BOGOR, IndonesiaVoice.com — Merespons tantangan zaman dan meredam fenomena ketidakpastian di era digital yang berdampak pada kehidupan jemaat, HKBP Ressort Kramat Jati menyelenggarakan Pembekalan Parhalado tahun 2026.
Kegiatan strategis ini berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis (19/2/2026) hingga Sabtu (21/2/2026), bertempat di Kinasih Resort & Conference, Bogor, Jawa Barat.
Diikuti oleh 81 peserta yang terdiri dari para pelayan tahbisan (sintua) dari gereja ressort HKBP Kramat Jati dan gereja pagaran HKBP Gedong, agenda ini mengusung tema Sentral “Sukarela dan Pengabdian Diri” yang berakar dari Surat 1 Petrus 5:2-3.
Adapun pemateri yang hadir, antara lain, Prof Dr Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App. Sc (Materi Psikologi: Asesmen dan Pemberdayaan Diri Dalam Pelayanan) dan Pdt. Prof. Binsar Jonathan Pakpahan, PhD (Materi Peluang, Tantangan, Strategi & Optimalisasi Pelayanan Di Era Digital).
Selain Pendeta Ressort HKBP Kramat Jati, Pdt. Dr. Martongo Sitinjak, hadir juga empat pendeta fungsional yakni Pdt Filemon F Sigalingging, STh, Pdt Eben Sihardo Simanjuntak MTh, Pdt Parningotan Siahaan dan Pdt Pontius Ch Siregar MDiv.
Baca juga: Srikandi Keamanan Global, Prof. Angel Damayanti Resmi Pimpin UKI 2026-2030

Pembekalan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan sebuah langkah krusial untuk merevitalisasi panggilan pelayanan para sintua sebagai ujung tombak gereja di tengah dinamika masyarakat perkotaan.
Mempersiapkan “Bohal” di Tengah Arus Ketidakpastian Zaman
Pendeta Ressort HKBP Kramat Jati, Pdt. Dr. Martongo Sitinjak, dalam pemaparannya menegaskan bahwa pembekalan ini adalah momentum esensial untuk memperlengkapi para pelayan.
Ia menganalogikan kegiatan ini dengan konsep Bohal dalam tradisi masyarakat Batak.
“Kata pembekalan berasal dari kata ‘bekal’, dalam bahasa Batak disebut Bohal. Dahulu kala, bila seseorang hendak pergi menggembalakan domba atau kerbau dari pagi hingga malam, bahkan sampai beberapa hari di ladang, mereka diperlengkapi dengan bekal berupa makanan dan minuman agar pekerjaannya bisa dilakukan dengan baik,” jelas Pdt. Martongo.
Dalam konteks pelayanan modern, Pdt. Martongo menyoroti tiga Bohal (bekal) utama yang disuntikkan kepada para parhalado selama retret berlangsung.
Baca juga: Sambut Dies Natalis ke-76 GMKI, PNPS dan Senior GMKI Fun Walk di GBK
Pertama, pendekatan psikologi agar para pelayan mampu mengenali kekuatan, kelemahan, serta potensi karunia yang mereka miliki. Kedua, pemahaman komprehensif mengenai pelayanan di era digitalisasi. Ketiga, penyegaran ulang terhadap arti dan maksud tohonan (tahbisan) sintua di HKBP.
Urgensi ketiga bekal ini, menurut mantan Koordinator Departemen Koinonia HKBP tersebut, sangat beralasan.
Ia mengamati bahwa masyarakat saat ini tengah terjebak dalam arus zaman ketidakpastian yang melahirkan budaya cemas, ragu, dan bimbang.
“Era digital ini mengubah budaya, kebiasaan, mindset, dan peradaban. Ketidakpastian melahirkan budaya cemas. Bekerja serba tidak pasti, yang punya usaha sendiri juga cemas, apalagi yang tidak bekerja. Budaya cemas ini mempengaruhi seluruh arus kehidupan, termasuk gereja,” tegas Pdt. Martongo.
Oleh karena itu, gereja dinilai sangat memerlukan sosok-sosok pelayan yang berdiri teguh. Pembekalan ini dirancang untuk melepaskan lapisan-lapisan kecemasan tersebut agar para sintua bangkit dan menyadari kekuatan Ilahi di dalam dirinya, sehingga berani mengatakan “I can do it” dalam menunaikan pelayanannya.
Baca juga: Dari Indorayon ke TPL, Kini ke Danantara: Akankah Negara Jadi Aktor Baru Perusakan Danau Toba?
“Pelayanan gereja ini tidak sama dengan pekerjaan sekuler. Ini bukan profesi, melainkan panggilan Ilahi. Jika pelayan mengenal diri, mengenal dunianya, dan mengetahui panggilannya, mereka yang akan merumuskan sendiri arah perkembangan gereja, bergumul bersama, dan mengeksekusinya tanpa harus selalu didikte,” tambahnya.
TOTAMA, Slogan Pemersatu dan “Restart” Pelayanan
Untuk menerjemahkan visi besar tersebut ke dalam langkah taktis, HKBP Kramat Jati merumuskan sebuah slogan pelayanan yang kuat dan mudah diingat, yakni TOTAMA, singkatan dari Topot (Kunjungi), Tangihon (Dengarkan), dan Tangianghonma (Doakan).
