Menari di Atas Api Standar Tinggi, Sketsa Jenaka nan Kritis M. Qodari tentang Kepemimpinan Sang Ketum PIKI

JAKARTA, IndonesiaVoice.com – Ada kesejukan yang tak biasa menyusup di ruang ibadah GPIB Paulus, Jakarta, pada Sabtu malam (30/5/2026).

Di bawah tatapan salib, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Muhammad Qodari, melangkah ke mimbar.

Kehadirannya malam itu di acara Serah Terima Jabatan dan Pelantikan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) bukan sekadar sebagai tamu kenegaraan, melainkan sebagai seorang sahabat yang membawa cermin besar bagi sang nakhoda baru PIKI, Maruarar Sirait.

“Gereja ini sungguh terasa sejuk di hati saya. Saya merasa menjadi orang Indonesia yang sesungguhnya karena saya bisa masuk ke tempat ini,” ucap Qodari membuka pidatonya.

Kalimat itu meluncur tulus, meruntuhkan sekat-sekat primodial yang kerap mengurung bangsa ini.

Baca juga: Sah! Maruarar Sirait dan “Superteam” Lintas Profesi Resmi Nakhodai DPP PIKI 2026-2031

Dua Alasan Memilih Ara, Terlalu Kenal atau Tidak Kenal Sama Sekali

Memasuki menu utama pidatonya, Qodari mulai membedah anatomi kepemimpinan Maruarar Sirait—pria yang akrab disapanya “Bang Ara“.

Dengan gaya roasting yang elegan, Qodari melempar tebakan nakal kepada audiens mengenai alasan PIKI memilih Ara sebagai Ketua Umum.

“Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, bapak-bapak ini kenal betul dengan Pak Ara, atau sebaliknya, bapak-ibu ini enggak kenal sama Pak Ara sehingga milih jadi ketua umum!” selorohnya, disambut tawa riuh pengurus yang baru dilantik.

Qodari tahu persis apa yang menanti PIKI di masa depan. Ia bersaksi bahwa bekerja di bawah bayang-bayang Ara adalah sebuah ujian ketahanan mental dan fisik.

Ciri utama seorang Maruarar Sirait adalah standar yang teramat tinggi. Untuk menyentuh standar itu, kerja keras dan kerja cerdas saja tidak cukup; dibutuhkan ikhtiar lebih yang ia sebut sebagai “going extra mile“.

Baca juga: Menolak Pembusukan Nalar di Era Algoritma: Refleksi Kritis dari Mimbar Pelantikan PIKI 2026

Ia membongkar ritme kerja Ara yang menabrak batas kewajaran waktu.

“Kalau kerja dengan Pak Ara itu biasanya jam 09.00 pagi itu jadi jam 09.00 malam. Kalau dengan Pak Ara itu jam 2 atau jam 3 pagi ditelepon, itu hal yang biasa,” ungkapnya, mengisahkan kepanikan seorang aparat kepolisian di Jawa Barat yang kelabakan menerima telepon Ara di sepertiga malam.

Menunggu pertemuan yang dijanjikan “15 menit lagi” namun baru terealisasi satu jam kemudian adalah seni kesabaran tersendiri saat berurusan dengan sang menteri.

Jebakan Menteng dan ‘Lipstik Rasa Garam’

Dalam balutan yang kocak, Qodari menceritakan “jebakan manis” yang pernah dibuat Ara kepadanya. Qodari, yang sudah nyaman memiliki banyak aset rumah di Tebet, akhirnya “dipaksa” pindah ke kawasan elit Menteng karena bujukan Ara tentang indahnya pemandangan Plaza Indonesia.

Namun, seiring berjalannya waktu, Qodari menyadari agenda tersembunyi di balik bujukan tersebut.

Baca juga: Meracik “Politik Garam” di Altar Suci, Gugatan Intelektual Burhanuddin Muhtadi untuk PIKI

“Saya paham maksud beliau sesungguhnya. Itu supaya kalau beliau panggil saya malam-malam, tuh dekat, cepat! Jadi kalau beliau bilang 15 menit lagi, kita di rumah aja siul-siul atau nonton Netflix, karena perjalanannya cuma 5 menit,” kisahnya, yang lagi-lagi membuat seisi gereja bergemuruh.

Di balik semua “penderitaan” begadang dan tuntutan tinggi itu, Qodari meletakkan sebuah pengakuan yang sangat mendalam dan filosofis tentang karakter sahabatnya tersebut.

Mengawinkan metafora Alkitabiah dan kutipan sejarah, Qodari merumuskan sosok Ara ke dalam sebuah frasa yang brilian.

“Bang Ara ini bukan cuman garam, bukan cuman gincu, tapi dia gincu yang terasa seperti garam,” tegas Qodari.

“Dia bukan merpati, bukan ular, tapi dia ular sekaligus merpati, merpati sekaligus ular. Dia cerdik tapi baik. Dia baik tapi cerdik.”

Baca juga: Bukan Superman, Tapi Superteam: Gebrakan ‘Gila Kerja’ Maruarar Sirait Nakhodai PIKI

Pabrik Pemimpin Masa Depan

Pada akhirnya, sambutan Qodari malam itu adalah sebuah garansi tak tertulis bagi masa depan PIKI.

Sebagai saksi mata yang melihat bagaimana Ara membesarkan kader-kader di Taruna Merah Putih hingga sukses melenggang ke Senayan, Qodari meyakinkan bahwa PIKI kini berada di tangan salah satu manusia dengan kualitas terbaik di republik ini.

Jika para pengurus PIKI sanggup bertahan—sabar, kuat mental, dan tahan begadang—Qodari sangat yakin bahwa 5 hingga 20 tahun ke depan, sejarah masa depan mereka akan jauh lebih cerah.

“Jadi jangan heran kalau 2029 anggota DPR, DPD, profesor, doktor, dari PIKI terus meningkat. Itu sesuatu yang sangat niscaya,” tutup Qodari dengan optimisme tinggi, sebelum melemparkan kalimat pamungkas yang jenaka, “Yang penting tadi: sabar-sabar, kuat mental, tahan begadang, dan cepat-cepat pindah ke Menteng!”

(Victor)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles