Jakarta (IndonesiaVoice.com) – Di usianya yang tak lagi muda, semangat St. Edison Manurung, SH, MM, justru menyala semakin terang bak matahari pagi di ufuk timur Danau Toba.
Sebagai Ketua Umum Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT), ia memikul sebuah visi besar: menjadikan kawasan danau vulkanik terbesar di dunia itu bukan sekadar primadona pariwisata, melainkan sebuah ‘laboratorium’ kemajuan peradaban bagi Indonesia.
Dalam sebuah rapat strategis yang turut dihadiri oleh Ketua Panitia FGD Raja Malem Tarigan dan Sekretaris Dr. Jupiter Pane, Edison memaparkan peta jalan KMDT yang ambisius namun membumi.
Rapat tersebut mengonfirmasi tiga agenda besar yang siap menggebrak dalam waktu dekat: Focus Group Discussion (FGD) bersama BPODT pada 25 Juni 2026, kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pangan ke Danau Toba pada 3 Juli 2026, serta FGD bersama Kementerian Pariwisata di Jakarta pada 6 Agustus 2026.
Bagi Edison dan seluruh jajaran KMDT, langkah-langkah ini adalah wujud pengabdian tanpa henti.

Baca juga: “Bantu Negara Ini, Pak Jokowi!”: Seruan Dr. John Palinggi Meretas Badai Pelemahan Rupiah
“Danau Toba itu kan sudah super prioritas. Tapi ada istilah kami di KMDT, Danau Toba itu menjadi salah satu tempat yang kita buat semacam laboratorium di tujuh kabupaten,” ungkap Edison dengan mata berbinar.
Ia memimpikan, jika “laboratorium” kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan ini berhasil di Toba, model ini akan direplikasi di danau-danau lain di seluruh pelosok Nusantara, dari Sumatera Barat hingga Papua.
Membangun Manusia, Mencerdaskan Bangsa
Edison sadar betul, keindahan alam saja tidak cukup. Pembangunan fisik yang megah akan menjadi sia-sia tanpa fondasi manusia yang tangguh.
Karena itulah, FGD pada 25 Juni 2026 bersama BPODT akan menjadi tonggak penting yang berfokus pada satu kata kunci: SDM Unggul.
Acara ini tidak sekadar kumpul-kumpul. KMDT akan mengundang seluruh camat, kepala desa, hingga tokoh masyarakat untuk menyelaraskan visi.
Baca juga: Polemik Makan Bergizi Gratis, Dr. John Palinggi Puji Kinerja Kejaksaan Agung Berantas Korupsi
Tidak tanggung-tanggung, tokoh-tokoh kaliber nasional seperti Prof. Dr. Ara, Prof. John Hutagaol, Irjen Pol Richard Nainggolan, serta para bupati di kawasan Toba akan turun gunung memberikan pencerahan.
Pada momen tersebut, KMDT dan BPODT akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat lahirnya generasi cerdas di kawasan Toba.
KMDT telah merajut kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan, mulai dari Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Terbuka (UT), Universitas Katolik Santo Thomas, hingga Universitas Negeri Medan (Unimed).
Tujuannya mulia: mewujudkan Tridharma Perguruan Tinggi melalui fasilitasi penelitian S1 hingga S3, serta penyaluran beasiswa bagi siswa SMK, SMA, dan mahasiswa lokal.
“Ini menunjukkan bahwa KMDT bukan kaleng-kaleng, bukan menggorga langit (sekadar omong kosong), ada wujud nyata yang kita lakukan,” tegas Eks Staf Khusus Ketua DPD RI ini.
Baca juga: Solidaritas Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, PSI Sumut Berbagi Daging Kurban Untuk Masyarakat
Sebidang Tanah untuk Koperasi Merah Putih
Kiprah KMDT tidak hanya berhenti di ruang-ruang kelas dan seminar. Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, KMDT mengambil langkah nyata di akar rumput melalui sektor ketahanan pangan. Sebuah Koperasi Desa Merah Putih dan Dapur Gizi tengah dibangun di Pantai Pasifik, Porsea.
Di sinilah sisi paling menyentuh dari dedikasi seorang Edison Manurung terungkap. Untuk memastikan proyek ini berjalan, ia secara pribadi menghibahkan lahan miliknya seluas kurang lebih 1.000 meter persegi di kampung halamannya tersebut. Sebuah pengorbanan personal demi melihat ekonomi masyarakat desanya berputar dan bertumbuh.
Kerja keras yang tulus ini tak luput dari perhatian pusat. Pada 3 Juli 2026, Menko Pangan Zulkifli Hasan bersama KMDT dijadwalkan turun langsung ke Danau Toba untuk melihat eksekusi Koperasi Merah Putih dan Dapur Gizi ini.
“Semoga dengan adanya ini, organisasi masyarakat orang Batak berlomba-lomba untuk membantu program pemerintah. Supaya di daerah tersebut efek dominonya, ekonominya, makin dirasakan masyarakat nantinya,” harap Mantan Ketua DPP KNPI ini.
Langkah taktis ini turut didukung penuh oleh Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamuddin, yang juga bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina KMDT.
Baca juga: Gedung Kura-Kura Kena ‘Ulti’: Driver Ojol Tagih Janji Kesejahteraan yang Sekadar ‘Omon-Omon’
Bahkan, rencana strategis KMDT mendapat sambutan hangat dari Menteri Pariwisata, yang sempat memviralkan antusiasmenya di media sosial, dan akan dilanjutkan dengan FGD khusus di Jakarta pada 6 Agustus 2026.
Menjaga Mahkota ‘Green Card‘ UNESCO
Semua pergerakan masif ini bermuara pada satu tanggung jawab besar: menjaga kelestarian dan reputasi Danau Toba di mata dunia.
Keberhasilan mempertahankan status Green Card dari UNESCO adalah prestasi yang harus disyukuri, namun bukan berarti tugas telah usai. Empat tahun ke depan, tim asesor UNESCO akan kembali melakukan evaluasi.
Edison Manurung, di usianya yang kian senja, memilih untuk tidak duduk diam menikmati masa tuanya. Ia memilih medan juang bernama pengabdian.
“Kalau saya, apa sih lah… udah umur, dah uzur. Tapi di sela-sela kita berkarya melalui KMDT ini, kita tunjukkan bahwa kita bisa berkolaborasi dengan semua elemen bangsa dari era Presiden Jokowi sampai Presiden Prabowo sekarang,” ucapnya menutup perbincangan.
Sebuah pesan tersirat yang kuat: dedikasi untuk bangsa tak pernah mengenal batas usia. Dan dari tepian Danau Toba, KMDT terus menenun asa, membuktikan bahwa cinta pada tanah kelahiran selalu melahirkan karya yang nyata.
(Victor)
