Selasa, Februari 17, 2026
No menu items!

Makna Ramadhan 1447 H di Mata Dr. John Palinggi: Transformasi Jiwa dan Simfoni Persaudaraan Lintas Iman

Must Read

Jakarta, IndonesiaVoice.com – Di tengah dinamika zaman yang terus berputar cepat, ada momen-momen sakral di mana waktu seolah melambat, mengajak umat manusia untuk kembali melihat ke dalam relung batinnya. Bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, momen itu bernama Ramadhan.

Tahun ini, seiring bayang-bayang kedatangan bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, pesan-pesan kedamaian tidak hanya menggema dari mimbar-mimbar masjid, melainkan juga dari lisan tokoh-tokoh lintas agama yang mengimani kekuatan persaudaraan.

Salah satu suara yang lantang dan tulus menyuarakan hal tersebut datang dari Dr. John Palinggi, MM, MBA. Berlatar belakang sebagai seorang penganut Kristen, Dr. John bukanlah sosok sembarangan.

Ia adalah Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA)—sebuah wadah kerukunan antar umat beragama yang merangkul Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Konghucu. Dr. John adalah seorang “arsitek” kerukunan sosial yang selalu membumi.

john palinggi dan bisma
BISMA

Lebih dari Sekadar Menahan Lapar

Ketika ditanya mengenai pandangannya menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, wajah Dr. John Palinggi memancarkan keteduhan.

Dengan artikulasi yang tenang namun sarat makna, ia membedah esensi puasa tidak dari kacamata seorang pengamat, melainkan dari kedalaman empati spiritual.

“Bulan suci Ramadhan adalah hal yang sangat penting sekali dalam kaitan dengan keyakinan saudara-saudara saya umat Islam,” ungkap Dr. John mengawali perbincangannya.

“Ramadhan bukan sekadar pergeseran jam makan atau sekadar menahan lapar. Melainkan, ini adalah transformasi total terhadap hidup kita sebagai pribadi.”

Dr. John merinci tiga makna transformasi total yang ia pahami dari ibadah puasa umat Islam. Pertama, adalah penyucian jiwa.

Menurutnya, setelah 30 hari ditempa di “kawah candradimuka” spiritual bernama puasa, umat Islam akan kembali kepada keadaan fitrah yang bersih.

Kedua, puasa adalah momentum menata ulang kebiasaan. “Berhenti makan di waktu-waktu biasa, berhenti bicara kasar, berhenti melakukan apa pun yang tidak baik dalam hidup kita selama ini,” paparnya tegas.

Makna ketiga, yang menurutnya paling esensial, adalah memusatkan ingatan hanya kepada Tuhan.

“Pada saat melaksanakan ibadah puasa, arahnya adalah kepada Allah SWT. Karena ibadah puasa adalah pendidikan langsung dari Allah kepada umat. Ini ranah yang sangat pribadi, tidak ada yang tahu seseorang berpuasa atau tidak selain Allah SWT dan dirinya sendiri.”

Bangkitnya Welas Asih

Dr. John Palinggi menangkap fenomena sosiologis yang luar biasa dari ritual Ramadhan, yaitu terciptanya kesetaraan sosial yang hakiki.

Di luar bulan Ramadhan, dunia seringkali dikotak-kotakkan oleh status: ada orang kaya, ada pejabat, penguasa, dan di sudut lain ada fakir miskin yang papa hidupnya.

Namun saat fajar menyingsing di bulan puasa, rasa lapar dan dahaga menyerang perut sang jenderal, sang konglomerat, hingga sang jelata dengan takaran yang sama.

“Kesetaraan sosial ini terbangun. Tersadar bahwa pada akhirnya, baik penguasa, pengusaha, orang kaya, maupun orang miskin, seluruhnya akan meninggal,” ujar Dr. John merenung.

“Kesetaraan itulah yang memunculkan perasaan bahwa mereka yang mampu harus menolong sesamanya. Ramadhan melahirkan belas kasih (welas asih) yang luar biasa.”

Gelombang welas asih ini nyatanya tidak berhenti pada sekat-sekat agama. Dr. John bernostalgia tentang betapa indahnya harmoni bertetangga di Indonesia saat Ramadhan tiba.

“Bahkan umat di luar Islam, pada masa-masa yang lalu saya lihat dengan tulus ikhlas membuat makanan, menghantar kue kepada tetangganya yang berpuasa. Saudara yang berpuasa pun menerimanya dengan sangat senang dan bahagia. Saling memperhatikan, mendukung, dan mendoakan.”

