Jakarta, IndonesiaVoice.com — Di tengah pusaran dinamika sosial, tantangan kebangsaan yang kian kompleks, serta disrupsi di dunia pendidikan tinggi, Badan Kerja Sama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (BKS PGI-GMKI) mengambil langkah strategis.
Organisasi pelayanan oikoumenis ini secara resmi menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) tahun 2026.
Kegiatan berskala nasional yang dipusatkan di Grha Oikoumene PGI, Jakarta, ini berlangsung selama dua hari, 24-25 Juli 2026.
Rakernas ini bukan sekadar rutinitas organisatoris, melainkan momentum krusial untuk memperteguh komitmen pelayanan bersama antara gereja-gereja dan mahasiswa Kristen di seluruh pelosok Nusantara, dari Kepulauan Nias hingga Tanah Papua.
Penyelenggaraan Rakernas BKS PGI-GMKI 2026 merupakan tindak lanjut langsung dari mandat Pedoman Kerja BKS PGI-GMKI tahun 2017 dan hasil Rapat Terbatas Pengurus Pusat pada 16 Mei 2026 lalu.
Forum ini dirancang untuk melahirkan rumusan kebijakan strategis yang mampu menjawab pergumulan zaman, sekaligus menata kembali arah gerakan mahasiswa Kristen di Indonesia.

Baca juga: Seribu Hati di Bawah Langit Jakarta, Menyuarakan Mereka yang Terlupakan di Balik Jeruji
Konsolidasi Menuju Transformasi Pengabdian
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) BKS PGI-GMKI, Firman Jaya Daeli, dalam sesi wawancara menegaskan bahwa Rakernas ini membawa tiga agenda utama yang sangat mendesak.
Pertama, penataan dan pengembangan organisasi. Kedua, perumusan strategi kebijakan jangka panjang. Ketiga, pengagendaan kegiatan konkret yang bermuara pada tiga fokus pelayanan: kegiatan siswa, optimalisasi student center, dan pendampingan pendeta mahasiswa.
“Pertemuan ini dirancang untuk menjawab dinamika sosial, tantangan kebangsaan, dan perkembangan dunia pendidikan tinggi masa kini. Fokus utama kami tertuju pada pembenahan organisasi, penguatan kelembagaan, serta peneguhan arah pelayanan yang relevan dan kontekstual,” papar Firman Jaya Daeli.
Lebih jauh, Firman menjelaskan ketiga fokus pelayanan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan diletakkan dalam kerangka besar penguatan ideologi, nilai-nilai kekristenan, dan kapasitas kelembagaan.
Untuk memastikan kedalaman substansi, Rakernas ini dibagi menjadi dua format utama: Study Meeting (pertemuan studi) dan Business Meeting (sidang pleno dan komisi).
“Tahun pertama kepengurusan ini adalah tahun konsolidasi. Namun, untuk tiga tahun ke depan, kita akan berfokus penuh pada pengabdian. Pengabdian ini berarti kita harus mampu menjawab tugas, tanggung jawab, dan panggilan BKS PGI-GMKI secara nyata di tengah masyarakat. Di sinilah relevansi dan posisi penting Rakernas yang kita laksanakan setelah kurang lebih 1,5 tahun berjalan,” tambah Firman.

Mencetak Kader Pemimpin, Bukan Sekadar Penyelesaian Studi
Semangat pembaruan dan relevansi sosial juga disuarakan dengan tegas oleh Ketua Umum Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty.
Mewakili PGI sebagai salah satu lembaga pembentuk, ia menaruh harapan besar agar forum ini tidak hanya sibuk mengurus urusan internal, tetapi mampu memproyeksikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
“Kami berharap RAKERNAS selama dua hari ini bisa merumuskan sejumlah kebijakan, tidak hanya bagi penguatan internal, tetapi juga bagaimana menentukan arah relevansi BKS PGI-GMKI bagi masyarakat secara menyeluruh,” ujar Pdt. Jacklevyn.
Ia menyoroti isu-isu kemahasiswaan dalam dinamika kekinian, salah satunya terkait pendidikan dan beasiswa. Menurutnya, advokasi pendidikan tidak boleh berhenti pada penyelesaian studi secara akademis semata.
“Bagaimana beasiswa yang diupayakan itu tidak sekadar untuk menyelesaikan studi, tetapi menjadi ruang pengkaderan agar mahasiswa Kristen kelak mampu hadir dan berkontribusi di dalam ruang-ruang kebangsaan maupun gereja,” tegasnya.
Baca juga: BUKAN SEKADAR BURUNG TUNGGANGAN
Pdt. Jacklevyn juga menekankan pentingnya manajemen sumber daya. “Jadi Rakernas ini pertama-tama mengonsolidasikan seluruh resources (sumber daya) yang ada, lalu bagaimana membagi resources itu menjadi kekuatan nyata untuk melakukan transformasi tugas panggilan dan pelayanan,” imbuhnya.
Visi Founding Fathers
Sementara itu, Ketua Umum PP GMKI, Prima Surbakti, menegaskan dukungan penuh organisasinya terhadap pelaksanaan Rakernas ini. Bagi GMKI, BKS PGI-GMKI adalah salah satu pilar penopang utama dalam mewujudkan cita-cita awal para pendiri gerakan (founding fathers).
“Pada kepengurusan ini, kita kembali lagi pada apa yang menjadi tujuan dan cita-cita para founding fathers. Bagaimana kehadiran GMKI dapat membangun spiritualitas mahasiswa Kristen dan membangun sumber daya manusianya. BKS ini adalah pilar pendukung utama GMKI untuk mewujudkan tujuan tersebut,” jelas Prima.
Prima menggarisbawahi misi terbesar dari sinergi ini adalah melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang berdampak, yang mampu membawa pembaruan di tiga medan layan GMKI: gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat.
“Paling utama, ini bicara soal bagaimana kita menjadi saksi dan citra Sang Kepala Gerakan, yaitu Yesus Kristus. Melalui Rakernas ini, saya yakin pikiran-pikiran dari seluruh peserta akan sangat membantu GMKI untuk melakukan transformasi besar-besaran di dalam organisasi,” tutur Prima dengan optimisme tinggi.
Dialektika Intelektual Melalui Study Meeting
Sebelum memasuki ranah pengambilan keputusan dalam Business Meeting, para peserta Rakernas dibekali dengan wawasan kebangsaan dan teologis melalui sesi Study Meeting yang setara dengan Focus Group Discussion (FGD) berskala makro.
Ketua Panitia Rakernas, dr. Heber Bombang Sapan, menguraikan sesi diskursus intelektual ini dibagi ke dalam dua panel utama yang menghadirkan tokoh-tokoh kaliber nasional dari kalangan akademisi, politisi, jurnalis, hingga pimpinan gereja.
Panel pertama mengangkat tema “Dinamika Gereja, Masyarakat, Mahasiswa, dan Bangsa Indonesia dalam Rangka Pemajuan Pelaksanaan BKS PGI-GMKI”.
Sesi ini dipandu oleh Sekretaris Umum PP GMKI Periode 2014-2016, Desi Datang, dan menghadirkan narasumber utama yakni Ketua Umum PP GMKI, Ketua Umum MPH PGI, Ketua Umum BKS PGI-GMKI, serta Senior GMKI yang juga pakar hukum tata negara, Prof. Dr. John Pieris.
Panel kedua berfokus pada “Pemaknaan Kehadiran BKS Kini dan ke Depan: Peluang, Pergumulan, Tantangan, dan Pengharapan“.
Dipandu oleh Pengurus Pusat BKS PGI-GMKI, Andaru Sanyoto, sesi ini diisi oleh akademisi terkemuka Prof. Thomas Pentury, Anggota DPR RI Mercy Barends, dan Jurnalis Senior Harian Kompas, Sonya Hellen Sinombor.
“Kedua study meeting ini minimal akan memberikan bekal fundamental bagi kita dalam mengikuti seluruh sesi persidangan Rakernas esok harinya. Ini adalah fondasi argumentasi dan diskursus kita,” terang dr. Heber.
Target Organisasi 2026-2031
Pelaksanaan Rakernas ini menjadi representasi nyata dari kebinekaan Indonesia. Lebih dari 100 peserta hadir, di mana sekitar 60 peserta di antaranya merupakan utusan daerah. Mereka terdiri dari pengurus cabang lokal BKS di 16 daerah, pimpinan PGI Wilayah (PGIW), PGI Daerah (PGID), PGI Setempat (PGIS), Sinode Am Gereja-Gereja (SAG), Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI, hingga cabang persiapan BKS dari berbagai pelosok negeri, mulai dari Nias hingga Papua.
Dari unsur pusat di Jakarta, turut hadir jajaran penuh Pengurus PP BKS PGI-GMKI, perwakilan MPH PGI, para pendeta perguruan tinggi, dosen Pendidikan Agama Kristen (PAK), tim amandemen pedoman kerja, serta tokoh-tokoh Kristen daerah.
Ketua Panitia Pengarah (Steering Committee) yang juga Bendahara Umum PP BKS PGI-GMKI, Mercy Barends, merinci target konkret yang harus dicapai dalam permusyawaratan ini.
“Tujuan utama pelaksanaan Rakernas ini mencakup evaluasi komprehensif terhadap perkembangan pelayanan dan pembentukan Pengurus Cabang di berbagai daerah. Lebih jauh, forum ini wajib merumuskan arah strategis dan memetakan prioritas program pelayanan BKS PGI-GMKI untuk periode lima tahun ke depan, yakni 2026–2031,” tegas Mercy.
Selain pemetaan program, agenda sentral lainnya adalah penyempurnaan (amandemen) Pedoman Kerja organisasi. Langkah ini dinilai sangat mendesak agar kerangka kerja BKS PGI-GMKI selaras dengan konteks pelayanan yang terus berubah, sekaligus memperkuat rantai koordinasi antara PGI, GMKI, dan seluruh perangkat lokal di daerah.
Prosesi pembukaan Rakernas sendiri berlangsung khidmat melalui Ibadah yang dipimpin oleh Wakil Ketua Umum BKS PGI-GMKI sekaligus Sekretaris Umum MPH PGI, Pdt. Dr. Darwin Darmawan, bersama Pemimpin Liturgi Pdt. Ronald Ricard Tapilatu.
Pembukaan resmi dilakukan oleh Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, didampingi jajaran teras PGI, GMKI, dan panitia.
Acara ini turut dihadiri Direktur Pendidikan Kristen Kementerian Agama RI, Dr. Suwarsono, S.PAK., M.M., serta Ketua Umum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Pdt. Dr. Henriette Tabita Hutabarat Lebang.
Rakernas BKS PGI-GMKI Tahun 2026 membuktikan diri bukan sekadar ajang konsolidasi birokrasi organisasi, melainkan ruang perjumpaan iman.
Dengan berpegang teguh pada semangat “Ut Omnes Unum Sint” (Supaya mereka semua menjadi satu), BKS PGI-GMKI terus bertransformasi menjadi kawah candradimuka bagi generasi muda Kristen Indonesia.
Sebuah wadah yang berdedikasi menghidupi nilai-nilai Injil secara kontekstual demi menghadirkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan di tengah pusaran kehidupan berbangsa dan bernegara.
(Victor)
