Refleksi IWD 2026: YFAS 90 Ajak Perempuan Melawan Queen Bee Syndrome

Must Read

Jakarta, IndonesiaVoice.com – Yayasan Forum Adil Sejahtera 90 (YFAS 90) menggelar diskusi bertajuk “Berdaya Perempuan, Berdaya Komunitas” dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD) 2026.

Acara yang digelar di Hotel Balairung, Jakarta, Minggu (8/3/2026), ini menekankan pentingnya solidaritas antar-perempuan melalui kampanye global “Give to Gain”.

Diskusi ini menghadirkan Susi Rio Panjaitan, Ketua Yayasan Rumah Anak Mandiri, sebagai pembicara. Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Pelaksana YFAS 90, Pelikson Silitonga, SH, didampingi perwakilan dari Federasi Gabungan Serikat Buruh Mandiri (F-GSBM) dan Serikat Pengemudi Online Indonesia (SePOI).

Give to Gain

Dalam sambutannya, Pelikson Silitonga menjelaskan, tema “Give to Gain” merupakan gerakan untuk saling memberi dukungan demi kemajuan bersama. Ia percaya di balik kata “memberi” terdapat kekuatan titik-balik yang luar biasa.

“Peringatan IWD tahun ini membawa tema Give to Gain. Ini bukan sekadar slogan, tapi kampanye global yang menekankan bahwa saat kita memberikan dukungan, kesempatan, dan sumber daya kepada perempuan, itu akan membuahkan keuntungan bersama bagi semua pihak,” ujar Pelikson dengan tegas di hadapan peserta dari berbagai elemen buruh dan pengemudi daring.

Ia menepis anggapan bahwa memberikan panggung kepada perempuan akan mengurangi jatah atau posisi pihak lain. Sebaliknya, Pelikson melihatnya sebagai sebuah tabungan masa depan.

“Konsep ini memberikan dukungan bukan berarti kita kehilangan sesuatu. Sebaliknya, memberikan dukungan adalah bentuk investasi yang akan kembali kepada kita dalam bentuk kekuatan dan kemajuan bersama. Kita harus melihat ini sebagai kolaborasi, bukan kompetisi yang mematikan,” tambahnya.

Mendobrak Tembok Tradisi dan Bias

Pelikson menyoroti betapa beratnya beban ganda yang dipikul perempuan karena stigma sosial. Ia merasa prihatin dengan ambisi perempuan yang seringkali disalahartikan oleh lingkungan sekitar.

“Jika perempuan memiliki ambisi, sering dianggap bertentangan dengan tradisi. Pekerja perempuan yang mengupayakan posisi karir dianggap hanya memikirkan diri sendiri. Bahkan, menjadi berhasil bagi seorang perempuan bisa saja memicu hal-hal negatif di lingkungannya,” kata Pelikson menyayangkan kondisi tersebut.

Ia juga menyentil realitas di lapangan kerja di mana standar keberhasilan seringkali dipatok berbeda antara gender. Menurut pengamatannya, laki-laki sering dipromosikan hanya karena “potensi” yang tampak, sementara perempuan harus melewati ujian performa yang luar biasa berat sebelum diakui.

“Jangan hanya memperkenalkan pimpinan perempuan di depan umum untuk pencitraan, tapi ujiannya justru pada penampilan, bukan kemampuan. Kita harus mulai menunjukkan empati dan kerendahan hati. Mari kita bangun lingkaran kekuatan antar-perempuan agar pintu yang biasanya mudah terbuka buat laki-laki, tidak harus didobrak terlalu keras oleh perempuan,” serunya.

Melawan Fenomena ‘Queen Bee

Satu poin menarik yang ditekankan Pelikson adalah bagaimana struktur sosial terkadang membuat perempuan “memangsa” sesamanya. Ia mengutip penelitian tentang Queen Bee Syndrome yang menunjukkan bahwa perundungan di tempat kerja justru banyak dilakukan oleh sesama perempuan.

“Kita sering melihat ruang perempuan itu terbatas karena didominasi laki-laki. Akibatnya, muncul fenomena di mana perempuan saling menjatuhkan untuk memperebutkan ruang yang sempit itu. Padahal, mendukung yang berhasil bukan berarti kita mengakui kegagalan kita sendiri,” jelasnya.

Pelikson mengajak audiens untuk mengubah pola pikir. Ia menekankan, musuh utama bukanlah persaingan, melainkan rasa rendah diri dan cemas akan kemampuan sendiri yang kerap menghinggapi kaum perempuan.

Harapan untuk Kebijakan Struktural

Pelikson menegaskan gerakan ini tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan sistemik. Ia berkomitmen melalui YFAS 90 untuk terus mengawal isu-isu perlindungan perempuan, termasuk bagi mereka yang bekerja di sektor informal seperti pengemudi ojek online.

“Terwujudnya keadilan bagi perempuan memerlukan dukungan semua pihak. Kebijakan yang berdampak pada struktur masyarakat sangat dibutuhkan. Tanpa dukungan menyeluruh, upaya ini tidak akan maksimal,” tutup Pelikson dengan nada penuh harapan.

