Jakarta, IndonesiaVoice.com – Malam itu, Sabtu (13/12), langit Jakarta seolah turut hening, memberikan ruang bagi kidung pujian untuk menggema dari Sasana Adhika Karya, Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kejaksaan Agung RI.
Di ruangan tersebut, ribuan hati yang biasanya bergulat dengan pasal-pasal hukum dan tuntutan keadilan, kini meluruh dalam satu frekuensi spiritual yang sama yakni kerinduan akan kehadiran Sang Juru Selamat.
Perayaan Natal Kejaksaan Republik Indonesia Tahun 2025 bukan sekadar seremonial tahunan. Di bawah sorot lampu yang hangat dan dekorasi bernuansa kudus, acara ini menjadi oase bagi seluruh keluarga besar Kristiani Adhyaksa.
Baca juga: Natal Pertama Peradi RBA Jakarta Timur Penuh Makna, Simbol Toleransi, dan Kepedulian Sosial
Mengambil tema besar yang menyentuh relung hati terdalam, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1: 21-24), perayaan ini menjadi momentum reflektif tentang bagaimana Tuhan bekerja memulihkan sel terkecil namun terpenting dalam peradaban manusia, yakni keluarga.
Antara Palungan dan Palu Sidang
Suasana khidmat menyelimuti ibadah yang dipimpin oleh dua hamba Tuhan, Pendeta Dr. Alfred Anggui, Ketua Umum Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, dan Romo Kosmas Wahyu Kristian Wijaya, Pr dari Seminari Wacana Bakti Gonzaga.
Dalam renungan malam itu, tersirat pesan kuat bahwa kehadiran Allah ke dunia bukan dalam kemegahan istana, melainkan dalam kesederhanaan sebuah keluarga kudus.
Bagi para Jaksa dan pegawai Kejaksaan, pesan ini memiliki resonansi yang kuat. Di tengah tugas berat menegakkan hukum yang terkadang “dingin”, tema ini mengingatkan bahwa di balik jubah jaksa, ada peran sebagai ayah, ibu, dan anak yang harus dijaga kekudusannya.
Keluarga adalah benteng moral pertama. Jika Allah hadir menyelamatkan keluarga, maka dari keluarga yang terpulihkan itulah akan lahir penegak hukum yang berintegritas.
Kekhusyukan malam itu tidak hanya milik mereka yang hadir secara fisik di Jakarta. Melalui sambungan virtual, lilin-lilin pengharapan juga dinyalakan oleh rekan-rekan Kejaksaan Tinggi di seluruh penjuru negeri, mulai dari Papua yang berada di ufuk timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, hingga rekan-rekan di Sumatera. Jarak fisik terhapus oleh satu persekutuan doa yang erat.
Keadilan adalah Bahasa Universal Tuhan
Di tengah jemaat yang hadir, Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. H. ST Burhanuddin, SH, MM, berdiri memberikan sambutan yang menyejukkan. Kehadirannya bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan wujud nyata seorang bapak yang mengayomi seluruh anak-anaknya tanpa memandang latar belakang iman.

Dalam pidatonya, Jaksa Agung menyoroti relevansi sub-tema Natal tahun ini: “Melalui semangat Natal 2025, warga Kristiani Kejaksaan RI menjadi role model transparansi Kejaksaan yang berkeadilan, humanis, akuntabel, dan modern menuju Indonesia Emas 2045.”
“Substansi dari sub tema ini sangat universal,” ujar Jaksa Agung dengan nada tegas namun penuh kehangatan. Ia menekankan bahwa esensi Natal tentang kedamaian dan keselamatan selaras dengan nafas keadilan.
“Semua agama mengajarkan untuk senantiasa menegakkan keadilan bagi semua umat. Dalam konteks ini, Insan Adhyaksa terpanggil untuk menjaga integritas dan profesionalisme, agar setiap keputusan yang diambil benar-benar mencerminkan keadilan bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ungkapnya.
Baca juga: Ultimatum BATAK CENTER: Pemerintah Diminta Bekukan Izin PT TPL Jika Terbukti Abai
Pernyataan ini seolah menjadi “khotbah” tersendiri bagi para penegak hukum. Jaksa Agung mengingatkan bahwa nilai luhur Natal—cinta kasih dan pengorbanan—harus ditransformasikan menjadi pelayanan publik. Institusi keluarga, menurutnya, adalah laboratorium kasih sayang.
“Semangat inilah yang dapat menjadi fondasi kokoh untuk membangun lembaga yang lebih kuat, serta berkontribusi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045,” imbuhnya. Sebuah visi besar yang diletakkan di atas fondasi spiritualitas yang kokoh.
