Jakarta, IndonesiaVoice.com – Temaram cahaya lampion merah mulai menghiasi sudut-sudut kota, membawa kehangatan yang menandakan pergantian musim dan tahun.
Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 dan Cap Go Meh di tahun 2026, nuansa perayaan tidak hanya sekadar semarak visual, melainkan juga sebuah momentum refleksi spiritual dan sosial.
Di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks, esensi perayaan ini menemukan relevansinya yang paling dalam: merawat harmoni.
Hal ini sejalan dengan visi “Asta Cita” yang digagas oleh Presiden RI, Prabowo Subianto, yang secara tegas menempatkan kerukunan sosial dan persatuan nasional sebagai jangkar kekuatan utama bangsa.
Untuk menyelami lebih dalam makna Imlek dalam konteks kebangsaan, kerukunan, dan kehidupan, Indonesia Voice berkesempatan mewawancarai sosok yang tak asing lagi dalam kancah interaksi sosial dan bisnis di Indonesia.
Beliau adalah Dr. John N. Palinggi, MM, MBA, Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), seorang tokoh yang telah puluhan tahun mendedikasikan dirinya untuk merajut toleransi antarumat beragama sekaligus seorang pengusaha sukses yang kenyang akan asam garam kehidupan.
Melalui perbincangan yang hangat dan mendalam, Dr. John membagikan pandangannya yang komprehensif—mulai dari akar sejarah Imlek, rahasia bertahan dalam dunia bisnis selama 45 tahun, hingga kenangan berdirinya BISMA bersama mendiang Nurcholish Madjid di era transisi demokrasi.
Harmoni Keluarga, Fondasi Kekuatan Bangsa
Bagi Dr. John, perayaan Tahun Baru Imlek pada hakikatnya adalah miniatur dari gagasan besar tentang persatuan nasional.
“Jika diselaraskan dengan harapan Bapak Presiden Prabowo untuk menciptakan kerukunan antar anak bangsa, maka esensi Imlek itu sendiri sangatlah relevan. Di dalam Imlek, yang utama adalah kerukunan di dalam keluarga,” ujar Dr. John membuka perbincangan.
Menurutnya, keluarga adalah sel terkecil dari sebuah negara. Mempererat ikatan keluarga adalah prasyarat mutlak sebelum seseorang melangkah keluar untuk membangun masyarakat atau menjalankan usaha.
Imlek, yang perhitungannya didasarkan pada siklus lunar (perputaran bulan), memberikan jeda waktu bagi manusia-manusia modern yang sibuk untuk kembali ke akar mereka.
Ada tiga pilar utama dalam tradisi Imlek yang dijabarkan oleh Dr. John:
- Penghormatan kepada Leluhur: Ini adalah nilai yang sangat mendasar. Menghormati leluhur berarti mengenang jasa-jasa mereka yang telah mendahului kita. “Itulah sebabnya masyarakat Tionghoa selalu menyediakan tempat untuk menghormati leluhurnya, sekalipun mereka sudah tiada di bumi,” jelasnya.
2. Kebersamaan Keluarga: Imlek adalah waktu yang sakral untuk berkumpul. Kesibukan duniawi dikesampingkan sejenak demi merajut kembali tali persaudaraan yang mungkin merenggang karena jarak dan waktu.
3. Doa dan Harapan: Ini adalah momen untuk memanjatkan doa, memohon agar Tahun Kuda Api membawa kesejahteraan, kedamaian, dan keberuntungan bagi semua makhluk.
Menyapa seluruh masyarakat Tionghoa di Indonesia, Dr. John dengan senyum hangatnya menyampaikan pesan pembuka yang sarat makna, “Xin Nian Kuai Le!! Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga selalu memperoleh keberuntungan, segala hal berjalan sesuai keinginan, dan ‘Sentijangkan’—semoga selalu sehat walafiat.”
Menggali Akar Sejarah
Banyak yang merayakan Imlek tanpa menyadari betapa panjang dan kayanya sejarah di balik tradisi ini.
Dr. John yang memiliki wawasan luas, mengajak kita mundur ribuan tahun ke belakang, menembus lorong waktu menuju era Dinasti Shang (sekitar 1600–1046 Sebelum Masehi).
Pada masa itu, upacara akhir tahun sudah rutin dilaksanakan untuk menghormati dewa dan leluhur.
“Tujuan utamanya adalah manifestasi rasa syukur atas panen yang telah lalu, sekaligus memohon keberuntungan untuk panen di tahun yang berjalan,” paparnya.
Sejarah Imlek juga tak lepas dari kekayaan mitologi, salah satunya adalah legenda Monster Nian.
Konon, Nian adalah monster laut berkepala singa yang muncul setiap akhir tahun untuk memangsa hasil panen, ternak, dan bahkan manusia.
Ketakutan masyarakat kala itu akhirnya terjawab ketika mereka menemukan tiga kelemahan utama sang monster.
- Takut pada Warna Merah: Inilah alasan mengapa perayaan Imlek selalu didominasi oleh dekorasi berwarna merah menyala.
