Ketua Harian BISMA Dr. John Palinggi Ungkap Makna Mendalam Nyepi Saka 1948: Momentum Purifikasi Diri

Jakarta (IndonesiaVoice.com) — Perayaan Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1948 yang dirayakan oleh seluruh umat Hindu, khususnya di Bali dan di seluruh pelosok Nusantara, bukan sekadar pergantian kalender semata.

Lebih dari itu, Nyepi adalah sebuah momentum fundamental yang sangat esensial bagi pembersihan spiritual, pengendalian diri, dan penguatan toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), Dr. John Palinggi, menegaskan perayaan sakral ini membawa pesan universal yang relevan bagi seluruh elemen bangsa, terutama dalam merawat kerukunan di tengah kemajemukan dan menghadapi berbagai dinamika tantangan geopolitik global saat ini.

“Perayaan Hari Nyepi dan Tahun Baru Saka 1948 adalah salah satu perayaan yang sangat mendasar dan penting dari sudut keyakinan umat Hindu Bali. Bahwa segala prosesi ini pada hakikatnya membawa kita ke dalam hal-hal yang positif untuk mencapai masa depan yang lebih baik,” ungkap Dr. John Palinggi saat diwawancarai, mengawali penjelasannya dengan salam kehormatan Om Swastiastu.

Rangkaian Purifikasi, Dari Melasti hingga Tawur Agung Kesanga

Dalam tradisi Hindu Bali, Hari Raya Nyepi tidak berdiri sendiri, melainkan puncak dari serangkaian tahapan penyucian yang ketat.

Dr. John Palinggi menjabarkan prosesi ini dimulai dengan upacara Melasti, yang dilaksanakan tiga hari sebelum hari H.

“Melasti adalah prosesi mengambil air suci di tengah lautan atau di tengah danau. Air suci ini kemudian digunakan pada saat Tawur Agung Kesanga,” jelasnya.

Tawur Agung Kesanga, lanjut Dr. John, merupakan tahapan penyucian alam semesta secara menyeluruh yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi.

Ritual ini identik dengan arak-arakan Ogoh-ogoh, yang merupakan representasi visual dari roh-roh jahat atau sifat-sifat buruk (Bhuta Kala) yang harus dimusnahkan.

“Tampilan Ogoh-ogoh itu adalah wujud roh jahat yang harus dihancurkan. Tawur Agung Kesanga ini bertujuan ganda: pertama, membersihkan Bhuwana Alit, yakni menetralisir roh-roh jahat atau sifat buruk yang ada di dalam mikrokosmos atau diri manusia itu sendiri. Kedua, membersihkan Bhuwana Agung, yaitu menyucikan makrokosmos atau alam semesta agar terbebas dari anasir-anasir negatif,” tegas tokoh ini.

Catur Brata Penyepian: 24 Jam Keheningan Total

Puncak dari rangkaian penyucian tersebut adalah Hari Raya Nyepi itu sendiri. Tahun ini, prosesi Nyepi akan dimulai pada tanggal 19 Maret 2026 tepat pukul 06.00 pagi, dan berakhir pada 20 Maret pukul 06.00 pagi.

Selama 24 jam penuh, umat Hindu Bali melaksanakan puasa total dari segala aktivitas duniawi.

“Agama Hindu Bali itu puasanya 24 jam. Dari tanggal 19 pagi hingga keesokan harinya, umat tidak melakukan aktivitas fisik dan fokus pada penyucian diri dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian,” urai Dr. John.

Ia merinci empat pantangan utama dalam Catur Brata Penyepian yang sarat akan filosofi pengendalian diri:

  1. Amati Geni: Larangan menyalakan api atau cahaya (lampu). Secara spiritual, ini adalah simbolisasi dari memadamkan kobaran api amarah, keserakahan, dan hawa nafsu di dalam diri.
  2. Amati Karya: Larangan bekerja secara fisik. Tujuannya adalah melepaskan diri sejenak dari ikatan materi duniawi untuk berfokus penuh pada pembersihan rohani dan evaluasi diri.
  3. Amati Lelungaan: Larangan bepergian ke luar rumah. Umat diwajibkan untuk tetap berada di kediaman masing-masing agar dapat mawas diri (introspeksi) dalam suasana yang hening.
  4. Amati Lelanguan: Larangan menikmati hiburan atau bersenang-senang. Hal ini dilakukan agar pikiran tetap fokus, jernih, dan tidak terdistraksi oleh kenikmatan indrawi.

“Masa Nyepi itu betul-betul hening. Keheningan ini adalah fasilitas ruang spiritual agar manusia bisa melihat ke dalam dirinya sendiri, mengevaluasi masa lalu, dan merencanakan perbaikan di masa depan,” tambahnya.

Menepis Potensi Benturan Kalender dan Titik Temu Toleransi

Di tengah perbincangan publik mengenai potensi berdekatannya waktu Hari Raya Nyepi dengan malam takbiran Idul Fitri, Dr. John Palinggi dengan tegas memberikan klarifikasi bahwa secara jadwal, kedua hari besar tersebut tidak akan berbenturan.

“Banyak yang mengatakan akan ada benturan dengan takbiran. Saya luruskan, masa Nyepi dimulai tanggal 19 dan berakhir pada pagi hari tanggal 20 Maret. Sementara itu, malam takbiran atau menyambut Idul Fitri baru akan berlangsung pada malam harinya. Jadi, waktunya berbeda dan tidak akan berbenturan,” jelasnya mematahkan kekhawatiran publik.

Lebih jauh, Dr. John menarik benang merah universalitas ajaran keagamaan.

