Di Balik Panggung Demokrasi Lokal, Menggali Makna “Politik Kehadiran” dari Disertasi Doktor Darwin Darmawan

Depok, IndonesiaVoice.com – Politik acap kali dipersepsikan publik sebagai arena pertarungan kekuasaan yang keras, sarat dengan transaksi elitis, dan berujung pada pragmatisme sesaat.

Namun, di balik panggung demokrasi lokal Indonesia yang kerap riuh dengan intrik dan kontestasi, tersimpan lembaran kisah inspiratif tentang bagaimana kekuasaan sejati sejatinya dirajut melalui kepedulian dan kehadiran nyata di tengah masyarakat.

Narasi humanis nan menggugah ini berhasil dipotret secara mendalam oleh Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Dr. Darwin Darmawan.

Dalam sebuah sidang promosi terbuka yang khidmat di Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI), Depok, pada Senin (18/5/2026), Darwin tidak sekadar mempertahankan sebuah karya akademis.

Ia membawa publik menyelami denyut nadi kepemimpinan perempuan minoritas yang berani mendobrak rintangan struktural.

Baca juga: Gebrakan Disertasi Dr. Saor Siagian, Usulkan Fraksi DPR Dibubarkan Demi Pangkas Oligarki Partai

Di hadapan dewan penguji dan promotor Dr. Sri Budi Eko Wardani, Darwin sukses meraih gelar Doktor melalui disertasi bertajuk “Representasi Politik Perempuan Tionghoa Pasca-Orde Baru: Studi Kepemimpinan Tjhai Chui Mie (Wali Kota Singkawang 2017-2022) dan Me Hoa (Ketua DPRD Bangka Tengah 2019-2024).”

Melalui riset komprehensif ini, ia menemukan dua pola kepemimpinan memukau yang berakar kuat pada ethics of care atau etika kepedulian.

Merawat Keadilan di Kota Multietnis

Kisah pertama membawa penelusuran ke Singkawang, sebuah kota multietnis dengan dinamika politik identitas yang cukup bergejolak.

Di kota ini, Tjhai Chui Mie hadir bukan sekadar sebagai representasi etnis Tionghoa yang dominan, melainkan sebagai sosok srikandi yang piawai merangkul perbedaan.

Darwin mengistilahkan strategi kepemimpinan ini sebagai assertive-bridging leadership.

Baca juga: Raih Gelar Doktor Hukum, Hulman Panjaitan: Pentingnya Pembentukan Pengadilan Sengketa Konsumen 

Bagi Tjhai Chui Mie, memimpin berarti membangun jembatan antar-kelompok dan memposisikan diri sebagai pemimpin bagi semua golongan.

Namun, bagian paling menarik dari temuan Darwin adalah bagaimana wujud kepedulian (care) itu diterjemahkan di lapangan.

“Dalam praktik kepemimpinannya, care tidak selalu tampil dalam bentuk yang lembut, tetapi juga dalam bentuk yang tegas dan bahkan konfrontatif ketika berhadapan dengan persoalan ketimpangan struktural atau kebuntuan politik yang dibuat-buat,” papar Darwin.

Kepedulian itu bukan sekadar retorika manis di mimbar kampanye, melainkan aksi nyata dalam ruang eksekusi kebijakan.

Melalui pengelolaan anggaran daerah, Tjhai memastikan keberpihakannya pada infrastruktur, layanan sosial, dan kelompok rentan.

Baca juga: Sejarah Baru, Prof. Angel Damayanti Resmi Dilantik sebagai Rektor Perempuan Pertama UKI

Ketegasannya adalah wujud nyata dari etika kepedulian untuk mendistribusikan kesejahteraan secara lebih adil.

Figur “Ibu” di Tengah Minoritas

Bergeser ke Kabupaten Bangka Tengah, realitas sosiopolitik yang dihadapi Me Hoa jauh berbeda.

Sebagai representasi minoritas di tengah struktur kekuasaan lokal yang didominasi elite Melayu, tantangan yang dihadapinya menuntut kecerdasan adaptif tingkat tinggi.

Me Hoa memilih untuk tidak menempuh jalan konfrontasi. Sebaliknya, ia merajut legitimasi melalui pendekatan relasional dan pelayanan konstituen yang tulus.

Menggunakan strategi yang disebut Darwin sebagai strategic essentialism, ia secara cerdik lebih menonjolkan identitas gendernya sebagai “Ibu Me Hoa” dibandingkan latar belakang etnisitasnya.

Baca juga: Mengurai Jalan Keadilan Agraria, Orasi Ilmiah Prof. Dr. Aarce Tehupeiory di UKI

Sentuhan keibuan ini menjadi kunci pembuka pintu emosional, membangun ruang penerimaan sosial yang melampaui batas-batas SARA.

Sebagai wakil rakyat, kehadiran substantif “Ibu Me Hoa” terasa berdenyut dalam advokasi masyarakat kecil serta inisiasinya dalam merumuskan Peraturan Daerah (Perda) yang melindungi kelompok rentan dan mengoptimalkan layanan publik dasar.

Lebih dari Sekadar Angka di Kotak Suara

Karya doktoral Darwin Darmawan pada akhirnya menyodorkan sebuah cermin besar bagi wajah demokrasi hari ini.

“Temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa politik pada dasarnya tidak berhenti pada proses elektoral atau perebutan kekuasaan formal,” tegas Darwin merefleksikan temuannya.

Politik, dalam wujudnya yang paling murni, adalah relasi sosial yang hidup sehari-hari.

Baik Tjhai Chui Mie maupun Me Hoa membuktikan bahwa kemenangan di bilik suara bukanlah garis akhir, melainkan garis awal (start) untuk mempraktikkan politics of presence atau politik kehadiran.

Baca juga: Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman Buka Kongres VII PIKI 2026 dan Serukan Pesan Kebangsaan

Mereka memilih untuk tetap membumi, turun ke bawah, merawat hubungan, dan mendengarkan denyut nadi kehidupan warga di luar musim kampanye politik.

Di tengah apatisme publik yang kian menebal terhadap praktik politik transaksional dan elitis yang biasanya hanya muncul menyapa warga setiap lima tahun sekali, kepemimpinan kedua srikandi ini menjadi oase penyejuk.

Mereka membuktikan secara empiris bahwa ketika representasi politik dijalankan secara substantif, masyarakat akan merasa benar-benar dilihat, didengar, dan diperhatikan eksistensinya.

Disertasi Pdt. Dr. Darwin Darmawan melampaui batasan sebuah literatur akademik; ia menjelma menjadi sebuah pesan moral yang kuat bagi lanskap perpolitikan nasional.

Sebuah pengingat manis bahwa kepemimpinan yang dirawat dengan hati, empati, dan kehadiran tanpa pamrih akan selalu menemukan tempat yang paling abadi di hati rakyatnya.

(Victor)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles