Jakarta, IndonesiaVoice.com – Pagi di kawasan Jalan Jenderal Sudirman hingga Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (19/7/2026) selalu identik dengan keriuhan yang merayakan kebebasan.
Ribuan orang berlari, mengayuh sepeda, atau sekadar berjalan santai menikmati udara Minggu pagi tanpa asap kendaraan.
Di tengah lautan manusia yang merayakan hari libur, sembilan orang relawan menyempil membawa sebuah pesan sunyi yang selama ini luput dari ingatan kolektif warga kota.
Di tangan para relawan tersebut, tergenggam selebaran kertas berbentuk hati. Bukan sekadar alat promosi, kertas itu adalah sebuah medium untuk mengetuk pintu nurani.
Dalam kurun waktu kurang dari dua jam, seribu keping hati itu berpindah tangan, ludes tak bersisa, membawa serta sebuah realita kelam tentang anak-anak yang mengawali napas pertama mereka di balik dinding penjara yang dingin.
Baca juga: Sunyi di Tengah Pesta, Merawat Ruh ‘Parhobas’ demi Menyelamatkan Generasi Muda Batak yang Hilang
“Ada anak yang lahir di penjara?”
Pertanyaan itu meluncur dari bibir salah seorang pengunjung Car Free Day (CFD). Nada suaranya bergetar, menyiratkan keterkejutan yang pekat.
Matanya terpaku pada informasi singkat yang tertulis di salah satu sisi selebaran hati tersebut.
Di bawah terik matahari pagi Jakarta yang hangat, ia baru saja disadarkan pada sebuah kenyataan yang selama ini bersembunyi di sudut-sudut paling gelap dari sistem peradilan.
Keterkejutan pengunjung itu adalah potret ketidaktahuan bersama. Banyak orang tidak pernah membayangkan di balik tembok tinggi berlapis kawat berduri, ada tangis bayi yang memecah keheningan sel tahanan.
Baca juga: IKA USU dan Prof. Rhenald Kasali Bedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi RI dan Nasib Kelas Menengah
Mereka lahir dan dibesarkan di sana karena sang ibu tengah menjalani masa pidana. Bayi-bayi ini bukanlah narapidana.
Mereka lahir dengan rahim kesucian yang sama seperti anak-anak lainnya, membawa hak yang tak bisa ditawar: hak atas kasih sayang, perlindungan, gizi yang baik, ruang bermain, dan pendidikan.
Di luar penjara, tragedi sunyi lainnya juga tengah berlangsung. Ribuan anak terpaksa menjalani masa kecil yang pincang karena harus tumbuh tanpa kehadiran ayah atau ibu yang sedang mendekam di bui.
Mereka adalah anak terdampak pemenjaraan orang tua, kelompok rentan yang sering kali menanggung “hukuman” tak kasat mata berupa stigma sosial yang tajam dari masyarakat.
Mereka dijauhi, kehilangan rasa aman, dan memendam tekanan emosional yang diam-diam menggerogoti kesehatan mental serta masa depan mereka.
Melalui kampanye bertajuk “1000 Hati untuk Anak-anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua“, Yayasan Rumah Lam Horas bersama Lam Horas Film sengaja memilih momen Hari Anak Nasional 2026 untuk menghentak kesadaran publik.
Lamtiar Simorangkir, sutradara di balik film dokumenter peraih Piala Citra 2021 Invisible Hopes, sekaligus Ketua Yayasan Rumah Lam Horas, hadir sebagai motor penggerak dari inisiatif panjang ini.
Baginya, kampanye ini bukanlah sekadar acara seremonial, melainkan sebuah napas panjang dari perjuangan advokasi yang telah dimulai sejak lima tahun lalu.
“Seorang anak tidak pernah memilih di mana ia dilahirkan ataupun siapa orang tuanya,” ujar Lamtiar dengan nada yang sarat akan ketegasan sekaligus kegetiran.
“Namun, setiap anak berhak tumbuh dengan kasih sayang, perlindungan, dan harapan. Kampanye ini mengajak masyarakat melihat mereka sebagai anak-anak yang membutuhkan dukungan, bukan sebagai bagian dari kesalahan orang tuanya.”
Ucapan Lamtiar adalah sebuah refleksi mendalam bahwa palu hakim yang dijatuhkan di ruang sidang seharusnya hanya menghukum sang pelaku tindak pidana, bukan merampas masa depan anak-anak mereka.
Pemilihan selebaran berbentuk hati pada kampanye ini menemukan maknanya ketika ia mendarat di telapak tangan masyarakat.
Hati adalah simbol universal dari empati yang sering kali alpa diberikan kepada mereka yang termarginalkan.
Hal ini terlihat jelas dari reaksi seorang pengunjung paruh baya yang langkahnya terhenti usai membaca pesan kampanye tersebut.
“Saya sebagai seorang ibu dan juga nenek merasa anak-anak butuh banget ada yang melindungi, memberikan rasa aman, menimbulkan percaya diri bagi mereka, agar mereka tumbuh kembang dengan baik,” ucapnya pelan.
Baca juga: PRABOWONOMICS: PRONAMQUE TUERI ATAU COELUMQUE TUERI?
Matanya menerawang, membayangkan cucunya sendiri, lalu membayangkan anak-anak yang harus berbagi ruang dengan dinginnya teralis besi.
Hari itu, seribu hati kertas memang telah habis dibagikan dalam waktu kurang dari dua jam. Namun, gaung dari kampanye ini diharapkan mampu melahirkan jutaan hati baru yang berdetak dengan empati.
Yayasan Rumah Lam Horas telah melemparkan batu ke tengah danau yang tenang, berharap riaknya menyentuh pemerintah, pemangku kebijakan, akademisi, hingga masyarakat luas, demi memastikan bahwa tidak ada satupun anak di negeri ini yang masa depannya terkurung di balik jeruji kesalahan masa lalu orang tuanya.
(Victor)
