Sunyi di Tengah Pesta, Merawat Ruh ‘Parhobas’ demi Menyelamatkan Generasi Muda Batak yang Hilang

Jakarta, IndonesiaVoice.com – Senja perlahan merangkak di ufuk Jakarta, namun di benak Dr. JS Simatupang, ada sebuah senja lain yang jauh lebih meresahkan: senja kala budaya leluhurnya.

Di usianya yang telah menginjak 61 tahun, pria yang seharusnya sudah bisa duduk tenang menikmati masa tuanya ini justru merasa gelisah. Tidurnya tak nyenyak, pikirannya terganggu.

“Kalau dikemukakan, krisis minat generasi muda Batak untuk persoalan budaya peninggalan leluhur ini sudah mencapai titik minus,” tuturnya dengan nada suara yang berat.

Ia tidak sedang membesar-besarkan masalah. Dr. JS Simatupang adalah sosok yang hidup dan bernapas dalam denyut nadi adat kemargaan.

Tangan dinginnya pernah ikut meramu kesuksesan sebagai parhobas (pelayan/pekerja keras) pada Munas Raja Lontung di Muara dan Pesta Kampung Parbarumbung.

Baca juga: IKA USU dan Prof. Rhenald Kasali Bedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi RI dan Nasib Kelas Menengah

Keringatnya pun turut menetes dalam kontribusi pembangunan jalan menuju Tugu Simatupang Togatorop. Ia tahu persis bagaimana aroma gotong royong itu pernah begitu pekat.

Namun kini, aroma itu perlahan memudar, digantikan oleh apatisme yang dingin dari para Naposobulung (generasi muda).

Dua dekade lalu, ia mengenang, barisan pemuda marga begitu tangguh dan rutinitas mereka menggema. Hari ini? “Bahkan melirik pun generasi muda enggan. Saya yakinkan, mungkin lima atau sepuluh tahun mendatang, budaya Batak ini sudah terkikis habis,” ucapnya getir.

Penyakit Gila Hormat dan Hilangnya Sang ‘Parhobas’

Mengapa anak-anak muda ini pergi meninggalkan gelanggang adatnya sendiri? Jakarta, yang sering dianggap sebagai barometer kemajuan dan gudangnya para pemikir, justru menjadi etalase dari krisis ini.

Dengan tatapan tajam, Dr. JS Simatupang menunjuk pada satu akar masalah yang sering kali luput dari otokritik: krisis keteladanan para pemimpin marga.

Baca juga: KETIKA HUKUM MENJADI ALAT PEMUKUL, BUKAN PELINDUNG

“Ketua-ketua marga sekarang, analisa saya, bukan lagi menjadi parhobas. Maunya hanya minta dihormati,” kritiknya tajam.

Dalam filosofi Batak, seorang pemimpin kumpulan marga hakikatnya adalah pelayan masyarakatnya. Ia bukan pejabat politik yang butuh panggung untuk dielu-elukan atau dicium tangannya.

Ia harusnya bekerja dalam senyap, memastikan khalayak ramai puas dan terayomi. Sayangnya, banyak pengurus marga masa kini yang lebih sibuk mengurus iuran anggota ketimbang menyapa anak mudanya yang mungkin sedang putus sekolah, menganggur, atau kebingungan mencari identitas.

“Generasi muda sekarang merasa, apa untungnya mereka ikut? Diajak berkomunikasi pun tidak. Padahal, mereka sekarang punya pendidikan tinggi, ilmunya lebih dari orang tuanya. Kalau kita hanya menyuguhi hal-hal mistik atau kaku, mereka tidak peduli,” tegasnya.

Ia bahkan menyarankan agar marga-marga Batak belajar dari marga Sinaga yang fokus membangun mobilisasi usaha ekonomi bersama, atau paguyuban Jawa Barat yang memiliki visi jelas ke mana arah generasinya dibawa.

Baca juga: Tok! MA Tolak PK Marthen Napang, Jadi ‘Amunisi’ Mematikan Gugatan Perdata John Palinggi

Menyederhanakan Waktu, Menepis Mitos Kemiskinan

Alasan lain yang membuat Naposobulung lari adalah cengkeraman waktu dan mitos biaya yang mencekik.

Berdiri mematung dari pagi hingga delapan malam untuk menyalami tamu, menurut Dr. JS Simatupang, bukan hanya tidak logis, tapi juga menyalahi kaidah kesehatan.

“Generasi muda tidak salah jika ingin acara selesai jam 4 sore. Waktu dalam acara adat itu sangat wajar dan bisa dipersingkat tanpa menghilangkan kultur budaya,” jelasnya.

Ia memberikan solusi praktis: jika ada sepuluh saudara yang harus memberikan ulos, cukup diwakilkan oleh satu orang. Batasi waktu bicara tiap perwakilan hanya dua menit.

Keputusan-keputusan rasional seperti ini harusnya berani diambil oleh ketua marga dan Raja Parhata saat Martonggo Raja (rapat persiapan adat).

Baca juga: Batak Center dan LABB Resmi Teken MoU: Fokus Berantas Stunting, Cegah KDRT, dan Gagas Museum Batak Raya

Ia juga menepis keras mitos bahwa adat Batak akan membawa kebangkrutan.

“Tidak ada orang Batak yang bikin pesta anaknya lalu pulang dari sana dikejar-kejar hutang. Itu tidak mungkin,” sanggahnya tersenyum.

Di balik gemerlapnya sebuah pesta adat, terdapat jaring pengaman sosial yang kokoh bernama gotong royong. Semua biaya dan beban telah disiapkan dan dibagi bersama oleh orang banyak.

Jika suhut (tuan rumah) tidak mampu, maka pesta akan diselenggarakan secara sederhana sesuai kemampuan. Ada keluhuran dan ‘misteri’ perlindungan dalam adat Batak yang sering disalahpahami oleh anak muda.

Baca juga: Tahan Laju Pasien ke Luar Negeri, Nommensen International Hospital Siap Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Jembatan Bahasa dan Panggilan Pulang

Pada akhirnya, krisis ini adalah krisis keterasingan. Anak muda merasa menjadi orang asing di pesta adatnya sendiri karena kendala bahasa.

Dr. JS Simatupang mengingatkan bahwa kecintaan tidak bisa dipaksakan dalam semalam; ia harus disemai dari meja makan keluarga.

Sama seperti telinga yang terbiasa mendengar lagu merdu, anak-anak harus dibiasakan mendengar bahasa Batak dari orang tuanya dengan penuh kasih sayang, bukan paksaan.

Waktu terus berjalan, dan sang tokoh menolak untuk menyerah pada pesimisme. Melalui organisasi sosial kemasyarakatan yang terus ia gerakkan, ia menitipkan sebuah pesan yang melampaui batas marga dan kampung halaman.

“Mari bersama kita bentuk satu wujud visi. Pergunakanlah rezeki kita untuk membangun citra budaya yang indah kepada anak-anak kita. Kepada saudara-saudara suku Tapanuli, jadilah parhobas yang sejati,” tutupnya.

Baca juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026: Menjaga Rumah Bersama di Tengah Ambisi Pembangunan

Di tengah bisingnya modernisasi, seruan Dr. JS Simatupang adalah gema dari masa lalu yang memanggil masa depan.

Sebuah pengingat bahwa adat tidak diciptakan untuk membelenggu, melainkan untuk merawat kehidupan.

Dan untuk menjaganya tetap hidup, tak ada jalan lain selain menurunkan ego, menggulung lengan baju, dan kembali menjadi seorang parhobas.

(Victor)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles