Jakarta, IndonesiaVoice.com – Tidak ada yang bisa memecah ketegangan dan kantuk larut malam lebih baik daripada seorang Muhammad Qodari.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) ini maju ke mimbar dengan gaya khasnya yang santai, namun setiap celetukannya adalah analisis politik tingkah laku yang akurat.
Sambutannya malam itu bagaikan sebuah stand-up comedy, membedah sosok Maruarar Sirait dari kacamata sahabat sekaligus “korban” gila kerjanya.
“Hanya ada dua kemungkinan mengapa bapak-ibu memilih Pak Ara jadi Ketua Umum,” Qodari memulai roasting-nya.
“Pertama, kalian kenal betul siapa dia. Atau kedua, kalian sama sekali tidak kenal siapa dia!” tawanya meledak.
Qodari tahu betul bahwa memimpin di bawah bayang-bayang Ara adalah sebuah siksaan yang membawa berkah.
Ia menceritakan bagaimana standar kualitas Ara selalu berada beberapa level di atas rata-rata.
Bekerja untuk Ara berarti harus siap going extra mile (melakukan usaha ekstra melampaui batas).
Melalui gaya penceritaan yang intim, Qodari membeberkan dapur persahabatannya. Mulai dari kebiasaan Ara menelepon jam 3 pagi, hingga “paksaan” halus Ara yang membuatnya membeli rumah di Menteng agar jika dipanggil rapat mendadak, ia bisa tiba dalam lima menit.
Cerita ini bukan sekadar bualan, melainkan metafora dari kecepatan dan tuntutan responsivitas yang kini harus dihadapi oleh seluruh pengurus PIKI.
Namun, di balik semua keluhan jenaka itu, Qodari menyisipkan pengakuan yang tulus.
“Bang Ara itu bukan sekadar gincu atau garam. Ia adalah ular yang tulus seperti merpati, dan merpati yang cerdik seperti ular,” puji Qodari.
Baginya, PIKI sangat beruntung dipimpin oleh salah satu ‘manusia terbaik di republik ini’. Rekam jejak Ara membesarkan kader di Taruna Merah Putih hingga duduk di Senayan adalah bukti empiris. Qodari menutup sambutannya dengan sebuah garansi tak tertulis: jika pengurus PIKI sanggup bertahan dari tekanan, kurang tidur, dan standar tinggi seorang Ara, maka 10 hingga 20 tahun ke depan, sejarah masa depan mereka akan jauh lebih cerah dan diperhitungkan di kancah nasional.
