Bukan Superman, Tapi Superteam: Gebrakan ‘Gila Kerja’ Maruarar Sirait Nakhodai PIKI

Jakarta, IndonesiaVoice.com – Udara malam di kawasan Menteng terasa berbeda pada Sabtu, (30/5/2026). Di bawah naungan arsitektur klasik GPIB Paulus, Jakarta, sebuah transisi sejarah tengah berlangsung.

Malam itu, altar suci tidak hanya menjadi saksi ritus keagamaan, melainkan panggung bagi sebuah orasi yang mendobrak kemapanan.

Maruarar Sirait, tokoh politik nasional yang kini memegang kendali sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI) masa bakti 2026-2031, melangkah ke mimbar.

Ia tidak membawa teks pidato yang kaku. Sebagai gantinya, ia membawa sebuah visi yang mengalir spontan, penuh canda yang menelanjangi ego, namun menyimpan kedalaman strategi yang tajam.

Di hadapan ratusan pasang mata—yang terdiri dari para jenderal purnawirawan, menteri kabinet, pendeta, akademisi, hingga aktivis—pria yang akrab disapa Bang Ara ini memulai pidatonya dengan sebuah pengakuan yang meruntuhkan jarak antara pemimpin dan yang dipimpin.

Baca juga: Sah! Maruarar Sirait dan “Superteam” Lintas Profesi Resmi Nakhodai DPP PIKI 2026-2031

Humor yang Menelanjangi Mitos Kecerdasan

Dalam tradisi organisasi kaum intelektual, gelar akademis sering kali menjadi tameng gengsi. Namun, Ara justru mengambil jalan sebaliknya.

Dengan gaya penceritaan yang teatrikal, ia mengisahkan masa lalunya saat menempuh pendidikan strata satu (S1) di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR).

“Padahal saya sebagai ketua umum PIKI, S1 saja 8 tahun,” selorohnya, memancing gelak tawa yang menggema di seluruh penjuru gereja.

Ia mengenang teguran tajam namun jenaka dari dosennya yang kemudian menjadi Rektor UNPAR, Mangadar Situmorang.

Saat sidang kelulusan, sang rektor berkata, “Hei Ara, akhirnya kamu lulus juga. Sesudah 8 tahun lulus juga kau. Biasanya kalau 8 tahun itu sudah S3, tapi kau lulus S1“.

Baca juga: Menolak Pembusukan Nalar di Era Algoritma: Refleksi Kritis dari Mimbar Pelantikan PIKI 2026

Pesan sang rektor di akhir perkuliahannya itu begitu membekas: “Tolonglah kalau tidak bisa membawa nama harum kampus Unpar yang kita cintai ini, tolonglah jangan merusaknya“.

Anekdot ini bukan sekadar lelucon penghibur. Melalui kisah tersebut, Ara sedang melakukan dekonstruksi terhadap mitos kecerdasan tunggal.

Ia menyadari bahwa di ruang ibadah itu, duduk para cendekiawan yang mengejar gelar S2, S3, hingga profesor.

Namun, sejarah hidup Ara membuktikan bahwa jalan peradaban sering kali tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang menyelesaikan ujian akademis, melainkan oleh ketangguhan (grit), kemampuan beradaptasi, dan kapasitas merangkul sesama.

“Hidup ini bisa berputar-putar juga dikit-dikit. Tapi itulah saya hanya mengatakan kalau Tuhan punya rencana tidak ada yang bisa menghalangi,” refleksinya.

Baca juga: Reuni Dua Saudara Kandung Sejarah, Menjemput Mandat Arsitek Moral Republik

Menyuntikkan Etos Gila Kerja dan Visi “Solidarity Maker”

Gaya kepemimpinan Ara terkuak jelas: ia menuntut dedikasi yang tak kenal waktu. Menyadari banyaknya pekerjaan rumah (PR) yang menanti, ia mengubah paradigma PIKI dari sebuah paguyuban pemikir menjadi mesin pergerakan yang berdetak cepat.

Dalam satu bulan terakhir saja, Ara telah terjun langsung ke enam provinsi, menemui pengurus PIKI di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Lampung.

Dedikasinya tergambar dari ritme kerjanya yang ekstrem. “Tadi malam sampai jam 3 pagi ngobrol di Kendari dengan PIKI, GMKI, dan PNPS,” ungkapnya.

Pola serupa terjadi di Jawa Timur, di mana diskusi berlangsung hingga pukul 03.00 pagi, disusul dengan perjalanan lanjutan pada pukul 03.30 pagi.

