Reuni Dua Saudara Kandung Sejarah, Menjemput Mandat Arsitek Moral Republik

Jakarta, IndonesiaVoice.com – Malam di gereja itu bukan sekadar perayaan pelantikan biasa, melainkan sebuah reuni historis.

Saat Ketua Umum Pengurus Nasional Perkumpulan Senior (PNPS) GMKI, William Sabandar, melangkah ke podium, ada getar emosi yang tertahan namun kokoh dalam setiap kalimatnya.

Baginya, duduk berdampingan dengan Ketua Umum PIKI Maruarar Sirait dan Ketua Umum PP GMKI Prima Surbakti bukanlah sekadar pengaturan protokoler, melainkan sebuah reka ulang tata letak sejarah.

“Hari ini adalah sesuatu yang historis, bukan sekadar simbolis,” William membuka suaranya, membawa hadirin menembus lorong waktu.

Ia mengingatkan kembali akar genealogi organisasi mereka. PIKI dan GMKI tidak lahir dari rahim yang berbeda.

Baca juga: Sah! Maruarar Sirait dan “Superteam” Lintas Profesi Resmi Nakhodai DPP PIKI 2026-2031

Keduanya dibidani oleh tangan yang sama, Johannes Leimena, sosok yang mendirikan GMKI pada 1950 dan kemudian PIKI pada 1963.

Mereka adalah dua sayap dari satu tubuh pergerakan yang sama, yang sejak awal terlibat dalam Sumpah Pemuda hingga merawat Republik.

Dengan bahasa yang sarat makna, William mengukuhkan posisi umat Kristen di Indonesia.

“PIKI dan GMKI bukan penumpang, tapi pemilik sah republik ini,” tegasnya.

Kalimat ini bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk menegaskan beban tanggung jawab.

Meminjam frasa dari khotbah Pdt. Jacklevyn sebelumnya, William mengafirmasi tugas kaum inteligensia Kristen sebagai “Arsitek Moral Republik“.

Baca juga: Menolak Pembusukan Nalar di Era Algoritma, Ruang Refleksi dari Altar PIKI

Bangunan fisik negara bisa hancur, namun jika moralitas republik runtuh, maka peradabanlah yang musnah. Di situlah PIKI harus mengambil peran sebagai mandor dan arsiteknya.

William tidak berhenti pada romansa masa lalu. Ia membawa semangat ayahanda Maruarar, mendiang Sabam Sirait, yang selalu mengajarkan gereja untuk berdiri tegak di atas dua kemerdekaan: kemerdekaan bangsa dan kemerdekaan rohani.

Komitmen ini tidak dibiarkan menguap menjadi utopia. William, Ara, dan Prima bersepakat untuk mengejawantahkan kolaborasi ini dalam bentuk fisik: membangun sekretariat bersama di berbagai daerah.

Sebuah langkah nyata untuk memastikan bahwa gerakan inteligensia dan mahasiswa Kristen tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan membentuk satu barisan phalank yang kokoh demi Indonesia yang lebih terang.

(Victor)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles