Jakarta, IndonesiaVoice.com – Sabtu pagi, 7 Februari 2026, kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan tampak sedikit berbeda.
Di antara riuh rendah warga Jakarta yang berolahraga, menyeruak sekelompok orang dengan semangat yang tak kalah membara.
Meski rambut sebagian dari mereka telah memutih, binar mata mereka tetap menyalakan api yang sama: api persaudaraan Ut Omnes Unum Sint.
Lebih dari 150 senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) berkumpul di bawah langit cerah.
Mereka tidak sekadar mencari keringat, melainkan sedang merayakan peziarahan panjang organisasi yang kini menyentuh usia 76 tahun.

Baca juga: Jokowi All Out, PSI Sumut: Sinyal Kuat Untuk Barisan Loyalis
Tajuknya sederhana namun bermakna dalam: Fun Walk Senior dan Anggota GMKI.
Tepat pukul 07.00 WIB, William Sabandar, Ketua Umum Pengurus Nasional Perkumpulan Senior (PNPS) GMKI periode 2025-2028, mengangkat bendera biru tinggi-tinggi.
Dengan sekali kibasan, langkah-langkah kaki lintas generasi itu mulai bergerak mengitari stadion bersejarah yang dibangun Presiden Soekarno untuk Asian Games 1962.
“Senang sekali banyak senior GMKI lintas generasi, dari berbagai cabang asal bisa berkumpul di sini,” ujar William dengan senyum lebar.
Didampingi Sekretaris Jenderal Jeirry Sumampouw, William menekankan momentum ini adalah upaya menguatkan kembali simpul-simpul persaudaraan yang mungkin sempat merenggang oleh jarak dan kesibukan.
Baca juga: Usung Misi 3K 2D dan 2P, William Sabandar Jadikan PNPS GMKI Rumah Besar; bagi Para Senior
Peziaraan ini bukan sekadar berjalan di atas aspal. Sesuai tema “Berubah! Temukan Kasih Allah! dalam Peziaraan!”, setiap langkah merupakan refleksi atas pengabdian yang telah diberikan para alumni bagi bangsa dan gereja.
Event Fun Walk ini merupakan bagian dari Program Bidang 3 PNPS (Komunikasi, Jaringan, dan Data Senior) dalam menguatkan Jaringan Internal Senior GMKI, sekaligus menjadi kegiatan perdana di masa pengurus baru PNPS yang mempertemukan para senior GMKI se-Jabodetabek.
“Kami berharap kegiatan perdana ini menjadi kegiatan rutin yang bisa memperkuat jaringan Senior GMKI se-Tanah Air,” kata Sonya Hellen Sinombor, Ketua Bidang 3.
Dari Zumba hingga Harmoni Gitar
Suasana semakin pecah saat para peserta mencapai garis finis dan disambut oleh hentakan musik Zumba dari instruktur Riska Manurung.
Tidak ada sekat antara senior angkatan 80-an dengan anggota aktif. Semua larut dalam gerak yang sama.
Baca juga: Pertemuan Raya Senior GMKI 2025 di Sorong, Dari Dialog ke Aksi Nyata Bagi Papua
Keakraban pun memuncak dalam sesi ramah tamah. Di bawah Gedung GBK, suara petikan gitar mengalun. Christina Hutabarat, Rekson Silaban, Lindan Tako hingga Sahala Lumban Gaol bergantian menyumbangkan suara.
Lagu-lagu lama yang dinyanyikan bersama seolah membawa mereka kembali ke masa-masa di “Student Center” puluhan tahun silam.
Robert Sitorus, Ketua Umum PP GMKI periode 1986-1988, tampak emosional melihat antusiasme ini.
“Kalau perlu tiap bulan kita bikin jalan sehat seperti ini,” cetusnya. Hal senada diungkapkan Wahyu A. Rini, dosen Pendidikan Kristen dan asesor BAN-PT yang juga Senior GMKI Surabaya angkatan 1983.
Baginya, acara ini adalah wadah merajut langkah pengabdian secara berkelanjutan demi menghadirkan damai sejahtera bagi Indonesia.
Misi Kesetaraan di Tangan
Namun, GMKI tetaplah GMKI—organisasi yang tak pernah lepas dari isu sosial. Di tengah tawa dan keringat, terselip misi penting.
Para peserta membagikan flyer unik berbentuk kipas kepada masyarakat di sekitar GBK.
Kipas tersebut bukan sembarang benda. Di dalamnya termaktub pesan kuat: “Demokrasi Belum Lengkap Tanpa Kesetaraan Gender”.
Lamtiar Simorangkir, Ketua Bidang Gender, Budaya, dan Inklusivitas PNPS GMKI, menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah musuh bersama yang harus dikikis habis.
“Kekerasan terhadap perempuan bukan bagian dari budaya kita. Demokrasi hanya bermakna jika seluruh warga dihormati martabatnya dan diberi ruang setara untuk bersuara,” tegas Lamtiar.
Masyarakat pun diajak melek literasi melalui video edukasi yang dapat diakses lewat barcode pada kipas tersebut. Sebuah cara kreatif mengawinkan tradisi organisasi dengan teknologi masa kini.
Kerja keras tim kerja yang dikoordinir oleh Agustinus Eko Raharjo alias Jojo, bersama Desi Datang, Robinson Simamora, Agustinus Eko Raharjo (akrab disapa Jojo) bersama anggota tim: Desi Datang, Robinson Simamora, Pahlawarni Girsang, Syamsuddin, Victor R. Ambarita, Omer Ritonga, dan David Sitorus, membuahkan hasil manis.
“Luar biasa semangat senior-senior GMKI untuk bertatap muka, sangat terlihat dari wajah-wajah ceria saat jalan sehat di GBK,” ujar Jojo.
Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh senior dari berbagai latar belakang, di antaranya para pemimpin Pengurus Pusat GMKI dan PNPS, seperti Robert Sitorus (Ketua Umum PP GMKI 1986-1988), Edward Tanari (Ketum PP GMKI 1996-1998), Rekson Silaban (Ketum PNPS 2012-2015, Aktivis Perburuhan), Sigit Triyono (Sekretaris Umum Lembaga Alkitab Indonesia)
Kesuksesan di Jakarta ternyata hanyalah pemantik. Di waktu yang hampir bersamaan, semangat serupa membara di Makassar dan Toraja.
Dies Natalis ke-76 ini menjadi bukti bahwa meski usia organisasi terus bertambah, jiwa para anggotanya tetap muda.
Mereka membuktikan bahwa menjadi senior bukan berarti berhenti bergerak, melainkan terus berjalan dalam peziarahan kasih untuk Indonesia yang lebih adil, setara, dan inklusif.