Solidaritas untuk Saudara di Sumatera
Narasi Natal tidak akan lengkap tanpa kisah tentang Diakonia atau pelayanan kasih. Dr. Zet Tadung Allo, SH, MH, selaku Ketua Panitia Natal Kejaksaan RI 2025, dalam laporannya membuka sebuah fakta yang menggetarkan hati.
Di tengah sukacita perayaan, Keluarga Besar Adhyaksa tidak menutup mata terhadap duka yang sedang melanda tanah air.
Indonesia sedang berduka. Saudara-saudara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru saja dihantam bencana alam.
Namun, justru di situlah “Kuasa dan Mukjizat-Nya” bekerja melalui tangan-tangan manusia.
Dr. Zet melaporkan inisiatif penggalangan donasi sukarela yang dilakukan oleh panitia dan seluruh warga Adhyaksa.
Yang lebih mengharukan, dan menjadi bukti toleransi yang nyata di tubuh Kejaksaan, adalah sumber pembiayaan dan partisipasi.
Baca juga: Dr John Palinggi: Melayani Rakyat Bukan Bergaya Raja, Tantangan Menteri Dibawah Kepemimpinan Prabowo
“Pelaksanaan perayaan Natal Kejaksaan tahun 2025 diperoleh dari sumbangan partisipasi pegawai kejaksaan baik Kristen maupun non-Kristen,” lapor Dr. Zet.
Ini adalah potret Bhinneka Tunggal Ika yang hidup; di mana kasih menembus tembok perbedaan agama.
Jaksa Agung pun memberikan apresiasi tinggi atas aksi ini. “Aksi nyata ini merupakan wujud humanisme dan empati yang sungguh mulia,” tuturnya.
Natal menjadi nyata bukan karena dekorasi yang gemerlap, melainkan karena ada tangan yang terulur untuk menghapus air mata mereka yang menderita.
Baca juga: Ketum AMINDO, Dr John Palinggi: Mediasi Efektif Cegah Konflik Industrial Pasca-PHK Massal
Jejak di Panti Asuhan dan Natal Anak
Rangkaian sukacita ini tidak berhenti pada malam perayaan saja. Laporan panitia menunjukkan gelombang kebaikan yang bergerak masif.
Lebih dari 15 Kejaksaan Tinggi dan 50-an Kejaksaan Negeri bergerak serentak melakukan bakti sosial.
Mereka mengunjungi para purna (pensiunan), berbagi kasih di panti jompo, hingga melakukan donor darah.
Di Jakarta sendiri, sentuhan kasih itu mendarat di Panti Asuhan Tanjung Barat, Jakarta Selatan.
Sebanyak 32 anak dari keluarga prasejahtera merasakan hangatnya perhatian dari Ibu Ketua IAD Wilayah dan para petinggi Kejaksaan.
Baca juga: Revisi UU Pangan 2012, JPPN Desak Hentikan Impor & Sanksi Pidana Alih Lahan
Dan sebagai penutup rangkaian sukacita, esok harinya, Minggu (14/12), tawa riang anak-anak akan memenuhi Badiklat.
Perayaan Natal Anak se-Jabodetabek akan digelar, menanamkan benih iman dan sukacita kepada generasi penerus sejak dini.
Menyongsong Tahun Baru dengan Harapan Baru
Malam semakin larut di Badan Diklat Kejaksaan Agung, namun semangat yang terbangun justru semakin menyala.
Acara ditutup dengan doa dan harapan. Jaksa Agung ST Burhanuddin menutup sambutannya dengan ucapan yang menguatkan:
“Selamat Hari Natal Tahun 2025 dan Tahun Baru 2026! Kiranya Umat Kristiani Kejaksaan semakin penuh berkah dan kebahagiaan, damai sejahtera dan sukacita Natal menyertai.”
Baca juga: Ridwan Manurung: Protap Jadi Korban, Provinsi Lain Dapatkan ‘Jalur Khusus’
Perayaan Natal Kejaksaan RI 2025 ini menjadi bukti bahwa di tengah tugas yang menuntut ketegasan, hati para penegak hukum tetap memiliki ruang untuk kelembutan kasih Ilahi.
Bahwa Allah benar-benar hadir, tidak hanya di altar gereja, tetapi juga di meja-meja kerja para Jaksa, membimbing mereka untuk menyelamatkan keluarga Indonesia melalui penegakan hukum yang berhati nurani.
Dari Sasana Adhika Karya, pesan itu terdengar jelas yakni Keadilan adalah bentuk lain dari Cinta Kasih, dan melayani masyarakat adalah bentuk nyata dari memuliakan Tuhan.(Vic).
#NatalKejaksaan2025 #AdhyaksaBerbakti #JaksaAgung #AllahHadirUntukKeluarga #IndonesiaEmas2045 #KeadilanHumanis