JAKARTA, IndonesiaVoice.com — Ruang kebebasan berpendapat di Indonesia sedang berada di titik nadir.
Rangkaian teror terhadap kelompok kritis, puncaknya penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andri Yunus, memicu alarm bahaya.
Menghadapi desakan publik, Presiden Prabowo Subianto, melontarkan janji tegas: Tidak akan ada impunitas bagi aparat berseragam yang terbukti menjadi dalang teror.
Baca juga: Terjebak Janji Manis Resolusi PBB, Prabowo Akhirnya Tarik Rem Darurat Pasukan Perdamaian RI untuk Gaza
“Ini terorisme, tindakan biadab. Harus kita usut sampai ke siapa yang nyuruh, siapa yang bayar. Yang berseragam tidak akan dilindungi, tidak akan ada impunitas!” jamin Prabowo saat dicecar terkait menyempitnya ruang aman bagi pengkritik pemerintah.
Namun, di balik janji manis tersebut, Prabowo, dalam sesi dialog meja bundar bertajuk “Presiden Prabowo Menjawab”, yang dihadiri oleh sejumlah pakar, pemimpin redaksi, dan akademisi terkemuka di Hambalang, pada Selasa, (17/3/2026) hingga Rabu (18/3/2026) dini hari, membuat pengakuan mengejutkan tentang kondisi birokrasi pemerintahan saat ini.
Ia secara terbuka mengakui adanya deep state—faksi-faksi kuat tak kasat mata di dalam struktur pemerintahan yang kerap membangkang.
Baca juga: Ketua Harian BISMA Dr. John Palinggi Ungkap Makna Mendalam Nyepi Saka 1948: Momentum Purifikasi Diri
“Kita menemukan ada deep state, ada dirjen-dirjen yang berani ngelawan menteri. Ada lembaga-lembaga yang merasa untouchable (tidak tersentuh). Ini sedang saya bersihkan,” ungkapnya blak-blakan.
Pengakuan ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, menunjukkan iktikad Prabowo untuk bersih-bersih institusi negara.
Di sisi lain, ini membuktikan betapa kronisnya penyakit birokrasi di Indonesia, di mana perintah Presiden sekalipun bisa disabotase di tingkat eksekutor.
Baca juga: Siapa Dalang Teror Andrie Yunus? PGI Tuntut Investigasi Transparan Tanpa Intervensi
Publik kini menanti: Mampukah Presiden membuktikan janjinya menangkap aktor intelektual di balik teror aktivis, atau janji itu akan kembali menguap di lorong gelap ‘deep state‘?