- Takut pada Suara Keras: Untuk mengusir Nian agar lari terbirit-birit, masyarakat membakar petasan (mercun).
- Takut pada Cahaya Terang: Lampion-lampion dinyalakan di setiap sudut rumah untuk menerangi malam dan menjaga keselamatan keluarga.
Penetapan kalender Imlek secara resmi baru dilakukan pada masa Dinasti Han (sekitar tahun 202 SM – 220 M) oleh Kaisar Wu, yang mematenkan penggunaan kalender lunar.
Namun, di balik semua sejarah dan legenda itu, Dr. John menekankan satu pesan inti yang tak boleh dilupakan.
“Inti dari sejarah Imlek adalah momentum untuk meninggalkan yang lama—kebiasaan buruk, kecurangan, sifat menipu—dan menyambut lembaran baru dengan tekad untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” tegasnya.
Filosofi Bisnis Sang Suhu, Rahasia Bertahan 45 Tahun
Di luar kapasitasnya sebagai tokoh kerukunan, Dr. John N. Palinggi dikenal luas sebagai seorang pengusaha tangguh yang telah malang melintang di dunia bisnis selama 45 tahun.
Kesuksesannya bukanlah kebetulan, melainkan hasil tempaan dari “Sang Suhu”, seorang pengusaha besar (Laopan) yang menjadi mentornya di masa lalu.
Dengan mata berbinar, Dr. John membagikan falsafah bisnis yang diajarkan kepadanya setiap pukul empat sore di masa-masa awal kariernya:
1. “Seribu Teman Masih Kurang, Satu Musuh Terlampau Banyak”
Prinsip ini sangat relevan dengan visi kerukunan nasional. Dalam dunia dagang, membangun jaringan (networking) adalah segalanya.
“Kalau kita punya banyak saudara dan kita terjatuh di pinggir jalan, pasti ada yang menolong. Tolong-menolong, bantu-membantu, dukung-mendukung adalah inti dari jaringan bisnis,” kata Dr. John.
2. Minum Air Harus Tahu Sumbernya (Balas Budi)
Kesetiaan dan rasa terima kasih adalah mata uang yang tak ternilai harganya.
“Jangan mengotori sumber airmu. Orang yang pernah membantu kita maju, jangan pernah disakiti. Harus dihormati. Pandai-pandailah berterima kasih. Hilangkan perasaan buruk, timbulkan kebaikan,” nasihatnya.
3. Mau Ikan Besar, Umpannya Harus Besar
Banyak yang salah kaprah mengartikan ini sebagai uang pelicin atau sogokan. Padahal, maknanya adalah tentang keunggulan individual dan kerja keras.
“Kalau mau rezeki besar tapi masuk kantor jam 10 pagi dan pulang jam 2 siang, jangan harap! Saya sampai hari ini masih masuk jam 4 atau 5 subuh dan pulang sore. Saya tidak merasa lelah karena hati saya terpelihara. Saya tidak berpikir jahat atau ingin mencuri. Dari hati yang bersih, terpancar kehidupan,” ungkapnya penuh semangat.
4. Siao Cen Pucut, Ta Cen Pulai (Tidak Keluar Uang Kecil, Tidak Masuk Uang Besar)
Dalam bisnis, tidak ada yang instan atau gratis. Kesuksesan membutuhkan investasi, baik berupa modal, tenaga, maupun penyelesaian masalah secara bersama-sama (sharing).
Menjadi backing yang hanya menunggu uang datang tanpa kerja nyata bukanlah mentalitas pengusaha sejati.
5. Saling Terbuka, Menghormati, dan Menguntungkan
Dr. John mengkritik keras pengusaha yang hanya menerapkan “terbuka dan menghormati” namun melupakan unsur “menguntungkan bersama“.
Baginya, jika sudah sepakat berkolaborasi, ibarat naik satu perahu, tidak boleh ada yang membocorkan perahu tersebut dari dalam.
“Jika mitra kita punya kelemahan, selesaikan di dalam, jangan disiarkan ke luar. Bahkan jika kita bermusuhan, saat tujuan kita sama dan perahu hanya satu, lepaskan permusuhan itu. Biasanya, setelah makan bersama sambil minum kopi, orang Tionghoa bisa menyelesaikan konflik apa pun,” jelasnya sambil senyum kecil.
Semua prinsip ini dibingkai oleh satu kata kunci: Kepercayaan (Trust). Pengusaha Tionghoa membangun jaringan di atas fondasi kepercayaan yang solid.
Sekali berbuat tidak jujur, reputasi akan hancur dan tidak ada harapan lagi untuk bangkit. Ditambah dengan prinsip Never Give Up (pantang menyerah), mentalitas inilah yang membuat mereka tidak akan berhenti sebelum mencapai target.
BISMA dan Cak Nur
Perbincangan mengalir menuju momen bersejarah di tahun 2000-an. Masa itu adalah era transisi demokrasi yang sangat krusial bagi pengakuan identitas masyarakat Tionghoa di Indonesia. Selama puluhan tahun sebelumnya, perayaan Imlek dilarang dilakukan di ruang publik.
