Jakarta, IndonesiaVoice.com – Di tengah dinamika sosial-politik yang rentan terhadap polarisasi, sebuah karya literatur baru hadir memberikan kompas etis bagi umat Kristiani dalam berbangsa.
Buku berjudul “Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Untuk Mengantisipasi Radikalisasi Agama dalam Perspektif Kekristenan” karya Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian, M.Th., resmi menjadi sorotan sebagai panduan strategis dalam menjaga keutuhan NKRI.
Buku yang disunting oleh Kolonel Caj Lusak Andrews Muda Butar Butar, S.Th., M.Th. ini, bukan sekadar kajian akademik biasa.
Ia merupakan perpaduan antara ketegasan konstitusional dan kelembutan teologis yang dirancang untuk membentengi masyarakat dari infiltrasi ideologi radikal.
Baca juga: Maut Berjarak 97 Sentimeter, Teror SUTET 500.000 Volt PLN di Atas Atap Keluarga Parhusip
Pancasila, Sang Penyaring Ideologi
Dalam pembahasannya, Dr. Sapta menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol negara yang dipajang di dinding kelas. Pancasila adalah grundnorm atau dasar filosofis yang harus menjadi filter bagi setiap warga negara.
“Kelima sila Pancasila memiliki kekuatan untuk memfilter ideologi radikal melalui penghormatan terhadap Tuhan, martabat manusia, dan persatuan,” tulisnya dalam buku tersebut.
Penulis menguraikan bahwa radikalisasi seringkali muncul saat nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial terabaikan.
Di sinilah Pancasila hadir sebagai jembatan yang menyatukan keberagaman tanpa harus menghilangkan identitas keagamaan masing-masing.
Baca juga: Dr John Palinggi Bongkar Ilusi Perang Timur Tengah dan Taktik Senyap Prabowo Lepas dari ‘Penjara Finansial Global’
Refleksi Teologis, Ajaran Kasih Sebagai Fondasi
Salah satu poin paling menarik dari buku ini adalah bagaimana Dr. Sapta menarik garis lurus antara ajaran Kristen dan semangat Pancasila.
Ia mengangkat teladan Yesus Kristus dan pemikiran Rasul Paulus mengenai kesatuan dalam perbedaan sebagai dasar teologis bagi umat Kristen untuk menjadi warga negara yang moderat.
Gereja, menurut buku ini, memegang peran profetis (kenabian) dan pedagogis (pendidikan). Artinya, Gereja tidak boleh diam; ia harus aktif membentuk umat yang toleran, dialogis, dan berani menyuarakan perdamaian di tengah ancaman intoleransi.
Baca juga: Refleksi IWD 2026: YFAS 90 Ajak Perempuan Melawan Queen Bee Syndrome
Pendekatan ‘Hard’ dan ‘Soft’
Buku ini juga memberikan analisis mendalam mengenai mekanisme perkembangan radikalisme. Dr. Sapta menawarkan kombinasi solusi yang komprehensif:
- Pendekatan Keras (Hard Approach): Melalui penegakan hukum yang tegas terhadap tindakan radikalisme.
- Pendekatan Lunak (Soft Approach): Melalui deradikalisasi, penguatan ideologi, dan pendidikan yang inklusif.
Baca juga: Panglima TNI Instruksikan Siaga 1 Antisipasi Konflik Timur Tengah, Dr. John Palinggi: Langkah Cerdas & Proaktif!
Sinergi Antar Elemen Bangsa
Kelebihan utama dari karya ini adalah sifatnya yang integratif. Penulis menekankan bahwa melawan radikalisasi tidak bisa dilakukan sendirian oleh negara. Dibutuhkan kerja sama yang sinergis antara:
- Pemerintah dan lembaga penegak hukum.
- Tokoh agama dan lembaga pendidikan (Gereja dan Sekolah Teologi).
- Masyarakat sipil secara luas.
Buku ini menjadi pengingat bagi semua bahwa mencintai Tuhan dan mencintai tanah air adalah dua hal yang berjalan beriringan.
Baca juga: Makna Ramadhan 1447 H di Mata Dr. John Palinggi: Transformasi Jiwa dan Simfoni Persaudaraan Lintas Iman
Bagi para akademisi, aktivis gereja, maupun masyarakat umum, karya Dr. Sapta Baralaska ini adalah bacaan wajib untuk memahami bagaimana iman Kristen dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjaga api Pancasila tetap menyala di Indonesia.(*)
