JAKARTA, IndonesiaVoice.com — Di tengah hiruk-pikuk dan deru kompetisi kota metropolitan Jakarta, ingatan akan kampung halaman kerap menjadi kompas moral dan sumber kekuatan bagi para perantau.
Menyikapi hal tersebut, komunitas My Batak’s Friends Forever menginisiasi sebuah pagelaran kebudayaan bertajuk Konser Musik Batak “Diingot Hodope” di W&S Restor Citos, Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Lebih dari sekadar hiburan musikal, konser ini dihadirkan sebagai ruang refleksi bersama untuk merawat ingatan, mempererat silaturahmi, dan membangkitkan kembali nilai-nilai perjuangan hidup di tanah perantauan.
Adapun Founders (pendiri) My Batak’s Friends Forever yakni Lee Carlo Lumban Gaol, David Pakpahan, Johni Simanjuntak, Paul Siagian, dan Rahma Charliyan Situmorang.
Koordinator My Batak’s Friends Forever, Lee Carlo Lumanggaol, menjelaskan nama komunitasnya sengaja mengusung semangat inklusivitas. Meskipun membawa identitas Batak, wadah ini terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.

“My Batak’s Friends Forever itu artinya kawan-kawan Batakku, Batak terbaik. Jadi itu tidak tertutup sama orang Batak saja. Orang Batak itu dikenal bisa berasimilasi dengan semua suku di Indonesia, termasuk di Jakarta ini,” ujar Lee Carlo saat ditemui dalam wawancara di W&S Resto, Citos, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Menatap Perjuangan dari Bonapasogit hingga Ibu Kota
Sesuai dengan temanya—Diingot Hodope yang bermakna “apakah engkau masih ingat”—konser ini dirancang dengan konsep memorabilia. Alur pertunjukan dibagi ke dalam tiga sesi penceritaan.
Sesi pertama menggambarkan momen emosional saat seorang anak diberangkatkan oleh orang tuanya dari bonapasogit (kampung halaman).
Sesi kedua mengisahkan getir dan kerasnya perjuangan mengadu nasib di Jakarta, hingga ditutup pada sesi ketiga yang merayakan pencapaian dan kesuksesan hidup.
Sasaran utama acara ini menyasar dua kelompok generasi perantau. Pertama, mereka yang lahir dan tumbuh di kampung halaman lalu memberanikan diri merantau ke Jakarta. Kedua, generasi muda Batak yang sudah lahir dan dibesarkan di perantauan agar tetap mengenal silsilah dan akar budayanya.
“Masih ingat tidak kalian dulu waktu dari kampung diberangkatkan sama orang tua kalian, beranak pinak di sini akhirnya sampai sukses? Sama juga untuk orang-orang Batak yang sudah lahir besar di Jakarta, perjuangan kalian seperti apa di sini?” tutur Lee Carlo menegaskan pesan dasar konser.
Menurut Lee Carlo, salah satu nilai luhur yang hendak dibangkitkan kembali melalui momen ini adalah filosofi pantang menyerah dalam pendidikan anak.
Prinsip dasar masyarakat Batak yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama menjadi ruh perjuangan yang tak boleh pudar.
“Filosofinya perlu dicontoh. Kita boleh miskin, kita boleh tidak makan, tapi anak kita harus sekolah. Intinya adalah bagaimana semangat jiwa Batak membuat keturunannya harus jauh lebih baik dari kita,” tegasnya.
Suasana Intim dan Panggung bagi Musisi Senior
Berbeda dengan pertunjukan musik skala besar pada umumnya yang kerap berfokus pada pengerukan keuntungan finansial, Diingot Hodope dikemas secara terbatas dan intimate.
Baca juga: Ultimatum BATAK CENTER: Pemerintah Diminta Bekukan Izin PT TPL Jika Terbukti Abai
Mengambil tempat di sebuah restoran di kawasan Jakarta, kapasitas penonton dibatasi secara ketat hanya sekitar 150 hingga 170 orang. Langkah ini diambil agar seluruh pengunjung dapat merasakan kehangatan dan keakraban emosional yang mendalam selama acara berlangsung.
Untuk mengawal kualitas dan kekhidmatan musik, pihak penyelenggara menggandeng penata musik berpengalaman, Markus Hutasoit, serta jajaran penyanyi yang telah teruji rekam jejaknya di kancah musik Batak.
Nama-nama papan atas seperti Trio E2I, Putri Silitonga, Eric Sihotang, Mamoe Band, Marin Pasaribu dan Bonardo Sihombing dipastikan tampil mengisi panggung.
“Kita butuh artis Batak yang memang sudah berdarah-darah membangun karier di sini. Ibaratnya yang sudah makan asam garam, seperti Eric Sihotang, Putri Silitonga, dan Trio E2I yang biasa tampil membawakan lagu-lagu memori,” ungkap Lee Carlo.
Merajut Kebersamaan Lintas Latar Belakang
Inisiatif yang diusung oleh My Batak’s Friends Forever ini juga menekankan keterbukaan. Penyelenggara turut merangkul kalangan mahasiswa dan masyarakat non-Batak yang memiliki kedekatan emosional serta jejaring pertemanan dengan komunitas Batak.
Baca juga: Menteri Kebudayaan Fadli Zon Hadiri HUT Ke-7 dan Apresiasi I Batak Center
Bagi mahasiswa yang ingin hadir namun memiliki keterbatasan finansial, pihak komunitas bahkan menyediakan skema dukungan dari para sponsor internal.
Ke depan, Lee Carlo berharap acara serupa dapat diselenggarakan secara berkala setiap dua bulan sekali. Jika respons masyarakat terus meningkat, tidak menutup kemungkinan skala kegiatan akan diperbesar hingga dapat menampung ribuan penonton di stadion.
Melalui pagelaran Diingot Hodope, My Batak’s Friends Forever tidak hanya menyajikan alunan senandung lagu-lagu kenangan. Lebih dari itu, acara ini menjadi jembatan pengingat bagi setiap anak rantau agar senantiasa menghargai proses, menghormati doa orang tua, serta tidak melupakan asal-usul tempat mereka bertunas dan bertumbuh.(Victor)
