Beranda blog Halaman 34

Dibalik Film Mariara Akan Tayang November 2024, 7 Kru Meninggal, Aktor Alami Fenomena Mistis

0

IndonesiaVoice.com – Menjelang penayangan film Mariara pada November 2024, digelar peluncuran dan diskusi film tersebut yang diadakan di Gedung Pertunjukan Paguyuban Wayang Orang Bharata, Jakarta, Senin (30/9/2024).

Diskusi yang dipandu oleh Produser Film, Merdy Rumintjap ini menghadirkan sejumlah pembicara, diantaranya, Boy Worang, Tommy F Awuy, Benny E Matindas, Dr Audy Wuisang, dan Reiner Ointoe.

Sebuah Terobosan Budaya dari Minahasa

Benny E Matindas menilai Film Mariara adalah sebuah terobosan dari karya anak-anak muda Minahasa, yang mengangkat budaya lokal mereka ke layar lebar.

Menurutnya, film ini bukan sekadar film horor, tetapi juga cerminan dari kisah nyata dalam masyarakat Minahasa.

“Film ini mewakili jati diri masyarakat Minahasa. Saya berharap, kedepan lebih banyak lagi anak muda Minahasa yang mengangkat kearifan lokal dalam karya film,” ungkap Benny.

film mariara
Foto bersama usai peluncuran dan Diskusi Film Mariara yang diadakan di Gedung Pertunjukan Paguyuban Wayang Orang Bharata, Jakarta, Senin (30/9/2024).



Lebih lanjut, Benny menyarankan agar Film Mariara dijadikan ruang diskusi publik yang lebih luas, tidak hanya di kalangan masyarakat Manado.

Menurutnya, Minahasa merupakan bagian dari suku di Indonesia yang turut membangun budaya bangsa.

Ia pun menyebut salah satu tokoh besar asal Minahasa, sastrawan almarhum Remy Sylado, sebagai bukti kontribusi besar Minahasa dalam dunia seni dan sastra Indonesia.

Pujian untuk Nilai-nilai Budaya dan Filsafat dalam Film

Hal senada disampaikan oleh Tommy F Awuy, yang mengapresiasi karya anak muda Minahasa ini. Menurut Tommy, Mariara sebaiknya tidak hanya ditonton, tetapi juga dijadikan ajang diskusi bagi generasi muda.

“Banyak nilai antropologi, sosial, budaya, dan filsafat yang tersirat dalam film ini. Diskusi-diskusi seperti ini penting untuk pencerahan berpikir,” ujar Tommy.


Ia pun mendorong agar film ini diikutsertakan dalam festival film internasional serta dijadikan bahan diskusi di universitas-universitas.

Film yang Selaras dengan Budaya dan Agama

Dari sudut pandang teologi, Dr Audy Wuisang menegaskan, kisah Mariara adalah bagian dari sejarah nyata masyarakat Minahasa sejak zaman leluhur.

Meski di masa lalu dinilai tabu karena bertentangan dengan ajaran agama yang berkembang di Sulawesi Utara, Audy memuji film ini karena berhasil mengangkat kearifan lokal Minahasa tanpa mendiskreditkan agama.

“Film ini meluruskan pemahaman tentang Mariara yang selama ini sudah dianggap tabu. Agama dan budaya harus selaras, bukan saling menjatuhkan,” jelas Audy.


Kebanggaan Diaspora Minahasa

Sebagai perantau asal Manado yang kini tinggal di Jawa Barat, Boy Worang turut menyambut baik kehadiran film Mariara. Ia berencana mengajak komunitas Manado di Jawa Barat untuk mendukung dan menonton film ini.

“Film Mariara adalah karya yang sangat orisinal dari putra-putri Manado. Proses pembuatannya sarat dengan pesan agama, budaya lokal, dan nilai kesederhanaan,” tuturnya dengan antusias.

Sutradara Mariara, Veldy Reynold, menjelaskan film ini bergenre horor thriller dengan sentuhan romansa.

“Film ini didominasi horor dan thriller, namun tetap ada sisi romantisnya. Ceritanya diangkat dari kisah urban legend Tanah Minahasa yang sebenarnya sering terjadi di sekitar kita, namun tabu untuk dibicarakan,” ungkap Veldy.


Ia juga mengungkapkan bahwa proses pembuatan film ini berlangsung selama lima tahun dan, tragisnya, tujuh kru film meninggal dunia selama produksi.

Namun, Veldy menegaskan, “Itu bukan tumbal. Jika film ini tidak diinginkan oleh Yang Maha Kuasa, pasti tidak akan selesai. Puji Tuhan, akhirnya film ini rampung.”

Sebagai produser eksekutif, Rika Callebaut juga menyatakan dukungannya terhadap Mariara.

“Film ini sangat berbeda dari yang lain. Ada pesan penting di dalamnya, yaitu untuk tetap percaya kepada Tuhan,” ujar Rika yang berperan besar di balik layar.

Aktor Leon Alexander, yang turut bermain dalam film ini, mengaku mengalami pengalaman mistis selama syuting.


“Pada minggu pertama, tepatnya hari ketiga, saya mengalami fenomena ‘ketindihan’ selama tiga malam berturut-turut. Bahkan, ada bisikan yang terus mengganggu pikiran saya, seperti mengatakan ‘buat apa syuting kayak gini’,” cerita Leon.

Sementara itu, Merdy Rumintjap menyampaikan bahwa film Mariara akan diputar secara internasional. Film ini dijadwalkan tayang di IFC Cinematic, Madison, New York, pada 25-30 Januari 2025, dan akan diputar di beberapa wilayah di Australia, Belanda, Inggris, Hongkong, Taiwan, dan Malaysia dengan dukungan komunitas diaspora Kawanua.

Sinopsis Film Mariara

Film Mariara mengisahkan tentang Desa Patemboan yang digemparkan oleh kematian kepala desa, Kumtua Sebina, setelah terpilih melalui pemilihan rakyat. Tubuh Sebina tiba-tiba membiru dan hangus seperti terbakar, diyakini akibat racun.

Pengadilan desa memutuskan untuk mengusir Marten Karengkom dari desa tersebut. Marten, bersama keluarganya, mengungsi ke kaki Gunung Soputan.

Kisah semakin mencekam dengan hadirnya Pendeta muda David, yang berniat membawa Marten kembali ke desa. Pendeta Edward, pemuka agama setempat, menentang keras keputusan ini.


Situasi menjadi semakin misterius ketika David terlibat dalam ritual pengorbanan bayi di sebuah gua di kaki Gunung Soputan.

Film Mariara tidak hanya menyuguhkan ketegangan, tetapi juga memuat elemen-elemen cerita yang terkait dengan kepercayaan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Minahasa.

