BNPB: Lebih dari 1200 Bencana Terjadi Hingga 7 Mei 2020, Berikut Dampak dan Korbannya

"Korban luka-luka sebanyak 235 orang, mengungsi 8, mengungsi 1,97 juta. Kerusakan berupa rumah mencapai 17.105 unit, sedangkan infrastruktur lain seperti fasilitas pendidikan 327 unit, peribadatan 394, kesehatan 32, perkantoran 58 dan jembatan 172 unit,"

JAKARTA CHANNEL TV || Silaturahmi DR John Palinggi berbagi Untuk Staf Karyawan PP Muhammadiyah, Dr H Abdul Mu`ti: “Ini Simbol Kebersamaan”

Silaturahmi DR John Palinggi berbagi Untuk Staf Karyawan PP Muhammadiyah, Dr H Abdul Mu`ti: “Ini Simbol Kebersamaan”
BNPB: Lebih dari 1200 Bencana Terjadi Hingga 7 Mei 2020, Berikut Dampak dan Korbannya

IndonesiaVoice.com | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 1200 bencana terjadi sejak awal tahun hingga awal Mei 2020. Kejadian bencana masih didominasi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung. Data BNPB per hari ini, Jumat (8/5) menyebutkan 172 orang meninggal akibat bencana yang terjadi.

BNPB mengidentifikasi bahwa lebih dari 99 persen kejadian bencana merupakan bencana hidrometeorologi.

Baca Juga: Gempa M 7,3 Guncang Maluku Tenggara Barat, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

“Bencana yang paling dominan yaitu banir dengan jumlah kejadian 457 kali, puting beliung 359, tanah longsor 275 dan gelombang pasang atau abrasi 2,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati dalam siaran persnya di Jakarta (8/5).


Di samping itu, lanjut Raditya Jati, kategori bencana hidrometeorologi lain yang jumlahnya tinggi yaitu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 119 kali. Total kejadian bencana berjumlah 1221.

Bencana lainnya, BNPB mencatat seperti letusan gunung api tiga kali dan gempa bumi lima kali. Jumlah kejadian bencana ini di luar bencana nonalam, yaitu pandemi COVID-19.

Baca Juga: Sebanyak 105 Keluarga di Jakarta Terendam Banjir Ditengah Pandemi Covid-19

Sementara itu, kata Raditya, sejumlah bencana ini mengakibatkan dampak korban jiwa dan kerusakan.


“Korban luka-luka sebanyak 235 orang, mengungsi 8, mengungsi 1,97 juta. Kerusakan berupa rumah mencapai 17.105 unit, sedangkan infrastruktur lain seperti fasilitas pendidikan 327 unit, peribadatan 394, kesehatan 32, perkantoran 58 dan jembatan 172 unit,” urai dia.

“Bencana banjir merupakan kejadian yang paling banyak memakan korban meninggal dunia, dengan jumlah 120 orang, sedangkan tanah longsor 46 dan puting beliung 5. Banjir juga menyebabkan sebagian besar warga harus mengungsi, dengan jumlah 1.951.412 orang,” tambah dia.

Baca Juga: Waspada DBD Saat Pandemi COVID-19, Tercatat 39876 Kasus DBD

Memasuki bulan kelima ini, ujar Raditya, musim kemarau termonitor di sebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun bencana banjir dan longsor masih terjadi. Terakhir seperti banjir di enam desa di wilayah Banda Aceh pada hari ini.


BMKG melaporkan bahwa puncak musim kemarau pada Agustus 2020. Diprakirakan kondisi hujan normal pada musim kemarau, sedangkan selama kemarau perlu mendapatkan perhatian terhadap potensi karhutla dan kekeringan.

Baca Juga: Mensos Juliari Batubara: Dana Stimulus Rp 405 T untuk Penanganan Covid-19 Tanda Bukti Negara Hadir

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin mengatakan bahwa daerah rawan karhutla di Pulau Sumatera, seperti Riau, Jambi dan Sumatera Selatan. Berdasarkan analisis BMKG, wilayah tersebut diprakirakan akan mendapatkan curah hujan menengah sampai rendah pada bulan Juni – September 2020.


Daerah rawan karhutla di Pulau Kalimantan meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Wilayah-wilayau ini akan mendapatkan curah hujan menengah hingga rendah pada bulan Agustus dan September 2020.

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan