
IndonesiaVoice.com – Di tengah dinamika global yang tak menentu dan hiruk-pikuk transisi politik di tanah air, perayaan keagamaan sering kali menjadi oase sekaligus jangkar moral bagi masyarakat.
Bagi umat Kristiani, Paskah bukan sekadar rutinitas kalender liturgi, melainkan titik kulminasi dari iman—sebuah momen proklamasi kemenangan atas maut dan dosa.
Namun, bagaimana relevansi pesan ribuan tahun ini diimplementasikan dalam konteks keindonesiaan masa kini yang rentan terhadap resesi, polarisasi, dan misinformasi?
Menjawab kegelisahan tersebut, Dr. John Palinggi, Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA)—sebuah wadah kerukunan umat beragama yang menaungi Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu—memberikan refleksi mendalam.
Melalui kacamata spiritualitas yang inklusif, ia membedah makna Paskah tidak hanya sebagai ritus eksklusif, tetapi sebagai panggilan universal untuk pembaruan diri dan solidaritas sosial.
“Atas nama BISMA, saya menyampaikan kepada seluruh umat Kristiani, yang beragama Kristen dan beragama Katolik: Salam sejahtera, Shalom, dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Amin,” sapa Dr. John Palinggi, membuka perbincangan dengan aura persaudaraan yang kental.
Transformasi Diri, Mematikan “Manusia Lama”
Bagi Dr. John Palinggi, esensi terdalam dari Paskah adalah transisi—sebuah perpindahan radikal dari kegelapan menuju terang.
Paskah adalah lambang kemenangan yang menghadirkan pengharapan baru. Namun, pengharapan ini menuntut sebuah syarat mutlak: kesediaan untuk berubah.
“Perayaan Paskah itu adalah momen untuk mematikan manusia lama,” tegasnya.
Ia mendeskripsikan ‘manusia lama‘ sebagai representasi dari sifat-sifat destruktif yang kerap menggerogoti tatanan masyarakat.
“Manusia lama itu adalah orang yang selalu berbuat jahat, pikirannya kotor, selalu pesimis, suka memfitnah, dan merendahkan sesama manusia. Selalu bicara yang tidak pantas.”
Menurutnya, Paskah adalah momentum kesadaran (ikhtiar) untuk meninggalkan sifat buruk tersebut dan bangkit sebagai ‘manusia baru‘.
Sosok manusia baru ini didefinisikan melalui tindakan nyata: mengasihi sesama, menjauhkan diri dari pikiran jahat, serta secara tegas menolak pelanggaran hukum seperti korupsi atau merampas hak orang lain dan negara.
Lebih jauh, ia melihat benang merah pembaruan ini dalam berbagai tradisi agama lain di Indonesia.
Ia mencontohkan bagaimana umat Hindu melakukan Nyepi dengan berpuasa dan menghentikan aktivitas untuk membersihkan alam dan hati; umat Buddha yang bermeditasi meninggalkan kehidupan lama; serta umat Islam yang berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan untuk kembali kepada fitrah yang suci.
“Ini semua sama. Meninggalkan kehidupan lama yang sifatnya buruk menjadi manusia baru. Manusia baru artinya dia siap memelihara hatinya, karena dari sanalah kehidupan dipancarkan. Kalau manusia baru bertemu orang, pasti orang lain merasa bahagia,” jelasnya dengan lugas.
Baca juga: Ketua Harian BISMA Dr. John Palinggi Ungkap Makna Mendalam Nyepi Saka 1948: Momentum Purifikasi Diri
Solidaritas Sosial Lintas Iman Sebagai Wujud Nyata
Iman tanpa perbuatan adalah mati. Prinsip ini ditekankan dengan sangat kuat oleh Dr. John. Ia mengingatkan bahwa euforia Paskah tidak boleh berhenti di dalam tembok-tembok gereja. Cahaya iman Kristiani harus memancar keluar dalam bentuk kepedulian.
“Pasca mengajarkan kasih dan solidaritas. Jangan sesudah Paskah, umat Kristen dan Katolik tidak memiliki solidaritas dan kepedulian. Itu penting sekali sebagai wujud iman,” paparnya.
Ia mengkritik keras sikap hipokrit (munafik) di mana seseorang mengaku beriman namun menutup mata terhadap penderitaan sesama.
Solidaritas ini, tegasnya, harus menembus batas-batas primordial. Bantuan dan kasih sayang tidak boleh tebang pilih berdasarkan kesamaan agama, etnis, golongan, atau status ekonomi.
“Sia-sialah orang beriman kalau dia tidak peduli kepada kesengsaraan orang lain. Jangan melihat dia agama beda, suku beda, beda pendapatan apalagi. Jangan. Itu adalah kebencian bagi Tuhan,” ujarnya mengingatkan.
“Implementasi kebahagiaan dan sukacita menjadi manusia baru adalah bagaimana kita berhubungan, membangun persaudaraan dengan semua orang.”
Memaknai Kerendahan Hati Melalui Pekan Suci
Untuk memahami kebangkitan, umat Kristiani terlebih dahulu menelusuri jalan kesengsaraan melalui rangkaian Pekan Suci.
Dr. John merincikan urutan historis dan teologis ini sebagai cermin bagi kepemimpinan masa kini.
Dimulai dari Minggu Palma yang memperingati masuknya Yesus ke Yerusalem dengan penuh kerendahan hati—menunggangi seekor keledai alih-alih kuda perang, meski disambut sebagai raja.
Rangkaian ini berlanjut pada Kamis Putih, momen perjamuan terakhir yang menyimpan pesan moral yang sangat relevan bagi para pemegang kekuasaan saat ini.
“Pada Kamis Putih, Yesus membasuh kaki para muridnya,” kenangnya. Dr. John kemudian menarik analogi tajam dengan kondisi sosial-politik kontemporer.
“Banyak orang di hidupnya, kalau sudah dapat jabatan, itu tinggi sekali. Dia tidak mau bertemu dengan orang. Ini (Yesus) malah membasuh kaki. Itu menandakan kerendahan hati yang dilandasi kasih terhadap sesama, tanpa memperdulikan siapa dia.”
Sikap melayani yang paripurna ini berujung pada pengorbanan di kayu salib pada Jumat Agung, di mana Yesus disebut sebagai ‘Anak Domba Paskah’ yang menebus dosa umat manusia, menyambung kembali hubungan yang terputus antara Allah dan manusia sejak kejatuhan Adam dan Hawa.
“Makna Paskah sesungguhnya adalah kemenangan atas dosa, melepaskan manusia dari ketakutan akan kematian, dan memberikan anugerah rahmat untuk merubah hidup menjadi lebih baik.”
Resesi Global Sebagai “Filter” Keimanan
Ketika perbincangan beralih pada kondisi bangsa yang tengah bersiap menghadapi ancaman resesi ekonomi dan imbas krisis geopolitik global di Timur Tengah, Dr. John memberikan perspektif yang anti-mainstream.
Alih-alih menebar ketakutan, ia mengajak masyarakat untuk memandang tantangan ini secara positif.
“Suka tidak suka, hidup manusia selalu diiringi dengan kepahitan dan kebahagiaan,” tuturnya tenang.
Menurutnya, kesulitan hidup, termasuk ancaman resesi ekonomi, tidak boleh semata-mata dipandang sebagai ancaman mematikan yang membuat putus asa.
“Kalau kita pandang sebagai suatu ancaman yang menakutkan, ya kita bukan sebagai manusia yang percaya kepada Tuhan. Resesi ini, bersyukur kepada Tuhan ada resesi. Karena dengan resesi itu akan muncul orang-orang yang mampu bertahan. Modalnya apa? Selalu memelihara hati, tidak menghina orang, tidak mencuri, tidak korupsi,” jabarnya.
