BerandaNASIONALMoU Batak Center dan Pemkab Toba, Wujudkan Museum Batak Raya dan Lestarikan...

Related Posts

MoU Batak Center dan Pemkab Toba, Wujudkan Museum Batak Raya dan Lestarikan Budaya

Jakarta, IndonesiaVoice.com – Ruangan di Gedung Sekretariat Batak Center itu terasa lebih sesak dari biasanya. Antusiasme membumbung tinggi, mengalahkan sekat dinding yang terbatas.

Begitu besarnya animo para anggota untuk bertatap muka langsung. Magnet utama hari itu adalah kedatangan Bupati Toba, Effendi Napitupulu, beserta rombongan dari tanah bona pasogit.

Bagi Ketua Umum DPN Batak Center, Ir. S.M. Tampubolon, perjumpaan ini bukan sekadar seremonial birokrasi biasa. Di hadapan hadirin, ingatannya melayang pada sebuah malam di bulan Juli tahun lalu.

Saat itu, jarum jam sudah menunjuk angka 12 malam, namun sosok Effendi Napitupulu—yang di sela-sela kesibukan rapatnya—tetap bersedia membuka pintu ruangannya untuk menyambut rombongan Batak Center.

“Luar biasa perhatiannya. Beliau bersedia menerima kita di ruang rapat dalam keadaan kita ganggu karena kita akan pulang besok paginya,” kenang S.M. Tampubolon, mengawali sambutannya yang sarat akan rasa kekeluargaan dan partuturan (kekerabatan) khas Batak.

Kini, pertemuan emosional itu bermuara pada sebuah langkah historis: Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Batak Center dan Pemerintah Kabupaten Toba.

Baca juga: Cetak Sejarah di Ibu Kota, MoU Batak Center dan Pemkab Toba Jadi Langkah Awal Rumah Peradaban Batak

Bangun “Rumah Besar” Museum Batak Raya

Di balik penandatanganan di atas kertas, ada cetak biru peradaban yang tengah digambar oleh Batak Center. Salah satu agenda yang paling menonjol adalah rencana pembangunan Museum Batak Raya.

Gagasan ini tak lepas dari “tantanganMenteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang menanyakan langsung eksistensi museum berskala besar untuk merangkum sejarah raya etnis Batak.

Langkah konkret pun mulai diayun. Berkoordinasi dengan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Batak Center mengajukan kebutuhan lahan seluas 6 hektare.

Respons yang didapat sangat menggembirakan. BPODT, melalui direktur utamanya yang juga sempat hadir langsung ke Sekretariat Batak Center, menyanggupi penyediaan lahan tahap awal seluas 3,25 hektare yang berlokasi strategis di pintu masuk kompleks Kaldera BPODT.

“Ini bukan sekadar bangunan. Kawasan itu nantinya akan menjadi etalase tanaman endemik Danau Toba. Ada Andaliman, Kemenyan, hingga Kopi,” jelas SM Tampubolon dengan nada optimis.

Lebih jauh, ia memproyeksikan pembangunan museum ini bukan lagi sekadar proyek daerah, melainkan akan berskala proyek nasional berjangka panjang (*multi-years*).

“Kita bayangkan apakah mungkin di zamannya Pak Prabowo ini menjadi presiden… ini bisa menjadi urusan langsung dari Presiden atau negara. Kita berharap seperti itu.”

Baca juga: DPR RI Pasang Badan untuk Pensiunan Guru Benhil, Sentil Keras Pemprov DKI Soal Manajemen Aset yang Semrawut!

Dari Pendidikan hingga “Keajaiban” Andaliman

Selain infrastruktur fisik kebudayaan, Batak Center juga melakukan gebrakan di bidang pengembangan sumber daya manusia.

Dalam laporannya kepada Bupati, SM Tampubolon mengungkapkan program beasiswa pendidikan yang dilakukan oleh Batak Center.

Tak tanggung-tanggung, pendanaan disiapkan untuk 10 orang mahasiswa untuk menempuh pendidikan mulai dari jenjang S1, S2, hingga meraih gelar Doktor (S3).

“Banyak yang langsung mengirim pesan WA (WhatsApp) kepada saya, menanyakan kapan dan dimana. Begitu serius dan antusiasnya masyarakat,” ungkapnya.

Namun, kejutan terbesar yang disampaikan SM Tampubolon hari itu justru datang dari ranah sains dan kesehatan, yang bermula dari kekayaan alam tanah Batak: Andaliman.

Ia membawa kabar bahwa penelitian di University of Arkansas, Amerika Serikat, tengah meneliti potensi rempah khas Batak tersebut.

“Hampir dapat dipastikan bahwa Andaliman itu bisa menjadi obat kanker. Ini luar biasa kalau menjadi kenyataan nanti. Ini akan menyemangati semua masyarakat, khususnya petani di kawasan Danau Toba,” tuturnya yang disambut gemuruh harapan para hadirin.

Di penghujung sambutan, SM Tampubolon menegaskan MoU ini adalah sebuah pemicu. Meski secara teknis operasionalnya nanti akan banyak dieksekusi oleh Batak Center wilayah Toba (DPD), payung hukum berskala nasional ini memberi fondasi yang sangat kokoh.

“Kita mengharapkan agar apa yang kita tandatangani menjadi pemicu kemajuan di Toba. Sehingga apa yang akan kita kerjakan dapat menjadi saluran berkat untuk semuanya,”pungkasnya, menutup mimpi-mimpi besar hari itu dengan untaian doa dan salam pamungkas kebanggaan, “Horas, Mauliate.”

(Vic)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Posts