Penonton dapat merasakan kedalaman cerita yang mengangkat urban legend lokal sekaligus memicu pertanyaan tentang tabu yang sering tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari.

Film Mariara siap menghadirkan pengalaman horor yang berbeda bagi penonton Indonesia maupun internasional, sekaligus memperkenalkan kisah mistis dari tanah Minahasa ke panggung dunia.(*)

Paguyuban Libels Gelar Silaturahmi Lintas Generasi Hingga Nostalgia Tembang Kenangan

0

IndonesiaVoice.com – Ratusan alumni SMA Negeri 15 Jakarta Utara, yang tergabung dalam Paguyuban Libels, kembali berkumpul dalam acara silaturhmi yang digelar di Bekasi, pada Minggu (29/9/2024).

Acara bertajuk Tembang Kenangan ini membawa suasana nostalgia yang hangat dan penuh keakraban, menyatukan para alumni dari berbagai angkatan dalam suasana penuh kebersamaan.

Dari awal hingga akhir, acara ini dipenuhi dengan tembang-tembang legendaris dari era 80-an dan 90-an, seperti karya Koes Plus: Andaikan Kau Datang, Kolam Susu, Bujangan, hingga Kisah Sedih di Hari Minggu.

Lagu-lagu lainnya seperti Diana dan Bis Sekolah juga turut menghidupkan suasana nostalgia, mengajak para alumni untuk bernyanyi bersama dan mengenang masa-masa indah di sekolah.

Ketua Umum Paguyuban Libels, Suroso Wiro, dalam sambutannya menekankan pentingnya acara ini sebagai wadah untuk mempererat silaturahmi lintas angkatan.

“Silaturahmi ini tidak sekadar ajang nostalgia, tetapi juga sarana untuk mempersatukan alumni dari berbagai generasi, mulai dari angkatan 1976 hingga 2016,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan-kegiatan positif seperti ini dapat terus dilanjutkan, termasuk bakti sosial, donor darah, halal bihalal, dan program berbagi kasih lainnya.

Dalam pertemuan ini, terlihat semangat kebersamaan yang tinggi, meskipun para alumni telah tersebar dari Sabang sampai Merauke.

“Setiap generasi memiliki kenangan dan ceritanya sendiri. Lewat acara ini, kami berharap hubungan antar alumni tetap terjaga dan semakin erat,” tambah Suroso.

Ketua Ikatan Alumni (IKA) Lima Belas periode 2018-2021, Dadang Tompro, yang juga hadir, menyampaikan kegembiraannya atas terselenggaranya reuni lintas angkatan ini. Ia menegaskan pentingnya menjaga kekompakan antar alumni dan menyingkirkan perbedaan.

Selain diisi dengan musik, acara ini juga diramaikan dengan sesi berbagi cerita, kenangan lucu semasa sekolah, hingga pembagian doorprize yang disambut antusias oleh para peserta.

Momen foto bersama pun menjadi bagian yang tak terlewatkan, dimana para alumni dengan penuh semangat mengabadikan kebersamaan mereka.

Suroso juga menambahkan rencana kongres Paguyuban Libels yang akan digelar pada Desember 2024 untuk memilih pengurus baru. Salah satu yang masuk bursa calon adalah Boyke Simanjuntak.

“Kami berharap kongres ini berjalan lancar dan dapat memilih pemimpin yang amanah, yang mampu menjalankan organisasi dengan lebih baik dan bermanfaat bagi anggotanya,” tutup Suroso.

Acara temu kangen ini berakhir dengan penuh kehangatan, para alumni pulang membawa kenangan manis dan harapan bahwa acara serupa akan terus dilaksanakan di masa mendatang.

Temu kangen ini bukan sekadar pertemuan, tetapi sebuah ajang untuk memperkuat ikatan kekeluargaan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Jerome Kurnia dan Ritual Eksorsisme, Film ‘Kuasa Gelap’ Siap Menghantui Bioskop

0

IndonesiaVoice.com – Kuasa Gelap, film eksorsisme pertama di Indonesia, akan tayang di bioskop mulai 3 Oktober 2024, dengan Jerome Kurnia sebagai salah satu pemeran utama yang menjalani ujian iman melalui karakter Romo Thomas.

Dalam film horor ini, Jerome menghadapi tantangan besar sebagai seorang Romo yang melakukan ritual eksorsisme untuk menyelamatkan seorang remaja perempuan dari cengkeraman kekuatan jahat.

Film ini mengisahkan Romo Rendra (Lukman Sardi) dan Romo Thomas (Jerome Kurnia) dalam menjalankan ritual eksorsisme Katolik untuk mengusir setan dari Kayla (Lea Ciarachel).

Kuasa Gelap menghadirkan kisah nyata tentang bagaimana pemuka agama Katolik berhadapan dengan kekuatan gelap, yang jarang terekspos di Indonesia, dengan pendekatan realistis dan mencekam.


 Kesaksian Elsa Novita Bongkar Modus Pemalsuan dalam Sidang Terdakwa Marthen Napang

 

Jerome Kurnia menyatakan bahwa peran ini memberinya tantangan dan perspektif baru, baik sebagai individu maupun aktor.

“Melalui karakter Romo Thomas, saya belajar banyak tentang ritual eksorsisme, dari doa hingga urutannya, serta betapa terstrukturnya Gereja Katolik. Ini memberi saya sudut pandang baru tentang kekuatan iman dalam menghadapi ancaman luar biasa,” kata Jerome.

Produser Kuasa Gelap, Robert Ronny, menekankan film ini tidak hanya menawarkan ketegangan horor, tetapi juga menggali sisi emosional dan spiritual yang jarang diangkat dalam film horor serupa.

“Kami ingin memberikan film yang berakar pada riset mendalam, dengan nuansa spiritual yang kuat, serta menjadi karya yang menggugah penonton,” ujar Ronny.


Deklarasi Relawan Jak Menyala Dukung Pramono Anung dan Rano Karno untuk Pilgub DKI Jakarta

Produser eksekutif Andi Boediman menambahkan proyek ini adalah bagian dari upaya tim dalam menghadirkan inovasi di industri perfilman Indonesia.

“Dengan mengangkat kisah nyata yang jarang terekspos, Kuasa Gelap menghadirkan horor yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga memberikan kedalaman emosional dan perspektif baru di dunia perfilman horor Indonesia,” ungkap Andi.

Film Kuasa Gelap diproduksi oleh Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment, dengan dukungan dari Anami Pictures, Netzme, Nuon Digital Indonesia, KMIF, dan Legacy Pictures.

Film ini diproduseri oleh Robert Ronny, dengan Andi Boediman sebagai produser eksekutif, serta ko-produser Pandu Birantoro dan Arvin Sutedja.


