Jakarta, IndonesiaVoice.com – Angka di layar pergerakan nilai tukar mata uang berkedip merah. Dolar Amerika Serikat merangsek naik, menembus benteng psikologis Rp17.600 hingga menyentuh kisaran Rp18.000.
Publik cemas, pasar modal menahan napas, dan para pakar ekonomi mulai berteori tentang ancaman geopolitik hingga kebijakan moneter Amerika Serikat.
Di tengah hiruk-pikuk kecemasan nasional tersebut, sebuah pandangan berbeda—yang menyentuh nurani dan menembus batas-batas teori ekonomi makro—muncul dari seorang praktisi bisnis kawakan, Dr. John Palinggi, MM, MBA.
Bagi John, seorang pengusaha senior yang telah malang melintang selama 45 tahun “tanpa cacat“, krisis nilai tukar ini bukanlah semata-mata soal kurva penawaran dan permintaan. Ini adalah ujian terhadap mentalitas bangsa, ketahanan politik, dan yang paling krusial: persatuan para pemimpin bangsa.
“Saya bukan ahli teori ekonomi yang meliuk-liuk,” tegas John Palinggi mengawali perbincangannya.
Baca juga: Polemik Makan Bergizi Gratis, Dr. John Palinggi Puji Kinerja Kejaksaan Agung Berantas Korupsi
Ia merendah, meski rekam jejaknya sebagai pebisnis bersih tanpa rekam jejak kredit macet—yang bahkan memberinya akses digital bebas visa ke 18 negara Asia Pasifik hingga 2029—berbicara lebih nyaring dari sekadar gelar akademis.
Baginya, urusan menstabilkan Dolar adalah tupoksi mutlak Bank Indonesia, bukan sekadar panggung untuk menyalahkan Menteri Keuangan atau mengutuk keadaan global.
Namun, lebih dari itu, John mengajak publik untuk melakukan introspeksi mendalam, melihat krisis ini dari kacamata sejarah, dan berhenti saling mencaci maki.

Bayang-Bayang “Jiwa Maling” 1998
Ketika banyak pihak menuding badai Dolar ini murni akibat ketegangan antara Amerika Serikat, China, dan perang yang berkecamuk di berbagai belahan dunia, John tidak menampik hal tersebut.
Ada tarik-menarik kepentingan geopolitik yang memosisikan Indonesia—sebagai negara non-blok—berada di posisi sulit.
Manuver Presiden Prabowo Subianto yang mengambil diskon minyak 30 persen dari Rusia di tengah komitmen miliaran dolar dengan Amerika Serikat adalah bukti nyata betapa peliknya menjaga keseimbangan tersebut.
Namun, John menyoroti “penyakit” internal yang jauh lebih destruktif. Ia menarik ingatan publik mundur ke krisis moneter 1998.
Saat itu, Dolar meroket dan Orde Baru runtuh. Banyak yang menyalahkan IMF (International Monetary Fund), namun John memiliki dokumen dan catatan sejarah yang mematahkan narasi tersebut.
“Kita itu punya kredit macet Rp. 450 triliun di tahun 1998. Siapa pelakunya? Pengusaha! Sebanyak 86,4 persen pengusaha Indonesia masuk blacklist bank saat itu,” ungkapnya tajam.
Ia membongkar memori kelam tentang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) yang menelan uang negara lebih dari Rp1.000 triliun.
Uang yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan nasabah dan roda ekonomi justru dipakai oleh oknum pengusaha untuk memborong Dolar yang saat itu masih di angka Rp2.500, hingga meroket tak terkendali ke Rp16.000.
“Itulah penyakit mendasar kita. Jangan salahkan IMF. Kitanya ini yang tidak beres. Kita memiliki jiwa maling terhadap negara sendiri. Pengusaha itu biang keroknya, yang dibantu oleh otoritas melalui legislasi yang lemah,” cecarnya.
Kritik ini menjadi refleksi keras bahwa kelemahan internal yang seringkali membuka pintu bagi kehancuran ekonomi, bukan semata faktor eksternal.
Pariwisata Bukan Obat Instan
Di tengah himpitan pelemahan Rupiah, muncul wacana dari Dewan Ekonomi Nasional agar pemerintah memperkuat devisa melalui pariwisata.
Mendengar hal ini, John Palinggi tersenyum skeptis. Sebagai seseorang yang telah menginjakkan kaki di 41 negara, ia menilai solusi tersebut tidak realistis di tengah situasi saat ini.
“Itu omong kosong! Dari mana pariwisatanya dengan negara seperti ini? Masuk ke mal atau bandara saja diperiksa sampai lepas ikat pinggang, seperti menghadapi teroris. Mana ada negara tidak aman yang bisa mendatangkan pariwisata?” kritiknya.
Ia mempertanyakan klaim statistik pariwisata yang tidak merepresentasikan pemasukan devisa secara riil, mengingat masyarakat saat ini sedang kelelahan menghadapi kesulitan ekonomi.
Bagi John, mengandalkan pariwisata sebagai bemper penahan laju Dolar di masa kritis ini ibarat memadamkan kebakaran hutan dengan secangkir air. Perlu langkah strategis tingkat tinggi, bukan sekadar teori di atas kertas.
“Bantu Negara Ini, Pak Jokowi!”
Di sinilah letak klimaks dari pandangan sang praktisi. Setelah “duduk termenung di taman” memikirkan nasib negara, John Palinggi sampai pada satu kesimpulan yang mungkin di luar dugaan banyak orang.
Solusi tercepat dan paling taktis untuk menundukkan Dolar tidak terletak pada buku teks ekonomi, melainkan pada kolaborasi dua tokoh sentral Republik ini: Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo.
“Waktu COVID-19, kas negara nyaris kosong. Produktivitas menurun tajam. Tetapi dengan langkah-langkah taktis yang luar biasa, Bapak Joko Widodo mampu mengatasi pembiayaan ribuan triliun dan membawa kita keluar dari krisis yang memporak-porandakan negara lain,” kenang John penuh rasa hormat.
Berbekal rekam jejak tersebut, John melontarkan permohonan terbuka yang sarat emosi. “Saya memohon dengan hormat kepada Bapak Joko Widodo. Jangan hiraukan segala penghinaan itu, bantu negara ini, Pak Jokowi! Bapak tahu cara menyelesaikan ini. Bapak tahu di mana celah Dolar itu.”
John meyakini ada strategi spesifik—termasuk pencairan dana Dolar di instrumen Bank Indonesia secara online—yang sangat dipahami oleh Jokowi selama 10 tahun pemerintahannya.
Jika langkah rahasia dan strategis ini dieksekusi dengan restu dan sinergi bersama Presiden Prabowo, John memprediksi kuat Rupiah bisa kembali menguat hingga level Rp.15.000.
Menangkal Pemakzulan
Terkait isu-isu liar tentang pemakzulan Presiden pada bulan Juli atau Agustus akibat krisis ekonomi, John dengan tegas menyapu bersih wacana tersebut.
Ia menyebut pihak-pihak yang melontarkan isu itu tak ubahnya “tukang ramal” yang tidak punya niat baik untuk bangsa.
Ia memperingatkan masyarakat agar tidak termakan oleh narasi adu domba. Ia melihat ada upaya sistematis untuk memecah belah dan memisahkan Prabowo dari Jokowi, yang belakangan mulai menyerang Gibran Rakabuming Raka—yang menurut John justru sedang rajin ke daerah untuk mematangkan diri.
“Jangan coba-coba memisahkan Pak Prabowo dengan Pak Jokowi. Banyak orang menyerang Pak Jokowi, padahal sasaran akhirnya adalah menghancurkan Pak Prabowo,” urai John menganalisis peta konflik politik saat ini.
Peringatannya bukan main-main. Jika skenario adu domba ini berhasil dan kepemimpinan nasional goyah, harga yang harus dibayar bukan sekadar kebangkrutan ekonomi, melainkan disintegrasi bangsa.
“Kalau Pak Prabowo turun, bangsa ini pecah. Papua lepas, Kalimantan lepas, Bali lepas, NTT lepas. Orang tidak hitung itu!” tegasnya.
Pada akhirnya, di balik analisis kerasnya terhadap oknum pengusaha nakal dan kemampuannya membedah anatomi krisis masa lalu, Dr. John Palinggi menawarkan obat yang paling sederhana namun sering kali paling sulit diteguk oleh bangsa ini: Persatuan.
Dolar mungkin sedang perkasa, dan badai geopolitik mungkin sedang mengganas. Namun, jika para pemimpin bangsa bersatu—khususnya kesediaan Joko Widodo untuk turun tangan membantu Presiden Prabowo Subianto menavigasi krisis ini—dan masyarakat berhenti mencaci maki, bangsa ini akan selamat.
Seperti filosofi hidup yang dipegang teguh oleh John Palinggi selama hampir setengah abad berbisnis: “Di mana ada kedamaian, ke sanalah Tuhan mengalirkan rezeki.”
(Victor)
