Jakarta, IndonesiaVoice.com — Jumat Siang, 8 Mei 2026, di tengah denyut sibuk ibu kota Jakarta, sebuah percakapan krusial tentang masa depan jantung ekologis Sumatera Utara tengah berlangsung.
Di dalam ruang pertemuan Gedung Kementerian Pariwisata RI, tidak ada sekadar basa-basi birokrasi. Yang hadir adalah sebuah komitmen bersama, sebuah peta jalan untuk menyelamatkan dan memuliakan kembali Danau Toba.
Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT) baru saja menyelesaikan audiensi strategis dengan Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana.
Bersama jajaran deputi dan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), pertemuan ini melahirkan sebuah kesepakatan yang tak hanya sekadar janji di atas kertas, melainkan sebuah cetak biru untuk peradaban pariwisata masa depan: Model Green Lake.
Wajah Ketua Umum KMDT, St. Edison Manurung, SH, MM, memancarkan optimisme yang sulit disembunyikan saat ia melangkah keluar dari ruang audiensi.
Baca juga: Gebrakan Disertasi Dr. Saor Siagian, Usulkan Fraksi DPR Dibubarkan Demi Pangkas Oligarki Partai
Bagi Edison, hari itu adalah tonggak sejarah baru dalam upaya menerjemahkan kecintaan terhadap kaldera vulkanik terbesar di dunia itu menjadi aksi nyata.
“Kami dari Komite Masyarakat Danau Toba sangat mengapresiasi Ibu Menteri Pariwisata, rekan-rekan deputi, dan khususnya Plt Dirut BPODT,” ungkap Edison dengan nada suara yang mantap.
“Apa yang kita diskusikan tadi adalah konsep kerja sama dan pokok-pokok pikiran kami untuk memajukan danau di seluruh Indonesia. Kami menjadikan Danau Toba—yang melingkupi tujuh kabupaten—sebagai laboratorium, sebuah pilot project.”
Bukan rahasia lagi bahwa Danau Toba telah lama menyandang status sebagai destinasi super prioritas dan mendapat pengakuan dari UNESCO Global Geoparks. Namun, Edison menyadari predikat global harus diimbangi dengan kerja keras di tingkat akar rumput.
Ia menyoroti betapa Menteri Widiyanti menaruh perhatian besar pada kawasan tersebut, tercatat sudah dua kali bertandang langsung ke Danau Toba dalam setahun terakhir.
Sebagai tindak lanjut yang konkret, KMDT dan Kemenpar sepakat untuk menggelar Focus Group Discussion (FGD) berskala nasional pada awal Juli 2026.
Mengambil tempat di ballroom Kementerian Pariwisata, forum ini akan mengumpulkan 200 pemikir, mulai dari gubernur, para bupati, akademisi, hingga penggiat pariwisata.
“Hasil FGD inilah yang nanti akan kami serahkan kepada Bapak Presiden Prabowo. Ini adalah langkah nyata kami mendukung program Ibu Menteri di era Prabowo, dalam rangka mengembangkan pariwisata yang mendunia,” tegas Edison.
Anatomi “Green Lake“, Lima Pilar Menuju Keabadian Ekosistem
Lantas, apa sebenarnya yang membuat gagasan ini begitu istimewa? Jawaban itu meluncur dari analisis tajam Dr. Jupiter Sitorus Pane, Dewan Pakar KMDT.
Ia merangkum gagasan filosofis dan teknis ini ke dalam lima pilar yang tak terpisahkan—sebuah orkestrasi yang ia sebut sebagai “Green Democracy” atau Demokrasi Hijau.
Baca juga: Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman Buka Kongres VII PIKI 2026 dan Serukan Pesan Kebangsaan
“Model Green Lake ini adalah hasil kajian dari dewan pakar, yang intinya adalah menerapkan demokrasi hijau dalam pengembangan kawasan danau,” jelas Jupiter.
“Kita merancang agar model di Danau Toba ini nantinya bisa direplikasi ke danau-danau lain di Indonesia, seperti Danau Maninjau atau yang lainnya.”
Dengan gaya bertutur yang sistematis, Jupiter membedah kelima dimensi utama yang menjadi ruh dari dokumen proposal KMDT:
1. Ekologi yang Bernapas: “Aspek pertama adalah memeriksa dan merawat kondisi ekologi. Jangan sampai terjadi degradasi lingkungan. Danau harus sehat,” ujarnya. Ini adalah perlawanan terhadap sedimentasi, pencemaran air, dan penurunan kualitas lingkungan.
2. Ekonomi yang Menghidupi: Kehadiran pariwisata pantang menjadi menara gading. Destinasi wisata harus berdampak langsung pada dompet masyarakat lokal. “Pariwisata harus mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya dan menurunkan angka kemiskinan,” tambahnya.
3. Sosial dan Kekayaan Budaya (Local Wisdom): Danau Toba dikelilingi oleh tujuh kabupaten dengan nuansa sosiologis yang berbeda. Jupiter melihat ini sebagai tambang emas.
“Setiap daerah harus memiliki keunikan. Kalau tidak unik, orang datang besoknya langsung pulang. Tapi jika masing-masing dari tujuh kabupaten ini menawarkan daya tarik budaya yang berbeda, wisatawan akan menginap lebih lama. Lama tinggal (length of stay) akan meningkat drastis.”
4. Tata Kelola yang Mengakar (Demokrasi Partisipatif): Inilah jantung dari “Green Democracy“. Tata kelola tidak boleh lagi bersifat top-down.
“Masyarakat harus dilibatkan. Demokrasi partisipatif itu inti dari Model Green Lake. Masyarakat adalah stakeholder utama yang suaranya dipertimbangkan.”
5. Teknologi dan Data Meretas Batas: Menyongsong visi Indonesia Emas, pariwisata tak bisa lepas dari inovasi.
“Kita harus bisa memonitor kawasan secara real-time berbasis data geospasial dan teknologi digital. Jika terjadi kerusakan ekologi atau ekonomi yang stagnan, data itu akan langsung berbicara,” papar Jupiter, menutup penjelasan konseptualnya.
Menggabungkan Kekuatan di Atas Satu Air yang Sama
Gagasan besar KMDT ini tidak dibiarkan berjalan sendirian. Di sisi lain panggung, pemerintah melalui BPODT menyatakan kesiapan penuh untuk berdiri berdampingan.
Plt Dirut BPODT, Aditama Nusantara Putra, menyadari mengurus Danau Toba adalah mengurus sebuah peradaban yang kompleks.
“Danau Toba ini sebenarnya danaunya satu, tapi ‘orangnya’ itu banyak, dan banyak yang hebat-hebat,” kata Aditama, menggunakan metafora yang tepat untuk menggambarkan dinamika sosiopolitik di kawasan Toba.
“Jadi, kalau kita saling bahu-membahu, harapannya bisa mempercepat pengembangan Danau Toba.”
Aditama menyambung napas konsep Green Lake dengan status Danau Toba di mata dunia.
“Secara nasional, ini adalah proyek strategis. Secara internasional, kita adalah bagian dari Geopark. Jika konsep Green Lake ini diterapkan, Danau Toba benar-benar akan menjadi proyek percontohan yang paripurna untuk pengelolaan danau di Indonesia,” ujarnya.
Mata Aditama kini tertuju pada kalender. Bulan Juli akan menjadi bulan kerja keras untuk mematangkan FGD. Ia memiliki sebuah ambisi yang menantang: membawa hasil pemikiran murni dari masyarakat Toba ini ke panggung dunia.
“Di tanggal 27 Agustus nanti, jika tidak salah, ada peringatan World Lake Day (Hari Danau Sedunia). Harapannya, hasil FGD yang sudah disarikan tersebut bisa kita sampaikan pada momentum global itu,” pungkasnya dengan mata berbinar.
Sore itu, ruang pertemuan mulai sepi. Hadirin seperti Irjen Pol (Purn) Richard Nainggolan (Waketum KMDT), Kaharsyah (Waketum KMDT), Prof. Dr. Iskandar Zulkarnaen (Sekjen KMDT), dan Raja Malem Tarigan (Ketua Bidang Investasi) beranjak pulang membawa tugas besar di pundak mereka.
Di Jakarta yang hiruk-pikuk, rencana penyelamatan Danau Toba kembali menemukan iramanya yang paling merdu.
Melalui “Model Green Lake“, Danau Toba tidak hanya disiapkan untuk memikat mata wisatawan asing, tetapi juga dirawat agar airnya tetap jernih mengairi kehidupan anak cucu di masa depan.
Sebuah pelayaran panjang baru saja dimulai, dan kali ini, semua mendayung ke arah yang sama.(Vic)