Ketua Pembelian Lahan HKBP Kramat Jati, St. H.D. Sirait, menilai kehadiran program pembekalan dan slogan TOTAMA ini sangat krusial, ibarat proses “turun mesin” bagi para pelayan Tuhan.
Ia menuturkan bahwa rutinitas yang panjang sering kali membuat semangat melayani menjadi tumpul.
“Sebagai sintua, pembekalan ini sangat kita butuhkan untuk me-restart ulang diri kita. Kalau bertahun-tahun tidak di-restart, pelayanan bisa melemah, kasarnya bisa jadi agak malas. Melalui pembekalan ini, ibaratnya kita mulai lagi dari nol, masuk gigi satu, lalu gigi dua, agar ke depan kita bisa ‘gas’ lagi di gigi tiga dan empat,” ujar St. H.D. Sirait dengan analogi yang lugas.
Baca juga: Izin TPL Resmi Dicabut, YPDT Endus Sinyal “Operasi Ganti Jubah” Lewat Danantara
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penjabaran TOTAMA menuntut komitmen total. “Topot berarti semua jemaat harus kita kunjungi, baik yang baru, yang sakit, maupun yang berduka. Waktu, tenaga, pikiran, dan materi harus ikhlas diberikan. Ketujuh tohonan sintua yang mungkin banyak yang terlupa karena terbiasa dengan rutinitas, kini diingatkan kembali untuk segera dilaksanakan secara konkret,” paparnya.
Sinergi Kesehatian Melayani 20 Wijk
Nuansa kebersamaan dan kesehatian (hasadaon) juga menjadi sorotan utama dalam kegiatan yang dikemas secara dinamis ini.
Ketua Majelis Perbendaharaan & Administrasi (MPA) HKBP Kramat Jati, St. L. Simangunsong, mengapresiasi soliditas yang terbangun sejak hari pertama keberangkatan.
“Kita sangat bersyukur bisa mengikuti pembekalan ini. HKBP Kramat Jati sebagai ressort memiliki gereja pagaran, yakni HKBP Gedong. Kebersamaan dan kekompakan ini yang kita rasakan sejak keberangkatan. Kita melayani secara sukarela dan membantu tugas pendeta,” ucap St. L. Simangunsong.
Ia menambahkan, luasnya cakupan pelayanan yang terbagi ke dalam 20 wijk (sektor) menuntut para sintua untuk benar-benar peka terhadap kondisi lapangan.
Baca juga: Dr. Badikenita Sitepu: Cendekiawan Harus Jadi Mitra Kritis Pemerintah dalam Isu Lingkungan
“Tugas kami adalah terjun langsung ke lapangan, mengamati jemaat di wilayah masing-masing. Pembekalan ini mengingatkan kembali bahwa kamilah ujung tombak yang harus mengetahui bagaimana keadaan dan kehadiran jemaat ke gereja,” terangnya.
Dedikasi Panitia demi Ujung Tombak Gereja
Kesuksesan penyelenggaraan Pembekalan Parhalado 2026 ini tentu tidak lepas dari kerja keras panitia pelaksana. Mewakili panitia, Septa Patrianando Sirait menyatakan bahwa persiapan intensif telah dilakukan selama kurang lebih satu bulan.
“Secara konten, tujuan pembekalan kali ini jauh lebih jelas dari event-event sebelumnya. Pimpinan gereja kita sangat gamblang menjelaskan arah visi misinya. Kami panitia menyadari sepenuhnya arahan dari Amang Uluan (Pendeta Ressort) bahwa sintua-sintua wijk ini adalah ujung tombak jemaat. Itulah yang membuat kami sadar, terbuka, dan sangat bersemangat mengerjakannya,” jelas Septa.
Meski membutuhkan pendanaan yang cukup besar, Septa memastikan bahwa dukungan gotong royong dari berbagai pihak, termasuk partisipasi aktif dari para peserta, membuat seluruh kendala dapat teratasi dengan baik.
“Kami bekerja dengan dinamis. Walaupun memakan biaya yang cukup besar, kami yakin kegiatan ini sama sekali tidak sia-sia demi pelayanan,” pungkasnya.
Baca juga: Nyali Prabowo Diuji, Berani Seret Bos TPL ke Penjara atau Hanya Berhenti di Penutupan?
Pembekalan ini diawali dengan kedisiplinan tinggi; pada hari pertama para peserta pria diwajibkan mengenakan kemeja putih berdasi dan wanita mengenakan blus berpita kecil.
Puncaknya, pada ibadah penutup yang dipimpin oleh Pdt. Basa Rohana Hutabarat, MTh, dan evaluasi di hari ketiga, Sabtu (21/2/2026), seluruh peserta diwajibkan mengenakan jas rapi sebagai simbol kesiapan penuh yang telah dibarui.
Melalui penyegaran spiritual dan kapasitas ini, ke-81 parhalado HKBP Kramat Jati dan HKBP Gedong diharapkan kembali ke tengah jemaat bukan dengan tangan kosong, melainkan membawa Bohal yang utuh untuk menggembalakan kawanan domba Allah dengan sukarela, pengabdian diri, dan tanpa paksaan, demi kemuliaan nama Tuhan.
Usai pembekalan Parhalado, ada tiga goal program besar di HKBP Kramat Jati menanti, yaitu Jambore Sekolah Minggu, Gondang Naposo dan Festival Musik.
(Red)
