Jakarta, IndonesiaVoice.com – Kehadiran Jenderal (Purn.) Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri, di tengah pelantikan PIKI memberikan dimensi yang sama sekali berbeda pada malam itu.
Jika pembicara lain banyak berbicara soal teologi dan moralitas internal, Tito hadir layaknya seorang ahli strategi yang sedang membentangkan peta dunia di atas meja.
Dengan intonasi yang tenang namun argumentatif, ia meletakkan eksistensi PIKI dalam lanskap ambisi raksasa bangsa: Indonesia Emas 2045.
Tito membantah skeptisisme publik. “Indonesia Emas bukan sekadar jargon 100 tahun kemerdekaan,” tegasnya.
Ia membedah teori geopolitik dengan pisau analisis yang tajam, menyebut bahwa perang modern tidak lagi soal peluru, melainkan hegemoni produksi dan ekonomi.
Baca juga: Sah! Maruarar Sirait dan “Superteam” Lintas Profesi Resmi Nakhodai DPP PIKI 2026-2031
Hanya kurang dari sepuluh negara di dunia yang memiliki tiga syarat absolut: sumber daya alam melimpah, angkatan kerja masif, dan bentang wilayah yang luas.
Indonesia ada di dalam daftar eksklusif itu, bersama Tiongkok, AS, dan India.
Tito menceritakan pengalaman empirisnya saat bersekolah di Selandia Baru tahun 1998. Saat itu, Barat sudah mendiskusikan The Rise of China, sementara Tiongkok sendiri masih dipenuhi sepeda dan sungai yang kotor.
Tito menjadi saksi mata bagaimana Tiongkok merangkak dan menyalip dunia dalam 25 tahun.
“Kita juga bisa,” yakinnnya, menunjuk pada momentum bonus demografi Indonesia yang berkebalikan dengan populasi Jepang yang menua (shrinking population).
Baca juga: Bukan Superman, Tapi Superteam: Gebrakan ‘Gila Kerja’ Maruarar Sirait Nakhodai PIKI
Di sinilah Tito melemparkan tantangannya kepada PIKI. Kapal besar bernaung kaum inteligensia ini, menurutnya, tidak boleh hanya berlayar di perairan dangkal urusan internal.
Tito menyentuh isu sensitif dengan sangat elegan: realitas demografi umat Kristen sebagai minoritas yang tak lebih dari 15%.
“Size is not necessarily a matter (Ukuran bukanlah masalah utama),” ujarnya mengutip eksistensi Singapura dan Swiss yang kecil namun mengendalikan dunia.
Kualitas inteligensia adalah senjata pamungkas. Tito mendesak PIKI untuk tidak merasa kerdil, melainkan merumuskan strategi matang guna memaksimalkan SDA dan mencetak SDM unggul.
Di mata Tito, PIKI memiliki potensi menjadi otak dari pergerakan bangsa menuju masa keemasannya.
(Victor)