Sidang Kasus Penipuan dan Pemalsuan yang Jerat Prof Marthen Napang, Hadirkan Saksi Rusdini Ungkap Fakta Uang Rp 950 Juta

Disutradarai oleh Bobby Prasetyo, Kuasa Gelap menampilkan aktor-aktor berbakat seperti Jerome Kurnia, Lukman Sardi, Astrid Tiar, Lea Ciarachel, Freya JKT48, Delia Husein, dan Erdin Wedrayana.

Dengan riset mendalam tentang eksorsisme Katolik di Indonesia, Kuasa Gelap memberikan perspektif baru bagi penonton, sekaligus memperkaya industri perfilman horor yang semakin berkembang.

Kesaksian Elsa Novita Bongkar Modus Pemalsuan dalam Sidang Terdakwa Marthen Napang

0

IndonesiaVoice.com – Sidang kasus penipuan, penggelapan, dan pemalsuan yang melibatkan terdakwa Prof. Dr. Marthen Napang, SH, MH kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa, 24 September 2024.

Sidang kali ini menghadirkan saksi penting, Elsa Novita, yang memberikan kesaksian terkait dugaan penggunaan data pribadinya secara tidak sah oleh terdakwa Marthen Napang.

Dalam Surat Dakwaan JPU, disebutkan bahwa Terdakwa Marthen Napang pada 9 Juni 2017 mendatangi kantor John Palinggi. Terdakwa memberikan nomor rekening atas nama Elsa Novita dan meminta uang sebesar Rp 50 juta untuk dana operasional tim pengacara dalam pengurusan perkara Peninjauan Kembali (PK).

Selanjutnya, pada 12 Juni 2017, terdakwa Marthen Napang kembali meminta dana operasional tim pengacara sebesar Rp 800 juta, dan menjanjikan putusan PK di Mahkamah Agung akan dikabulkan.

John Palinggi bersedia mentransfer uang tersebut ke beberapa rekening yang disodorkan terdakwa Marthen Napang, termasuk Rp 200 juta ke rekening BCA atas nama Elsa Novita.

Namun, Elsa Novita dalam persidangan mengungkapkan bahwa ia sama sekali tidak mengenal terdakwa Marthen Napang maupun terlibat dalam urusan keuangan tersebut.

Kesaksian Elsa: Identitas Dipalsukan, Rekening Bank Fiktif

Ketika ditanya oleh Majelis Hakim apakah saksi mengenal Marthen Napang, Elsa Novita dengan tegas menjawab, “Tidak kenal, Yang Mulia.”

Lalu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suwarti, SH, MH, yang menggali lebih dalam mengenai data yang digunakan untuk membuka rekening bank yang diduga menggunakan identitas Elsa Novita secara ilegal.

Dalam persidangan, Elsa Novita menjelaskan bahwa pertama kali mengetahui namanya terlibat dalam aliran dana, ketika John Palinggi datang ke rumahnya pada Agustus 2017 dan menyebut telah mentransfer uang dengan total Rp 250 juta ke rekening BCA atas nama Elsa Novita.

Elsa mengakui bahwa ia memiliki rekening BCA, tetapi setelah memeriksa di ATM bersama suaminya, tidak ada uang sebesar itu masuk ke rekeningnya.

“Setelah dicek, ternyata nomor rekening yang ditransfer berbeda dengan rekening saya,” katanya.

Elsa Novita kemudian mendatangi pihak BCA dan menemukan bahwa rekening tersebut dibuka menggunakan data identitasnya yang telah dipalsukan, mulai dari status pernikahan, status pernikahan, status pekerjaan, foto, tanda tangan, dan juga tanda tangan yang terletak di bawah foto. Sedangkan, terkait tempat dan tanggal lahir serta NIK, datanya sama.

JPU Pertanyakan Peran Marthen Napang

JPU menggali lebih dalam mengenai keterkaitan Marthen Napang dalam kasus ini. Elsa Novita menyatakan bahwa John Palinggi mengaku mentransfer uang tersebut atas permintaan Marthen Napang.

“Pak John bertanya apakah saya mengenal Marthen Napang, dan saya tegaskan sama sekali tidak mengenal terdakwa Marthen Napang,” ujar dia.

Elsa Novita juga mengungkapkan beberapa peristiwa aneh yang terjadi sebelum dirinya mengetahui pemalsuan data tersebut.

Pada Februari 2017, ia menerima kartu NPWP yang tidak pernah diurusnya, diikuti oleh kunjungan karyawan Bank BJB dan Bank Mandiri yang menanyakan soal pembukaan rekening atas namanya.

“Pegawai Bank Mandiri bahkan kaget karena orang yang datang ke bank berbeda dengan saya,” ungkap Elsa.

Surat Penagihan Tanah dari Marthen Napang

Dalam persidangan, Elsa juga mengungkapkan bahwa dirinya menerima surat penagihan sebesar Rp 250 juta dari kantor hukum Marthen Napang. Surat tersebut diterima pada Agustus 2023, jauh setelah kasus ini mulai bergulir.

Elsa menyatakan tidak mengetahui mengapa ia ditagih untuk pengembalian harga tanah, dan menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki keterlibatan dalam transaksi tanah yang dimaksud.

Kemudian, JPU menyerahkan bukti surat penagihan kepada majelis hakim, menambah bobot pada kasus yang tengah bergulir ini.

Kesaksian Elsa Novita menambah babak baru dalam kasus ini, dengan munculnya dugaan kuat pemalsuan identitas dan manipulasi data oleh terdakwa Marthen Napang.

Majelis hakim kini harus mempertimbangkan fakta bahwa Elsa Novita, yang namanya digunakan dalam rekening-rekening yang menerima transfer uang dari John Palinggi, mengaku tidak terlibat dan menjadi korban pemalsuan.

Kasus ini masih jauh dari kata selesai, namun sidang hari ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai modus yang diduga digunakan oleh Marthen Napang.

Semua mata kini tertuju pada lanjutan persidangan, di mana JPU akan menghadirkan lebih banyak bukti dan saksi untuk mengungkap kebenaran di balik kasus ini.(*)

Baca juga:

Sidang Kasus Penipuan dan Pemalsuan yang Jerat Prof Marthen Napang, Hadirkan Saksi Rusdini Ungkap Fakta Uang Rp 950 Juta

Saksi Pelapor Ungkap Fakta Baru dalam Sidang Kasus Penipuan Terdakwa Prof Dr Marthen Napang

Sidang Memanas, Saksi Pelapor Ungkap Detail Dugaan Penipuan oleh Terdakwa Prof Marthen Napang Terkait Kasus Penipuan dan Pemalsuan Salinan Putusan MA

Hakim Tolak Eksepsi Terdakwa Prof Marthen Napang Dalam Kasus Dugaan Pemalsuan Salinan Putusan MA

Polda Metro Jaya Tahan Guru Besar Unhas Prof Marthen Napang, Tersangka Kasus Penipuan, Penggelapan dan Pemalsuan

Deklarasi Relawan Jak Menyala Dukung Pramono Anung dan Rano Karno untuk Pilgub DKI Jakarta

0

IndonesiaVoice.com – Relawan Jak Menyala resmi mendeklarasikan dukungannya kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dan Rano Karno di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Kamis Malam (19/09/2024).

