HUT Ke-8, Ketum Batak Center Serukan “Memperkuat Konstitusi, Merawat Kebangsaan, Membangun Generasi Unggul”

JAKARTA, IndonesiaVoice.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 BATAK CENTER yang diselenggarakan bersamaan dengan perayaan HUT ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum refleksi kebangsaan yang krusial.

Mengusung tema besar “Memperkuat Konstitusi, Merawat Kebangsaan, Membangun Generasi Unggul“, BATAK CENTER menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai pelestari tradisi, melainkan sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter bangsa.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) BATAK CENTER, Ir. Sintong M. Tampubolon, dalam pidato kebudayaannya di Sekretariat Batak Center, Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Diskusi politik kebangsaan ini turut dihadiri oleh Hakim Konstitusi Republik Indonesia, Dr. Daniel Yusmic Foekh, S.H., M.H., jajaran dewan pengurus, serta tokoh-tokoh intelektual.

Sintong mengajak seluruh elemen bangsa untuk merenungkan arah perjalanan negara. Menurutnya, usia delapan tahun bagi sebuah organisasi dan 81 tahun bagi sebuah negara memunculkan satu pertanyaan mendasar yang sama: apa yang telah dilakukan dan apa yang akan diwariskan kepada generasi mendatang?

Baca juga: HUT Ke-8, Batak Center dan Hakim MK Bahas Perlindungan Hak Konstitusional Masyarakat Tradisional

Kebudayaan Sebagai Kompas Masa Depan

Dalam pandangan Sintong, kebudayaan sering kali disalahartikan hanya sebagai romansa masa lalu atau sekadar atribut seremonial seperti pakaian adat, tarian, dan upacara. Padahal, esensi kebudayaan adalah metode manusia dalam membentuk dan memanusiakan dirinya sendiri.

“BATAK CENTER lahir dari sebuah kesadaran bahwa kebudayaan tidak boleh hanya menjadi kenangan masa lalu. Budaya harus menjadi sumber nilai untuk menghadapi masa depan,” tegas Sintong di hadapan para hadirin.

Ia menekankan bahwa di dalam kebudayaan Batak, terdapat nilai-nilai luhur tentang bagaimana manusia menghormati Sang Pencipta, memuliakan orang tua, menjaga alam, serta menyelesaikan konflik secara bermartabat.

Nilai-nilai inilah yang sepenuhnya sejalan dengan falsafah Pancasila dan sangat relevan untuk diaplikasikan dalam memecahkan problematika kehidupan modern.

Baca juga: Batak Center dan LABB Resmi Teken MoU: Fokus Berantas Stunting, Cegah KDRT, dan Gagas Museum Batak Raya

Kecerdasan Tanpa Moral Adalah Ancaman

Menyoroti visi pembangunan sumber daya manusia, Sintong memberikan kritik tajam terhadap sistem yang hanya mendewakan kecerdasan intelektual tanpa diimbangi oleh kedalaman spiritual dan etika.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan bangsa memerlukan generasi yang beriman, bermoral, cerdas, dan beradab.

“Kecerdasan tanpa moral dapat menjadi alat untuk menyalahgunakan kekuasaan. Kekuasaan tanpa iman dan tanggung jawab dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan,” papar Sintong.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan yang mengabaikan akar budaya hanya akan mencetak manusia yang teralienasi dari jati dirinya.

Oleh karena itu, BATAK CENTER berkomitmen untuk mencetak generasi yang mampu berpikir kritis, berani berbeda pendapat tanpa merusak persaudaraan, dan memiliki integritas yang tangguh.

Baca juga: MoU Batak Center dan Pemkab Toba, Wujudkan Museum Batak Raya dan Lestarikan Budaya

Dalihan Na Tolu dan Pendewasaan Demokrasi

Memasuki usia kemerdekaan yang ke-81, Sintong juga merefleksikan bahwa kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya tuntas.

Bangsa ini masih harus berjuang membebaskan warganya dari belenggu kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan hukum, korupsi, dan patologi sosial lainnya.

Dalam konteks inilah, Sintong melihat adanya titik temu yang sangat kuat antara konstitusi negara dan kebudayaan daerah.

Jika konstitusi memberikan kerangka dan menjamin hak hidup bernegara, maka budayalah yang mengajarkan bagaimana manusia menggunakan kekuasaan dan menghormati hak asasi orang lain tersebut.

Ia mengambil contoh falsafah Dalihan Na Tolu dari kebudayaan Batak. Filosofi ini bukan sekadar tradisi usang, melainkan cetak biru sosiologis tentang bagaimana menjaga relasi, keseimbangan, dan penghormatan antarsesama.

“Budaya harus hidup dalam perilaku. Kalau kita berbicara tentang persaudaraan, maka perbedaan pilihan politik tidak boleh membuat kita menjadi musuh. Demokrasi yang sehat membutuhkan bukan hanya institusi yang kuat, tetapi juga masyarakat yang berbudaya, beradab, dan beradat,” tambahnya.

Menjemput Indonesia Emas 2045

Menutup pidato reflektifnya, Sintong menyinggung narasi besar “Indonesia Emas 2045“. Ia menegaskan bahwa era kejayaan tersebut tidak akan jatuh dari langit (taken for granted). Keberhasilan tersebut tidak hanya diukur dari infrastruktur beton atau lompatan teknologi, melainkan dari kualitas integritas manusianya.

“Kalau generasinya sehat dan cerdas, produktivitas akan meningkat. Dan kalau semuanya dibangun di atas nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial, maka kemajuan Indonesia tidak hanya akan besar secara ekonomi, tetapi juga bermartabat secara peradaban,” tutup Sintong.

Pada momentum perayaan ganda ini, BATAK CENTER memperteguh komitmennya untuk tidak hanya menjadi penikmat sejarah, tetapi menjadi aktor aktif yang merawat persatuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mengawal konstitusi demi Indonesia yang lebih baik.(VIC)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles