JAKARTA, IndonesiaVoice.com – Panggung utama di Hotel Lumire, Jakarta, menjadi saksi bisu berkumpulnya para pemikir dan cendekiawan Kristen dari seluruh penjuru Tanah Air pada Kamis (30/4/2026).
Di tengah perhelatan akbar Pembukaan Kongres Ke-7 Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), sebuah pidato tajam namun meneduhkan meluncur dari Ketua Umum DPP PIKI, Dr. Badikenita Putri Sitepu, S.E., S.H., M.Si.
Berdiri di mimbar kehormatan, sosok srikandi yang telah memimpin PIKI melewati berbagai dinamika bangsa ini tidak membuai audiens dengan retorika kosong. Sebaliknya, ia melontarkan sebuah refleksi mendalam tentang esensi berorganisasi.
Badikenita mengawali pesannya dengan menyuarakan kembali renungan dari Ketua Dewan Penasihat PIKI, Baktinendra Prawiro.
Sebuah pertanyaan eksistensial dilemparkan ke tengah ruang kongres: Untuk apa kita berorganisasi? Apakah demi membesarkan diri sendiri, atau demi membesarkan nama organisasi semata?
Baca juga: Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman Buka Kongres VII PIKI 2026 dan Serukan Pesan Kebangsaan
Dengan suara lantang, Badikenita menegaskan bahwa PIKI bukanlah kendaraan untuk ambisi pribadi.
“Mas Bakti mengingatkan kita, pertarungan itu bukan ada di internal kita. Pertarungan yang sesungguhnya ada di luar sana,” tegasnya.
Pesan ini seolah menjadi autokritik sekaligus tamparan halus bagi siapapun yang masih gemar menciptakan faksi-faksi.
Ia mewanti-wanti agar kaum inteligensia Kristen berhenti melakukan dikotomi-dikotomi yang pada akhirnya hanya akan menghancurkan rumah besar PIKI dari dalam.
Sinergi Kuat PIKI dan Pemerintah
Tidak hanya menyentuh urusan internal, Badikenita juga menggunakan panggung tersebut untuk meluruskan sebuah narasi keliru yang kerap beredar di masyarakat.
Di hadapan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, yang turut hadir, ia membantah keras anggapan bahwa PIKI mengambil jarak dari pemerintah.
Fakta di lapangan berbicara sebaliknya. Kolaborasi PIKI dengan institusi negara telah terjalin dalam bentuk kerja nyata, bukan sekadar simbolis.
“Saya mau sampaikan, PIKI ini sudah bekerja sama dengan Lemhannas. Setiap tahun, setiap angkatan, kita punya jatah satu orang untuk ikut pendidikan reguler, pendidikan PPSA (Program Pendidikan Singkat Angkatan), dan PPRA (Program Pendidikan Reguler Angkatan),” urainya merinci bukti kedekatan tersebut.
Ia juga mengungkapkan apa yang sebelumnya telah ia sampaikan langsung kepada KSP Dudung Abdurachman.
Kader-kader terbaik PIKI telah berkiprah menyumbangkan pemikirannya di pos-pos strategis negara.
Mulai dari rekomendasi untuk Dewan Pengarah di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga penempatan tokoh sekelas Prof. John Numberi di Dewan Energi Nasional.
“Jadi, siapa bilang PIKI tidak dekat dengan pemerintah? Saya ingin meluruskan hal ini kepada Bapak dan Ibu sekalian,” tuturnya, disambut anggukan apresiasi dari para tamu undangan.
Obsesi pada Organisasi, Bukan Figur
Di penghujung pidatonya, Badikenita menanggalkan seluruh atribut kebesarannya sebagai tokoh sentral.
Ia mengutarakan sebuah prinsip kepemimpinan yang murni dan tulus, di mana institusi harus selalu diletakkan di atas figur individu.
“Saya tidak punya obsesi pribadi. Obsesi saya hanya satu: PIKI ini diakui dan dilihat sebagai sebuah organisasi yang kuat, bukan karena person atau orang per orangnya. Ini yang harus terus kita ingat,” tekannya.
Kalimat penutupnya kemudian merangkum seluruh roh pergerakan kaum cendekiawan Kristen. Sebuah motto yang bukan hanya diucapkan, tetapi dihidupi: “Di PIKI ini kita melayani. Ad caritas, ad veritas. Demi kasih dan kebenaran.”
Dengan semangat melayani dalam kasih dan berpegang pada kebenaran itulah, Dr. Badikenita Sitepu mengucapkan selamat mengikuti persidangan kepada seluruh peserta.
Kongres VII PIKI 2026 kini bukan sekadar ajang pergantian pengurus, melainkan titik tolak bagi kaum inteligensia untuk terus melangkah keluar, menghadapi “pertarungan” yang sesungguhnya demi kemajuan Indonesia.
(Victor)