Ia membandingkan esensi keheningan Nyepi dengan ibadah puasa Ramadan dalam agama Islam.

“Melewati perenungan seperti Nyepi ini sangat berguna bagi umat Hindu dan kita semua, untuk memahami diri supaya meninggalkan hal-hal buruk menuju kebaikan. Sama halnya di dalam Islam, umat Muslim berpuasa 30 hari untuk mengendalikan nafsu agar kembali fitrah dan bersih. Tujuannya sama-sama untuk purifikasi hati,” paparnya.

Setelah Nyepi berlalu, umat Hindu akan merayakan momen saling memaafkan, serupa dengan tradisi silaturahmi saat Lebaran.

“Dengan kebersihan hati setelah Nyepi, dan musnahnya roh jahat, kesadaran kita telah layak untuk saling memaafkan. Yang muda datang menghormati yang lebih tua. Rasa hormat dan kasih sayang ini ada di setiap agama,” tambahnya.

Tri Hita Karana: Konsep Unik Hindu Bali dalam Menjaga Keseimbangan

Dr. John Palinggi juga menyoroti keunikan praktik Hindu di Bali yang menjadikannya sangat relevan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan tatanan sosial.

Hal ini terangkum dalam filosofi Tri Hita Karana, yakni tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan keharmonisan.

“Di dalam agama Hindu Bali, ada tiga hubungan yang harus terus dipelihara agar kehidupan manusia rukun, sejahtera, dan penuh kedamaian. Pertama, Parahyangan, yaitu menjaga hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, Pawongan, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan sesamanya,” terang Dr. John.

Ia membandingkan konsep Pawongan dan Parahyangan ini dengan prinsip Hablum Minallah dan Hablum Minannas dalam Islam, serta hukum kasih kepada Tuhan dan sesama dalam ajaran Kristen.

“Namun di Bali, ada tambahan satu elemen krusial yang diwajibkan, yaitu Palemahan, yakni hubungan antara manusia dengan alam semesta. Umat mendisiplinkan diri untuk memelihara lingkungan hidup supaya tetap seimbang dan berguna bagi kehidupan umat manusia. Inilah yang membuat ajaran di Bali sangat mendidik masyarakatnya untuk taat pada alam,” urainya.

Ketaatan pada tata tertib ini dikawal dengan ketat oleh instrumen hukum adat. Dr. John menyebutkan peran vital Pecalang (polisi adat Bali) dalam menjaga kekhusyukan Nyepi.

“Pecalang sangat disegani dan dihormati. Mereka memastikan prosedur ritual berjalan sepi tanpa gangguan. Bahkan, umat agama lain sangat menghormati momen ini, banyak yang memilih keluar dari Bali sementara waktu, ke Banyuwangi misalnya, sebagai bentuk toleransi tingkat tinggi pada tataran implementasi.”

Refleksi Keheningan Menghadapi Dinamika Geopolitik

Ketika ditanya mengenai makna Nyepi dalam konteks ketahanan bangsa menghadapi dinamika geopolitik global dan gempuran informasi negatif, Dr. John Palinggi memberikan pandangan yang mendalam. Menurutnya, ketahanan sebuah negara bermula dari kebersihan hati warganya.

“Keheningan itu adalah momen di mana kita dapat melihat satu cahaya di dalam diri. Dengan menahan diri selama 24 jam, mengendalikan hawa nafsu, dan meyakini bahwa segala pengaruh buruk telah dihancurkan, maka akan lahir kebersihan hati,” jawabnya.

Ia menegaskan kebersihan hati dalam melaksanakan ajaran agama akan memungkinkan warga negara untuk hidup berdampingan dengan damai, terlepas dari perbedaan keyakinan.

“Bukankah dengan hati yang terpelihara, memungkinkan kita membangun silaturahmi, membangun kasih sayang, dan membangun persaudaraan yang kokoh? Persaudaraan yang kuat inilah modal utama kita. Jika kita bersatu dan rukun, masing-masing dari kita bisa saling mendukung pemerintah dalam membangun negara ini, menghadapi ancaman geopolitik apapun dari luar,” tegas Dr. John Palinggi.

Pesan Penutup dan Doa Universal

Menutup wawancaranya, Dr. John Palinggi menitipkan pesan kebangsaan yang kuat dari momentum perayaan Tahun Baru Saka 1948 ini.

Ia meyakini bahwa cahaya kebaikan dari perayaan Nyepi akan memancar tidak hanya bagi umat Hindu, tetapi juga bagi seluruh umat beragama di Indonesia.

“Pesan saya kepada bangsa Indonesia secara luas: apapun agama kita—entah Hindu, Buddha, Konghucu, Kristen, Katolik, maupun Islam—kita wajib melalui perayaan ibadah kita untuk membersihkan hati, meninggalkan yang buruk, dan menggapai hal yang baik. Setelah kita melaksanakan kewajiban agama kita, mari kita bangun dan rawat terus menerus persaudaraan ini,” pesannya penuh harap.

Sebagai penutup yang syahdu, Dr. John Palinggi melantunkan Gayatri Mantram sebagai bentuk doa universal bagi keselamatan bangsa dan semesta:

Om Bhur Bhuwah Swaha, Tat Savitur Varenyam, Bhargo Devasya Dhimahi, Dhiyo Yonah Prachodayat.”

“Maksud dari doa tersebut adalah kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar lingkungan alam sekitar kita tetap tenteram, sehingga dapat membawa kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan bagi kita semua. Sekali lagi saya sampaikan, selamat merayakan Tahun Baru Saka 1948. Om Shanti, Shanti, Shanti, Om,” tutup Dr. John Palinggi.

(Victor)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles