Jakarta, IndonesiaVoice.com – Gedung Mulia Raja di kawasan Jakarta seakan tak mampu menampung luapan kerinduan, Minggu (3/5/2026). Bangku-bangku terpaksa diatur mengular hingga ke pelataran luar gedung.
Ekspektasi awal panitia yang hanya mencetak undangan untuk 2.000 orang (1.000 Kepala Keluarga) meleset jauh—dalam artian yang membahagiakan.
Siang itu, hampir 3.000 jiwa (1.500 KK) keturunan Raja Sitolngo (Raja Hinalang) Siahaan berkumpul, menembus kemacetan ibu kota, bahkan datang jauh-jauh dari Bandung dan Karawang.
Mereka hadir dalam Pesta Partangiangan Bonataon 2026 Punguan Pomparan Raja Sitolngo (Raja Hinalang) Siahaan Dohot Boruna se-Jabodetabek.
Baca juga: PSRST Sejabodetabek Gelar Partangiangan Bona Taon dan Pelantikan Pengurus Periode 2025-2028

Sebuah tradisi awal tahun yang tak sekadar menjadi ajang makan bersama, tetapi menjelma menjadi wadah peleburan ego dan penyatuan visi ribuan perantau.
“Tujuan Bonataon tahun ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi dan membangun persatuan di dalam tubuh punguan. Biarlah melalui tema ‘Keluarga Allah Dalam Benteng Kasih’, persekutuan keluarga besar ini diikat dengan tali kasih oleh Tuhan, saling menopang dan menolong,” ungkap Ketua Panitia, Pdt. M. Pardamean Siahaan dengan senyum hangat.
Kekuatan persaudaraan itu tampak nyata dari tokoh-tokoh yang hadir. Menariknya, kecintaan pada punguan ini tidak hanya datang dari keturunan langsung marga Siahaan, tetapi juga dari para bere (keponakan dari pihak perempuan). Salah satunya adalah Wakil Menteri Hukum RI, Prof. Dr. Otto Hasibuan.
“Beliau ini walaupun bere, tapi selalu memberikan hatinya untuk punguan. Selalu membantu secara materi maupun doa, sungguh luar biasa,” tambah Pdt. Pardamean.
Di deretan kursi kehormatan, hadir pula tokoh nasional lainnya seperti Mayjen TNI (Purn) Fransen G. Siahaan selaku Paniroi (Penasihat), serta Anggota DPRD DKI Jakarta, Ir. Manuara Siahaan.
Baca juga: Kongres VII PIKI Siap Digelar Akhir April, Angkat Isu Ketahanan Pangan hingga AI, Rencana Dibuka Presiden

Kaderisasi
Bagi diaspora Batak, kota metropolitan seringkali menggerus identitas kultural. Di sinilah Punguan Pomparan Raja Hinalang mengambil peran.
Menyatukan lima keturunan—Ompu Sibaso Baoa, Ompu Raja Mugus, Ompu Raja Sidodong, Ompu Raja Marhata, dan Ompu Badia Raja—bukanlah perkara mudah.
Ketua Umum Punguan Pomparan Raja Hinalang (PPRH) periode 2023-2027, Prof. Jhonni Siahaan, M.Kes, menegaskan tidak boleh ada satupun ompu yang merasa lebih superior.
“Intinya kita bersatu. Mau seperti apapun perkembangan keturunannya, itu tinggal doanya masing-masing. Tapi di sini, kita sama,” tegasnya.
Baca juga: PSRST Sejabodetabek Gelar Partangiangan Bona Taon dan Pelantikan Pengurus Periode 2025-2028
Prof. Jhonni menggarisbawahi bahwa menjalankan adat suka dan duka (pernikahan dan kematian) adalah harga mati bagi punguan. Untuk memastikan tradisi ini tak putus di tengah jalan, kaderisasi menjadi ujung tombak.
Hal ini diamini oleh Ketua Pomparan Ompu Balasahunu Siahaan Se-Jabodetabek, Robin Siahaan.
“Wadah ini untuk silaturahmi sekaligus pengkaderan yang muda-muda. Kita tunjukkan kepada mereka perlunya kekeluargaan ini, agar mereka tahu masalah sosial bermarga dan identitas itu tidak hilang, di manapun mereka berada,” tuturnya.
Baca juga: Dr. JS Simatupang Bedah ‘Malpraktik Ilmu’ Saiful Mujani dan Bayang-bayang Makar
Mimpi Besar di Bonapasogit
Perkumpulan marga tanpa visi ke depan perlahan akan kehilangan arah. Menyadari hal ini, pengurus PPRH telah menyiapkan tiga agenda raksasa.
Pertama, merevisi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) agar relevan dengan globalisasi. Kedua, merevisi dan merapikan buku silsilah (Tarombo) yang belum diperbarui sejak tahun 2001, dengan target rampung pada Desember 2026 untuk mencakup seluruh 6.000 jiwa yang kini terdata di Jabodetabek.
Namun, agenda ketigalah yang paling menyita perhatian: Rencana pembangunan Tugu Raja Hinalang di Bonapasogit (kampung halaman).
Proyek monumental ini diperkirakan menelan biaya fantastis, berkisar antara Rp 2 hingga Rp 3 Miliar. Angka yang bisa membuat nyali ciut, tetapi tidak bagi Prof. Jhonni dan ribuan anggotanya. Ia mengajukan hitung-hitungan matematis berbasis gotong royong yang sangat masuk akal.
Baca juga: Manjalo Tua Ni Gondang, Ritual Penuh Makna dalam Bona Taon Punguan Raja Panggomal Silaen 2025
“Dari estimasi kapasitas 4.000-5.000 orang di Jabodetabek, ada sekitar 3.000 orang yang sudah bekerja. Bayangkan, kalau 3.000 orang ini menyumbang Rp 100.000 saja per bulan, kita dapat Rp 300 juta. Tujuh kali saja memberi, sudah terkumpul Rp 2,1 Miliar,” papar Prof. Jhonny dengan mata berbinar.
Sebuah konsep urun dana murni dari bawah ke atas.
“Bisa kita bikin multi-year, minimal Rp 100.000 atau bahkan Rp 50.000, dari situ kita mulai pembangunannya terus. Habis Bonataon ini, kami akan menggagas master plan-nya.”
Antara pesimis dan optimis, Prof. Jhonni memilih untuk bersandar pada keyakinan iman dan kekuatan kolektif keturunan Raja Hinalang.
Pesta Bonataon 2026 hari itu ditutup bukan sekadar dengan perut kenyang dan lagu-lagu gembira, melainkan dengan sebuah janji: bahwa batu pertama untuk Tugu Raja Hinalang di kampung halaman akan segera diletakkan, dibangun di atas fondasi kasih 3.000 jiwa yang menolak lupa pada akar leluhurnya.(*)
