IndonesiaVoice.com – Kamis, 27 Agustus 2026, udara di Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Kristen Bukit Pengharapan terasa bergetar oleh rupa-rupa emosi.
Ada haru yang menggenang di sudut mata para orang tua, berpadu dengan binar kebanggaan dari wajah para wisudawan yang dibalut toga kebesaran.
Di tengah suasana khidmat Wisuda ke-3 tersebut, seorang pria dengan rekam jejak melintasi zaman melangkah tegap ke atas mimbar. Ia adalah Dr. John N Palinggi, MM, MBA.
Sebelum menyelam ke dalam substansi akademis, ia membuka pidatonya dengan sebuah pengakuan yang mengundang senyum bersahaja.
Nama aslinya adalah Nathan Palinggi, namun sang ayah menyematkan nama “John” di depannya dengan harapan sang anak kelak menyerupai John F. Kennedy—menjadi seorang presiden.
Baca juga: Bantu Negara Ini, Pak Jokowi! Seruan Dr. John Palinggi Meretas Badai Pelemahan Rupiah
“Tapi saya tidak jadi Presiden. Hanya Presiden Direktur saja,” kelakarnya, memecah ketegangan di ruangan.
Namun, di balik kelakar itu berdiri seorang raksasa di bidangnya. Lulusan S3 Business Administration ini telah menghabiskan 45 tahun hidupnya di dunia usaha tanpa cacat, mengabdi membantu pemerintah melintasi sembilan periode kepresidenan, dan memegang akses bebas visa di 18 negara Asia Pasifik—sebuah privilese yang hanya didapat setelah melewati 49 hari verifikasi ketat Interpol global. Siang itu, Ia tidak sekadar membagikan teori, melainkan membedah anatomi zaman.
Tiga Gelombang Peradaban
Mengutip pemikiran sosiolog Alvin Toffler yang dicetuskan empat dekade silam, Dr. John merajut narasi tentang perjalanan panjang umat manusia.
Ia mengajak hadirin menengok ke belakang, pada gelombang pertama di mana manusia hidup selaras dan sepenuhnya bergantung pada kebaikan alam—matahari, panas bumi, dan tenaga otot.
Sejarah kemudian beringsut ke gelombang kedua, era revolusi industri yang usianya baru menginjak dua abad.
Baca juga: Polemik Makan Bergizi Gratis, Dr. John Palinggi Puji Kinerja Kejaksaan Agung Berantas Korupsi
Di masa ini, manusia mulai merakit energi buatan. Mesin-mesin raksasa didirikan, efisiensi didewakan, dan para pemilik modal mendikte konsumen dalam pasar yang belum terlalu sesak.
Hingga akhirnya, kita tiba di gelombang ketiga: peradaban informasi. Sebuah era yang baru lahir sekitar 50 tahun lalu, namun telah mengubah lanskap bumi secara radikal.
Di era ini, batas-batas fisik telah lebur. Ruang-ruang kecil yang tertutup rapat kini terhubung ke seluruh penjuru dunia melalui layar gawai. Siapa yang menguasai informasi, dialah pemenangnya.
Paradoks Era Digital
Namun, kemajuan gelombang ketiga ini membawa ironi yang menyayat hati. Alih-alih menyatukan, teknologi sering kali menjadi pedang bermata dua.
Dr. John menyoroti bagaimana komunikasi—yang sejatinya merupakan jembatan antarmanusia—kini kerap direduksi menjadi alat untuk saling menjatuhkan.
Kompetisi berubah menjadi destruktif. Disinformasi sengaja diproduksi massal untuk menghancurkan kelompok lain yang dianggap musuh, bukan dirangkul sebagai saudara satu kamanusiaan.
Merujuk pada model komunikasi linear Shannon-Weaver (1949), Dr. John menegaskan satu elemen fundamental yang perlahan punah di era modern: ketulusan.
“Jika di dalam masyarakat luas terjadi komunikasi tanpa ketulusan, dipenuhi nafsu saling menguasai dan mengalahkan, akan terjadi buah komunikasi yang berakhir pada bencana kemanusiaan,” tegasnya dengan nada suara yang sedikit meninggi, menyiratkan keprihatinan yang mendalam.
Jangankan dalam konteks negara, dalam unit terkecil seperti keluarga pun, komunikasi yang hampa dari ketulusan dan hanya manis di permukaan kelak akan bermuara pada kehancuran.
Harmoni Indonesia dan Panggilan Jiwa Lulusan
Sebagai Ketua Harian Wadah Kerukunan Beragama Indonesia, BISMA (Badan Interaksi Sosial Masyarakat), Dr. John memandang Indonesia sebagai sebuah mosaik yang luar biasa unik.
Saat ini, bangsa Indonesia hidup di tiga gelombang peradaban sekaligus. Ada masyarakat yang masih tertinggal di peradaban pertanian tradisional, ada yang bertarung di kerasnya roda industri, dan ada yang melesat di peradaban informasi.
Tugas para wisudawan—masyarakat informasi—bukanlah mengeksploitasi mereka yang masih tertinggal. Sebaliknya, pendidikan tinggi harus menjadi katrol yang mengangkat kesejahteraan masyarakat di bawahnya.
Di penghujung orasinya, Dr. John menitipkan wasiat spiritual bagi generasi muda yang akan terjun ke medan kehidupan yang sesungguhnya. Ia merumuskan empat kunci utama untuk meraih hidup yang diberkati:
- Memuliakan Tuhan: Mengakui pencipta sebagai sumber dari segala sumber kehidupan.
- Menghormati Orang Tua: Mengabdi pada ayah dan ibu sebagai sarana kehidupan, agar dipanjangkan umur dan dimudahkan rezeki.
- Menghargai Guru: Menghormati mereka yang telah bersusah payah menanamkan benih akhlak dan ilmu pengetahuan.
- Mengasihi Sesama: Mempraktikkan ajaran kasih sayang lintas agama—baik itu hukum kasih dalam Kekristenan maupun konsep Rahmatan lil’ alamin dalam Islam—tanpa terhalang tembok suku, ras, maupun golongan.
Orasi ilmiah ini ditutup dengan sebuah pengingat yang akan terus menggema di sanubari: “Peliharalah hatimu, sebab dari situlah bersumber segala sesuatu.”
Di tengah pusaran dunia yang semakin bising, pesan Dr. John N Palinggi menjadi jangkar yang mengingatkan semua bahwa menjadi pintar belumlah cukup, jika lupa bagaimana menjadi manusia yang tulus.(Victor)
