Jakarta, IndonesiaVoice.com – Di bawah sorot lampu Auditorium Grha William Soerjadjaya yang megah, aroma bunga segar bercampur dengan ketegangan yang khidmat.
Jumat pagi, 13 Februari 2026, bukan sekadar hari pelantikan rektor biasa bagi Universitas Kristen Indonesia (UKI).
Saat langkah kaki Prof. Angel Damayanti, S.IP., M.Si., M.Sc., Ph.D., mantap menaiki podium. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak berdiri tahun 1953, UKI dipimpin oleh seorang perempuan.

Namun, menyebut Angel hanya sebagai “Rektor Perempuan Pertama” rasanya terlalu menyederhanakan sosok yang telah lama malang melintang di dunia intelijen dan keamanan global ini.
Di kalangan akademisi dan praktisi pertahanan, nama Angel Damayanti adalah jaminan ketajaman analisis.
Ia adalah sosok yang pernah duduk di kursi panas panelis Debat Capres 2024, menguliti visi-misi pertahanan negara di depan jutaan pasang mata.
Kini, ia membawa ketajaman itu kembali ke “rumah” tempat ia memulai segalanya.
Baca juga: Mengurai Jalan Keadilan Agraria, Orasi Ilmiah Prof. Dr. Aarce Tehupeiory di UKI
Dari Mahasiswi hingga Jadi Ibu di Rumah Sendiri
Perjalanan Angel adalah sebuah siklus yang purna. Ia memulai langkahnya di UKI sebagai mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional.
Lorong-lorong kampus Cawang yang kini ia pimpin adalah saksi bisu transformasinya dari seorang mahasiswi yang tekun menjadi dosen, dekan, hingga mencapai puncak tertinggi akademik sebagai Guru Besar.
“Kepemimpinan ini bukan sekadar kehormatan bagi saya pribadi,” ujar Prof. Angel dengan suara yang tenang namun berwibawa dalam pidato perdananya.
“Ini adalah panggilan pelayanan. Sesuai motto kita: Melayani, bukan dilayani.”
Di balik jubah akademiknya, Angel membawa portofolio yang menggetarkan. Ia adalah pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK/PTIK) dan Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).
Ia seringkali menjadi “teman diskusi” bagi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Intelijen Negara (BIN), hingga kementerian-kementerian strategis.
Pengalaman ini membentuk karakternya menjadi pemimpin yang tidak hanya teoretis, tetapi sangat pragmatis dan taktis.
Baca juga: Kisah Inspiratif Profesor Aarce Tehupeiory, Dari Saparua hingga Guru Besar Hukum Agraria
Menavigasi “UKI EMAS” di Tengah Badai Algoritma
Dunia pendidikan tinggi saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Kecerdasan Buatan (AI) bukan lagi sekadar tren, melainkan disrupsi yang mengubah cara manusia belajar dan bekerja.
Angel sangat menyadari hal ini. Ia tidak memandang teknologi sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang harus dikendalikan dengan integritas.
Ia memperkenalkan visi UKI EMAS—akronim dari Empowerment, Meaningful, Agile, dan Sustainable. Visi ini bukan sekadar jargon di atas kertas kerja.
“UKI tidak hanya mengejar peringkat, tetapi makna,” tegasnya.
Baginya, angka di tabel pemeringkatan nasional tidak akan berarti jika lulusan UKI tidak mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia memimpikan kampus yang agile (tangkas)—sebuah universitas yang bisa bergerak secepat algoritma media sosial namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Kristiani yang menjadi akarnya.
Salah satu poin menarik dari visinya adalah transformasi menuju eco-smart campus. Angel ingin UKI menjadi pelopor universitas yang berkelanjutan secara lingkungan sekaligus canggih secara digital.
Ia percaya bahwa kecanggihan teknologi harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap bumi.
Baca juga: Mengurai Benang Kusut Dugaan “Sertifikat Ghaib” di Jakarta Timur, 13 Tahun Perjuangan John Palinggi Melawan Tirani Birokrasi
Sosok di Balik Meja Perundingan
Bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya di forum diplomatik atau kementerian, Angel dikenal sebagai sosok yang mampu mencairkan suasana kaku dalam perundingan keamanan.
Kedekatannya dengan berbagai kedutaan besar—mulai dari Amerika Serikat, India, hingga Tiongkok—menunjukkan kapasitasnya sebagai diplomat intelektual.
Kemampuan “menjembatani” inilah yang diharapkan mampu membawa UKI melompat lebih jauh di panggung internasional.
Sebagai rektor, ia tidak hanya akan mengurus urusan internal, tetapi juga menjadi duta besar bagi UKI di dunia industri dan lembaga global.
Baca juga: Nyali Prabowo Diuji, Berani Seret Bos TPL ke Penjara atau Hanya Berhenti di Penutupan?
Harapan dan Estafet Kepemimpinan
Pelantikan yang dipimpin oleh Dr. David Maruhum Lumban Tobing selaku Ketua Pengurus Yayasan UKI ini menjadi simbol estafet kepemimpinan yang harmonis.
Ada rasa optimisme yang membuncah di wajah para dosen dan mahasiswa yang hadir. Bagi mahasiswi di UKI, sosok Angel adalah bukti nyata bahwa ruang untuk bertumbuh dan memimpin terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki kompetensi dan integritas.
Saat acara berakhir dan sesi ucapan selamat dimulai, Prof. Angel tampak menyalami satu per satu kolega dan mahasiswanya dengan senyum hangat. Tidak ada sekat formalitas yang kaku, mencerminkan sosok pemimpin yang inklusif.
Masa jabatan 2026–2030 akan menjadi periode krusial bagi UKI untuk membuktikan diri sebagai kampus yang unggul dan berkarakter.
Di tangan seorang ahli strategi keamanan dan pertahanan ini, Universitas Kristen Indonesia kini bersiap untuk tidak sekadar bertahan di tengah perubahan zaman, melainkan untuk memimpin perubahan itu sendiri.(Victor)
