Bumi Cenderawasih yang dianugerahi keindahan alam luar biasa, belakangan ini kembali diselimuti awan kelabu. Di balik rimbunnya hutan dan megahnya pegunungan, jerit ketakutan dan tangis kehilangan terdengar bersahutan.
Di pedalaman Distrik Jila, Kabupaten Mimika, sembilan perempuan yang tak tahu apa-apa tentang konstelasi politik dan kekuasaan tiba-tiba mendapati diri mereka terenggut paksa dari dekapan keluarga.
Di antara mereka yang disandera pada Agustus 2026 lalu, ada Nemerina Wamang, perempuan muda berusia 17 tahun yang tengah mengandung nyawa baru.
Ada pula anak-anak sekolah dasar—Alin, Nopi, dan Opinte—yang tangan mungilnya seharusnya menggenggam pensil untuk merangkai masa depan, bukan dipaksa gemetar menghadapi bayang-bayang moncong senjata.
Kisah pilu itu belum juga usai manakala sebuah tragedi lain kembali menyayat hati. Pada 9 September 2026, di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, tiga pelayan masyarakat meregang nyawa.
Aprida Rapi (49), drh. Alfonsius Albinus Mehan (35), dan Wili Mbuik (24) adalah pahlawan pangan dan kesehatan hewan dari Dinas Pertanian.
Mereka datang jauh-jauh dari Toraja, Sikka, dan Rote Ndao bukan untuk mengangkat senjata, melainkan mendedikasikan ilmu untuk kesejahteraan masyarakat Papua. Namun, pengabdian tulus itu harus dibayar dengan nyawa saat peluru menghentikan detak jantung mereka.
Rangkaian tragedi berdarah yang menjadikan warga sipil sebagai tumbal ini memicu keprihatinan mendalam, tak terkecuali dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).
Melalui sebuah seruan yang sarat akan duka, PGI menolak untuk diam melihat kemanusiaan terus dirobek di Tanah Papua.
“Mereka adalah warga sipil yang seharusnya memperoleh perlindungan penuh. Dalam keadaan apa pun, mereka tidak boleh dijadikan sasaran ataupun instrumen dalam konflik bersenjata,” tegas Kepala Biro Papua PGI, Pdt. Ronald Rischard Tapilatu, dari Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
Bagi PGI, rentetan kekerasan ini bukan sekadar statistik krisis keamanan, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang menabrak batas-batas moral.
Penangkapan sewenang-wenang, penyanderaan perempuan dan anak, hingga pembunuhan warga sipil tak berdosa adalah tindakan yang mencederai martabat penciptaan.
Mengutip ajaran Alkitab bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, PGI mengingatkan bahwa setiap nyawa memiliki nilai yang tak terhingga dan tak boleh dirampas oleh siapa pun.
Perintah “Jangan membunuh” adalah penegasan moral absolut yang tidak bisa ditawar, baik atas nama kepentingan politik, alasan keamanan, maupun dalih perjuangan.
Pengalaman historis membuktikan bahwa kekerasan tidak pernah menjadi obat penawar bagi luka Papua. Sebaliknya, pendekatan senjata hanya akan melahirkan lingkaran setan yang baru.
Baca juga: HUT Ke-8, Batak Center dan Hakim MK Bahas Perlindungan Hak Konstitusional Masyarakat Tradisional
Darah yang tumpah hanya akan menetaskan ketakutan yang mencekam, merawat kebencian yang diwariskan lintas generasi, menebar duka lara, dan pada akhirnya memicu aksi pembalasan yang tak kunjung usai.
Karena itulah, PGI dengan lantang menyerukan satu hal yang mendesak: hentikan kekerasan. Ruang dialog kemanusiaan harus segera dibuka lebar-lebar untuk memutus mata rantai permusuhan.
Dialog ini bukanlah ajang perdebatan politik, melainkan ruang bersama yang aman untuk menyelamatkan nyawa, membangun kembali rasa saling percaya yang telah hancur lebur, dan mencari jalan keluar yang damai serta bermartabat.
Perempuan, anak-anak, pekerja kemanusiaan, dan pelayan publik harus dijamin keselamatannya di tengah konflik yang berkecamuk. Mereka tidak boleh terus-menerus menjadi martir dalam peperangan yang tak mereka inginkan.
“Papua tidak membutuhkan lebih banyak kuburan,” seru PGI.
Kalimat penutup itu menggemakan realitas yang menohok sekaligus harapan yang tersisa. Yang paling dibutuhkan Papua saat ini adalah keberanian yang sejati—bukan keberanian untuk menarik pelatuk senjata, melainkan keberanian untuk menghentikan pertikaian, membalut luka mereka yang menangis, melindungi setiap denyut kehidupan, dan merajut kembali kedamaian yang koyak.
Sebab, seperti firman yang digaungkan PGI, hanya mereka yang membawa damailah yang akan disebut sebagai anak-anak Allah.