Ara meminta maaf jika ritme “gila kerja” ini akan mengubah jam tidur para pengurus PIKI dan GMKI di daerah.

Baca juga: Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman Buka Kongres VII PIKI 2026 dan Serukan Pesan Kebangsaan

Keringat yang mengucur di berbagai daerah itu bermuara pada satu konsep besar yang ia tawarkan: PIKI sebagai Solidarity Maker.

Ara membayangkan PIKI sebagai rumah besar yang inklusif, wadah yang mampu merangkul seluruh ekosistem Kristen di Jakarta dan penjuru Nusantara tanpa sekat denominasi atau warna partai politik.

“Jadi PIKI ini dari berbagai macam partai ada di sini ya. Kita tidak bedakan mau partai apa aja ada di sini. Jadi supaya kita bisa saling bersatu, bertukaran pikiran,” tegasnya.

Langkah konkret pun segera dieksekusi. Ara, bersama Ketua Umum PNPS William Sabandar dan Ketua Umum GMKI Prima Surbakti, bersepakat untuk membangun sekretariat bersama di seluruh Indonesia.

Mulai tahun ini, ia menargetkan berdirinya 5 hingga 10 sekretariat PIKI. Lebih jauh, ia memancang target ambisius: sebuah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang komprehensif pada Januari 2028, yang diharapkan akan menghimpun kekuatan dari 38 provinsi dan 300 cabang PIKI se-Indonesia.

Baca juga: Kongres VII PIKI 2026, Benyamin Patondok Serukan Kekompakan Bangsa dan Apresiasi Keterpanggilan Kader

Orkestrasi “Superteam” Lintas Sektoral

Jika ada satu kalimat yang paling menggema dan menjadi tajuk utama dari pidato malam itu, kalimat tersebut adalah: “Saya enggak percaya Superman, saya percaya Superteam.

Menyadari keterbatasan dirinya, Ara tidak berusaha tampil sebagai pahlawan tunggal. Ia justru memposisikan diri sebagai seorang dirigen yang mengorkestrasi para virtuoso dari berbagai bidang.

Dari 500 orang yang berminat menjadi pengurus, ia menyaring dan membujuk tokoh-tokoh hebat untuk masuk ke dalam barisannya.

Susunan kepengurusan PIKI 2026-2031 menjelma menjadi “kabinet bayangan” yang sangat komplit.

Di jajaran 26 Wakil Ketua Umum, Ara berhasil merangkul figur-figur kelas wahid. Ada Tony Wenas, yang dengan nada setengah bercanda disebut Ara lebih cocok menjadi Ketua Umum.

Barisan ekonomi dan korporasi diperkuat oleh Direktur Bank Mandiri , Direktur BRI , Direktur PNM, Direktur Pindad, hingga Direktur PLN dari Poso (Rizal) yang berseloroh disebutnya sebagai “kadernya Bahlil Lahadalia“.

Baca juga: Menepis Ego, Merajut Sinergi: Pesan Menggugah Dr. Badikenita Sitepu di Panggung Kongres VII PIKI

Di bidang pendidikan dan kajian, Ara menggandeng Adri Lazuardi, Ketua Umum Yayasan BPK PENABUR, dengan harapan tradisi juara olimpiade sains dari sekolah tersebut dapat mewarnai pemikiran PIKI.

Begitu pula dengan gerbong akademisi dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), di mana Rektor UKI Prof. Angel Damayanti menjabat sebagai Wakil Ketua Umum dan Ketua Yayasan UKI, David Tobing, duduk di Dewan Pakar.

Ara memadukan kekuatan ini dengan filosofi alkitabiah yang dalam: “Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati“. Dengan komposisi yang mengawinkan kecerdikan taktis para praktisi dan ketulusan moral para pendeta, Ara meyakini PIKI memiliki pasukan yang “paten” di segala penjuru.

Namun, “Superteam” ini datang dengan tuntutan tinggi. Ara mengultimatum ke-26 Wakil Ketua Umumnya untuk masing-masing mengeksekusi minimal satu kegiatan nyata dalam setahun, baik di Kalimantan Barat, Sumatera Utara, atau daerah lainnya.

Ia juga menolak budaya birokrasi yang malas. Dengan nada ancaman yang dibalut kelakar, ia mengingatkan para pengurus agar tidak banyak alasan “sinyal hilang” atau “acara keluarga” ketika dipanggil rapat.