Angin segar datang di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mencabut larangan tersebut, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dengan menjadikan Imlek sebagai Hari Libur Nasional pada 2003.
Tepat pada tahun 2000, di tengah euforia reformasi dan tantangan polarisasi sosial, berdirilah Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA). Dr. John mengenang peran sentral mendiang Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur), seorang cendekiawan Muslim yang sangat ia hormati.
“Saat itu Bapak Nurcholish Madjid mengumpulkan wakil dari lima agama yang diakui. Kami rapat bersama perwakilan Majelis Ulama, PGI, Parisada Hindu Dharma, dan lainnya. Disepakatilah pembentukan BISMA, wadah kerukunan beragama Indonesia,” kenang Dr. John.
Pemilihan nama “Badan Interaksi Sosial Masyarakat” (bukan menggunakan kata ‘agama’) adalah strategi brilian dari Cak Nur agar forum ini tidak mencampuri urusan akidah atau teologi masing-masing agama.
“Tujuannya agar tidak saling membahas masalah akidah dan kitab suci. Ini murni untuk mendekatkan manusia beragama dalam kerukunan sosial guna membangun bangsa. Saat itu Cak Nur menjadi Ketua Umum pertama, dan saya menjabat sebagai Sekjen. Beliau adalah cendekiawan luar biasa yang tulus ingin membangun negara ini dengan damai,” ujar Dr. John dengan nada terharu.
Benang Merah Ajaran Kasih Semua Agama
Bagi Dr. John, menjembatani dialog antar-iman sebenarnya sangat sederhana jika kita kembali ke inti ajaran masing-masing agama.
“Semua agama mengajarkan persaudaraan dan kebaikan. Tidak ada yang mengajarkan keburukan.”
Ia memaparkan benang merah yang indah dari berbagai keyakinan di Indonesia:
- Islam: Mengajarkan Hablum Minallah (hubungan dengan Allah) dan Hablum Minannas (hubungan antar manusia), yang melahirkan persaudaraan sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiyah), sesama anak bangsa (Ukhuwah Wathaniyah), dan sesama umat manusia (Ukhuwah Insaniyah).
- Kristen & Katolik: Hukum kasih yang utama adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Bukan hanya mengasihi sesama jemaat gereja saja.
- Hindu: Memiliki filosofi Vasudhaiva Kutumbakam (Seluruh dunia adalah satu keluarga). Semua bersaudara karena menghirup udara yang sama dan hidup di bumi yang sama.
- Buddha: Tujuan mencapai penerangan sempurna adalah agar memiliki cinta kasih universal untuk menolong semua makhluk hidup, terutama mereka yang menderita.
- Konghucu: Mengajarkan bahwa di empat penjuru lautan, semua manusia adalah saudara.
“Oleh karena itu, sudahilah saling menghina. Kitab suci agama apa pun sudah sakral bagi pemeluknya, jangan dijadikan bahan perdebatan publik atau televisi karena itu benih perpecahan. Mari kita bangun persaudaraan,” pesan Dr. John dengan tegas.
Harapan di Tahun Kuda Api 2026
Di akhir wawancara, ketika ditanya mengenai harapan khususnya untuk Imlek 2577 dan Cap Go Meh 2026, Dr. John menititikberatkan pada konsep kerukunan yang holistik: kerukunan internal umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan dengan pemerintah.
“Pemerintah adalah pemegang otoritas yang menjaga aturan bangsa. Perjalanan pemerintah saat ini dalam membina kerukunan sudah sangat bagus. Jika ada kekurangan di sana-sini, itu dinamika biasa dari kelalaian manusia,” pandangnya secara objektif.
Pesannya untuk masyarakat Tionghoa di Indonesia maupun diaspora di luar negeri sangatlah jelas: Jadilah agen perubahan yang positif bagi lingkungan sekitar.
“Tetaplah berperan aktif dalam pembangunan nasional. Dukung Bapak Presiden, Bapak Wakil Presiden, dan seluruh program pemerintah yang pro-rakyat. Hindari perbuatan yang bisa menyengsarakan orang lain. Ingat kembali tujuan utama Imlek: Tinggalkan hal-hal buruk dari masa lalu, dan lakukan kebaikan hari ini dan esok.”
Perayaan Imlek 2026 di bawah bayang-bayang Tahun Kuda Api sejatinya adalah simbol energi yang berkobar, kecepatan, dan ketangguhan.
Dengan memadukan energi ini bersama semangat gotong royong dan kerukunan, bangsa Indonesia diyakini mampu melesat maju melewati berbagai tantangan zaman.
Sebagai penutup perjumpaan yang sarat akan nilai kehidupan ini, Dr. John N. Palinggi melantunkan salam hangat nan penuh doa, sebuah berkat yang menggema tidak hanya untuk satu golongan, tetapi untuk kemanusiaan itu sendiri.
“Sekali lagi, semoga seluruh masyarakat dimanapun berada selalu sehat walafiat dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Gong Xi Fa Cai, Xin Nian Kuai Le, Wan Shi Ru Yi, Nian Nian You Yu!”