Bagi Dr. John Palinggi, krisis adalah sebuah filter atau saringan kehidupan. Krisis akan menyeleksi mana manusia yang integritasnya teruji dan mana yang rapuh.
Resesi bahkan diyakininya mampu merekatkan kembali institusi keluarga yang mungkin selama ini tercerai-berai oleh kesibukan.
“Pasti kembali ke rumah. Dalam negara juga begitu, mungkin selama ini kita saling bertarung… nanti akan sadar sendiri. Kesulitan, kepahitan, bahkan resesi itu menciptakan kesadaran bagi manusia untuk mencari Tuhan dan menjadi lebih baik.”
Menolak Hoaks dan Ancaman “Parlemen Jalanan”
Di era digital yang serba cepat ini, menjadi ‘manusia baru’ juga berarti memiliki ketahanan terhadap arus informasi yang menyesatkan.
Dr. John Palinggi secara khusus menyoroti bahaya hoaks dan fitnah yang kerap digunakan untuk mengacaukan stabilitas negara. Ia meminta umat untuk tidak menjadi agen penyebar berita busuk.
“Relevansinya di era digital, Paskah yang diperbarui memerintahkan supaya manusia beriman merubah diri. Janganlah menebarkan hoaks. Berita-berita yang busuk, fitnah sana-sini, ini semua suka membuat kacau negara,” kecamnya.
Ia menyoroti narasi-narasi provokatif yang sering beredar di media sosial, termasuk isu-isu pergantian kekuasaan yang inkonstitusional.
Dengan nada suara yang tegas, John Palinggi menyikapi dinamika politik yang berpotensi memecah belah bangsa, terutama terkait kepemimpinan nasional.
“Disiarkan berita-berita yang dibumbui, sampai-sampai Presiden disuruh mundur, mau dikudeta, mau dikosongkan. Saya tegaskan, tidak akan pernah Bapak Prabowo turun kalau ada yang mau kudeta melalui parlemen jalanan! Pegang itu,” ucapnya dengan intonasi tinggi.
“Kalau DPR bersidang karena ada pelanggaran hukum, itu hak konstitusional. Tapi kalau parlemen jalanan, siapapun dia, Presiden tidak akan pernah dikudeta. Harap yang mendengar ini, paham.”
Baca juga: Rajut Harmoni di Tahun Kuda Api: Refleksi Imlek, Filosofi Bisnis, dan Pesan Damai Dr. John Palinggi
Gereja Sebagai Agen Pemulihan
Sebagai penutup, Dr. John Palinggi memberikan amanat mengenai peran sentral institusi gereja dan warganya dalam merajut rekonsiliasi di tengah masyarakat yang majemuk. Transformasi besar, menurutnya, selalu dimulai dari ruang lingkup terkecil.
“Sebaiknya warga gereja berubah lebih baik mulai dari dirinya, untuk merubah keluarganya. Keluarga berubah untuk merubah lingkungan. Lingkungan merubah negaranya, dan negaranya merubah dunia. Tidak mungkin kita merubah dunia tanpa memulai dari diri kita sendiri,” pesannya menginspirasi.
Ia kembali mengingatkan esensi hukum kasih Kristiani yang kedua: Mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
“Selamat merayakan Hari Kemenangan Kebangkitan Yesus Kristus. Semoga Paskah ini memberikan cahaya bagi umat Kristiani, agar kedepan bisa memberikan terang dan garam kepada umat beragama lain, kepada sesama, kepada pemerintahan, dan kepada siapapun yang ditemui. Peliharalah hatimu, sebab dari situ terpancar kehidupan. Amin.”
Melalui wawancara ini, Dr. John Palinggi berhasil membumikan teologi Paskah yang melangit menjadi laku keseharian yang sangat relevan.
Di tengah dunia yang sedang sakit, baik oleh resesi maupun misinformasi, pesan Paskah tidak pernah berubah: jadilah manusia baru yang membawa damai, bukan kebencian; yang membasuh kaki, bukan menginjak sesama.