PRABOWONOMICS: PRONAMQUE TUERI ATAU COELUMQUE TUERI?

Filsuf Romawi Ovidius dalam karya klasiknya Metamorphoses menuliskan frasa abadi coelumque tueri jussit. Manusia diciptakan tegak agar mampu memandang ke langit.

Memandang langit melambangkan visi luhur, pembangunan jiwa, martabat, dan idealisme tertinggi sebuah bangsa.

Sebaliknya, tindakan pronamque tueri berarti menunduk ke bumi. Ia mencerminkan pemenuhan kebutuhan materiil, urusan logistik, dan infrastruktur fisik semata.

Dalam membedah arah kepemimpinan nasional, karakteristik “Prabowonomics” saat ini menunjukkan kecenderungan kuat pada aspek yang kedua.

Sebagai pemimpin berlatar belakang militer, Prabowo Subianto membawa gaya kepemimpinan yang mengutamakan kecepatan, taktis, dan hasil nyata yang langsung terlihat.

Baca juga: KETIKA HUKUM MENJADI ALAT PEMUKUL, BUKAN PELINDUNG

Karakteristik Prabowonomics sangat kental dengan pembangunan fisik materiil yang dikejar sesegera mungkin.

Kebijakan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), swasembada pangan, hingga ketahanan energi adalah wujud nyata dari upaya mengamankan fondasi Indonesia (pronamque tueri).

Pendekatan taktis “amankan logistik sekarang juga” ini memang krusial, namun jika berjalan tanpa keseimbangan, ia menyimpan bahaya laten yang besar bagi kesinambungan masa depan bangsa dan negara Indonesia.

Sejarah mengingatkan bahwa pembangunan fisik yang masif tanpa diimbangi pembangunan manusia yang kuat akan melahirkan kerapuhan sistemik.

Menitikberatkan seluruh energi negara hanya pada aspek materiil berisiko menciptakan masyarakat yang pragmatis, hedonis, ketergantungan pada subsidi, dan hilangnya daya kritis.

Baca juga: MENGGUGAT “KOTAK HITAM” INSTITUSI KETIKA NEGARA DIKELOLA SEPERTI KERAJAAN ABSOLUT

Ketika hukum, ketertiban, dan etika dikesampingkan demi kecepatan realisasi proyek fisik, maka korupsi, kesenjangan, dan degradasi moral justru akan menggerogoti hasil pembangunan itu sendiri dari dalam.

Bangsa ini tidak boleh sekadar kenyang secara biologis, tetapi keropos secara karakter.

Di sinilah pentingnya mengembalikan kompas pembangunan pada amanat konstitusi UUD 1945 dan Pancasila, yang sejatinya sangat selaras dengan semangat coelumque tueri.

Konstitusi kita dengan tegas memerintahkan untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa“, sebuah mandat pembangunan jiwa (nation and character building) melalui pilar pendidikan, kesehatan, dan ketertiban hukum yang berkeadilan.

Memberikan porsi yang lebih besar pada aspek coelumque tueri ini bukanlah sebuah pemborosan waktu dan dana, melainkan sebuah investasi strategis.

Baca juga: Tok! MA Tolak PK Marthen Napang, Jadi ‘Amunisi’ Mematikan Gugatan Perdata John Palinggi

Pembangunan karakter justru akan bertindak sebagai akselerator utama bagi keberhasilan pembangunan fisik itu sendiri.

Pendidikan yang berkualitas akan melahirkan inovator berintegritas moral yang mengelola ketahanan energi secara mandiri.

Sistem kesehatan yang promotif-preventif akan memastikan program MBG menghasilkan manusia yang produktif, bukan sekadar beban anggaran.

Ketertiban hukum yang bersih akan menjaga agar setiap rupiah pajak rakyat tidak bocor oleh korupsi.

Pada akhirnya, coelumque tueri dan pronamque tueri harus berjalan selaras dan bersamaan. Sudah saatnya Prabowonomics segera dievaluasi agar tidak terjebak dalam pragmatisme fisik jangka pendek.

Mengamankan logistik di Indonesia adalah hal penting, namun membangun jiwa dan karakter manusia Indonesia adalah satu-satunya cara agar bangsa ini memiliki kekuatan untuk tegak berdiri, mendongak, dan menatap langit persaingan dunia dengan terhormat.(*)

Santiamer Silalahi, Ketua Umum Jaga Pancasila Zamrud Khatulistiwa (Galaruwa)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles