Jakarta, IndonesiaVoice.com – Ada nada haru sekaligus kebanggaan yang tak bisa disembunyikan dari suara Effendi Napitupulu, SE, saat berdiri di hadapan pengurus Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Batak Center di Jakarta.
Pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa bagi pria yang kini menjabat sebagai Bupati Toba tersebut. Ini adalah momen pembuktian sebuah niat tulus yang pernah diucapkannya di ruangan yang sama, beberapa tahun silam.
Dalam acara Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toba dan Batak Center tentang pelestarian dan kemajuan nilai-nilai budaya Batak Toba, Effendi membuka sambutannya dengan sebuah kilas balik yang menyentuh hati.
“Saya senang bisa kembali bertemu dengan Amang Inang pengurus Batak Center,” ujar Effendi dengan hangat.
Ingatannya melayang ke tahun 2023. Saat itu, ia hadir bukan sebagai orang nomor satu di Toba, melainkan sebagai Ketua DPRD yang membawa secercah harapan dan rencana besar: memohon restu untuk maju dalam kontestasi pemilihan Bupati Toba.
Kini, sejarah mencatat takdirnya. Effendi kembali ke ‘rumah‘ Batak Center dengan mandat rakyat di pundaknya.
“Puji Tuhan, Tuhan menjawab seluruh doa-doa kita. Tuhan memberikan kesempatan kepada kami. Ada kebanggaan tersendiri bisa hadir kembali kemari, tetapi sudah sebagai Bupati Kabupaten Toba,” ungkapnya, disambut hangat oleh para hadirin.
Namun, bagi Effendi, jabatan hanyalah alat. Tujuan utamanya tetap sama: membawa Toba melompat lebih maju ke depan tanpa kehilangan akar budayanya.
Inilah yang mendasari urgensi penandatanganan MoU hari ini. Ia menyadari sepenuhnya bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam menjaga warisan leluhur di tengah gempuran modernisasi.
Baca juga: MoU Batak Center dan Pemkab Toba, Wujudkan Museum Batak Raya dan Lestarikan Budaya
Sinergi Memajukan Budaya dan Sejarah
Effendi memberikan apresiasi tinggi atas terbentuknya kepengurusan Batak Center di Kabupaten Toba yang selama beberapa bulan terakhir telah aktif berdiskusi dan menjalankan berbagai program kebudayaan.
MoU ini, menurutnya, adalah payung hukum yang krusial agar kolaborasi antara Pemkab Toba dan Batak Center—baik pusat maupun daerah—bisa berjalan lebih terstruktur dan berdampak nyata.
“Saya berharap ada kerjasama, ada MOU. Sehingga beberapa program-program yang memang tujuannya untuk memajukan nilai-nilai budaya dan sejarah itu kita bisa dibantu oleh teman-teman dari Batak Center,” tegas Effendi.
Sikap rendah hati Effendi juga terlihat saat menjelaskan alasan mengapa penandatanganan MoU dilaksanakan di Jakarta, bukan di tanah Toba.
Alih-alih menyulitkan para pengurus pusat untuk menempuh perjalanan jauh, ia memilih memboyong perwakilan pemerintah daerah ke ibukota.
“Hingga inilah momennya hari ini Amang Inang seluruhnya pengurus di Batak Center,” katanya, menunjukkan semangat “jemput bola” demi kepentingan daerah.
Baca juga: Cetak Sejarah di Ibu Kota, MoU Batak Center dan Pemkab Toba Jadi Langkah Awal Rumah Peradaban Batak
Visi Besar di Tengah Efisiensi
Di tengah keterbatasan anggaran dan situasi efisiensi keuangan negara, Effendi Napitupulu tetap memancarkan optimisme seorang pemimpin visioner.
Ia menegaskan bahwa Pemkab Toba mendukung penuh program-program kolaboratif, termasuk rencana pembangunan museum yang sedang didiskusikan dengan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT).
“Kita siap mendukung seluruh program yang nantinya bisa kita kerjasamakan,” ujarnya mantap.
Lebih dari sekadar budaya, visi Effendi mencakup kesejahteraan ekonomi melalui pariwisata yang unik dan iklim investasi yang sehat.
Ia menceritakan diskusinya dengan pengusaha nasional, Nurdin Tampubolon, mengenai rencana pembangunan objek wisata baru di Toba.
Tantangan yang diberikan Effendi sangat jelas: ciptakan sesuatu yang belum ada di Samosir atau Karo, agar wisatawan memiliki alasan kuat untuk berkunjung ke Toba.
Menutup sambutannya, Effendi menyampaikan rencana strategis untuk menggelar Toba Investment Forum tahun ini.
Belajar dari pengalaman masa lalu, ia menekankan pentingnya mengundang investor yang benar-benar serius dan berkomitmen, bukan sekadar seremonial tanpa tindak lanjut.
Penandatanganan MoU dengan Batak Center hari ini bukan sekadar coretan tinta di atas kertas.
Bagi Effendi Napitupulu, ini adalah langkah nyata seorang putra daerah yang kembali ke akarnya untuk merajut sinergi, memastikan bahwa kemajuan Toba di masa depan akan selalu berlandaskan pada kekayaan nilai budaya dan sejarah Batak Toba yang luhur.(Vic)