Sejumlah tokoh dan relawan yang antusias mendukung pasangan yang dianggap mampu membawa perubahan signifikan bagi Ibu Kota.

Diantaranya, Eko Kuntadhi (Mewakil Pramono Anung) dan Irwan Setiadi (Mewakili Rano Karno). Juga hadir pengurus JakMenyala, antara lain, Joko Meyer (Ketua), Rudi Sihombing (Sekretaris) dan Hotman Situmorang (Bendahara), pengurus RT dan RW setempat serta Satgas PDIP.

Dalam sambutannya, Sekretaris Jak Menyala, Rudi Sihombing yang mendampingi Ketua Jak Menyala Joko Meyer menekankan pentingnya memilih pemimpin yang memahami seluk-beluk Jakarta.

“Pramono adalah sosok yang sangat mengenal Jakarta, sementara Bang Doel—sapaan akrab Rano Karno—sudah dikenal luas oleh warga Jakarta sebagai figur yang dekat dengan masyarakat. Kombinasi keduanya adalah pilihan yang tepat untuk membawa Jakarta menjadi lebih baik,” ujar Rudi.


Mengapa Rano Karno Dijuluki ‘Ronald Reagan’-nya Jakarta?

Rudi tak segan menyamakan Rano Karno dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan, yang terkenal sebagai seorang aktor sebelum terjun ke dunia politik.

“Ronald Reagan adalah Presiden AS yang sangat populer pada masanya. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Gubernur California dan sukses membangun komunikasi yang baik dengan rakyatnya. Begitu pula Bang Doel, yang punya pengalaman di dunia hiburan dan pemerintahan,” jelas dia.

Rano Karno, menurut Rudi, yang dikenal luas lewat perannya sebagai Si Doel, juga pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Banten.

Dengan latar belakang ini, JakMenyala yakin Rano memiliki kapasitas dan kemampuan komunikasi yang baik untuk memimpin Jakarta.

“Bang Doel adalah komunikator ulung, selalu ramah dan penuh senyum. Ia dekat dengan masyarakat Jakarta, dan kami yakin ia mampu menaikkan status Jakarta menjadi kota global yang bersinar,” tambahnya.


Lebih jauh Rudi menyebutkan beberapa alasan utama JakMenyala Dukung Pramono Anung dan Rano Karno.

Pertama, Putra Daerah Asli Jakarta: Rano Karno adalah putra Betawi asli yang memahami karakter dan kebutuhan masyarakat Jakarta. Ini menjadi nilai lebih bagi warga yang menginginkan pemimpin yang benar-benar mengerti persoalan kota ini.

Kedua, Pengalaman Pemerintahan: Rano Karno memiliki pengalaman sebagai Wakil Gubernur Banten, sehingga ia diharapkan dapat membawa perubahan positif di Jakarta.

Ketiga, Komunikasi yang Efektif: Seperti Ronald Reagan yang dijuluki ‘The Great Communicator’, Rano Karno juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Gaya komunikasinya yang santai dan merakyat diyakini dapat menjembatani aspirasi warga Jakarta.

Keempat, Koneksi dengan Pemerintah Pusat: Pramono Anung, sebagai Sekretaris Kabinet selama dua periode pemerintahan Presiden Jokowi, memiliki hubungan yang kuat dengan pemerintah pusat. Hal ini akan mempercepat realisasi program-program pembangunan Jakarta.


Dengan segala potensi yang dimiliki oleh kedua calon ini, Jak Menyala optimis bahwa pasangan Pramono Anung dan Rano Karno mampu membawa Jakarta ke arah yang lebih baik.

“Kami percaya, Jakarta membutuhkan pemimpin yang bukan hanya paham masalah, tapi juga dekat dengan warganya. Pasangan ini adalah jawaban atas harapan tersebut,” tutup Rudi.

Puncak acara tersebut diakhiri dengan pembacaan Deklarasi yang dibacakan oleh Hotman Situmorang.

“Kami warga Jakarta siap mendukung mensukseskan pemilihan kepala daerah khusus Jakarta. Kami warga Jakarta mempunyai harapan kita Jakarta dpt lebih nyaman maju adil dan sejahtera. Kami warga Jakarta meyakini Bapak Pramono Anung dan Bapak Rano Karno adalah figur yang mampu memimpin mempunyai sifat ketekunan, kegigihan keberanian ramah dengan rakyat amanah dan dapat menyelesaikan masalah warga daerah khusus Jakarta,” seru Hotman diikuti oleh para relawan Jak Menyala lainnya.

#JakMenyalaDukungPerubahan #PramonoRanoUntukJakarta

Film Tulang Belulang Tulang Angkat Semangat Kekeluargaan dengan Budaya Batak, Tayang 26 September 2024

0

IndonesiaVoice.com – Film drama roadtrip terbaru persembahan Adhya Pictures dan Pomp Films, “Tulang Belulang Tulang” karya sutradara Sammaria Sari Simanjuntak akan tayang di jaringan bioskop mulai 26 September 2024.

Film yang didukung oleh PMM, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud Ristek yang juga merupakan hasil inkubasi dari program Indonesiana Film 2021 yang diselenggarakan oleh Kemendikbud Ristek guna mendukung inisiatif-inisiatif masyarakat di bidang Kebudayaan termasuk bidang perfilman.

“Tulang Belulang Tulang” dibintangi oleh Atiqah Hasiholan (Mami Laterina), Tasha Siahaan (Cian), Tanta Ginting (Tulang Ucok), David Saragih (Papi Mondo), Cornel Nadeak (Alon), Lina ‘Mak Gondut’ Marpaung (Opung Tiolin) dan Landung Simatupang (Tulang Tua).

Semua pemeran ini juga memiliki darah keturunan Sumatera Utara. Selain para pemeran, jajaran kru film juga didominasi oleh para sineas perempuan berdarah Sumatera Utara.


Jerome Kurnia dan Ritual Eksorsisme, Film ‘Kuasa Gelap’ Siap Menghantui Bioskop

Di antaranya sutradara dan ko-penulis Sammaria Sari Simanjuntak, ko-penulis Lies Nanci Supangkat, sinematografer Anggi Frisca, assistant director Eigi Pohan, hingga make up artist Stella Gracia.

