Jakarta, IndonesiaVoice.com – Jika ada satu hal yang paling diantisipasi malam itu, tentulah pidato perdana sang nakhoda baru, Maruarar “Ara” Sirait.
Mantan politisi Senayan yang kini menjabat Menteri Perumahan ini naik ke mimbar dengan gaya yang begitu khas: tanpa teks, spontan, penuh candaan satir, namun memiliki kedalaman visi yang tak bisa diremehkan.
Pidatonya adalah sebuah rollercoaster emosi yang menertawakan diri sendiri, sekaligus melecut anak buahnya untuk berlari maraton.
Ara mengawali pidatonya dengan roasting elegan kepada para pembicara sebelumnya, lalu tiba-tiba ia merendahkan hati dengan menceritakan masa lalunya.
“Saya ini kuliah S1 di UNPAR 8 tahun. Rektor saya bilang, ‘Ara, kalau kau tidak bisa membawa harum nama kampus, tolong jangan merusaknya,'” kisahnya.
Baca juga: Sah! Maruarar Sirait dan “Superteam” Lintas Profesi Resmi Nakhodai DPP PIKI 2026-2031
Kisah ini bukan sekadar lelucon; Ara sedang membongkar mitos kecerdasan intelektual.
Ia menunjukkan bahwa jalan sejarah sering kali tidak ditentukan oleh kecepatan kelulusan, melainkan oleh daya juang (grit) dan kapasitas merangkul orang lain.
Gaya kepemimpinan Ara terkuak jelas: ia menuntut lebih. Ia mengubah paradigma PIKI dari sebuah paguyuban pemikir yang lamban menjadi mesin pergerakan yang tak kenal waktu.
“Kalau kerja sama saya, jam 9 pagi itu pulangnya jam 9 malam. Tidak ada rapat, kita eksekusi,” tegasnya.
Ia menyusun daftar pengurus layaknya menyusun kabinet bayangan—melibatkan akademisi, pendeta, direktur bank (BRI dan Mandiri), hingga wamen—membuktikan janjinya bahwa PIKI adalah “Solidary Maker“, wadah inklusif yang melampaui sekat partai dan denominasi.
Baca juga: Menolak Pembusukan Nalar di Era Algoritma, Ruang Refleksi dari “Altar” PIKI
Lebih dalam dari itu, Ara meletakkan fondasi filosofisnya.
“Saya tidak percaya Superman, saya percaya Superteam,” tandasnya.
Ara menuntut hal-hal yang sering diabaikan dalam organisasi nirlaba: transparansi keuangan setiap bulan dan kejelasan program.
Dengan nada setengah bercanda namun mengancam, ia memperingatkan para wakil ketuanya agar tidak banyak alasan “sinyal hilang” saat dipanggil rapat.
Di balik kelakar-kelakarnya, Ara sedang menanamkan politik garam secara harfiah ke dalam struktur PIKI: memaksa mereka melebur, berkeringat, dan memberikan rasa nyata bagi kebijakan keadilan, lingkungan, dan rakyat kecil di Indonesia.
(Victor)
