengajak generasi muda untuk terlibat dalam gerakan positif, baik di tingkat lokal maupun nasional, untuk menciptakan perubahan yang lebih baik. 

Baca juga: Ketika Koruptor Dimuliakan, Orang Jujur Tersingkir, Gerakan Batak Anti Korupsi Jadi Jawaban!


“Perjuangan modern bisa berarti mempertahankan lingkungan dan kebudayaan kita dari eksploitasi yang merusak,” tambahnya.

Memorial Lecture ini menghadirkan berbagai tokoh dari berbagai unsur masyarakat, termasuk stakeholder terkait, untuk memberikan pokok-pokok pemikiran dan kesaksian. 

Acara Memorial Lecture ini diakhiri dengan sesi berbuka puasa bersama, yang menjadi simbol persatuan lintas budaya dan agama—sebuah nilai yang juga dijunjung tinggi oleh Raja Sisingamangaraja XII dalam perjuangannya.

Memorial Lecture 180 Tahun Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah momentum untuk menyalakan kembali api perjuangan di tengah zaman yang terus berubah. 

Baca juga: Kolaborasi Inovatif ITB dan ST Morita Farma: Tamanu Polyphenol, Solusi Revolusioner Perawatan Kulit dan Mulut


Nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Raja Sisingamangaraja XII harus menjadi inspirasi bagi seluruh bangsa Indonesia, terutama generasi muda, untuk terus bersatu, berjuang, dan berkontribusi demi kemajuan negara.

Di ujung acara, seolah terdengar gaung suara Raja Sisingamangaraja XII yang bergema dari masa lalu: “Perjuangan belum usai. Teruslah berjuang, jaga martabat bangsa, dan jangan pernah menyerah.”

(Vic)