Selain mereka, assistant director Genhart Manullang dan VFX Artist Erickson Siregar juga berdarah Sumatera Utara.

“Tulang Belulang Tulang” berkisah tentang sebuah keluarga yang akan melaksanakan upacara ‘Mangokal Holi’ (pemindahan tulang belulang leluhur), yang menjadi kebanggaan bagi keluarga Batak yang mampu melaksanakannya.

Celakanya, koper berisi tulang belulang Tulang Tua (Kakek Buyut) hilang! Mereka harus segera menemukan tulang kalau tidak mau dikutuk Opung (Nenek) dan seluruh keluarga besar yang sudah menunggu siap berpesta di tepi Danau Toba.


Kesaksian Elsa Novita Bongkar Modus Pemalsuan dalam Sidang Terdakwa Marthen Napang

Perjalanan mencari tulang memaksa mereka bersatu mengarungi banyak cobaan, mulai dari ngebut-ngebutan di jalanan berliku di tepian Danau Toba, kejar-kejaran dengan anjing pemakan tulang, sampai melintasi hutan ber harimau, menggunakan high heels!

Kehormatan keluarga mereka dipertaruhkan. Perjalananan ini membuat mereka mempertanyakan kembali apa arti harga diri bagi keluarga mereka.

Layaknya perjalanan keluarga Mami Laterina bersama keluarga, perjalanan film “Tulang Belulang Tulang” juga tidaklah mudah dan penuh liku.

Memproduksi film dengan cerita lokal, dilandasi semangat kekeluargaan seluruh tim di film ini, membawa “Tulang Belulang Tulang” akhirnya bisa tayang di bioskop dan akan menghibur masyarakat Indonesia.


Deklarasi Relawan Jak Menyala Dukung Pramono Anung dan Rano Karno untuk Pilgub DKI Jakarta

Produser “Tulang Belulang Tulang” Shierly Kosasih menuturkan, perjalanan film ini memiliki lika-liku yang panjang. Namun dengan semangat kekeluargaan yang dibina bersama seluruh tim yang terlibat, memberikan kesan mendalam.

Ada kesenangan luar biasa untuk bisa ada di lingkungan produksi kreatif yang nyaman, terlebih dengan adanya ruang eksplorasi bagi para sineas perempuan.

“Adhya Pictures sangat excited bisa mempersembahkan “Tulang Belulang Tulang” kepada penonton indonesia. Film yang membawa semangat kekeluargaan, relationship healing antar generasi serta indah dan kentalnya tradisi Indonesia. Semangat dan value yang ada dalam proses produksi dan dalam film ini seirama dengan visi kami, di mana founder Adhya Group-Adhya Pictures yang juga sekaligus produser eksekutif, Bapak Ricky Wijaya adalah Putra Daerah yang selalu passionate dalam membawa local go national dalam setiap bidang bisnisnya,” kata produser “Tulang Belulang Tulang” Shierly Kosasih.


Sidang Kasus Penipuan dan Pemalsuan yang Jerat Prof Marthen Napang, Hadirkan Saksi Rusdini Ungkap Fakta Uang Rp 950 Juta

Mengeksplorasi keindahan Danau Toba dan setiap sudutnya, membuat “Tulang Belulang Tulang” menjadi film yang menyuguhkan perjalanan keluarga Batak Mami Laterina.

”Tulang Belulang Tulang” memadukan kekayaan tradisi masyarakat Batak dengan tema universal tentang keluarga, identitas, dan pencarian makna.

Upacara Mangokal Holi, menjadi latar belakang yang mengharukan bagi perjalanan pribadi para karakter di film.

Dari momen kesialan namun lucu di jalan hingga momen-momen yang mengharukan, “Tulang Belulang Tulang” menawarkan perpaduan yang menyenangkan antara tawa dan emosi.

“Berada di perjalanan yang melintasi Danau Toba, tentu saja disuguhi pemandangan yang indah dan udara yang dingin. Danau Toba adalah sesuatu yang majestic. Ada semacam makna simbolis juga antara latar Danau Toba dan permasalahan yang dihadapi keluarga Batak di film ini,” kata sutradara “Tulang Belulang Tulang” Sammaria Sari Simanjuntak.


Setelah 5 Tahun, Film Mariara Akhirnya Siap Menghantui Layar Lebar November 2024

Sammaria berharap, film “Tulang Belulang Tulang” bisa membawa kebahagiaan dan kesenangan. Film yang diproduksi dengan semangat kekeluargaan dan latar belakang daerah Sumatera Utara ini juga ingin mengajak penonton untuk merayakan setiap perjuangan yang dilalui dalam hidup.

Sementara itu, Atiqah Hasiholan yang berperan sebagai Mami Laterina menambahkan, di balik keindahan Danau Toba yang menjadi latar film ini, juga seperti menjadi cerminan perjalanan film “Tulang Belulang Tulang.”

“Sama seperti danau Toba, untuk menikmati keindahannya kita juga dihadapkan pada jalanan yang berliku, keluarga di film ini pun menghadapi tantangannya. Seperti perjalanan filmnya, yang panjang namun pada akhirnya bisa dipersembahkan untuk penonton Indonesia,” kata pemeran Mami Laterina Atiqah Hasiholan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek, Hilmar Farid, menyampaikan tayangnya film “Tulang Belulang Tulang” di bioskop menandakan terjaga dan makin kuatnya ekosistem dunia perfilman Indonesia secara baik.


Relawan KGN Jakarta Utara Siapkan Gerakan Door to Door untuk Menangkan Pramono Anung dan Rano Karno

“Ini merupakan hal yang sangat baik dalam penguatan ekosistem film Indonesia. Kemendikbud Ristek selalu mendukung serta memfasilitasi sineas Indonesia agar terus berkembang, terutama melalui program-program yang kami laksanakan,” ujar Hilmar.

Selanjutnya, Hilmar juga menyampaikan apresiasi terhadap film “Tulang Belulang Tulang” yang merupakan hasil inkubasi dari program Indonesiana Film 2021 yang diselenggarakan oleh Kemendikbud Ristek mampu menembus tayang di bioskop Indonesia dalam waktu dekat ini.

Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbud Ristek, Ahmad Mahendra, memastikan bahwa pemerintah selalu hadir memberikan dukungan kepada para sineas Tanah Air untuk berkarya sehingga memperkuat ekosistem film nasional.

“Setelah produksi yang begitu sistematis, selamat dengan tayangnya film “Tulang Belulang Tulang”. Kami di Kemendikbud Ristek akan terus mendukung kerja-kerja kreatif para sineas, agar kedepannya semakin banyak prestasi film Indonesia di kancah internasional,” ucap Mahendra.


