Beranda blog Halaman 14

Ketika Pandangan Dr John Palinggi Sejalan Political Will Presiden Prabowo Hapus Outsourcing

 

Ketika Pandangan Dr John Palinggi Sejalan Political Will Presiden Prabowo Hapus Outsourcing

Presiden Prabowo Subianto menyatakan komitmennya untuk menghapus sistem outsourcing di Indonesia dalam pidato Hari Buruh 1 Mei 2025 di Monas, Jakarta.

Ia memerintahkan pembentukan Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional yang akan menyusun strategi penghapusan sistem ini.

Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Dr. John Palinggi dari AMINDO, yang telah lama mengkritik sistem outsourcing sebagai bentuk percaloan tenaga kerja.

Tonton video ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang dampak kebijakan ini bagi buruh dan investor serta bagaimana masa depan dunia kerja Indonesia akan berubah!

Marsinah Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional! Pidato Mengejutkan Prabowo di Hari Buruh 2025

Marsinah Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional! Pidato Mengejutkan Prabowo di Hari Buruh 2025

Hari Buruh 2025 di Monas dipenuhi semangat perjuangan!

Presiden Prabowo secara langsung membuka wacana pengangkatan Marsinah, aktivis buruh, sebagai pahlawan nasional.

Simak momen penuh haru, janji-janji penting untuk buruh, dan gebrakan kebijakan ketenagakerjaan terbaru.

Viral! Prabowo Lempar Baju ke Massa Buruh, Lapangan Monas Geger

Viral! Prabowo Lempar Baju ke Massa Buruh, Lapangan Monas Geger

Suasana penuh semangat dan antusiasme mewarnai May Day 2025 di Monas. Tapi ada momen unik: Presiden Prabowo melepaskan dan melemparkan bajunya ke arah ribuan buruh!

Aksi simbolis ini langsung mengundang sorak dan rebutan dari massa. Lihat cuplikan lengkapnya di video ini!

Tegas! Prabowo Dukung UU Perampasan Aset: “Yang Nyolong Wajib Kembalikan, Enak Aja Lu!”

Tegas! Prabowo Dukung UU Perampasan Aset: “Yang Nyolong Wajib Kembalikan, Enak Aja Lu!”

Dalam pidato penuh semangat di peringatan Hari Buruh 2025, Presiden Prabowo Subianto menyuarakan dukungan untuk RUU Perampasan Aset sebagai langkah nyata melawan para koruptor. “Kalau udah nyolong, kembalikan dong!” tegasnya.

Tonton video lengkapnya sekarang!

BREAKING! Prabowo Janji Hapus Outsourcing di Depan Ribuan Buruh – Hari Buruh 2025

BREAKING! Prabowo Janji Hapus Outsourcing di Depan Ribuan Buruh – Hari Buruh 2025

Dalam pidato Hari Buruh 2025 di Monas, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan janji tegas untuk mencabut sistem outsourcing secepatnya!

Simak momen pidato bersejarah ini yang menggugah semangat para buruh dan membawa harapan baru bagi pekerja Indonesia.

Prabowo Blak-Blakan: Kekayaan Indonesia Besar, Tapi Banyak Malingnya!

Prabowo Blak-Blakan: Kekayaan Indonesia Besar, Tapi Banyak Malingnya!

Dalam pidato Hari Buruh 2025 di Monas, Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan tajam soal korupsi: “Kekayaan Indonesia begitu besar, tapi masalahnya malingnya juga banyak!”

Simak cuplikan pidato panas ini, komitmen pemberantasan korupsi, dan gebrakan ekonomi untuk rakyat kecil.

Prabowo Lempar Candaan Politik: “Kapolri dan Panglima TNI, Nggak Bakal Diganti Nih!”

Prabowo Lempar Candaan Politik: “Kapolri & Panglima TNI, Nggak Bakal Diganti Nih!” Ada momen lucu sekaligus menarik perhatian saat Presiden Prabowo menyebut nama Kapolri dan Panglima TNI dalam pidatonya.

Kalimat “Alamat nggak bakal diganti nih!” jadi sorotan media dan publik. Apakah ini sinyal status quo dalam struktur keamanan negara?

