Biak & Wamena, IndonesiaVoice.com – Matahari baru saja meninggi di ufuk timur Biak Numfor saat tawa anak-anak sekolah pecah diantara aroma laut yang segar.
Di sana, di Bumi Saireri, sebuah babak baru pembangunan sedang ditinjau langsung. Bukan sekadar kunjungan formalitas, kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di tanah Papua dan Papua Pegunungan pekan ini membawa pesan kuat tentang kelanjutan, pemerataan, dan sentuhan kemanusiaan.
Theofransus Litaay, Ph.D., Dewan Penasehat Analisis Papua Strategis (APS), dalam rilisnya, melihat kunjungan ini sebagai langkah strategis dalam memantau denyut nadi pembangunan di wilayah paling timur Indonesia tersebut.
Baca juga: Itamari Lase Tolak Pilkada Lewat DPRD, Dinilai Kebiri Kedaulatan Rakyat
Dari Dinginnya Cold Storage hingga Hangatnya Makan Siang
Di Biak, fokus sang Wakil Presiden tertuju pada dua fondasi utama masa depan: pendidikan dan perut yang kenyang.
Mas Wapres, begitu ia akrab disapa, meninjau langsung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
Di ruang-ruang kelas sekolah rakyat menengah, ia berdialog, mendengar keluh kesah guru, dan menyerap aspirasi langsung dari “tangan pertama”.
Namun, cerita Biak bukan hanya soal sekolah. Di Pasar Ikan Fandoi, geliat ekonomi nelayan asli Papua menjadi sorotan.
Berkat kehadiran Cold Storage—warisan pembangunan era Presiden Jokowi—hasil laut Biak kini tak lagi hanya dinikmati di meja makan lokal, tapi siap melanglang buana ke luar negeri.
“Ini adalah kekuatan ekonomi besar bagi Papua,” ujar Theofransus, Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden 2015-2025.
Dukungan kementerian terkait dan pembagian bansos bagi nelayan menjadi oase bagi para pejuang laut di Saireri.
Baca juga: Usung Misi 3K 2D dan 2P, William Sabandar Jadikan PNPS GMKI ‘Rumah Besar’ bagi Para Senior
Diplomasi Sepak Bola di Lembah Baliem
Perjalanan berlanjut ke jantung Papua Pegunungan: Wamena. Kota yang berada di ketinggian 1.600–1.800 meter di atas permukaan laut ini menyambut Wapres dengan suhu yang menusuk tulang. Namun, dinginnya iklim Wamena cair seketika lewat sebuah pertandingan sepak bola.
Tanpa canggung, Mas Wapres merumput bersama remaja Sekolah Sepak Bola (SSB) setempat.
“Ini adalah pendekatan komunikasi sosial yang efektif. Bahasa olahraga adalah bahasa universal bagi generasi muda Papua,” tambah Dosen Universitas Kristen Satya Wacana ini.
Melalui bola, ada harapan agar fasilitas olahraga prestasi di Wamena segera diperkuat, melahirkan talenta-talenta nasional baru dari pegunungan.
Baca juga: Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga: Natal Nasional 2025 yang Sederhana namun Menggerakkan Indonesia
Kopi, “Mama-Mama”, dan Mimpi Fakultas Pertanian
Papua Pegunungan memang sedang mengejar ketertinggalan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Strategi pemekaran provinsi diharapkan mampu mempercepat penyaluran anggaran untuk kesehatan dan pendidikan. Namun, ekonomi lokal tetap menjadi urat nadi.
Aroma kopi Wamena, Nduga, hingga Yahukimo yang mendunia menjadi perhatian khusus Wapres. Tatap muka dengan pegiat kopi dilakukan untuk membuka akses pasar yang lebih luas, baik melalui jalur darat maupun udara.
Tak lupa, sosok “Mama-Mama” Papua yang setia mengolah tanah menjadi perhatian APS. Theofransus menekankan pentingnya peran Kementerian Pertanian untuk menghadirkan penyuluh di wilayah pegunungan.
Mengingat pangan lokal seperti Hipere (ubi jalar) telah menghidupi warga Lembah Baliem selama berabad-abad, muncul sebuah gagasan visioner yakni pembentukan Fakultas Pertanian khusus bidang pegunungan di Wamena.
Baca juga: Pertemuan Raya Senior GMKI 2025 di Sorong, Dari Dialog ke Aksi Nyata Bagi Papua
Membangun Kapasitas, Mengawal Akuntabilitas
Kunjungan ini ditutup dengan catatan penting mengenai tata kelola. Dengan peningkatan dana Otsus yang kini diawasi ketat oleh Kementerian Keuangan, APS berharap pemerintah daerah semakin diperkuat.
“Kami berharap ASN muda di Papua diberikan kesempatan in-house training di daerah yang pelayanan publiknya sudah maju,” harap Theofransus.
Baginya, peningkatan kapasitas ASN, perbaikan rumah sakit provinsi, dan pembangunan infrastruktur digital adalah kunci agar kemajuan Papua tidak lagi sekadar wacana.
Dari pesisir Biak hingga dinginnya Wamena, perjalanan ini bukan sekadar mengecek proyek, melainkan upaya merajut kembali kepercayaan bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari kemajuan Indonesia Raya.(Vic)



