Jakarta, IndonesiaVoice.com – Panggung Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu bukan sekadar seremoni politik biasa.
Ada getaran berbeda saat Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), berdiri di depan ribuan kader. Dengan nada tegas, ia menyatakan akan bekerja keras—bahkan menyebut kata “mati-matian”—untuk memenangkan partai berlambang bunga mawar tersebut.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Bagi para kader di daerah, ini adalah “beduk perang” yang menandai babak baru perjalanan politik mereka.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPW PSI Sumatera Utara, Sahat Martin Philip Sinurat, menangkap getaran itu sebagai pesan yang sangat jernih.
Menurutnya, instruksi Jokowi bukan hanya ditujukan untuk kader yang memegang kartu anggota, melainkan sebuah undangan terbuka bagi jutaan loyalis Jokowi yang selama ini masih “mencari arah” pasca-masa kepemimpinannya.
Dari Provinsi hingga ke Gang-gang Desa
Sahat, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Ideologi DPP PSI, menegaskan bahwa momentum ini tidak boleh dibiarkan menguap begitu saja.
Baca juga: Izin TPL Resmi Dicabut, YPDT Endus Sinyal “Operasi Ganti Jubah” Lewat Danantara
Baginya, deklarasi all out dari Jokowi adalah bahan bakar untuk menggerakkan mesin partai hingga ke pelosok terdalam.
“Bapak Jokowi telah mengarahkan agar PSI segera memperkuat struktur partai hingga ke tingkat kelurahan, desa, bahkan sampai ke lingkungan RW dan RT. Kami harus mengonsolidasikan barisan pendukung dan simpatisan yang tersebar di seluruh penjuru negeri,” ujar Sahat, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Strateginya jelas yakni blusukan. Gaya politik yang menjadi ciri khas Jokowi selama dua dekade terakhir kini diwajibkan bagi seluruh kader PSI.
Baca juga: Nyali Prabowo Diuji, Berani Seret Bos TPL ke Penjara atau Hanya Berhenti di Penutupan?
Sahat menekankan bahwa tidak ada lagi ruang bagi kader yang hanya duduk manis di kantor partai.
“Bapak Jokowi akan bergerak dari provinsi ke provinsi, kota ke kota, hingga kecamatan. Kalau panutan dan figur utama kita sudah all out, maka tidak ada pilihan lain bagi kami selain bekerja lebih keras. Tidak ada ruang bagi kader yang pasif,” tegasnya.
Politik Kebaikan
Namun, kemenangan yang dikejar bukan sekadar angka di atas kertas. Sahat mengingatkan pesan Jokowi tentang “politik kebaikan”.
Di tengah polarisasi dan kebisingan informasi, PSI ingin memposisikan diri sebagai antitesis dari politik kotor.
Baca juga: Itamari Lase Tolak Pilkada Lewat DPRD, Dinilai Kebiri Kedaulatan Rakyat
“Masyarakat memerlukan partai yang baik. Politik santun, politik yang berpihak pada rakyat, dan politik solidaritas. Itulah napas yang diminta Bapak Jokowi untuk terus ditiupkan oleh kader PSI,” tambah Sahat.
PSI Sebagai ‘Benteng’ Terakhir
Satu hal yang paling menarik dari pernyataan Sahat adalah penegasan posisi PSI sebagai “Rumah Politik” bagi Jokowi.
Dengan memilih PSI sebagai satu-satunya wadah untuk meneruskan visi pembangunan Indonesia Sentris, Jokowi seolah memberikan mandat moral kepada partai ini.
Baca juga: Resmi, Kaesang Pangarep Tunjuk Sahat Sinurat Jadi Plt Ketua PSI Sumatera Utara
Hal ini membawa konsekuensi besar. PSI kini bukan hanya peserta pemilu, melainkan penjaga warisan politik sang mantan presiden.
“Bapak Jokowi telah memilih PSI sebagai rumah politik beliau. Maka, tugas kami sebagai kader adalah pasang badan. Kami harus menjadi yang terdepan menjaga beliau dari fitnah, hoaks, dan serangan-serangan politik yang tidak berdasar,” pungkas Sahat dengan nada mantap.
