BREAKING NEWS

Banyak Penyebar Hoax ditangkap, Kaum Buruh Takut Mengkritik

Sekjend KSBSI Eduard Marpaung (Kanan) sedang memaparkan persoalan buruh yang dimoderatori oleh Andreas Hutagalung

INDONESIAVOICE.com, Jakarta – Banyaknya penyebar hoax yang ditangkap dan dihukum, membuat kaum buruh takut untuk mengkritik berbagai kebijakan pemerintah saat ini. Baik kritik secara langsung melalui demonstrasi maupun kritik melalui media sosial.

Bahkan ketika ada buruh yang berdemonstrasi untuk menyampaikan aspirasinya pun ditangkap dan masih ditahan hingga kini.

“Sejak 2014, sudah ada 40 orang anggota KSBSI yang ditangkap. Dan kita heran mengapa media tidak mengangkat hal ini sebagai kisah tragedi kemanusiaan yang serius,” tegas Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesian (Sekjen KSBSI) Eduard Marpaung dalam jumpa pers di Kantor KSBSI, Jakarta, Jumat sore, 9 Maret 2018.

Eduard mengaku dirinya salah satu korban yang terkena tuduhan dianggap pencemaran nama baik lantaran mengkritik melalui media sosial Facebook.

“Saya pun terkena tudingan dianggap melakukan pencemaran nama baik setelah menulis sebuah status di Facebook. Padahal, saya cuma menuliskan story telling masalah perburuhan tanpa menyebutkan nama seseorang,” jelas dia.

Kini, lanjut Eduard, sulit membedakan mana yang kritik dan mana yang hoax.

“Kita jadi takut mengkritik soal perburuhan. Buruh pun ketika berdemonstrasi mesti hati-hati sekarang. Akhirnya yang bicara permasalahan perburuhan semakin menurun. Karena itu, perlu revolusi terhadap cara pandang kita tentang hal ini,” ujar dia.

Lebih jauh Eduard menjelaskan berita hoax kini menjadi momok yang menakutkan. Akhirnya, di media sosial pun kini terjadi perang meme.

“Orang-orang baik tidak berani lagi mengungkapkan kebenaran. Sedangkan yang jahat, sebaliknya berani membuat berita hoax,” urai dia.

“Juga, orang-orang tidak berani lagi berkreativitas untuk membangun opini, karena akan dianggap mendeskriditkan dan menghina. Sebab itu, persoalan ini harus dilihat dengan serius,” imbuh dia.

Selain itu, Eduard membeberkan persoalan lainnya yang tidak dibahas secara mendalam di media massa. Semisal, kebijakan digitalisasi, tarif listrik dan BBM yang tidak ada lagi jenis premium.

(Ivoice)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*