Saksi Pelapor Ungkap Fakta Baru dalam Sidang Kasus Penipuan Terdakwa Prof Dr Marthen Napang

Terakhir Mahendra menginginkan kedepannya makin banyak lagi film karya sineas nasional hasil inkubasi Indonesiana Film yang dapat berkiprah lebih jauh, sehingga membuka pintu lebar bagi para sineas nasional untuk unjuk gigi di festival film internasional. Film “Tulang Belulang Tulang” tayang di bioskop mulai 26 September 2024.

Sidang Kasus Penipuan dan Pemalsuan yang Jerat Prof Marthen Napang, Hadirkan Saksi Rusdini Ungkap Fakta Uang Rp 950 Juta

0

IndonesiaVoice.com – Sidang dugaan kasus penipuan, penggelapan, dan pemalsuan yang melibatkan terdakwa Prof. Dr. Marthen Napang, SH, MH, kembali berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Selasa, 17 September 2024.

Dalam sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi dari pihak penggugat, yaitu Rusdini, manajer keuangan di kantor Dr. John Palinggi.

Dalam kesaksiannya, Rusdini mengungkapkan bahwa dirinya bekerja di kantor John Palinggi sejak 1990-an, bermula sebagai sekretaris sebelum akhirnya menjabat sebagai manajer keuangan.

Ia bertanggung jawab mencatat semua kegiatan operasional kantor, termasuk transaksi finansial.

Ketika ditanya terkait transfer sejumlah Rp 800 juta pada 12 Juni 2017, Rusdini menjelaskan bahwa awalnya ia ditugaskan untuk melakukan transfer, namun karena jumlahnya cukup besar, tugas tersebut dilaksanakan langsung oleh John Palinggi.


Saksi Pelapor Ungkap Fakta Baru dalam Sidang Kasus Penipuan Terdakwa Prof Dr Marthen Napang

“Pak John Palinggi mentransfer Rp 800 juta kepada tiga rekening berbeda: Rp 200 juta ke rekening BCA atas nama Elisa Novita, Rp 300 juta ke rekening BNI atas nama Suaeb, dan Rp 300 juta ke rekening BCA atas nama Sa’dudin,” ujar Rusdini.

Menurutnya, nomor rekening tersebut diberikan oleh terdakwa Marthen Napang kepada John Palinggi. Meskipun tidak mengetahui tujuan transfer tersebut, Rusdini menegaskan bahwa transaksi ini tidak terkait dengan operasional kantor.

Ia juga menambahkan bahwa Marthen Napang memiliki ruang kerja di lantai yang sama dengan John Palinggi di Lantai 25, Graha Mandiri, Jakarta.

Sidang sempat memanas ketika pengacara terdakwa mempertanyakan keakuratan tanggal transfer uang sebesar Rp 100 juta yang tercatat dalam surat dakwaan pada 16 Juni 2017, sedangkan Rusdini meyakini bahwa uang tersebut diserahkan pada 14 Juni 2017.

Rusdini bersumpah bahwa ia mengetahui pasti tanggal transaksi itu. “Saya bersaksi atas sumpah, saya bertanggung jawab tidak hanya di sini tapi juga di akhirat. Yang tahu tanggal 14 Juni 2017 transfer uang 100 juta,” tegasnya.


Sidang Memanas, Saksi Pelapor Ungkap Detail Dugaan Penipuan oleh Terdakwa Prof Marthen Napang Terkait Kasus Penipuan dan Pemalsuan Salinan Putusan MA

Selain itu, Rusdini mengungkapkan adanya foto dokumentasi yang diambil di ruang meeting kantor Graha Mandiri Lantai 25, saat penyerahan uang antara John Palinggi dan Marthen Napang.

Foto tersebut, menurutnya, adalah bagian dari kebiasaan kantor untuk mendokumentasikan transaksi yang tidak terkait dengan operasional kantor.

Pada akhir persidangan, majelis hakim menegur pengacara terdakwa karena pertanyaan-pertanyaan yang dianggap cenderung menggiring opini dan membandingkan kesaksian Rusdini dengan saksi lainnya.

Ketika hakim bertanya kepada terdakwa Marthen Napang mengenai kesaksian tersebut, Napang dengan tegas menolak kebenaran pernyataan Rusdini.

Namun, Rusdini tetap pada keterangannya bahwa transfer uang memang terjadi sesuai dengan yang ia jelaskan.


Saksi Pelapor

Dalam sidang yang digelar pada Selasa, 3 September 2024, Saksi pelapor, Dr John Palinggi, memberikan kesaksian yang rinci terkait awal mula perkenalannya dengan Marthen Napang pada Awal Mei tahun 2017.

“Marthen bersama dua koleganya, Anggia dan Pontas Pardede, datang ke kantor saya di Lantai 25 Graha Mandiri, Jalan Imam Bonjol Nomor 61, Jakarta Pusat, untuk bersilaturahmi dan meminta tolong untuk menggunakan ruangan kantor saya,” ujarnya di hadapan Majelis Hakim.

John Palinggi menyebutkan, fasilitas kantor tersebut akhirnya diberikan secara cuma-cuma, mencakup segala keperluan seperti alat tulis, komputer, dan meja kerja.


Janji Manis dan Permintaan Uang

Pada 9 Juni 2017, Marthen dan Anggia mengunjungi kantor John Palinggi kembali.

“Mereka merasa tidak enak menggunakan fasilitas kantor secara gratis, dan menawarkan bantuan hukum jika ada perkara yang bisa mereka urus,” jelasnya.

Beberapa waktu kemudian, kasus perdata yang melibatkan orang tua angkat John Palinggi, Ir A Setiawan, sedang diproses di MA.

Marthen Napang mengklaim bahwa kasus tersebut mudah diselesaikan berkat koneksinya di MA dan menunjukkan sejumlah putusan yang pernah ia menangkan.

Pada kesempatan itu, Marthen meminta uang sebesar Rp 50 juta untuk keperluan administrasi, yang ditransfer ke rekening Elsa Novita.


Fee Pengacara

Tidak berhenti di sana, pada 12 Juni 2017, Marthen kembali meminta uang Rp 800 juta yang disebutnya sebagai “Fee Tim Pengacara” untuk mengurus kasus tersebut. Uang ini, kata John Palinggi, dipecah ke tiga rekening berbeda, masing-masing atas nama Elisa Novita, Suaeb, dan Sa’dudin.

“Marthen Napang kembali mendatangi kantornya dan meminta uang sebesar Rp 800 juta untuk fee tim pengacara. Permintaan ini dipecah menjadi tiga transfer terpisah: Rp 200 juta ke rekening atas nama Elisa Novita, Rp 300 juta ke rekening atas nama Suaeb, dan Rp 300 juta ke rekening atas nama Sa’dudin,” beber John.

Selama proses ini, John Palinggi terus menanyakan perkembangan kasus kepada Marthen Napang. Namun, janji-janji manis tersebut berujung pada dugaan penipuan dan pemalsuan putusan MA, yang kini menjadi inti dari persidangan ini.

Beberapa waktu kemudian, ia menerima email yang diduga dari Marthen Napang, berisi putusan MA yang memenangkan perkara Setiawan.

“Namun, setelah dicek ke staf MA, ternyata putusan tersebut justru ditolak, bukan dikabulkan,” ujar John Palinggi di hadapan hakim.


Merasa ditipu, John Palinggi melaporkan Marthen Napang ke Polda Metro Jaya pada Agustus 2017. Laporan tersebut menjadi dasar dari kasus yang akhirnya membuat Marthen Napang ditetapkan sebagai tersangka pada 4 Juni 2024, setelah proses hukum yang panjang dan sempat mandek.

Sidang ini akan berlanjut dengan pemanggilan saksi-saksi lainnya untuk mengungkap fakta lebih lanjut terkait dugaan penipuan, penggelapan, dan pemalsuan yang menyeret Marthen Napang ke meja hijau.(*)

Setelah 5 Tahun, Film Mariara Akhirnya Siap Menghantui Layar Lebar November 2024

0

IndonesiaVoice.com – Salah satu film terlama yang diproduksi di Indonesia, Mariara, akhirnya akan tayang di bioskop XXI pada November tahun ini. Film ini memulai perjalanan panjangnya sejak praproduksi pada tahun 2018 dan syuting pada tahun 2019, namun mengalami berbagai hambatan yang menyebabkan penundaan.

Merdy Rumintjap, produser film ini, mengungkapkan kepada media bahwa produksi terhambat oleh berbagai kendala, termasuk medan lokasi syuting yang sulit dan pandemi COVID-19 pada tahun 2020.

“Meski ada banyak sekali halangan, tekad kami sangat kuat untuk membuat karya dan memperkaya khasanah perfilman nasional dari Sulawesi Utara,” ujar Merdy.

Setelah pandemi mereda, produksi menghadapi tantangan baru dengan beberapa pemain yang telah meninggal dunia, sehingga perlu dilakukan penyesuaian.

Merdy juga mengakui adanya kendala mistis, karena nama “Mariara” seharusnya tidak dibicarakan di tempat umum.


 KGN Gencarkan Konsolidasi hingga Tingkat Kelurahan untuk Menangkan Pramono-Rano

 

“Setiap kali kami ingin menuntaskan film ini, selalu ada saja kendala yang datang. Seperti ada pemain yang tidak mau lagi melanjutkan syuting padahal scenenya sudah banyak yang ditake. Bahkan ketika di post production, sering sekali terjadi file error tanpa sebab yang masuk akal,” tambah Merdy, lulusan pasca sarjana UI.

Dengan doa dan dukungan dari masyarakat Sulawesi Utara dan seluruh masyarakat di manapun, film besutan sutradara Veldy Reynold dan almarhum Jeffrey Luntungan ini akhirnya bisa diselesaikan dan diterima oleh XXI.

“Kami patut memberikan apresiasi besar kepada XXI yang sudah melihat secara obyektif film ini, yang meskipun diproduksi oleh anak-anak daerah dengan konten materi kearifan lokal, namun XXI sangat terbuka dan obyektif memberikan ruang untuk berkembanganya perfilman nasional dari daerah,” imbuhnya.

Mariara adalah film bergenre horror thriller yang mengambil latar belakang budaya Minahasa yang sarat dengan kekristenan. Film ini menawarkan alternatif tontonan yang berbeda dengan menggunakan bahasa Melayu Manado dan subtitle bahasa Indonesia.

Dengan durasi sekitar 1 jam 37 menit, film ini digarap dengan tempo cepat dan struktur cerita multiplot yang memancing logika berpikir penonton.


Kasus Viral di SMA Binus: Otto Hasibuan Tegaskan Tidak Ada Pembiaran dari Sekolah

Sinopsis film ini bercerita tentang praktek ilmu hitam di salah satu kampung di tanah Minahasa yang ternyata berada di balik pelayanan gereja.

Film Mariara diharapkan dapat memberikan warna baru dalam perfilman nasional dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Sulawesi Utara.

Relawan KGN Jakarta Utara Siapkan Gerakan Door to Door untuk Menangkan Pramono Anung dan Rano Karno

0

IndonesiaVoice.com – Dukungan terhadap pasangan Pramono Anung dan Rano Karno dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2024 semakin menguat.

Di Jakarta Utara, relawan Kita Gema Nusantara (KGN) menggelar konsolidasi di JakBistro, Jakarta Utara, pada Senin (17/09/2024), guna menyusun strategi matang demi memenangkan pasangan ini sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Sebelumnya KGN Jakarta Timur juga telah melakukan konsolidasi di TKRP, Jalan Diponegoro 72, Jakarta Minggu (15/09/2024) dan di Kawasan Condet, Jakarta Timur.

Ketua Umum DPP KGN, Boyke Hasiholan Simanjuntak, dalam arahannya, menegaskan pentingnya kolaborasi dan pergerakan relawan di lapangan.

Menurut Boyke, KGN Jakarta Utara harus memperkuat basis massa di kawasan padat penduduk dan titik strategis yang memiliki potensi suara besar, seperti Koja, Tanjung Priok, dan Pademangan.


KGN Gencarkan Konsolidasi hingga Tingkat Kelurahan untuk Menangkan Pramono-Rano

“Fokus utama kami adalah memperkuat akar rumput di enam kecamatan dan 31 kelurahan di Jakarta Utara. Tim KGN Jakarta Utara harus turun langsung ke lapangan untuk mensosialisasikan visi dan misi pasangan Pramono Anung dan Rano Karno,” ujar Boyke.

Selain itu, Boyke menekankan pentingnya menggelar diskusi terbuka dengan komunitas-komunitas lokal guna menjaring aspirasi warga. Langkah ini diharapkan bisa memastikan program-program Pramono dan Rano selaras dengan kebutuhan masyarakat Jakarta Utara.

Gerakan Door-to-Door dan Penguatan Relawan

Strategi kampanye KGN Jakarta Utara mencakup gerakan “door-to-door” yang dianggap efektif karena relawan dapat langsung bertatap muka dengan warga, menyampaikan program unggulan, serta menjawab pertanyaan dan kekhawatiran masyarakat.

“Kampanye ini sangat penting untuk membangun hubungan yang lebih personal dengan warga. Selain itu, kami memperkuat jaringan relawan di tingkat RT dan RW untuk menjangkau lebih banyak pemilih,” jelas Boyke.