Luka Bernama Queen Bee Syndrome

Dalam diskusi, Susi Rio Panjaitan, Ketua Yayasan Rumah Anak Mandiri, yang menjadi pembicara utama, melempar sebuah bom fakta yang mengejutkan ruangan. Ia menyinggung fenomena Queen Bee Syndrome atau Sindrom Ratu Lebah.

Bayangkan seorang perempuan yang telah mencapai posisi puncak di sebuah perusahaan atau komunitas. Alih-alih menarik tangan perempuan lain untuk ikut naik, ia justru menjadi “penjaga gerbang” yang kejam.

Hampir 58% perundungan di tempat kerja dilakukan oleh perempuan, dan 90% korbannya adalah perempuan juga,” ungkap Susi menyitir sebuah penelitian.

Susi bercerita dengan gaya yang lugas, sesekali menyentil kebiasaan sehari-hari. Ia mencontohkan bagaimana di media sosial, ketika ada berita perselingkuhan, yang paling habis dihujat dengan kata-kata pedas adalah pihak perempuan (“pelakor”), sementara pihak laki-laki seringkali lolos dari amukan jempol netizen.

“Kenapa kita begitu pedas pada sesama perempuan? Kenapa kita merasa terancam jika ada perempuan lain yang lebih cantik, lebih sukses, atau lebih vokal?” tanya Susi retoris. Peserta diskusi, yang banyak di antaranya adalah ibu-ibu pejuang di jalanan, tampak terdiam merenung.

Solidaritas di Atas Aspal

Bagi pengemudi ojol perempuan, tantangan itu nyata. Susi memberikan ilustrasi yang sangat relevan. Di dunia yang didominasi laki-laki, pintu kesuksesan seringkali terbuka lebar bagi pria hanya berdasarkan “potensi”.

Namun bagi perempuan, pintu itu harus didobrak berkali-kali dengan pembuktian performa yang berdarah-darah.

“Kalau laki-laki promosi karena potensinya, perempuan hanya dipromosikan kalau sudah membuktikan kinerjanya berkali-kali lipat. Maka, kalau kita sudah di dalam, jangan ikuti gaya mereka yang hanya memajang pimpinan perempuan sebagai pemanis atau ‘gula-gula’,” tegas Susi.

Ia mengajak para pengemudi ojol untuk membangun sisterhood yang profesional. Sederhana saja: jangan saling menjegal orderan, bagikan tips rute aman, atau saling menjaga saat harus narik di malam hari.

“Kalau ada teman perempuan yang berprestasi, jangan bilang ‘ah paling karena dia cantik’. Katakan, ‘keren lu!’,” tambahnya disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

Memberi Suara, Menjaga Warisan

Diskusi semakin dalam ketika membahas kebijakan yang ramah perempuan. Susi menekankan perempuan harus berani bersuara untuk hak-hak biologis dan domestiknya. Siapa yang paling tahu rasanya menstruasi, menyusui, atau mengandung kalau bukan perempuan?

Namun, seringkali perempuan yang berjuang untuk kebijakan seperti ruang laktasi atau cuti haid justru distigma sebagai sosok yang “lebay” atau “nyari perhatian”.

Di sinilah Give to Gain bekerja. Dukungan kolektif akan membuat suara-suara kecil ini menjadi raungan yang didengar oleh pemegang kebijakan.

“Jangan biarkan teman kita berjuang sendirian lalu kita hanya menonton dari jauh. Jika satu perempuan naik menjadi Kepala Desa atau pimpinan serikat, dukung! Karena ketika dia di atas, dia akan mengerti kebutuhan kita,” pesan Susi.

Apresiasi Diri dan Kesehatan Mental

Menjelang akhir diskusi, Susi menyentuh sisi emosional. Perempuan seringkali terlalu banyak memberi untuk orang lain—untuk suami, anak, dan pekerjaan—sampai lupa memberi untuk dirinya sendiri.

Ia bertanya kepada audiens, “Siapa di sini yang masih punya waktu untuk me-time? Sekadar duduk menikmati es krim setelah menyelesaikan sepuluh orderan?”

Pesan intinya jelas: perempuan yang sehat secara mental dan emosional akan memberikan dampak positif yang lebih besar. Perempuan yang bahagia tidak akan punya waktu untuk menggosip atau menjatuhkan orang lain. Sebab, apa yang keluar dari mulut adalah cerminan dari apa yang ada di dalam hati.

Diskusi yang hangat itu kemudian ditutup dengan tausiyah menyejukkan dari Ustad Sudedi dan dilanjutkan berbuka puasa bersama.

Hari itu, di Balairung, sebuah janji tak tertulis dibuat bahwa mulai hari ini, kesuksesan seorang perempuan adalah kemenangan bagi semua perempuan. Give to Gain bukan sekadar slogan, melainkan sebuah gerakan untuk berhenti menjadi musuh dan mulai menjadi saudara.(Victor)

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest News

Panglima TNI Instruksikan Siaga 1 Antisipasi Konflik Timur Tengah, Dr. John Palinggi: Langkah Cerdas & Proaktif!

Jakarta, IndonesiaVoice.com - Di saat hiruk-pikuk masyarakat tengah bersiap menyambut syahdunya bulan suci Ramadhan, sebuah pergerakan taktis dan senyap...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img