Pernahkah kita merenung, mengapa Lambang Negara kita berwujud burung Garuda? Bukan Singa, bukan Macan?
Ribuan tahun lalu di India kuno, nama Garuda lahir dalam kitab Mahabharata. Ia bukan sekadar hewan. Ia adalah Raja Burung.
Kisah Pembebasan Jiwa
Garuda lahir dari rahim ketulusan. Ibunya, Winata, diperbudak oleh kaum naga. Demi membebaskan sang ibu, Garuda rela bertarung melawan para dewa untuk merebut Tirta Amerta (Air Suci Kehidupan).
Ia tidak mencari kekayaan. Ia mencari KELAYAKAN dan KEMERDEKAAN ibunya.
Kemitraan, Bukan Perbudakan
Melihat kesucian hati Garuda, Dewa Wisnu turun. Wisnu memberikan air suci itu, dan Garuda dengan sukarela menawarkan diri menjadi kendaraan (wahana) Wisnu.
Ini bukan hubungan majikan dan budak. Ini adalah hubungan KEMITRAAN berbasis moralitas. Wisnu melambangkan Sumber Keadilan, sedangkan Garuda melambangkan Eksekutor yang Cepat dan Gagah.
Renungan Hari Ini:
Jika hari ini kita hanya menghafal Pancasila tanpa memiliki mentalitas “Garuda” yang berani bertarung demi membebaskan rakyat dari perbudakan modern ( kemiskinan dan ketidakadilan ), maka kita telah mengkhianati segel asli sejarah kita sendiri.
Pancasila adalah jiwanya, Garuda adalah raganya.
(Bagikan tulisan ini jika Anda ingin segel kedaulatan segenap bangsa Indonesia kembali tegak! Nantikan Seri 2 Pekan ini: “Segel Keadilan Raja Airlangga”)
(GALARUWA Menyambut Dirgahayu RI ke-81 – Bagian 1/8)
Santiamer Silalahi – Ketua Umum Jaga Pancasila Zamrud Khatulistiwa (GALARUWA)
Baca juga:
PRABOWONOMICS: PRONAMQUE TUERI ATAU COELUMQUE TUERI?
KETIKA HUKUM MENJADI ALAT PEMUKUL, BUKAN PELINDUNG
MENGGUGAT “KOTAK HITAM” INSTITUSI KETIKA NEGARA DIKELOLA SEPERTI KERAJAAN ABSOLUT