Setelah 5 Tahun, Film Mariara Akhirnya Siap Menghantui Layar Lebar November 2024

Pemanfaatan Medsos dan Teknologi

Pemilih muda menjadi salah satu target penting dalam kampanye Pramono Anung dan Rano Karno. KGN Jakarta Utara akan memanfaatkan platform digital seperti Instagram, Twitter, dan TikTok untuk menarik perhatian generasi milenial dan Gen Z.

“Pemilih muda aktif di media sosial, jadi kita harus membuat konten yang kreatif, seperti video pendek dan infografis. Kita ingin mereka melihat bahwa pasangan ini punya visi dan program yang relevan dengan kebutuhan mereka. Kita mulai dari sekarang aja dengan upload kegiatan konsolidasi hari ini di medsos masing-masing, bisa di IG, Tiktok, dan lain-lain,” tambah Boyke.

Strategi Sosialisasi Hingga Tingkat RT dan RW

Ketua Soskam KGN Jakarta Utara Handono Wiwoho, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan sosialisasi hingga ke tingkat kelurahan, RW, dan RT. Tujuannya adalah memastikan bahwa program kampanye Pramono Anung dan Rano Karno dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Kami akan bergerak terus menerus sampai titik akhir pemilihan. Dukungan yang solid dari relawan di enam kecamatan sudah cukup memadai untuk memenangkan pasangan Mas Pram dan Bang Doel,” ujar Handono.


Kasus Viral di SMA Binus: Otto Hasibuan Tegaskan Tidak Ada Pembiaran dari Sekolah

Dukungan Gen Z dan Masyarakat Luas

Albert Siagian, salah satu Ketua DPP KGN, optimistis bahwa pasangan Pramono dan Rano Karno akan meraih dukungan besar dari berbagai kalangan, termasuk Gen Z. Menurutnya, rekam jejak Rano Karno sebagai selebriti nasional serta kiprah Pramono Anung di pemerintahan menjadi daya tarik tersendiri.

“Kami punya program simpatik yang menyasar suara Gen Z. Bang Rano sangat dikenal sebagai sosok selebriti dengan karya-karya yang berpengaruh, dan Mas Pramono punya rekam jejak yang kuat di dunia politik. Kami yakin ini akan menarik perhatian generasi muda,” kata Albert.

Dengan strategi yang terencana dan kolaborasi yang solid, relawan KGN Jakarta Utara optimistis bahwa dukungan untuk Pramono Anung dan Rano Karno akan terus meningkat. Mereka berharap, kerja keras ini dapat mengantarkan pasangan ini menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru.

(Victor)

KGN Gencarkan Konsolidasi hingga Tingkat Kelurahan untuk Menangkan Pramono-Rano

0

IndonesiaVoice.com – Dukungan untuk pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dan Rano Karno, kian menguat seiring dengan semakin mendekatnya pemilihan.

Salah satu kelompok relawan yang aktif bergerak adalah Kita Gema Nusantara (KGN), yang dipimpin oleh Boyke Hasiholan Simanjuntak.

KGN kini membentuk Tim Sosialisasi dan Kampanye (Soskam) hingga ke tingkat kelurahan untuk merapatkan barisan dan memenangkan pasangan ini.

Dalam konsolidasi yang digelar pada Minggu (15/09/2024) di TKRP, Diponegoro 72, Jakarta, ratusan relawan berkumpul untuk menyusun strategi pemenangan.

“Kami yakin Pramono Anung dan Rano Karno adalah kombinasi yang solid. Pramono dengan pengalaman di pemerintahan pusat, dan Rano yang sudah teruji sebagai kepala daerah, merupakan pasangan ideal yang bisa membawa perubahan besar untuk Jakarta,” kata Ketua Umum KGN, Boyke Simanjuntak, dalam sambutannya.


kita gema nusantara

Dengan sisa waktu yang hanya sekitar dua bulan, Boyke menegaskan pentingnya intensitas konsolidasi.

“Kita harus terus bergerak dan fokus karena minggu depan sudah penetapan calon. Artinya, kampanye resmi akan segera dimulai,” ujarnya.

Konsolidasi ini merupakan bagian dari langkah strategis KGN yang sudah bergerak di sejumlah wilayah, termasuk Condet, Jakarta Timur, dan dalam waktu dekat akan menyasar Jakarta Utara.

Pada acara konsolidasi tersebut, para relawan KGN membahas langkah-langkah kampanye yang akan mereka jalankan, mulai dari pendekatan ke warga hingga kampanye di media sosial.

Ketua DPC KGN Jakarta Timur, salah satu tokoh yang hadir, Tohaji menyatakan komitmen penuh untuk memenangkan Pramono-Rano. Ia menginstruksikan Koordinator Kecamatan (Korcam) untuk memperluas jaringan hingga ke tingkat RT dan RW.


“Visi dan misi calon harus sampai ke masyarakat di akar rumput. Kita harus bekerja keras demi memastikan kemenangan,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Sekretaris KGN Jakarta Timur, Bambang, menaruh harapan besar pada pasangan ini.

“Kami berharap jika terpilih, Pramono Anung dan Rano Karno akan mempermudah birokrasi yang selama ini memberatkan warga, terutama dalam hal kesehatan, ekonomi, dan usaha kecil. Kami yakin mereka akan membawa kesejahteraan bagi Jakarta,” ungkapnya.

Dukungan juga datang dari Humas KGN Ciracas, Joko Wigoyo, yang menyoroti pentingnya perhatian pada isu-isu lokal, seperti pendidikan dan banjir di wilayah Ciracas.

“Saya berharap Pramono dan Rano memperhatikan masalah-masalah ini, terutama terkait sulitnya akses pendidikan bagi anak-anak yang tidak berprestasi dan penanganan banjir di Kali Cipinang,” harap Joko.


KGN juga semakin aktif di media sosial, menciptakan tagar-tagar populer untuk menarik simpati pemilih, khususnya generasi milenial yang lebih banyak berinteraksi di platform digital.

Mereka yakin bahwa kampanye yang kuat secara online dan offline dapat mengantarkan pasangan Pramono Anung dan Rano Karno menuju kemenangan.

Dengan kerja keras dan konsolidasi masif yang dilakukan hingga ke akar rumput, para relawan KGN optimistis bahwa pasangan Pramono Anung dan Rano Karno akan meraih kemenangan signifikan dalam Pilgub DKI Jakarta 2024.

“Kami akan terus bekerja keras, merangkul semua kalangan, dan menyampaikan program-program unggulan pasangan Pramono-Rano ke seluruh pelosok Jakarta,” tutup Boyke optimistis.

(Victor)