Baca juga: Antara Pilihan Aman dan Kepentingan Rakyat, Tantangan Terbuka Menteri PKP Maruarar Sirait bagi Intelektual PIKI

Lebih dari itu, Ara menetapkan standar transparansi keuangan yang kaku: setiap bulan bendahara wajib mengekspos laporan arus kas organisasi secara terbuka.

Politik Garam, Mitra Kritis di Pusaran Kekuasaan

Bagi PIKI, berada di dalam atau di luar pemerintahan bukanlah persoalan hitam putih. Ara, yang kini menjabat dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, berdiri di atas mimbar yang juga dihadiri kolega kabinetnya seperti Mendagri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan Kepala Bakom RI Muhammad Qodari.

Ara menyitir kembali pesan historis Bung Hatta tentang “Politik Garam“, sebuah politik yang melebur, tak kasat mata, namun memberikan rasa dan mencegah kebusukan.

Ia juga menggali memori masa lalu tentang Dr. Johannes Leimena (Om Joe), pendiri PIKI dan GMKI, yang saking dapat dipercayanya, ditunjuk hingga tujuh kali sebagai pejabat presiden di era Soekarno.

Om Joe adalah bukti bahwa kaum inteligensia Kristen bisa memegang kekuasaan sambil tetap menyuarakan pikiran yang objektif dan rasional.

Berdasarkan teladan itu, Ara menegaskan posisi PIKI saat ini. “Memang tantangan kita bagaimana kita, yaitu saya, Pak Mendagri, Pak Nasarudin Umar, Pak Qodari itu bagian dari pemerintah itu jelas. Tapi kita juga harus membuka diri kalau ada yang perlu diperbaiki,” tegasnya.

Ara meyakini bahwa Presiden Prabowo adalah sosok yang terbuka terhadap masukan yang membangun demi kesejahteraan bangsa.

PIKI dituntut untuk menjadi pabrik solusi, memproduksi kajian kritis di bidang politik, hukum, energi, pertanian, hingga perempuan.

Ara bahkan langsung menugaskan DPD PIKI Jawa Barat untuk membedah kinerja pemerintahan Dedi Mulyadi, mengevaluasi sejauh mana pemberdayaan ekonomi dan kebebasan perizinan gereja telah berjalan.

Di tingkat nasional, ia menitipkan pesan khusus kepada Menteri Agama agar negara hadir memastikan ketersediaan guru agama Kristen bagi anak-anak di sekolah daerah.

Bagi Ara, pembangunan ekonomi dan infrastruktur memang vital, namun PIKI harus berdiri teguh di garis pertahanan hak-hak rakyat kecil dan masyarakat adat, serta kelestarian lingkungan hidup.

Warisan dan Tanggung Jawab Sejarah

Di penghujung pidatonya yang mengaduk emosi, Maruarar Sirait menunjukkan kualitas seorang negarawan sejati: kemampuan untuk menghargai pendahulunya.

Ia secara ksatria berterima kasih kepada Dr. Badikenita Putri Sitepu, Baktinendra Prawiro, dan Audy Wuisang, yang telah merawat PIKI hingga memiliki tata kelola administrasi yang sangat berwibawa.

Satu momen yang memecah riuh tepuk tangan adalah ketika Ara mengungkap bahwa kepengurusan lama tidak mewariskan defisit.

Alih-alih minus ratusan juta seperti kebiasaan banyak organisasi, kepengurusan Badikenita justru mewariskan saldo surplus sebesar 100 juta rupiah.

“Luar biasa, jadi tugas kita nanti tidak terlalu berat,” senyum Ara, mengapresiasi integritas finansial para pendahulunya.

Pidato malam itu ditutup dengan sebuah kutipan luhur dari pahlawan nasional asal Minahasa, Dr. Sam Ratulangi: “Si Tou Timou Tumou Tou“— Manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain. Kalimat ini merangkum seluruh roh pergerakan yang ingin dibangun oleh Maruarar Sirait.

Pelantikan DPP PIKI 2026-2031 di GPIB Paulus bukanlah sekadar pergantian wajah pengurus.

Di bawah komando Maruarar Sirait, PIKI sedang bertransformasi menjadi orkestra Superteam yang siap membuktikan bahwa intelektualitas tertinggi tidak diukur dari seberapa cepat seseorang meraih gelar sarjana, melainkan dari seberapa berani ia meleburkan ego, berkeringat di akar rumput, dan menghidupkan kembali harapan bagi bangsa Indonesia.

(Victor)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles