Jakarta, IndonesiaVoice.com – Malam merayap turun menyelimuti ibu kota pada Sabtu, 30 Mei 2026, ketika ratusan pasang mata tertuju ke arah altar GPIB Paulus, Jakarta.
Di dalam ruang ibadah yang menyimpan keheningan magis itu, sebuah perhelatan bersejarah sedang berlangsung: Serah Terima Jabatan dan Pelantikan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Masa Bakti 2026-2031.
Namun, sebelum gemuruh tepuk tangan dan ikrar pelantikan diucapkan, sebuah ketukan palu spiritual terlebih dahulu dihujamkan ke dasar nurani para cendekiawan yang hadir.
Berdiri di balik mimbar kayu, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), tidak membawakan pidato seremonial yang manis.
Ia datang membawa sebilah pedang refleksi yang diasah dari teks Kitab Matius 5:13-16, menggugat eksistensi kaum inteligensia di tengah banalitas zaman modern.
Baca juga: Sah! Maruarar Sirait dan “Superteam” Lintas Profesi Resmi Nakhodai DPP PIKI 2026-2031
Melalui saluran live streaming YouTube, resonansi suaranya menembus dinding gereja, menyapa mereka yang merenung dari kejauhan.
Anatomi Garam, Melebur untuk Mencegah Kebusukan
Dalam gaya tuturnya yang analitis, Jacklevyn membongkar metafora agraris abad pertama ke ruang publik abad ke-21.
Ia menegaskan bahwa proklamasi Yesus tentang “Kamu adalah garam dunia” bukanlah sekadar panggilan, melainkan sebuah proklamasi otentisitas identitas Kristen.
“Yesus tidak meminta kita untuk membawa garam dan menaburkannya, atau membawa terang dan menyalakannya. Tidak. Yesus menyatakan kita adalah garam itu, kita *adalah* terang itu,” ucapnya membelah kesunyian.
Bagi masyarakat kuno yang belum mengenal lemari pendingin, garam adalah penentu batas antara kehidupan dan kematian; ia adalah unsur krusial yang mencegah daging dari jamur dan kebusukan di musim dingin.
Baca juga: Meracik “Politik Garam” di Dapur Kekuasaan, Refleksi Kritis Burhanuddin Muhtadi
Jacklevyn melukiskan bagaimana pada masa itu, nyawa seorang manusia dianggap sama berharganya dengan sekantong garam.
Ia membawa imajinasi audiens pada ritual masa lampau: dari garam yang ditaburkan pada kurban sajian agar tidak membusuk, air garam yang digunakan untuk menyelamatkan nyawa bayi yang sakit, hingga tradisi orang Yahudi yang melempar garam ke pundak satu sama lain sebagai simbol kelestarian sebuah perjanjian kontrak.
“Jika Anda tidak memiliki garam, yang ada hanya pembusukan,” tegasnya. Di sinilah mandat inteligensia Kristen diuji. Umat Kristen, menurut Jacklevyn, tidak boleh tawar.
Mereka harus “asin” untuk memelihara kesehatan moral, kelurusan spiritual, dan keadaban politik di tengah masyarakat dan bangsa yang rentan mengalami pembusukan.
Memancarkan Atribut Terang di Tengah Realitas
Beralih pada metafora terang, Jacklevyn membedah kata Yunani ‘pos‘, yang bermakna memancar.
Baca juga: Reuni Dua Saudara Kandung Sejarah, Menjemput Mandat Arsitek Moral Republik
Terang tidak diciptakan untuk disembunyikan di bawah tempayan, melainkan untuk diletakkan di atas kaki pelita agar cahayanya membelah kegelapan.
Lebih dalam, ia mengaitkan terang ini dengan atribut yang dijabarkan Rasul Paulus dalam Efesus 5:8b-9.
Terang itu memiliki wujud nyata dalam laku keseharian: Agathosune (kebaikan atau kemurahan hati untuk berbagi), Dikaiosune (keadilan, yakni kesediaan memberikan hak kepada sesama dan Allah), serta Aletheia (kebenaran, wujud hidup yang tulus, jujur, dan hampa dari kepalsuan).
PIKI dimandatkan untuk tidak sekadar memiliki gelar mentereng, tetapi harus menyalakan ketiga atribut terang tersebut di ruang publik.
Arsitek Moral Republik, Melacak Jejak Sejarah PIKI
Khotbah malam itu bukan sekadar perenungan teologis yang melayang di awang-awang; ia membumi pada akar sejarah kebangsaan.
Baca juga: Bukan Superman, Tapi Superteam: Gebrakan ‘Gila Kerja’ Maruarar Sirait Nakhodai PIKI
Jacklevyn mengingatkan bahwa prosesi serah terima PIKI malam itu bukanlah sekadar alih kepemimpinan organisatoris, melainkan peneguhan tanggung jawab iman bagi Republik yang telah dipancangkan sejak PIKI berdiri pada 1963.
PIKI, catat Jacklevyn, tidak lahir dari kevakuman sejarah, melainkan merangkak keluar dari rahim pergulatan para pemikir besar bangsa.
Ia menyebut nama-nama raksasa seperti Dr. Johannes Leimena, seorang dokter sekaligus pemikir etika publik, yang bagi dirinya, iman Kristen bukanlah dalih untuk hidup eksklusif, melainkan sumber etika kebangsaan untuk merawat kemajemukan.
Ada pula Todung Sutan Gunung Mulia, Ketua PGI pertama dan mantan Menteri Pendidikan, yang meyakini bahwa gereja tanpa pijakan refleksi intelektual akan kehilangan daya kritisnya.
Para pendiri ini—bersama tokoh-tokoh seperti Pontas Nasution dan P.D. Latuihamallo—berdialog secara inklusif dengan intelektual non-Kristen.
Baca juga: Membaca Peta Dunia dari Mimbar Gereja, Tantangan Tito Karnavian untuk Kaum Cendekia
Jacklevyn menyitir dialektika sejarah saat itu, menyebut bagaimana tokoh Minang, Bahder Djohan (dokter, diplomat, mantan Menteri Pendidikan, dan rektor UI), sepakat bahwa kaum inteligensia Kristen wajib hadir di ruang kebijakan publik.
Menggemakan pesan Sang Proklamator Bung Hatta, Jacklevyn mengingatkan kembali hasrat Hatta untuk melihat kaum inteligensia mengambil tanggung jawab moral berpedoman pada cinta dan kebenaran.
Mereka adalah “arsitek moral republik” yang bersedia melelehkan diri layaknya garam demi menavigasi arah Republik.
Melawan Pembusukan di Era Kecerdasan Buatan
Layar sejarah telah berganti. Tantangan PIKI hari ini tidak lagi sama dengan era awal kemerdekaan. Dengan pisau analisis sosiologis, Jacklevyn membedah penyakit zaman modern.
Ia meminjam kegelisahan Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise, menelanjangi fenomena merosotnya kepercayaan publik terhadap para pakar akibat tsunami informasi di era digital.
Baca juga: Menari di Atas Api Standar Tinggi, Sketsa M. Qodari tentang Kepemimpinan Sang Ketum PIKI
Lebih mengerikan lagi, kemajuan Artificial Intelligence (AI) telah melahirkan “digital intelligentsia” yang secara perlahan mereduksi kecerdasan alamiah (“native intelligentsia“).
Inteligensi robot mengambil alih panggung, menguasai platform media sosial, dan menavigasi dirinya sendiri hingga melampaui otoritas manusia—sebuah fenomena yang belakangan ini juga membuat Paus Fransiskus sangat khawatir.
Di saat yang sama, mengutip Russel Jacoby dari The Last Intellectual, Jacklevyn meratapi menyusutnya peran intelektual di ruang publik.
Kaum inteligensia masa kini terjebak dalam dilema yang menyedihkan: terkurung dalam menara gading akademik yang sempit, atau terseret ke dalam pusaran ruang publik yang dangkal dan serba instan.
Diskursus yang sabar dan mendalam telah mati, digantikan oleh algoritma media sosial yang memaksa orang menjadi reaktif, bukan reflektif.
“Orang mengambil sikap karena tekanan, bukan karena pertimbangan etis. Kalau kondisi seperti ini dibiarkan, maka secara perlahan peran kaum inteligensia di ruang publik akan mengalami pembusukan!” seru Jacklevyn dengan nada gahar yang menyentak kesadaran.
Menyala di Tengah Indonesia Gelap
Di penghujung renungannya, Jacklevyn menyatukan serpihan-serpihan kegelisahan itu menjadi sebuah panggilan profetis.
Di tengah situasi kebangsaan yang kerap dikendalikan oleh “algoritma kecemasan dan ketakutan“, kaum inteligensia Kristen dituntut untuk hadir menghentikan pembusukan itu.
Mengingat kembali Sidang Raya PGI di Toraja yang mengusung tema “Jadilah terang yang membuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran“, Jacklevyn menyinggung ironi ketika sebulan pasca-sidang tersebut, jagat maya justru diramaikan oleh tagar viral #IndonesiaGelap.
Namun, dari ironi itulah relevansi panggilan Kristen justru menemukan bentuk paripurnanya.
“Segelap-gelapnya Indonesia, kita harus menghadirkan terang. Betapapun kecilnya terang kita,” pesannya dengan nada yang menggetarkan sanubari.
Malam itu, di bawah temaram cahaya GPIB Paulus, sebuah simpul identitas kembali diteguhkan.
Harapan disandarkan agar Allah Tritunggal terus menavigasi kepengurusan PIKI yang baru, agar mereka tidak hanya tumbuh spektakuler secara organisatoris, tetapi sungguh-sungguh menjadi garam dan terang yang berdampak nyata bagi gereja dan bangsa.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak mencatat seberapa keras berteriak di ruang yang terang, melainkan seberapa berani melebur dan menyala di tengah kegelapan pekat.
(Victor)