Merajut Habluminannas dalam Simfoni Universal

Sebagai Ketua Harian BISMA, pemahaman Dr. John tentang konsep teologi agama sangat komprehensif. Ia menyinggung keseimbangan ajaran Islam antara Habluminallah (hubungan dengan Allah) dan Habluminannas (hubungan dengan manusia).

Ia mempertanyakan dengan indah, bentuk persaudaraan seperti apa yang ingin dibangun? Apakah Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa), atau Ukhuwah Insaniyah/Bashariyah (persaudaraan sesama umat manusia)?

Bagi Dr. John, Ramadhan adalah peleburan ketiganya. Ia kemudian menarik benang merah kesamaan nilai mulia ini dengan ajaran agama lain yang ada di Indonesia.

“Kami sendiri yang Kristen dan Katolik diajarkan untuk mengasihi sesama manusia. Ingat, sesama manusia, bukan hanya sesama orang Kristen Katolik,” tegasnya.

Ia pun menyambut hangat bulan Maret yang juga bertepatan dengan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu.

“Di Hindu ada Vasudeva Kutumbakam—semua manusia di dunia bersaudara, diam di planet yang sama, menghirup udara yang sama, meminum air dari sumber yang sama. Umat Buddha bertujuan mencapai penerangan sempurna agar memiliki cinta kasih menolong orang yang susah. Sementara Khonghucu percaya bahwa di empat penjuru lautan, manusia adalah saudara.”

Harapan untuk Pemerintah dan Pemimpin Bangsa

Perbincangan beralih pada konteks kebangsaan. Perbedaan keyakinan di Indonesia sering kali menjadi sasaran empuk untuk diadu domba.

Dr. John Palinggi menggunakan momentum ini untuk menitipkan pesan khusus kepada pemerintah, terutama di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

“Perbedaan-perbedaan yang ada bukan untuk dikembangkan dalam bentuk saling merendahkan atau saling menghina kitab suci, entah itu Al-Quran, Injil, Weda, Tripitaka, atau kitab Khonghucu. Saya memohon kepada pemerintah supaya menghentikan dan mencegah orang-orang yang suka menghina agama orang lain. Biarkanlah agama itu suci dan sakral bagi pemeluknya masing-masing,” serunya dengan nada penuh harap.

Ia meyakini bahwa Presiden Prabowo sangat memahami cara mempersatukan umat beragama maupun penghayat kepercayaan di Indonesia. Dr. John juga memberikan apresiasi tinggi kepada Menteri Agama Republik Indonesia saat ini.

“Bapak Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar, adalah sahabat yang saya kenal baik. Beliau sangat rendah hati, yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal. Beliau memahami bahwa program utamanya adalah kerukunan, persatuan, dan saling menguatkan. Beliau adalah sosok yang sangat tepat mendampingi Bapak Prabowo dalam mendekatkan manusia yang berbeda agama namun diikat oleh relasi kemanusiaan,” pujinya.

Sebuah Pesan Tulus dari Kedalaman Hati

Di penghujung perbincangan, sosok pria yang telah melanglang buana memfasilitasi rekonsiliasi dan dialog antarmanusia ini memberikan salam penutup yang menyentuh.

Ia tak canggung memposisikan dirinya tak ubahnya bagian dari keluarga besar umat Islam yang sedang menyambut hari besar.

“Kepada semua umat Islam saudaraku di mana pun berada, dengan tulus dari hati yang terdalam, pada menjelang pelaksanaan bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah ini, saya menyampaikan selamat memasuki dan menunaikan ibadah puasa. Bulan yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan. Saya atas nama pribadi dan BISMA, memohon maaf lahir dan batin,” ucapnya sambil menelungkupkan kedua tangan di dada.

Kisah Dr. John Palinggi, sang pemegang APEC Travel Card yang menembus 19 perbatasan negara ini, membuktikan satu hal: tidak ada batas teritorial yang tak bisa ditembus oleh cinta kasih dan toleransi.

Ramadhan 1447 H, seperti yang diyakini Dr. John, bukan hanya milik umat Islam yang menjalankannya, melainkan oase spiritual yang menyejukkan kerukunan bangsa Indonesia.

Selamat menyambut Ramadhan 1447 Hijriah.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest News

Rajut Harmoni di Tahun Kuda Api: Refleksi Imlek, Filosofi Bisnis, dan Pesan Damai Dr. John N. Palinggi

Jakarta, IndonesiaVoice.com - Temaram cahaya lampion merah mulai menghiasi sudut-sudut kota, membawa kehangatan yang menandakan pergantian musim dan tahun.Menjelang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img