Jakarta, IndonesiaVoice.com – Gedung Student Centre PP GMKI di Jalan Salemba Raya 10, Jakarta, tak pernah kehilangan tuahnya sebagai rahim pergerakan intelektual Kristen di Indonesia.
Pada Sabtu, 25 April 2026, di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang terus berdenyut, sejarah baru kembali ditorehkan di tempat ini. Menjelang detik-detik krusial perhelatan Kongres VII Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), sebuah deklarasi strategis memecah gelombang dinamika bursa pencalonan.
Dua figur paripurna dengan rekam jejak yang saling melengkapi—Dr. Michael Wattimena, S.E., S.H., M.M., seorang teknokrat dan politisi ulung, serta Pdt. Penrad Siagian, S.Th, M.Si, Teol, seorang teolog, peneliti, dan legislator senayan—resmi menyatukan langkah.
Di bawah panji slogan yang menyejukkan, “Bertanding Untuk Bersanding: Demi Gereja, Masyarakat dan Bangsa“, duet ini mendeklarasikan diri sebagai Calon Ketua Umum (Ketum) dan Calon Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PIKI periode 2026-2031.
Kehadiran pasangan yang akrab disapa dengan akronim BMW-PS ini bukan sekadar manuver untuk meramaikan kontestasi elit. Orasi kebangsaan yang mereka sampaikan membongkar krisis eksistensial kaum intelektual Kristen saat ini, sekaligus menawarkan cetak biru ( blueprint) yang tajam, terukur, dan visioner.
Ketahanan di Balik Turbulensi Global
Dr. Michael Wattimena, figur bersahaja yang malang melintang selama 10 tahun di DPR RI dan kini mengabdi sebagai Tenaga Ahli Menteri ESDM serta Komisaris Pertamina Internasional Shipping, membuka orasinya dengan pembacaan peta geopolitik yang realistis.
Ia tidak membuai hadirin dengan narasi utopis, melainkan berpijak pada fakta keras yang tengah melanda dunia.
“Saya harus jujur mengatakan bahwa hari ini kita tidak berada pada kondisi global yang baik-baik saja. Ada hantaman turbulensi global, distorsi ekonomi-politik, hingga dampak krisis keamanan di Selat Hormuz,” ujar figur yang akrab disapa BMW ini dengan nada baritonnya yang tenang.
Namun, di balik bayang-bayang pesimisme global tersebut, Michael melihat adanya ketangguhan luar biasa dari bangsa Indonesia.
Ia memberikan apresiasi terbuka terhadap navigasi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, serta taktisnya langkah kementerian terkait seperti Kementerian ESDM di bawah komando Bahlil Lahadalia.
“Kita bisa lihat hari ini kita survive. Di saat negara tetangga sudah menaikkan harga BBM, kebijakan pemerintah kita membuat kondisi BBM bersubsidi masih aman tanpa percakapan kenaikan. Kita juga mampu swasembada pangan. Kondisi dilematis di luar sana mampu kita antisipasi. Oleh karena itu, tema Kongres PIKI kali ini sangat relevan,” tegasnya.
Tema Kongres VII yang diambil dari Amsal 23:18, “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang“, di mata Michael, harus diejawantahkan oleh PIKI melalui langkah nyata.
Yakni, dengan memformulasikan pemikiran cerdas kaum inteligensia untuk menopang ketahanan negara dan memastikan kesejahteraan sosial.
Visi Transformasi BMW
Bagi Michael, PIKI harus melepaskan diri dari jebakan kegiatan seremonial atau mobilisasi massa layaknya organisasi kepemudaan (seperti GMKI atau GAMKI). PIKI adalah kawah candradimuka bagi para pakar, guru besar, peneliti, dan profesional.
Oleh sebab itu, visi besar yang diusung pasangan BMW-PS adalah “Menyatakan Kasih dan Kebenaran“. Visi ini ditopang oleh empat pilar utama: Pilar Intelektual, Pilar Spiritualitas, Pilar Transformasi Sosial, dan Pilar Relasi (Jejaring).
“Konsentrasi kita, limitasi kita, adalah pada kajian-kajian yang output-nya dikontribusikan langsung kepada gereja, bangsa, dan negara. Berbekal pengalaman 10 tahun di parlemen, kita tahu ritmenya. Ke depan, PIKI harus membedah Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Kita buat naskah akademik mininya, lalu kita kontribusikan pemikiran itu kepada Panja, Pansus di DPR, maupun kepada inisiator di pemerintah. Sehingga setiap Undang-Undang yang lahir memiliki jejak pemikiran PIKI,” urai Michael merinci taktik organisasinya.
Ia juga menekankan bahwa setinggi apa pun kecerdasan otak (Pilar Intelektual), ia harus senantiasa dikawal oleh kerendahan hati (Pilar Spiritual) dan kepiawaian membangun hubungan (Pilar Jejaring).
Michael mengambil contoh perjalanan karirnya pasca-DPR. Relasi persaudaraan yang kualitatif dan tulus dengan Bahlil Lahadalia—meski mereka berasal dari “perahu” politik yang berbeda—membuktikan bahwa kecerdasan yang dibarengi networking yang baik akan membuka pintu-pintu aktualisasi diri di ruang publik.
Baca juga: HAGAI dan KAPKI Serukan Umat Kristen Tak Terprovokasi Potongan Video Viral Jusuf Kalla
Kembalikan PIKI ke “Fitrah” Pemikir
Gagasan tajam BMW bersambut gayung dengan refleksi teologis-historis yang menggugah dari sang calon Sekjen, Pdt. Penrad Siagian.
Sebagai Anggota DPD RI terpilih, mantan Sekretaris Eksekutif PGI, dan Direktur Paritas Institute, Penrad membongkar sebuah realitas pahit yang mendera kekristenan di Indonesia.
“Banyak calon yang muncul dan berkomunikasi dengan saya. Namun, saya melihat keseriusan dan kesiapan paling matang ada pada Bang Michael Wattimena. Bahkan bisa dibilang, saya yang meminang Bung Ketum untuk maju bersama, bukan sebaliknya,” ungkap pendeta ini.
Lebih lanjut, Penrad memaparkan hasil riset panjang lembaganya yang menemukan kesimpulan memprihatinkan: dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, kontribusi pemikiran umat Kristen terhadap arah kebijakan bangsa terus mengalami tren penurunan.
“Zaman kemerdekaan hingga beberapa dekade lalu, pemikiran Kristen selalu menjadi penentu arah Republik. Demokrasi, HAM, hingga pondasi teknologi dibangun di atas filosofi kristiani. Namun hari ini, ketika peta politik dan kebijakan diputuskan di parlemen atau eksekutif, hampir tidak ada ruang bagi pemikiran kita. Oleh karena itu, saya sepakat dengan BMW: kita harus membawa PIKI kembali ke fitrahnya!” seru Penrad dengan suara bergetar penuh semangat.
Fitrah yang dimaksud Penrad adalah mengembalikan PIKI sebagai dapurnya para pemikir. PIKI harus menjadi rumah konsolidasi—menggabungkan ragam kepakaran dari berbagai sinode, latar belakang suku, dan disiplin keilmuan—untuk kemudian memformulasikan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) yang siap disuntikkan ke dalam ruang-ruang legislatif.
PIKI Sebagai Rumah Distribusi SDM Kristen
Di luar ranah legislasi, Penrad menyoroti ketiadaan “rumah distribusi” bagi sumber daya manusia Kristen yang unggul. Gereja, secara institusional, memiliki keterbatasan dan sekat-sekat dogmatis untuk masuk ke ruang publik. Di sinilah PIKI harus mengambil peran sejarahnya.
“Banyak pakar kita kualitasnya melampaui rata-rata, tapi tidak ada ruang distribusi bersama. PIKI ke depan akan menjadi rumah konsolidasi sekaligus distribusi bagi intelektual Kristen, mendudukkan mereka di ruang-ruang pengabdian yang tepat di tengah masyarakat, bangsa, dan negara,” tegasnya.
Markas Salemba dan Janji Satu Periode
Hal yang tak kalah menarik dari deklarasi ini adalah bagaimana pasangan BMW-PS secara elegan dan gentleman menjawab keresahan serta tantangan yang sebelumnya dilontarkan oleh Panitia Kongres VII PIKI.
Publik tentu ingat, beberapa waktu lalu Ketua Panitia menegaskan perlunya organisasi memiliki “markas permanen” dan menolak keras praktik politik uang.
BMW menjawabnya dengan komitmen yang menghentak. Pertama, untuk mengurai benang kusut birokrasi, DPP tidak akan lagi memonopoli urusan Surat Keputusan (SK) untuk DPC, melainkan menyerahkan tanggung jawab itu sepenuhnya kepada DPD.
Ia juga menjamin PIKI tidak akan mengenal diskriminasi faksi (GMKI/non-GMKI) maupun aras gereja. Semuanya akan dirangkul dalam semangat egaliter.
Kedua, menjawab tantangan markas permanen, Michael dan Penrad sepakat untuk memulangkan PIKI ke “titik nol” pergerakannya.
“Ke depan, sekretariat PIKI kita jadikan satu dengan Graha Oikumene di Salemba 10 ini. Kenapa? Agar lebih mudah berkomunikasi, berkoordinasi, dan bersinergi dengan PGI serta lembaga-lembaga keumatan lainnya. Inilah asal rumah PIKI,” tegas Michael.
Ketiga, yang menjadi klimaks dari deklarasi sore itu, Dr. Michael Wattimena mengikrarkan janji moral terkait batasan kekuasaan di hadapan publik.
“Ini menjadi aksentuasi bagi kita semua. Kalau kelak dipercayakan oleh Forum Kongres Ke-7, maka Michael Wattimena hanya akan memimpin PIKI satu periode saja! Sisa periode seterusnya, biarlah kita beranjangsana menikmati alam. Jangan kita jadi ‘kakek-kakek’ di organisasi. Regenerasi harus terus berjalan,” ikrarnya, yang sontak disambut gemuruh tepuk tangan kebanggaan dari para hadirin.
Liturgi Pergerakan Menuju Kongres VII
Deklarasi duet BMW-PS pada akhirnya membuktikan bahwa Kongres VII PIKI bukan sekadar ajang sirkulasi elit kelas menengah Kristen. Ini adalah momentum pertaruhan gagasan.
Perpaduan antara ketajaman insting birokratis-nasionalis dari seorang Michael Wattimena, dengan kedalaman refleksi historis-teologis dari Pdt. Penrad Siagian, melahirkan sebuah oase harapan baru bagi kebangkitan kaum inteligensia.
Seperti untaian doa penutup yang dipanjatkan Pdt. Penrad, “Niat baik dan tulus, pasti Tuhan perkenankan.”
Kini, bola sejarah berada di tangan para pemegang hak suara. Akankah visi luhur untuk mengembalikan PIKI ke fitrahnya ini mendapatkan mandat dari arena Kongres VII pada akhir April nanti? Waktu yang akan menjawab.
Namun satu hal yang pasti, seperti sabda dalam Kitab Amsal, masa depan bangsa ini sungguh ada, dan harapan itu tak akan lekang selama kaum inteligensia Kristen masih bersedia turun gelanggang, memeras keringat pemikiran, bertanding dengan elegan, dan pada akhirnya bersanding demi kejayaan ibu pertiwi.(TIM)