Kasus Kriminalisasi Tony Budidjaja, Todung Mulya Lubis: Ini Teror Terhadap Profesi Advokat dan Lembaga Peradilan

0

IndonesiaVoice.com – Pagi hari, Senin, 28 April 2025, di depan Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang kokoh namun tak selalu ramah, Todung Mulya Lubis melangkah dengan langkah berat namun teguh. Di tangannya tergenggam berkas permohonan kasasi yang mungkin menjadi penentu nasib banyak advokat di negeri ini.

Todung tidak berjalan sendiri. Ia datang mewakili Solidaritas Advokat untuk Kebenaran dan Anti Kriminalisasi (SAKSI), sebuah forum yang lahir dari keresahan para advokat senior lintas organisasi, yang kini menyatukan suara mereka dalam satu keprihatinan yaitu membela Tony Budidjaja, advokat, arbiter, dan mediator yang sudah hampir tiga dekade membela keadilan, kini justru menjadi korban dari sistem yang semestinya ia percayai.

Kasus Tony, dalam pandangan SAKSI, bukan sekadar tentang satu orang. Ini adalah cermin retak dari hukum yang mulai kehilangan kejernihannya. 

Putusan bersalah yang dijatuhkan kepadanya — oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta — menjadi bukti bahwa dalam hutan belantara hukum Indonesia, tak semua pohon berdiri tegak.

Baca juga: Rule by Law vs Rule of Justice, Advokat dan Gugatan atas RUU KUHAP





 

Lebih dari itu, ada aroma busuk yang menyertai perjalanan perkara ini. Sebuah skandal yang menyeret nama Muhammad Arif Nuryanta, Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kala itu, yang kini telah menjadi tersangka korupsi minyak goreng. 

Sebuah nama yang, menurut dugaan kuat, ikut berperan dalam mengganti Ketua Majelis Hakim yang memeriksa kasus Tony, dalam skenario yang tak pernah seharusnya terjadi di ruang sidang manapun.

Di hadapan media, dengan suara bergetar antara amarah dan kesedihan, Todung berkata, “Putusan ini merupakan suatu teror terhadap profesi advokat dan lembaga peradilan dan penegakan hukum yang didasarkan atas kebenaran dan keadilan.”

“Saya menekankan jika kita tidak membenahi ekosistem penegakan hukum (profesi advokat) kita akan dihadapkan oleh distrust dari publik dalam dan luar negeri. Jangan anggap enteng kasus ini,” tegas dia.

Baca juga: Ketika AI Jadi Pengacara, Hakim New York Marah Diduga ‘Disesatkan’ Avatar Digital



Ia mengingatkan, bila dunia hukum tak segera dibenahi, bila hak imunitas advokat terus digerus, maka kepercayaan publik — dalam negeri dan luar negeri — akan runtuh seperti menara pasir diterpa ombak.

Di belakang Todung, suara-suara lain ikut bergema. Luhut MP Pangaribuan, advokat senior yang menjabat Ketua Umum DPN Peradi, mengangkat suara lebih keras: “Profesi advokat dalam keadaan genting! Ini saatnya kita melawan, menjaga agar Mahkamah Agung tidak berpaling dari kebenaran.”

Juniver Girsang, sesama advokat dalam barisan SAKSI, menambahkan dengan nada tegas, “Jangan sampai tugas mulia advokat justru menjadi alasan untuk menghukum mereka. Tony hari ini, siapa tahu kita besok.”

Sementara itu, Hafzan Taher, seorang lagi dari para senior yang angkat bicara, memperingatkan tentang dampak panjang dari kasus ini: “Jika perkara Tony menjadi preseden, maka semua advokat yang membela pencari keadilan akan hidup di bawah bayang-bayang kriminalisasi.”

Baca juga: Kriminalisasi Advokat, Dua Bulan Penjara untuk Sebuah Fitnah Tanpa Bukti





 

SAKSI, dalam misinya, tidak sekadar mengajukan kasasi. Mereka berikrar untuk terus mengawal perjalanan perkara ini, menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat hukum — para hakim, jaksa, advokat, mahasiswa hukum, bahkan rakyat kecil yang menggantungkan harapannya pada keadilan — untuk bergandengan tangan mempertahankan independensi profesi advokat.

Di balik lantai marmer dingin PN Jakarta Selatan hari itu, gema langkah-langkah kecil mereka mungkin terdengar samar. Tapi di hati mereka, keyakinan berteriak keras: keadilan tak boleh dibungkam, tidak hari ini, tidak esok, tidak selama ada mereka yang berani melawan.

Refleksi Hari Kartini 2025, Batak Center Usulkan Putri Raja Sisingamangaraja XII Jadi Pahlawan Nasional

0

IndonesiaVoice.com – Di antara riuh rendah perjuangan melawan kolonialisme, ada nama yang kerap tenggelam dalam narasi besar sejarah yakni Boru Lopian, Putri Raja Sisingamangaraja XII. Gadis belia yang gugur di medan laga itu kini diusung untuk menyandang gelar Pahlawan Nasional. 

Bertajuk “Perempuan Batak dalam Pusaran Peradaban di Era Disrupsi”, diskusi terpumpun di Kantor Batak Center, Senin (21/4/2025), bukan sekadar rutinitas seremonial. 

Ia menjelma menjadi panggilan sejarah. Seperti gema langkah Kartini yang tak pernah betul-betul hilang, perempuan-perempuan Batak hari itu menapaki jejaknya dengan membawa nama yang nyaris terlupakan: Putri Lopian Boru Sinambela, gadis muda yang gugur di sisi ayahandanya, Raja Sisingamangaraja XII, dalam perang melawan kolonial Belanda.

Baca juga: Gema ‘Supaya Mereka Menjadi Satu’ Dalam Pesta Bona Taon PPRSI Sejabodetabek 2025 




 

“RA Kartini telah berlalu secara fisik, tapi spiritnya abadi,” ujar Tiomora boru Sitanggang, ST, MT, Ketua Panitia, dengan nada penuh keyakinan. 

Ketua Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Batak Center ini tak bicara soal perempuan sebagai simbol, tapi sebagai penggerak zaman. Putri Lopian adalah Kartini dari Tapanuli.

Sang Putri di Medan Perang

Di mata dr. Adele Hutapea, Putri Lopian bukan hanya darah bangsawan. Ia adalah simbol keberanian yang lahir dari cinta akan tanah air, cinta kepada ayah, dan semangat untuk tidak tunduk meski dunia di sekelilingnya ambruk. 

Ia tak genap berusia 19 tahun ketika memilih jalan yang bagi banyak orang terlalu berat yaitu menanggalkan kenyamanan istana dan menjelma menjadi Si Ulu Porang, pemimpin pasukan perempuan Batak.

Baca juga: Raja Sisingamangaraja XII, Cahaya Perlawanan yang Tak Pernah Padam




 

“Dia gagah berani. Ia tidak takut mati,” kata Adele (Ketua Departemen Tokoh Batak Inspiratif Batak Center) suaranya bergetar pelan. “Dan yang lebih penting, ia tahu untuk apa ia hidup.”

Lopian bukan perempuan biasa. Ia mandiri, cerdas, kuat secara fisik dan spiritual. Konon, ia bisa bertahan di rimba belantara Tapanuli, menari tor-tor, menyanyi, dan sekaligus memahami ilmu kebatinan. Ia hidup bukan dalam bayang-bayang ayahnya, tetapi justru menjadi cahaya di sisi beliau.

Perempuan Batak di Era Disrupsi

Dari medan pertempuran sejarah, diskusi berpindah ke arena kontemporer. Tokoh Diaspora Batak Global, Letnan Kolonel Rosita Aruan Baptiste, perempuan Batak pertama yang menjadi perwira tinggi di Angkatan Darat AS, memberi kesaksian tentang tantangan perempuan Batak di era disrupsi digital dan ekonomi.

“Perempuan Batak harus berani mengubah hal-hal tradisional menjadi modern,” ujarnya. 

Tapi ia menekankan, transformasi tak boleh memutus akar. “Kita harus punya filter. Apakah ini sesuai dengan nilai dan budaya kita?”

Baca juga: Menggali Nilai Keteladanan Sisingamangaraja XII, Cahaya yang Menyinari Generasi Milenial




 

Sementara itu, Anggota Dewan Pembina Batak Center, Dr. Ir. Pasti Tampubolon, M.Sc membentangkan lima peranan strategis perempuan Batak dalam menghadapi krisis mulai dari pendidikan keluarga, pengelolaan sumber daya, pemanfaatan teknologi digital, hingga penguatan UMKM dan ekologi pekarangan. 

Di tangannya, peran perempuan Batak bukan sekadar teori, tetapi strategi nyata menjawab tantangan zaman.

Menuju Pahlawan Nasional

Sore kian merayap. Namun diskusi tak kunjung kehilangan semangat. Ketua Umum Batak Center, Ir. SM Tampubolon, berbicara pelan namun menggetarkan: “Boru Lopian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Sisingamangaraja. Jika ayahnya diakui sebagai pahlawan nasional, maka sudah sepantasnya Lopian juga diperjuangkan.”

Langkah itu pun dimulai. Sekjen Batak Center, Drs. Jerry R. Sirait, mengungkap bahwa pihaknya mendorong agar Pemprov Sumatera Utara mengadakan seminar dan menghimpun dukungan lintas tokoh dan institusi. 

“Kami tidak bergerak sendiri. Tapi akan mendampingi setiap proses sesuai perundang-undangan,” ujarnya.

Baca juga: Raja Sisingamangaraja XII, Matahari yang Tak Pernah Tenggelam di Tanah Batak




 

Sejarah, memang, tak selalu bersuara nyaring. Tapi pada sore itu, diskusi yang dipandu oleh Dr. Linda Sipahutar, M.Pd, CSBA (Ketua Departemen Ideologi Pancasila dan Kebijakan Publik Batak Center) di ruang yang mungkin tak seluas auditorium gedung negara, suara Lopian menggema kembali. 

Ia yang dahulu diam dalam ingatan kini dipanggil kembali ke ruang publik yakni bukan sebagai kenangan, tapi sebagai calon Pahlawan Nasional.

Dan barangkali, dari langit Tapanuli yang jauh, Kartini tersenyum. Karena ia tahu, ternyata ada seorang gadis Batak pemberani, yang berjuang memilih mati demi bangsa, bukan hanya hidup untuk istana.

Gema ‘Supaya Mereka Menjadi Satu’ Dalam Pesta Bona Taon PPRSI Sejabodetabek 2025 

0

IndonesiaVoice.com — Langkah-langkah itu berdatangan dari berbagai penjuru Jabodetabek, menyusuri lorong-lorong Gedung Mulia Raja dengan ulos yang berkilauan di bahu. 

Suara gondang yang bergema seakan memanggil ingatan kolektif: Kita satu seperti air, bersama dari gunung, bersama turun. 

Kalimat itu, yang terangkum dalam poda “Sagu Sagu Marlangan”, menjadi mantra yang terus diulang dalam Pesta Bona Taon Parsadaan Pomparan Raja Silahisabungan Indonesia (PPRSI) hari itu.

Di atas panggung, tergantung banner bertema “Supaya Mereka Menjadi Satu”—kutipan dari Yohanes 17:21b yang seakan menjadi jawaban atas pertanyaan tersirat: Bisakah keturunan seorang raja yang tersebar di ribuan kilometer, di tengah arus modernisasi, tetap bersatu?

Baca Juga: Rule by Law vs Rule of Justice, Advokat dan Gugatan atas RUU KUHAP


Dialog di Antara Perbedaan

Ketua Panitia, Peber EW Silalahi, SH, membuka acara dengan sambutan hangat. “Kita berkumpul bukan hanya untuk bernostalgia, tapi untuk merajut kembali ikrar leluhur,” ujarnya. 

Ketua Panitia, Peber EW Silalahi, SH

Senada, Drs. Martua Situngkir, Ketua DPD PPRSI Se-Jabodetabek, menekankan pentingnya generasi muda tak melupakan akar. 

“Air yang terpisah di hilir, harus ingat bahwa ia berasal dari sumber yang sama di hulu,” katanya, kembali mengutip poda itu.

Drs. Martua Situngkir, Ketua DPD PPRSI Se-Jabodetabek (kiri)

Mayjen TNI (Purn) Haposan Silalahi, saksi sejarah berdirinya Tugu Makam Raja Silahisabungan (Tumaras) di Desa Silalahi III,  Silalahi Nabolak, Dairi, Sumut, berdiri dengan wajah berbinar. 

Baca juga: Geger! Dokter PPDS Unpad Diduga Perkosa Keluarga Pasien, Komnas Perempuan Desak ‘Zona Tanpa Toleransi’


“Lihatlah simbol tugu ini,” kata Haposan, menunjuk gambar di belakang panggung. “Ia adalah prasasti yang mengingatkan: jangan biarkan persatuan ini retak.” Suaranya parau, tapi tekadnya mengeras seperti batu tugu itu sendiri.

Mayjen TNI (Purn) Haposan Silalahi

Pecah tapi Tak Terpisah

Perbincangan tentang persatuan tak selalu berjalan mulus. Pdt. DR. Ir. Ramles Sihaloho, mewakili undangan Namarhaha Maranggi, justru membawa perspektif berbeda.

“Kita tak perlu risau dengan perpecahan,” kata Ramles. “Gereja pun terpecah-pecah, tapi justru berkembang dalam pelayanan.”

Pdt. DR. Ir. Ramles Sihaloho, mewakili undangan Namarhahamaranggi (Kiri)

Ucapannya seakan menjawab kegelisahan yang kerap muncul dalam keluarga besar—apakah perbedaan harus dilihat sebagai ancaman? 

Baca juga: Presiden Prabowo Tegaskan Netralitas Indonesia di Kancah Global: ‘Seribu Teman Terlalu Sedikit, Satu Musuh Terlalu Banyak’


St Edison Manurung SH MM, Ketua Umum DPP Komite Masyarakat Danau Toba, menambahkan: “Perbedaan adalah dinamika. Yang penting, kita tetap satu tujuan.”

St Edison Manurung SH MM, Ketua Umum DPP (KMDT)

Sementara itu, Mayjen TNI (Purn) Felix Hutabarat, mewakili boru (keluarga pihak perempuan), menyatakan kesetiaan: “Kami di belakang siap mendukung hula-hula (pihak marga) kami.” 

Kalimat sederhana itu mengingatkan pada tatanan adat Batak yang tetap hidup: berbeda peran, tapi saling melengkapi.

Mayjen TNI (Purn) Felix Hutabarat, mewakili boru (keluarga pihak perempuan) – (Kanan)

Sementara itu, Robert Silalahi dari Dewan Penasihat menyampaikan syukur atas terselenggaranya acara ini.

Ia mengingatkan kembali program beasiswa PPRSI yang telah berlangsung agar tetap berlanjut untuk membantu anak-anak muda.

“Kita harus terus memajukan SDM dan menjaga keberlanjutan PPRSI,” ungkapnya.

Robert Silalahi, Mewakili Dewan Penasihat (Tengah)

Doa, Gondang, dan Tortor yang Menyatukan

Sebelum pesta dimulai, Pdt. JAU Doloksaribu mengingatkan semua tentang doa Yesus di malam Palma.

“Dia mendoakan supaya mereka menjadi satu,” katanya. “Persatuan itu sulit, tapi harus diupayakan.”

Baca juga: Mandalika Trackday Experience: 60 Peserta Akan Menulis Cerita di Aspal yang Pernah Dilahap Marc Márquez


Lalu, gondang pun bergema. Tortor Suhut (Manjalo Tua ni Gondang) membuka rangkaian tarian. 

Kaki-kaki yang menapak lantai mengikuti irama, tangan yang meliuk, mata yang saling menyapa—semua menjadi metafora hidup tentang bagaimana perbedaan bisa bergerak dalam harmoni. 

Ada Tortor Namarhaha maranggi hingga Tortor Anak-anak yang polos namun penuh makna.

Di tengah kemeriahan, dua sepeda motor listrik diumumkan sebagai door prize. Tawa dan sorak menggema, tapi hadiah terbesar hari ini bukanlah kendaraan itu. 

Baca juga: Laut Mengejar, Daratan Menyusut, 2000 Pulau Akan Hilang: Nasib Indonesia di Laporan PBB


Melainkan ikrar yang terucap dalam diam: bahwa darah Raja Silahisabungan akan tetap mengalir dalam satu nama, satu tujuan.

Air yang Kembali ke Sumber

Ketika acara usai, para pinompar berpencar lagi—kembali ke rutinitas, ke perbedaan pendapat, ke kehidupan yang tak selalu seia-sekata. 

Tapi hari itu, di Gedung Mulia Raja, mereka telah membuktikan satu hal: seperti air dari gunung yang turun bersama, mereka mungkin telah menyebar ke berbagai tempat. Tapi suatu saat nanti, mereka akan kembali bertemu di hilir yang sama.

Menjadi Satu, kata-kata yang sederhana, tapi berat dijalankan. Dan Pesta Bona Taon 2025 adalah bukti bahwa mereka masih berusaha.